A

A
TIGA PULUH ENAM


__ADS_3

PART 36 - ASISTEN PAK DOSEN


“Tiga hal, bila ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya ia merasakan betapa manisnya iman: Bila Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain dari keduanya, ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya kecuali karena Allah, dan ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dirinya, bagaikan kebenciannya bila hendak diceburkan ke dalam kobaran api.”


(Muttafaqun ‘alaih)


_________________________________________


Berada di kelas membuat atmosfer di sekitar Shanum menjadi sesak, dua pasang mata menghujamnya dengan pandangan aneh yang membuatnya tak bisa berkutik sebab jika salah memasang ekspresi maka akan berdampak pada penilaian sahabatnya ini.


Beberapa saat yang lalu, setelah memasuki ruangan kelas ternyata Shanum sudah ditunggu oleh kedua sahabatnya. Naina menyilang kedua tangannya di depan dada sambil melirik dalam Shanum sedangkan Devia hanya berdiri datar di depannya.


Tanpa menunggu lama mereka berdua pun kompak menarik Shanum hingga gadis berkerudung lebar ini terduduk di salah satu bangku kuliah. Untung saja belum ada yang memasuki kelas kecuali mereka bertiga sehingga Shanum takkan terlalu cemas.


“Assalamu’alaikum Ukhty sayang. Khaifa Khaluki?” Sapa Shanum dengan senyuman manisnya. Terlihat sedikit gemetaran di ujung bibir mungilnya.


Naina pun menjawab, “wa’alaikumsalam Ukhtyku sayang. Kabar kita enggak baik, sebelum kamu ceritain kemana aja kamu selama seminggu lebih ini?”


Shanum menghela nafas, inilah pertanyaan yang ia takutkan. Sebab, dia tak sempat mengabari sahabatnya jika ia cuti selama seminggu. Surat izinnya pun diurus oleh Riqhad hingga ketika mengetahui kabar jika Shanum izin seminggu membuat keduanya khawatir dan cemas. Mereka tidak tahu ingin menanyai ke siapa sebab yang mereka tahu Shanum sekarang tinggal dengan keluarga angkatnya.


Memang Shanum sempat menghubungi mereka melalui ponsel namun sahabat mereka ini tidak menjelaskan lebih rinci alasan dari izinnya. Mereka tahu jika Shanum izin untuk menjaga salah satu keluarga angkatnya yang sakit, tetapi saat Devia dan Naina menawarkan diri untuk menjenguk, Shanum melarangnya. Hingga sekaranglah waktunya untuk mengintrogasi Shanum yang nampaknya tengah menyembunyikan sesuatu.


“Kan Shanum udah bilang, empat hari pertama Shanum ke Bandung karena ada keluarga angkat Shanum yang nikah, terus Ibu yang ngerawat Shanum tiba-tiba sakit hingga sempat dirawat di sana. Untuk seminggu kemudian, Shanum izin menjaganya di rumah selama perawatan.” Terangnya dengan jawaban yang memang benar.


“Terus, apakah kita ngga boleh jenguk keluarga angkatmu itu? Kita ini masih sahabatan kan, Shan?” Naina mulai kesal dengan Shanum yang sangat tertutup kepada mereka. Apa salahnya mereka ingin kenal dengan keluarga baik yang telah menjaga Shanum.


“Jangan marah Nai. Kita tanya baik-baik. Shanum masih syok karena baru dateng udah disewotin aja.” Devia menenangkan. Kemudian Naina pun menghirup nafas pelan berusaha menormalkan kekesalannya.


“Maaf Shan, kita cuma care sama kamu. Kita sahabatan, masa nggak mau terbuka. Jika kamu ada masalah, bisa cerita ke kita siapa tahu kita bisa bantu.” Ucap Naina yang sudah mulai tenang.


“Maaf Nai, Dev jika Shanum membuat kalian cemas dan khawatir. Shanum janji akan cerita tapi tidak sekarang ya, Shanum bingung mau mulainya dari mana dulu.” Pinta Shanum dengan pandangan memohon.


Keduanya pun pasrah dengan perkataan Shanum, kemudian iris Naina menyipit ke arah jari Shanum yang sekarang sedang bertautan pertanda ia sedang gerogi. Di jari manis sahabatnya itu tersemat benda mungil nan cantik yang setahu Naina belum ada sebelumnya. Hingga ia menyenggoli Devia sehingga pandangan mereka serentak mengarah ke jari manis Shanum. Shanum membelalakkan matanya saat menerima pandangan aneh dari kedua sahabatnya ini.


“Shan, ini cincin apa? Jangan-jangan bukan keluarga angkat kamu yang nikah, tapi kamu?” Tuduh Naina dengan mata melebar.


Deg


Shanum terkejut dan salah tingkah, apakah sekarang ia harus membongkar pernikahannya ini kepada sahabatnya? Jika iya, apakah Pak Riqhad mengizinkan? Batin Shanum.


“Eheem... misi-misi para perempuan perindu Aufar! Aufar tampan mau gabung boleh?”


Sontak Shanum menghela nafas lega, sedangkan Naina dan Devia memilih menyinisi Aufar sang pengganggu. Beberapa mahasiswa lainnya pun mulai bermunculan di ruangan kelas hingga introgasi kepada Shanum harus di jeda.


Kemudian seorang pria tampan berprofesi sebagai Dosen itu pun memasuki kelas diikuti seorang mahasiswa berkacamata yang memegangi maket ditangannya.


Berpasang-pasang mata memandang takjub ke arah maket ukuran sedang itu, mereka heran itu maket buatan siapa dan untuk apa Dosennya membawanya ke tengah kelas.


Setelah mengucap terima kasih pada mahasiswa berkacamata itu, Riqhad pun membuka perkuliahan mereka.


“Assalamu’alaikum semua....”


***


Kantin


“Gila loe Shan, dalam beberapa minggu aja Maket loe udah siap gitu? Mana keren banget lagi! Ngga salah Pak Riqhad langsung nunjukkin loe sebagai Asistennya.” Kata Nabil dengan mulut yang masih menghaluskan ayam penyetnya.


Shanum, Naina, Devia, Aufar dan Nabil sedang menikmati makan siang mereka. Baru saja beberapa mahasiswa meninggalkan bangku kantin yang mereka duduki ini, beberapa teman sekelasnya itu mengucapkan selamat dan ungkapan kagum pada Shanum sebab maket yang di bawa Dosen mereka tadi adalah maket buatan Shanum. Hingga Dosen yang dikenal killer itu mengangkat Shanum dengan gamblang sebagai Asistennya. Tidak pernah ada sebelumnya mahasiswa yang ditarik menjadi Asdos Pak Riqhad. Baru kali ini, dan itu Shanum si mahasiswi pindahan.


Shanum pun heran, perasaan ia tidak membawa maket itu ke kampus bahkan maket buatannya yang ia tahu belum sepenuhnya selesai dan ada beberapa bagian yang perlu ia rombak ulang. Tapi apa yang dilihatnya tadi memang aneh, Riqhad mengetengahkan maket yang ia tahu itu miliknya namun dengan tingkat penyelesaian yang telah sempurna bahkan bagian yang ingin Shanum rombak pun telah dipasang dengan benar.


Apakah Pak Riqhad yang menyelesaikannya dan membawanya ke kampus? Kalau ia kapan ia membawanya? Di mobil tadi tak tampak wujud maket itu? Lalu untuk apa Pak Riqhad susah-susah membantu memperbaikinya dan membawanya? Pikir Shanum dengan bingung.

__ADS_1


"Hey...” Lamunan Shanum di sentak oleh Devia.


“Hmm, iya Nai? Kenapa?” jawab Shanum dengan ekspresi polos.


“Itu, si Ababil lagi muji kamu. Ngga nyangka aja, dosen yang hobby ngerjain kamu sekarang jadiin kamu asistennya dengan mendadak.” Ungkap Devia.


Shanum pun heran, kenapa Riqhad menunjuknya sebagai Asisten dan bahkan tidak meminta pendapatnya jauh-jauh hari. Di mobil tadi pun tak ia utarakan mengenai hal ini. Sungguh sulit ditebak pemikiran Pak Dosen bergelar suami itu.


“Iya, Shanum juga bingung. Kok bisa ya Shanum diangkat jadi Asisten Pak  Riqhad? Apa salah Shanum?”


Mereka yang mendengar jawaban Shanum hanya menggeleng-gelengkan kepala, Shanum memang unik. Memangnya mahasiswa yang bersalahlah yang dijadikan Asdos. Ada-ada saja.


Aufar yang mengetahui semuanya mengenai Riqhad-Shanum hanya diam dan **** senyum menyaksikan interaksi teman-temannya itu. Kemudian, netra Aufar menemukan sosok cantik berkerudung segi empat dengan ujung-unjungnya di tarik ke belakang.


Sosok itu tengah dihadang oleh beberapa orang yang Aufar tahu adalah sahabat munafik dari Zoeya. Aufar pun meninggalkan semangkok baksonya lalu menghampiri Zoeya dari kejauhan.


“Lah, kemana tuh anak?” Tanya Nabil memperhatikan ketergesa-gesaan Aufar.


“Entahlah, mungkin mau cari temen lain selain Ababil.” Jawab Devia diakhiri kekehan.


Nabil pun mendengus dan kembali menyantap ayam penyetnya yang hampir tandas. Dengan tiba-tiba Nabil kembali bersuara, “hey, aneh ngga sih kalo sekarang Pak Riqhad pake cincin di jari manisnya? Di tangan sebelah kanan lagi? Itu cincin kawin ngga sih?”


Ungkapan spontan Nabil membuat Naina dan Devia menghentikan aktifitas makannya, lalu perlahan menatap Shanum dengan pandangan memastikan, tepatnya ke arah jari manis Shanum, jari di tangan sebelah kanan juga.


Mata Naina dan Devia saling membelit berusaha menyatukan praduga mereka. ‘jangan-jangan?’ Pikir mereka dengan masih memandangi Shanum dengan intens.


Shanum yang sedang apatis terhadap keadaan sekitarnya sekarang tengah asyik menyeruputi milkshakenya sambil mengotak-atik ponsel. Sekali-kali membalas beberapa pesan dari kontak bernama “Pak Dosen Singa.” ia masih belum mengganti nama kontak tersebut.


***


Sore ini, setelah mengikuti acara sosial yang digadang-gadangkan oleh kedua sahabatnya. Shanum menemukan sikap aneh dari Devia dan Naina, mereka berubah menjadi sedikit pendiam dan terkadang mencuri pandang ke arahnya. Ini sungguh membuat Shanum heran. Ada apa dengan sahabatnya.


Hingga saat Shanum pamit pulang keduanya hanya menimpali datar, Shanum yang memang agak minim kadar kepekaannya ini hanya mengangkat bahu acuh dan berjalan meninggalkan tempat acara sosial itu, di samping toko kue Barokah.


Kemudian, ia melirik jam yang melingkar di tangan kanannya di sana menunjukkan pukul dua lewat empat puluh menit. Shanum berinisiatif ingin singgah ke MSBA Al-Ikhsan terlebih dahulu, karena ia telah lama tidak membantu di sana dan sekalian mengundurkan diri sesuai perintah dari Riqhad.


Sudah sekian jauh ia melangkah tak tampak taxi ataupun kendaraan umum lainnya. Hingga Shanum memilih berhenti di dekat toko buku, ia ingin menuntaskan hasrat membacanya.


Saat memasuki toko buku tersebut, wangi khas dari lembaran buku menyeruak ke indera penciumannya. Ia mulai menyusuri rak dengan bertemakan Literasi Islam. Pandangannya jatuh pada rak kedua dengan dipenuhi buku-buku mengenai seputar kehidupan pernikahan islami, tampaknya Shanum harus memiliki beberapa buku bertema tersebut.


Ia masih menelisik judul demi judul hingga saat ia ingin mencopot salah satu buku yang ingin ia beli, ada tangan lain yang mendahuluinya.


“Kak Risa!”


“Shanum!”


***


Malam kembali tiba, Shanum tengah memperhatikan Riqhad yang serius menatap layar monitor dengan jar-jari tangan yang menari-nari di atas keyboard. Ia menelisik wajah tampan suaminya. Mulai dari hidung bangir, dagu sedikit berbelah, rahang tegas, iris gelap yang menenggelamkam serta bibir yang anehnya berwarna merah muda.


Shanum bersyukur karena Pak Dosennya bukanlah penikmat tembakau. Memperhatikan bibir Riqhad membuat Shanum menjadi malu sendiri, tiba-tiba perutnya terasa mual jika membayangkan kembali saat Riqhad menciumnya tadi. 'Menggelikan.' Batinnya.


"Ngapain kamu pandangin Abang gitu? Mau cium ya?" Ucap Riqhad menyentak lamunan Shanum. Ia pun mengerjap dan menggeleng polos seperti anak kecil yang dituduh mengotori dinding.


Sebenarnya Riqhad telah menyadari gelagat Shanum yang terus-menerus menghujaminya dengan pandangan menelisik, tapi ia enggan menegur. 'Kapan lagi bisa dipandangi istri begini, siapa tahu Shanum ingin berinisiatif lebih dulu kan ya.' Batinnya.


Riqhad menutup laptopnya seraya menyingkirkan lembaran-lembaran berisikan kurva-kurva yang tidak dimengerti Shanum, nampaknya Riqhad  sedang mengerjakan pekerjaan kantornya.


Pria ini pun membalas tatapan Shanum, gadisnya ini sedang duduk di kursi belajarnya sedangkan ia tengah bersandar pada kepala ranjang.


"Ada yang ingin kamu sampaikan?" Tanya Riqhad.


Riqhad tahu jika Shanum menunggunya mengerjakan berkas kantor dan ingin membahas sesuatu setelahnya, istrinya begitu pengertian dengan tidak mengganggu konsentrasinya ketika serius memantengi monitor. Tapi, karena jiwa kepekaan Riqhad sudah tingkat tinggi, hingga sedikit gerakan Shanum saja ia ketahui.

__ADS_1


Melihat Riqhad sedang renggang dan santai serta tak menampakkan aura usil maupun galak. Shanum pun memposisikan dirinya pada ujung ranjang seraya berkata, " Bang, Shanum boleh cerita nggak?"


Riqhad takjub karena Shanum mau memulai terlebih dahulu, biasanya percakapan diantara mereka selalu diawali oleh Riqhad. Riqhad jadi penasaran apa yang ingin diceritakan oleh istri mungilnya ini sehingga begitu semangat.


Riqhad mengangguk dan menjawab, "boleh saja. Emang mau cerita apa?"


"Gini Bang, tapi... Abang jangan kaget ya. Dan juga nggak boleh potong-potong saat Shanum ngomong." Jawab Shanum.


Riqhad takjub mengetahui ada sisi otoriter dari nada suara Shanum, biasanya Riqhadlah yang begitu. "Oke, Abang mengerti. Tapi kamu ceritanya dekat dikit dong. Masa kita jauhan gitu, nanti nggak nyambung." Pinta Riqhad.


Tanpa menunggu lama karena saking antusias ingin bercerita, Shanum pun langsung mengindahkan perkataan Riqhad hingga dia ikut menyanderkan punggungnya di kepala ranjang bersebelahan dengan Riqhad.


"Ih, ngga nyaman posisi gini." Gumam Shanum. Gadis ini pun merubah posisinya hingga menghadap Riqhad.


Deg


Ia terkejut sebab, posisinya berada begitu dekat dengan Riqhad. Ia meringis dan memundurkan sedikit badannya namun tangannya ditangkap oleh Riqhad. Riqhad menariknya hingga kembali ke posisi sebelumnya.


"Sanderan aja. Pasti nyaman." Pinta Riqhad setelah menempatkan kepala Shanum pada dada bidangnya.


Shanum mengutuk dirinya, kalau ribet begini kapan dia bisa ceritanya.


"Abang, Shanum mau cerita. Bukan mau bobok tau." Sanggah Shanum dan mengangkat kembali kepalanya.


Setelah membenarkan kerudung instannya yang sedikit kusut, ia pun memberi sedikit jarak dari Riqhad.


"Oke, oke. Silakan!" Ucap Riqhad dengan mengangkan kedua tangannya seperti seorang penjahat yang terciduk oleh Buk Polisi.


Shanum pun terkekeh kecil dan bersuara, "jadi gini... tadi sebelum Shanum singgah ke MSBA Al-Ikhsan, Shanum sempetin ke di toko buku dan di situ Shanum ketemu Kak Harisa. Abang kenal Kak Harisa? Itu loh, calon istrinya Mas Armadan sahabatnya Mas Thoriq. Kami ngobrol dan Kak Harisa cerita banyak ke Shanum."


"Sepanjang cerita Kak Risa itu, ternyata dia pernah nikah sebelumnya tapi belum tercantum di KUA. Dia nikahnya waktu baru lulus SMA sama sahabatnya. Tapi, saat suaminya sedang kuliah di Luar Negeri dia pergi dan nitipin surat buat suaminya. Isi suratnya, Kak Risa minta suaminya nalak dan menceraikan dia. Jadi, menurut Kak Risa mantan suaminya itu sangat membenci dia sekarang. Kemudian ya Bang, Kak Risa ketemu lagi sama mantan suaminya di acara lamarannya. Abang jangan kaget ya kalau tahu siapa mantan suami Kak Risa?"


Riqhad hanya mendengar tanpa ekspresi namun terus memandangi Shanum yang sedang banyak bicara ini, ia saja sampai tidak begitu meresapi apa yang dibicarakan Shanum. Riqhad hanya suka memandangi Shanum ketika gadis ini nyaman berbagi dengannya.


"Siapa?" Riqhad menimpali datar.


Shanum mendekat dan berbisik di telinga Riqhad. "Mas Thoriq."


Shanum menunggu ekspresi kaget dari suaminya. Tapi beberapa menit menunggu, Riqhad tak bereaksi dan hal itu membuat Shanum mati kutu sebab dia sangat antusias berbagi cerita tapi Riqhad lempeng-lempeng saja.


"Sudah ceritanya?" Tanya Riqhad yang diangguki Shanum. Shanum menunduk malu, antusiasnya tidak menular pada dosennya ini.


"Jangan murung gitu, Abang denger kok kamu ngomong dari akar sampai pangkal tunasnya lagi." Ucap Riqhad  seraya mengelus pucuk kepala Shanum. Perlakuan kecil yang sangat Shanum sukai.


"Terus kenapa nggak kaget? Shanum aja kaget pad dengar Kak Risa cerita. Terus Kenapa Abang malah biasa aja?" Shanum mengangkat wajahnya hingga menatap iris gelap milik Riqhad.


Riqhad menghela nafas, kemudian menarik Shanum dalam pelukannya, menenggelamkan kemurungan istrinya didadanya. Menghantarkan gelanjar kehangatan yang sama-sama menenangkan bagi mereka, riakan didada tak bisa ditolak lagi namun mengabaikan semua itu rasa nyamanlah membuat mereka betah dalam keadaan ini.


"Kamu disini aja, dipelukan Abang, jangan dilepas dan dengarkan sekarang giliran Abang lagi yang cerita." Ucap Riqhad seraya menatap wajah istrinya yang tenggelam disela dadanya. Shanum mengangguk dan menatap Riqhad di balik pelukan hangatnya ini.


"Abang ngga kaget karena Abang sudah tahu bahkan dari awal kisah mereka. Hal ini cuma Abang saja yang tahu." Shanum kaget namun masih menunggu kelanjutan dari perkataan Riqhad.


"Sebenarnya, Bang Thoriq ngga pernah menalak wanita yang kamu panggil 'Harisa' itu. Berarti sampai sekarang status mereka masih suami-istri tanpa diketahui kebenarannya oleh 'Syafiqa' panggilan Bang Thoriq untuk 'Harisa'. Bang Thoriq sangat prustasi ketika tahu istrinya pergi tanpa jejak, ia terus mencari hingga kini. Saat ia bertemu 'Harisa' ia merasa tidak asing sampai ketika acara lamaran Armadan, Bang Thoriq tahu kebenarannya."


"Kalau gitu. Pernikahan ini ngga boleh terlaksana, Bang. Kalau mau terlaksana juga, berarti Mas Thoriq harus menceraikan Kak Risa terlebih dahulu." Shanum berucap sendu.


"Iya, itulah yang sedang dipikirkan Bang Thoriq. Dia masih sangat mencintai Syafiqa dan menurutnya hanya Syafiqa istrinya hingga akhir hayat. Abang nggak bisa bantu Bang Thoriq karena ini masalah hatinya dan Abang nggak tahu isi hati Syafiqa. Apakah masih sama seperti dulu ataukah telah mantap bersama Armadan."  Helusan di pucuk kepala Shanum mulai memelan. Riqhad mengepalkan tangannya, merasakan kesedihan Abangnya.


"Bang, kita harus bantu mereka. Sebab, kata Kak Risa... sekian lama ia istikharah untuk memantapkan diri menerima Mas Armadan, selalu saja tergambar masa lalunya. Mas Armadan tak pernah terlintas di sana. Kak Risa masih sayang sama Mas Thoriq, Bang." Ucap Shanum yang kini mulai menitikkan air mata.


"Kamu kok cengeng banget sih? Kenapa  sampai nangis segala. Terlalu menghayati sih, kisah mereka. Lebih baik kamu fokus sama kisah kita aja. Mau gimana kedepannya, kapan mau ngasih Zoeya Qhanum junior?" Goda Riqhad sambil menyeka air mata  Shanum dan sesekali menyentil hidungnya yang mulai memerah.


"Udah, udah. Besok kita pikirkan lagi, kalau gitu menurut kamu. Kedepannya kita punya misi untuk menyatukan mereka. Gimana? Kamu setuju?" Tanya Riqhad.

__ADS_1


Shanum mengangguk mantap, "setuju, Bang!"


Riqhad tersenyum dan kembali usil, " setuju yang mana? Setuju ngasih Zoeya keponakan sekarang?"


__ADS_2