A

A
EMPAT PULUH SATU


__ADS_3

PART 41 - PASTI DIUJI


“Hiduplah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan mati. Cintailah sesuatu sesukamu maka sesungguhnya kamu akan berpisah. Berbuatlah sesukamu maka sesungguhnya kamu akan bertemu dengannya.”


(H.R. Hakim)


________________________________________


"Oya benci sama Shanum!"


Shanum kaget luar biasa mendengar bentakan Zoeya yang tiba-tiba ini, Riqhad pun sama hingga kemudian Riqhad dengan perlahan melepas rangkulannya pada tubuh Shanum. Ia penasaran melihat meja ruang keluarganya yang acak-acak hingga Riqhad berjalan mendekat.


Deg


Detak jantung Riqhad seakan berhenti melihat pemandangan di atas meja ini. Potret yang menampakkan seorang gadis belia berwajah sedih dibaluti pakaian bak pengantin tengah duduk berdampingan dengan seorang paruh baya yang sangat dikenali Riqhad, Papanya.


Kemudian beralih ke gambar selanjutnya, ketika seorang pria paruh baya lainnya dengan raut kecewa sedang menyalami sosok Papanya. Di balik foto tertera berbagai kosa kata yang menghantam perasaan Riqhad.


Elsha kecil menjadi simpanan Pengusaha Kaya. Melecehkan dan menikahi gadis seusia putri bungsunya sampai akhirnya menyembunyikan semua ini dari keluarganya. Farhan si Pimpinan Okhtara Group sangat tercela.


Elsha kecil digambar ini adalah sosok yang sama dengan wanita cantik berkerudung lebar itu, istrinya. Kenyataan pahit apa-apaan ini. Nafas Riqhad tercekat dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Hari ini seharusnya dia begitu bahagia karena cintanya bersama Shanum telah membuah di rahim Shanum. Tapi apa, mengapa kenyataan pahit menghantam kabar baik yang dibawanya.


Pendangan Riqhad menjadi kosong, ia berdiri, berjalan sempoyongan hingga menyandarkan punggungnya di tembok ruang keluarga.


"Oya ngga nyangka Shanum bisa giniin keluarga Oya, apa salah keluarga Oya ke Shanum sampai nyembunyiin semua ini dari kita? Hah!" Teriak Zoeya di depan wajah Shanum.


Zoeya pun melempar beberapa lembar poto ke wajah Shanum, Shanum meringis dan memunguti gambar yang terjatuh itu.


Deg


Ini adalah potret kejadian masa lalunya, masa lalu yang selalu menghantuinya dan masa lalu yang ia takutkan. Ternyata, hari ini adalah hari itu. Hari di mana rahasianya terbongkar, tapi siapa yang mengabadikan masa lalunya ini dan mengirimkan ke rumah keluarga Okhtara.


Tiba-tiba saja pikiran Shanum mengarah pada sosok tunggal yaitu pria menyeramkan yang menjadi dalangnya, Apakah orang itu? Batinnya. Wajah Shanum semakin pias memikirkannya.


"Oya, dengerin Mama sayang...." Mama Hasna berusaha menenangkan Zoeya yang terlihat ingin membunuh Shanum.


"Nggak Ma, enggak! Oya ngga nyangka, Shanumlah yang membuat Bang Riqhad pergi dari rumah dan gara-gara dia Abang benci sama Papa. Oya kehilangan moment dengan salah satu Abang Oya gara-gara dia!" Teriak Zoeya lagi dan kini ia berhasil mendorong Shanum hingga Shanum terduduk lemas di lantai.


Deg


Apa yang didengar Shanum ini benar? Jadi, Bapak-bapak yang ia selamatkan di masa lalunya dan pria seumuran Ayahnya yang dipaksa menikahinya adalah Ayah dari Riqhad, Papa Mertuanya. Air mata Shanum tak mampu ditahannya seiring tikaman dijantungnya, terasa nyeri dan sakit.


"Ya Allah, kuatkanlah hamba menghadapi semua ini. Bantu hamba melewati ujianMu, mudahkanlah hamba menyelesaikan kesalahpahaman ini." Lirih Shanum dalam hati.


Kemudian ia memegangi pelan perut datarnya, "ya Allah, kasihan titipanMu di rahimku. Baru beberapa hari kami mengetahui kehadirannya dan bahagia akan itu. Tapi mengapa hari ini kebahagiaan itu harus dikalahkan oleh berita ini."


Riqhad diam membisu memperhatikan Shanum yang terduduk lemas di lantai sambil memegangi perutnya yang di dalam sana telah ada nyawa baru. Terasa sesak melihat air mata Shanum jatuh berguguran, ingin rasanya memeluk dan menyeka lelehan bening itu. Tapi mengapa? Mengapa tubuh Riqhad seakan mati rasa, berkata sepatah kata pun ia tak mampu. Terlanjur kecewa.


"Oya, dengerin Mama. Ini bukan salah Shanum, Nak. Mama tahu semua kebenarannya, seharusnya kita berterima kasih ke dia udah selamatin nyawa Papa. Bukan malah begini! Kamu salah paham, sayang." Mama Hasna berusaha merangkul putrinya tapi Oya menepis itu.


"Apa? Terimakasih karena udah hancurin keluarga Oya gitu?" Ucap Zoeya sinis sambil memandang rendah Shanum.


"Lihat tuh Ma, Bang Riqhad yang nggak tahu apa-apa malah nikahin mantan istri papanya. Apa-apaan itu! Jangan-jangan Bang Riqhad juga dapet bekas Papa. Oya benci Shanum! Oya benci Papa!!" Teriaknya lagi.


Riqhad sangat sakit hati mendengar tuduhan Zoeya, meskipun membenci Papanya tapi Riqhad tak pernah membenci Shanum. Yang Zoeya katakan itu sangat tidak benar. Shanumnya masih suci, Shanumnya hanya dimilikinya seorang dan yang penting Shanum hanya untuknya. Tapi Riqhad masih saja betah dalam kekosongannya itu.


Plakk


"Perkataanmu sangat keterlaluan, Nak! Tidak sepantasnya kamu ngomong gitu ke kakak iparmu!"


Zoeya kaget karena tamparan Mama Hasna, tak pernah Mama membentaknya hingga menamparnya seperti ini. Dia semakin terisak dan langsung berjalan cepat hingga memeluk Thoriq yang baru saja muncul dari pintu.


"Abang... hiks... hiks...." Tangis Zoeya tenggelam di dada Thoriq.


Thoriq baru saja datang dan ingin menyampaikan sesuatu pada keluarganya tapi saat mencapai ruang tamu, ia mendengar suara ribut-ribut di ruang keluarga, ternyata ini. Ia pun mengurungkan niat awalnya.


Thoriq heran melihat keadaan ruang keluarganya yang dipenuhi aura panas. Adik iparnya yang terduduk dan menangis di lantai. Mama yang berusaha menenangkan Zoeya sedangkan Riqhad hanya bersandar di tembok sambil memijit kepalanya dengan mata tertutup.

__ADS_1


Riqhad hanya diam menyaksikan keributan ini, pikirannya kosong. Hatinya mengeras; ia tak tahu harus bagaimana menyikapinya. Mengetahui fakta bahwa istrinya adalah perempuan yang menjadi simpanan papanya dulu, perempuan yang Riqhad benci karena Papanya telah menghianati Mamanya. Tapi apa? Mamanya yang tahu segalanya ini malah membawa Shanun ke kehidupannya, terlebih lagi membawa Shanum ke hatinya.


Riqhad sayang Shanum, Riqhad cinta Shanum. Sejak melafalkan cinta untuk Shanum di depan penghulu, di hati Riqhad hanya akan ada Shanum. Tapi, tetap saja ada perasaan sakit, terluka dan dihianati mengetahui semua ini. Mengapa Shanum tak pernah berbagi mengenai masa lalunya. Mengapa Riqhad harus tahu hal ini disaat hati dan pikirannya bertumpu pada Shanum.


Shanum terduduk lemas di lantai dengan air mata yang semakin mengalir deras, yang ia takutkan telah terjadi. Ingin menjelaskan kebenarannya tapi ia takut suaranya tidak akan di dengar, tidak akan sampai di hati orang yang mendengarnya sebab mereka sedang dikuasai amarah hingga Shanum memilih bungkam dan menerima semua makian, teriakan dan cacian serta kekecewaan terhadapnya.


Terlebih lagi, ia tak berani memandangi suaminya, Shanum merasa berdosa dan telah melukai harga diri Riqhad. Shanum hanya melafalkan do'a dalam hatinya agar ia kuat menerima keadaan ini dan semoga hal buruk tidak terjadi kepada keluarganya ini. Shanum meminta keberanian agar bisa menjelaskan kesalahpahaman ini. Apakah bisa?


Mama Hasna menghampiri Shanum dan memeluknya erat sembari melafalkan kata maaf dengan lirih. Shanum menangis dipelukan mertuanya.


"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa kalian bersitegang?" Tanya Thoriq heran.


Zoeya langsung melepas pelukan Thoriq dan menyerahkan lembaran foto kepada Thoriq tapi wajah Thoriq biasa saja dan tak tampak terkejut.


Zoeya menjadi heran melihat ekspresi santai Thoriq. "Jangan bilang Abang udah tahu mengenai ini?" Tuduhnya.


Thoriq menghela nafas, memasukkan kembali foto tersebut ke dalam map di atas meja. Lalu, pandangannya  mengarah pada Riqhad.


"Aku memang tahu semuanya. Kebenaran mengenai siapa Shanum sejak ia datang ke rumah ini. Elsha kecil di gambar itu memang Shanum, tapi kalian semua tidak boleh melihatnya hanya dengan sebelah mata. Sebab, apa yang kalian lihat belum tentu seperti apa yang terlihat, apa yang kalian dengar belum pasti sebagaimana apa yang terdengar. Maka tenanglah dan jangan hanya ingin didengar tapi belajarlah mendengar." Terangnya mengarah kepada kedua adiknya.


Kemudian Thoriq menghampiri mamanya seraya berkata, "jika kalian ingin mengetahui tentang kesalahpahaman ini, Abang dan Mama siap menjelaskan tanpa kurang sedikit pun." Tambahnya lagi.


Namun, kemarahan Zoeya dan kekecewaannya semakin menjadi.


"Enggak! Semua udah jelas. Oya berterimakasih pada siapapun yang mengirimi gambar itu ke sini. Kalau enggak, Oya akan terus tertipu dengan wajah polos Shanum!" Teriak Zoeya lagi.


Kemudian ia menghampiri mamanya, melepas paksa pelukan Shanum dan mamanya itu. Hingga menjatuhkan Shanum ke sofa seraya kembali berteriak, "kamu pergi dari rumah ini! Tinggalkan rumah kami, sekarang!" Usirnya.


Dengan perlahan Shanum mengangkat wajahnya yang memerah dan dipenuhi air mata seraya berkata lembut, "Oya, Shanum tidak seperti apa yang Oya pikirkan. Semua gambar itu benar tapi penjelasannya lebih pelik lagi. Ini hanya salah paham!"


Shanum berusaha berdiri dibantu mama mertuanya yang memandanginya iba.


Shanum mengelus pelan tangan mertuanya kemudian mendekati Zoeya. "Shanum tidak akan memberikan kalimat pembelaan sekarang. Apapun yang Shanum katakan pasti tidak akan Oya percaya sebab Oya masih dikuasai amarah. Shanum akan pergi dari sini sesuai yang Oya perintahkan. Tapi, setelah Shanum menerima izin dan Ridho dari suami Shanum... karena setiap langkah Shanum adalah tanggungjawabnya."


Shanum berjalan pelan menghampiri Riqhad yang menatapnya datar.


"Redakan kemarahan Abang dengan wudhu, Shanum tidak akan membela diri sebab itu semua percuma jika didengar oleh orang yang dikuasai amarah. Jadi, sesuai permintaan Oya... izinkan Shanum pergi, Bang." Pinta Shanum dengan lirih.


Riqhad mengalihkan pandangannya dari istrinya, tak sanggup melihat mata Shanum yang dilelehi air mata. Dadanya terasa nyeri. Ingin berkata tapi kosa kata yang hendak diucapkan pun hilang.


"Abang, ridhoi langkah Shanum. Berada di sini tapi tak ditanggapi pun rasanya sakit. Jadi, Shanum mohon maafkan Shanum dan izinkan Shanum menjauh sampai Abang bersedia mendengar penjelasan Shanum." Lirihnya lagi.


Shanum pun mengambil paksa tangan kanan suaminya lalu menciumnya takzim kemudian melihat ke arah suaminya yang masih bungkam. Riqhad tak mencegahnya dan Shanum sangat sedih akan itu. Kemudian, Shanum berjalan menuju kamarnya di lantai atas untuk membereskan pakaiannya.


Beberapa saat setelah memasukkan semua barangnya ke dalam koper, Mama Hasna muncul dengan wajah sendu dan rasa bersalah. Ia memeluk Shanum erat.


"Sayang, maafkan anak-anak Mama. Kamu jangan merasa bersalah, sebab ini bukan salahmu. Papa mertuamu dulu sudah menjelaskan semuanya pada Mama dan keluarga kami berhutang budi padamu, Nak. Jika bukan karenamu suami Mama pasti meninggal waktu itu, mama sangat kasihan melihatmu yang terlibat permasalahan orang dewasa diusiamu yang sangat belia." Ucapnya.


Mama Hasna melepas pelukannya pada Shanum dan menyerahkan sebuah map berukuran sedang,  "ini milik Omamu dan di dalamnya ada surat kedua yang bisa kamu baca setelah menikah, kan? Isi suratnya kalau Mama ngga salah mengenai harta peninggalan Omamu itu. Jika keputusanmu untuk menjauh sekarang, kamu bisa gunakan isi map itu. Selalu hubungi Mama jika terjadi apa-apa, kamu paham?"


Shanum mengangguk dan memeluk Mama mertuanya sebelum membereskan tas lainnya. "Maafkan Zoeya telah mengusirmu, Nak. Ia hanya kaget melihat gambar yang entah dikirim oleh siapa. Mama akan menjelaskan semuanya pada suamimu dan adik iparmu itu. Semoga mereka mengerti dan secepatnya Mama akan membawamu kembali ke sini, ke tengah kami. Kamu yang sabar ya, saying."


Shanum tersenyum lembut, mengangguk dan menyalami Mama Mertuanya.


Kemudian Mama Hasna turun lebih dulu bersama Bi Cici yang akan ditugaskan mendampingi Shanum ke mana pun menantunya itu pergi. Mama Hasna meninggalkan Shanum sejenak di kamarnya dan mungkin Shanum ingin membacakan surat dari Omanya atau untuk menenangkan perasaannya yang sedang terguncang.


Beberapa saat kemudia, Shanum turun dari lantai atas dengan langkah berat. Ketika melewati ruang keluarga, ternyata di sana masih ada Riqhad yang telah duduk dengan kaku di ujung sofa sedangkan Zoeya mungkin sudah masuk ke kamarnya.


Thoriq dan Mama Hasna membantu Shanum membawakan koper dan tas jinjingnya untuk dimasukkan ke garasi.


Kini hanya tinggal Shanum dan Riqhad di ruangan tersebut. Shanum menghampiri Riqhad dan berlutut di depan suaminya. Riqhad yang bermenung di sofa mengangkat wajahnya memandang sendu sang istri.


Shanum menggenggam tangan suaminya dan menuntun tangan itu ke arah perut ratanya. Shanum tersenyum lirih dan berkata, "Abang, ridhokan jarak ini. Shanum janji akan jaga Qhanum junior kita. Abang, nggak usah cemas. Abang hanya perlu menenangkan pikiran dan diri Abang, setelahnya Abang boleh cari Shanum minta penjelasan. Jika memang Abang enggan lagi, maka nggak usah. Biarkan kita tetap berjarak." Shanum berusaha menahan isakan yang hendak keluar dari bibirnya.


Lalu, Shanum menurunkan tangan Riqhad dari perutnya, menyalami Riqhad dengan lelehan air mata dan berkata kembali. "Shanum pergi, Bang. Jangan lupa sholat dan ngaji ya. Do'ain anak kita juga, Shanum pamit. Assalamu'alaikum Calon Ayah."


Shanum berdiri, hendak berbalik memunggungi Riqhad, berjalan meninggalkan suaminya itu. Tapi, tiba-tiba saja Riqhad berdiri dan memeluk Shanum dari belakang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, hanya ada hembusan nafasnya yang lemah. Ia semakin mengeratkan pelukannya sembari mengecup pundak Shanum yang ditutupi kerudung. Meneggelamkan wajahnya di pundak sang istri, menghirup wangi yang ia sukai ini.

__ADS_1


Interaksi mereka diam-diam dilihat oleh Zoeya dari balik tembok, entah mengapa Zoeya merasa sedih dan sangat bersalah akan tindakannya tadi. Ia  memandangi Abang dan Kakak iparnya dengan rasa bersalah tanpa ia sadari ia ikut menangis menyaksikan Abang dan Kakak Iparnya terluka.


Lalu, Mama Hasna dan Thoriq pun tidak ketinggalan, menyaksikan mereka dengan perasaan yang hampir sama. Mengapa kebahagiaan mereka harus ditelan kenyataan pahit akibat kiriman gambar ini? Siapa yang berniat menghancurkan keluargaku ini? Setelah masalah kantor yang kian menjadi ditambah lagi hal ini. Siapakah dalangnya? Batin Thoriq menerka.


Beberapa menit terlewati, Riqhad pun merenggangkan pelukannya dari tubuh sang istri setelah sebelumnya mengelus perut Shanum dari belakang tubuh Shanum tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tanpa melihat wajah wanitanya Riqhad pun meninggalkan Shanum menuju kamar mereka.


Shanum menekan nyeri di dadanya. Memutar badannya dan melihat punggung suaminya yang kian menjauh. Kali ini, Shanum benar-benar pergi meninggalakan rumah keluarga suaminya dan diantar oleh kakak iparnya berbekalkan map pemberian mendiang Omanya.


"Kemanakah Shanum akan pergi?" Pikirnya.


***


Di dalam kamarnya, Riqhad menggeram dan memberikan bogeman pada tembok tak bersalah. Ia bodoh, mengapa tidak bisa mencegah kepergian istrinya itu? Bahkan untuk mendengar pembelaan atau penjelasan dari Shanum pun ia tidak.


Kekecewaannya pada Shanum membuatnya buta mengenai apa yang seharusnya ia lakukan, Papanya adalah sumber masalah yang membuat Riqhad minggat dari rumah ini, bukan Shanum sungguh.


Riqhad hanya mengetahui bahwa papanya memiliki wanita simpanan hingga beberapa waktu tidak kembali ke tengah mereka. Tapi apa? Riqhad sama sekali tidak tahu bahwa wanita simpanan itu adalah Shanum yang masih kecil. Shanumnya yang kala itu sering dipanggil 'Elsha'.


'Shanum pergi, Bang. Jangan lupa sholat dan ngaji ya. Do'ain anak kita juga, Shanum pamit. Assalamu'alaikum Calon Ayah.'


Pesan dari Shanum terngiang-ngiang di pelupuk matanya.


Astagfirullah...


Ya Allah ampuni hambaMu ini.


Telah menelantarkan istri dan titipanMu di luar sana. Lirih Riqhad.


Dadanya sesak, terasa nyeri dan bahkan lebih sakit dari tujahan belati. Shanum diusir Zoeya bahkan belum sempat Riqhad dan Shanum membagi kabar bahagia mereka mengenai keberadaan calon anaknya itu.


'Abang, ridhokan jarak ini. Shanum janji akan jaga Qhanum junior kita. Abang, ngga usah cemas. Abang hanya perlu menenangkan pikiran dan diri Abang, setelahnya Abang boleh cari Shanum minta penjelasan. Jika memang Abang enggan lagi, maka ngga usah. Biarkan kita tetap berjarak.'


Kembali suara merdu itu mengusik pikirannya. Hingga membuat Riqhad kembali beristighfar, ia sangat mencemaskan keadaan Shanum dan calon buah hatinya yang masih sangat rentan itu. Kesehatan Shanum di awal kehamilan ini sungguh memprihatinkan, Shanum sering pusing dan bahkan nafsu makannya berkurang.


'Jika memang Abang enggan lagi, maka ngga usah. Biarkan kita tetap berjarak.'


'Biarkan kita tetap berjarak.'


Perkataan Shanum semakin mengacaukan pikirannya. Tidak! Tidak! Riqhad tak ingin berjarak lebih lama lagi dengan istrinya. Semua ini salah Shanum yang dengan lancang memasuki kehidupannya, terlebih lagi masuk kehatinya dan dengan seenaknya menetap di sana. Jika lebih lama lagi, Riqhad lah yang akan tersiksa dengan jarak ini.


'Abang, maaf megecewakanmu. Shanum sayang, Abang. Redakan kemarahan Abang dengan wudhu, Shanum tidak akan membela diri sebab itu semua percuma jika didengar oleh orang yang dikuasai amarah.'


Deg


Riqhad terdiam, pesan sang istri membuatnya sadar bahwa ia harus melibatkan Allah dalam setiap langkah dan tindakannya. Hingga Riqhad kembali beristighfar dan ingin langsung mengerjakan sholat.


Namun, Sebelum itu ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Selembar foto yang ia ambil dari meja ruangan keluarga tadi, foto yang belum sempat di lihat oleh Zoeya bahkan Mamanya. Foto inilah yang membuat Riqhad yakin bahwa istrinya mungkin sama sekali tidak bersalah bahkan mungkin papanya hanya dijebak entah ada alasan lainnya. Yang penting Riqhad harus mewaspadai pria di foto ini dan menyelidiki lebih lanjut. Jika memang dia, maka kemungkinan besar orang ini juga yang melatarbelakangi penyelewengan di perusahaannya. Untuk itulah Riqhad akan mengikuti keinginan siapapun yang menginginkan kehancuran keluarganya ini, dengan membiarkan Shanum pergi salah satunya.


Riqhad bertekat akan membuktikan bahwa papa dan istrinya sama sekali tidak bersalah. Iya, Riqhad janji akan segera menjemput bidadarinya dan calon buah hatinya itu.


'Shanum, yang sabar ya sayang... Jagain anak kita dan tunggu Abang! Abang cinta kalian.' Batin Riqhad.


Riqhad pun mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu kontak dari sana.


"Ron, tolong selidiki lebih lanjut mengenai pria bernama Hardean dan cari tahu hubungannya dengan Papa atau pun Mama saya. Dan juga tolong kamu ikuti kemana pun istri saya, lapor setiap langkah dia. Lindungi dia dari jarak jauh. Mengerti!"


............


"Bagus, sebisa mungkin kamu selalu berada di sekitarnya. Sebab saya tidak bisa terlihat berada di dekatnya sebelum kebenaran mengenai Hardean tersingkap. Saya percayakan ini padamu."


..............


"Jangan kecewakan saya."


Tut


Riqhad menghela nafas dengan gusar kemudian mengetik sebuah pesan yang ditujunya pada Gilan. Setelahnya Riqhad menuju kamar mandi untuk berwudhu'.

__ADS_1


__ADS_2