A

A
EMPAT PULUH TUJUH


__ADS_3

PART 47 - SINGAPORE PUNYA CERITA


"Pria yang pemalu dan sederhana adalah karakter yang menakjubkan, namun wanita yang pemalu dan sederhana itu lebih menakjubkan lagi."


(Abu Bakar Ash-Shiddiq)


_________________________________________


Shanum tertidur dipundak Riqhad dengan nyamannya, perjalanan kali ini merupakan perjalanan terjauh selama mereka menjadi sepasang suami istri. Mengingat kondisi Shanum yang tidak lagi mengalami mual-mual berlebihan, Riqhad pun memutuskan membawanya ke Singapura untuk menziarahi makam orang tuanya.


Riqhad terpaksa memilih tiket dengan kategori economy premium class, sesuai permintaan Shanum agar tidak boros hanya sekedar untuk tiket pesawat. Padahal awalnya, Riqhad ingin memesan tiket first class agar Shanum lebih nyaman. Tapi tak apa, karena posisi bangku dari tiket kelas ekonomi premium ini lebih rapat hingga kepala Shanum masih bisa bersandar nyaman di pundaknya.


Setelah sepuluh hari yang lalu melaksanakan acara resepsi, Riqhad lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor hingga sering menitipkan Shanum di rumah Mamanya. Posisi sebagai pimpinan menuntutnya untuk selalu bertanggungjawab apalagi Abangnya sedang tidak di sini, hingga Riqhad susah untuk mengambil waktu bercuti.


Untung saja kemarin Thoriq telah kembali ke kantor lagi selepas melaksanakan umroh bersama Syafiqa. Hingga Thoriq memdesak Riqhad untuk memenuhi janjinya pada Shanum, urusan perusahaan biarlah dipegang oleh Thoriq untuk sementara, sambilan Thoriq mencarikan seorang sekretaris pengganti Armadan dan Omnya.


Armadan memilih untuk fokus pada bisnis barunya sendiri, sedangkan sekretaris Riqhad yang tak lain adalah Omnya memang diminta untuk istirahat dari bekerja sebab kesehatannya semakin menurun akhir-akhir ini. Jika memerlukan pendapat dari Omnya, maka mereka akan menemui langsung Om tersebut di rumahnya.


"Selagi dia masih libur semester, Qhad. Bosan tau di rumah melulu, menyenangkan ibu hamil itu adalah tugas utamamu sekarang." Ucap Thoriq waktu itu.


Cup


Riqhad mengecup pipi istrinya yang  ditutupi sehelai kain berwarna hitam. "Aku sangat menyayangimu, istriku." Lirih Riqhad.


Tangannya pun tak tinggal diam untuk mengelus perut istrinya. "Kamu yang sehat ya, Nak di dalam sini. Kami mencintaimu dan tak sabar menanti kehadiranmu." Gumamnya.


Ssst... sttt...


Desis dari belakang Riqhad. Riqhad masih tidak menyadari suara itu, ia masih saja memandangi istrinya yang terlelap. Akhir-akhir ini mereka jarang menghabiskan banyak waktu bersama karena kesibukan Riqhad.


Sstt... sttt...


Suara itu muncul lagi, hingga membuat Riqhad dengan terpaksa menoleh ke bangku belakang dan menemukan sumber suara tadi. Riqhad mengangkat alisnya kesal seolah bertanya 'kenapa?'


"Bang, Oya pindah duduk bisa ngga sih?" Bisik Zoeya pada Riqhad. Yups, saat mengetahui Abang dan Kakak iparnya akan bertolak ke Singapura, Zoeya pun antusias ingin ikut serta sebab telah lama tidak liburan katanya.


"Kan udah Abang bilang, nggak usah ikut. Kamu rewel sih!" Sungut Riqhad.


Riqhad pun memperhatikan seseorang yang duduk di bangku samping Zoeya. Seorang pria tampan yang terlihat tegas dan berkarisma. 'Apa gara-gara orang di sampingnya, Zoeya merasa risih?' Pikir Riqhad.


Zoeya berdiri dan menghampiri Abangnya, dengan sedikit menunduk ia berbisik lagi, "Oya nggak nyaman, Bang. Di samping Oya kayak ada balok es gitu. Dingin banget. Kan Oya jadinya risih." Keluhnya sambil melirik pria yang masih duduk enteng tanpa terganggu dengan tingkah Zoeya.


"Ish, ada-ada aja kamu. Udah sana, santai aja. Kamu duduk yang manis terus pejamkan mata kayak Shanum. Perjalanan kita cuma bentar aja kok ini." Jawab Riqhad juga sambil berbisik takut Shanum terbangun.


Zoeya mendengus mendengar jawaban dari Abangnya. Sambil menatap Shanum yang menyandar empuk di lengan Abangnya, Zoeya pun bergumam tanpa sepengetahuan Riqhad, "Abang sih enak bisa peluk-peluk Shanum, lah Oya mah apa. Jomblo kesepian."


"Mbak, bisa tolong duduk di bangkunya dan mohon dipasang safety belt Anda. Kita akan take off sebentar lagi." Tegur sopan seorang pramugari cantik yang sedang mengecek para penumpangnya.


Dengan lemas, gadis berkerudung merah ini pun memundurkan tubuhnya hingga menjatuhkan diri ke bangkunya dengan kesal. Zoeya tak betah bila bertetanggaan bangku dengan seorang yang tak ia kenal, terlebih lagi sosok pria disampingnya ini terlalu kaku dan memancarkan aura negatif hingga bisa membekukan dirinya.


Zoeya belum juga merasakan kenyamanan hingga beberapa kali memutar-mutar posisi duduknya sambil bergumam tak jelas yang terdengar seperti mengumpat. Hal itu membuat seseorang di samping Zoeya merasa kesal.


"Kamu cacingan?" Ucap pria di samping Zoeya dengan nada intimidasi. Pria ini terusik dengan segala tingkah gadis di sampingnya.


Deg


Bukan hanya auranya yang dingin, suaranya pun juga. Batin Zoeya.


Zoeya langsung mematung mendengar suara datar itu, ia hanya menjawab dengan gelengan cepat sambil membuang muka, tak mau memancing keributan dengan membalas perkataan yang seperti ejekan dari pria di sampingnya ini. Lalu, ia pun memilih mengikuti saran Abangnya dengan menutup mata sambil mendengarkan murotal dari handphone-nya.


***


"Sayang, bangun dong." Ucap Riqhad sambil menepuk pelan pipi Shanum.


Luar biasa ibu hamil ini, sebelum take off saja ia telah terlelap hingga sekarang saat mereka telah landing beberapa menit yang lalu.


"Abang ganggu aja. Shanum masih ngantuk ini." Jawab Shanum dengan masih memejamkan matanya.


"Sayang, bangun nggak. Mau abang cium di sini sekarang!" Ancam Riqhad dengan nada menggoda. Mendengar itu, dengan cepat mata Shanum pun terbuka.


"Ish, Abang ngomong yang gituan nggak tahu tempat!" Balasnya sambil mencubit lengan Riqhad.


Ia pun mengedarkan pandangannya, tanpa mengubris ringisan Riqhad akibat cubitannya. Beberapa saat kemudian dia pun memandang ke arah Riqhad.


"Bang, Shanum jadi ingat pertemuan kita waktu itu. Setelah di Airport, kita juga  duduk bersebelahan kayak gini. Tapi dengan perasaan yang berbeda, waktu itu Abang marahin Shanum!" Ucap Shanum sambil membayangkan kejadian lalu.


Riqhad pun tertawa kecil memikirkannya. "Iya. Nggak taunya, gadis pemalu yang Abang marahin itu sekarang udah jadi orang yang paling Abang saying." Balasnya sambil memandangi Shanum, meski hanya terlihat matanya yang menyipit cerah pertanda ia sedang tersenyum. Selalu saja cantik.


Mereka berpandangan sambil menumpahkan perasaan cinta mereka yang kian hari kian bertambah besar volumenya.


"Ehem! Excuse me... kalian yang di depan bisa bantu saya." Ucap seseorang dari belakang Riqhad.


Riqhad dan Shanum pun kompak menghadap ke sumber suara itu.


Seorang pria tengah terlihat kusut dan kesal.


"Bantu saya singkirkan wanita ini." Ucapnya lagi dengan datar.


Shanum dan Riqhad pun membelalakkan matanya, mereka hampir saja melupakan keberadaan Zoeya di belakang. "Astagfirullah, bukan mahrom ini." Batin Shanum melihat kepala Zoeya yang bersandar nyaman di bahu pria yang terlihat kesal itu. Tangan Zoeya pun dengan tak tahu malunya memeluk lengan orang tersebut.


"Zoeya bikin malu saja, safety beltnya juga ngga dipasang lagi." Batin Riqhad.


"Maafkan Adik saya ya, Mas." Ucap Riqhad sambil menghampiri Adiknya yang masih tertidur dengan nyaman. Riqhad pun memindahkan kepala Zoeya dari bahu pria yang tak dikenalnya.


"Iya, nggak apa-apa." Balas pria itu saat Riqhad mulai mengangkat kepala Zoeya.


"Unggh, siapa sih beraninya ngambil bantal dan guling Oya!" Geram Zoeya yang masih belum terjaga dengan sempurna. Ia menggosok-gosok matanya hingga menerima cahaya yang masuk dengan sempurna.


Deg


Zoeya kaget luar biasa melihat Riqhad  dan Shanum menatapnya kesal. "Oya buat salah apa sih?" Tanya Zoeya polos.

__ADS_1


"Minggir! Saya mau lewat!" Ucap pria di samping Zoeya itu lagi.


Zoeya yang masih belum mengerti keadaan itu pun masih saja termenung dan belum beranjak.


"Ck, Andes berapa lama lagi!" Ucap pria itu lagi dengan datar. Seorang pria lainnya pun muncul dari bangku lainnya dan menghampiri mereka.


"Maaf Mas Bos, kita harus cepat. Sebelum terlambat dan dimarahi." Ucap Andes. Pria bernama Andes pun memandangi orang-orang yang berada di sekitar pria yang memanggilnya.


"Maaf, Mbak. Tolong beri jalan untuk atasan saya!" Pintanya dengan sopan. Seolah mengerti alasan 'Mas Bos' memanggilnya.


Shanum pun membawa Zoeya keluar dari bangkunya dan memberi ruang untuk pria itu.


"Ck, menyusahkan saja!" Keluh pria yang dipanggil 'Mas Bos' itu sambil memandangi Zoeya dengan geram. Ia menepuk-nepuk lengannya yang tanpa sadar ditindih oleh Zoeya saat tertidur tadi. Kemudian, pria itu pun berjalan meninggalkan Shanum, Zoeya dan Riqhad tanpa permisi.


Mendengar omelan itu, Zoeya menjadi kesal dan marah. "Eh, cowok dingin kayak es. Sombong banget loe ngatain gue! Awas loe ya kalo ketemu gue lagi, gue bales loe!" Teriak Zoeya.


Pria itu pun tidak menanggapi ucapan Zoeya sama sekali dan terus berjalan dengan tenang. Andes yang melihat kejadian barusan hanya bisa menahan senyum.


"Maaf ya Mas, Mbak. Dia emang kayak gitu, terlihat kasar tapi sebenarnya baik kok. Oh iya, kenalkan nama saya Andes!" Ucap Andes.


"Iya, Pak. Tolong sampaikan maaf kami dengan atasan Anda. Sebab Adik saya ini telah menyusahkannya. Kenalkan nama saya Riqhad dan ini istri saya Shanum. Di sebelahnya Zoeya, adik saya." Jawab Riqhad memperkenalkan diri.


Saat Andes hendak menyalami wanita bercadar yang di sebut istri oleh pria di depannya, wanita itu hanya menangkup kedua tangannya di depan dada. Dengan kaku, Andes pun menarik kembali tangannya hingga mengikuti gerakan Shanum.


"Iya, nanti saya sampaikan. Semoga kita bertemu lagi setelah ini. Saya permisi ya, sebelum atasan saya ngamuk lagi." Ucap Pak Andes lagi.


"Pak Andes, sampaikan juga salam permusuhan dari saya untuk atasan Anda yang kayak balok es itu ya!" Ucap Oya ketus.


Pak Andes pun tak bisa menahan diri untuk tertawa. Lucu sekali wanita di depannya ini.


Drrt...


Ponsel Andes bergetar. Ia membuka pesan singkat di ponselnya, meski hanya terdiri dari beberapa kata dan diakhiri tanda seru. Ia tahu bahwa ia diminta untuk cepat.


"Iya Mbak Zoeya. Nanti saya sampaikan salam hangat Anda." Pak Andes menyimpan ponselnya dan pamit kemudian.


Sepeninggalannya Andes, Riqhad menggandeng Shanum untuk turun dari pesawat. Mereka mengacuhkan Zoeya begitu saja.


"Kok Oya ditinggalin sih! Ugh, triple  kesel!" Ucap Zoeya seraya mengikuti keduanya.


***


Keesokan harinya di penginapan


"Sayang, kamu lagi baca apa sih?" Tanya Riqhad saat melihat istrinya yang masih belum menggunakan kerudung, padahal planningnya mereka akan pergi menziarahi makam orang tua Shanum.


"Ini Bang, surat ketiga dari Oma. Kemarin sebelum berangkat Mama ngasih ke Shanum, kata Mama jangan dibuka sebelum sampai Singapore. Jadi, sekarang Shanum mau baca. Jadi penasaran sama isinya." Jawab Shanum setelah mengikat rambut panjangnya.


"Oh gitu, yaudah deh. Tapi, Abang boleh nanya nggak isi surat kedua apa? Kalau surat pertama kan emang Abang yang bacain." Timpal Riqhad seraya berjalan menuju tempat Shanum berdiri.


Riqhad telah bersiap dengan pakaian santainya, meski pun begitu aura kerapian dan keformalannya masih terasa karena suami Shanum memilih menggunakan celana dasar daripada jeans.


"Oh itu." Shanum bergegas membuka tasnya dan mengeluarkan selembar surat dari sana.


Setelah beberapa saat membaca surat dari Omanya, Shanum mendadak terisak. Riqhad yang juga sedang membaca kalimat demi kalimat dari surat yang diberikan oleh Shanum itu pun hanya menghela nafas berat sebelum menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan istrinya.


Riqhad menutup surat yang telah ia baca dan memperhatikan punggung Shanum yang bergetar, pertanda wanitanya sedang menagis.


"Hei, kenapa nangis?" Ucap Riqhad sambil membalikkan tubuh istrinya. Ia pun mengangkat wajah Shanum yang memerah dan dilelehi air mata.


"Abang hiks... hiks... Shanum senang dan juga sedih sekaligus. Ternyata, Oma yang ngerawat Shanum adalah Oma  kandung Shanum sendiri dan orang yang Shanum takuti adalah paman Shanum. Kenapa Shanum harus tahunya sekarang... hikss.. hikss..." Ucap Shanum disela tangisnya.


"Cup... cup... Tenang sayang, Omamu pasti punya alasan sendiri menyembunyikan ini darimu. Alasan yang nggak boleh kita tahu, yang penting sekarang Shanum udah tahu kebenarannya. Shanum masih memiliki paman dan saudara lainnya." Riqhad berusaha menenangkan tubuh Shanum yang bergetar.


"Abang bangga pada Shanum yang udah maafin Om Hardean meski pun perbuatan Om Hardean di masa lalu sungguh kejam." Tambah Riqhad pagi sambil menyeka air mata istrinya.


"Bang, setelah kembali dari sini. Anterin Shanum buat ketemu Om Hardean ya... Shanum mau silaturrahmi dan menyerahkan haknya itu." Pinta Shanum sambuo mengelus tangan suaminya yang berada di wajahnya.


"Meskipun kata Oma ini semua untuk Shanum, tapi Om Hardean juga punya hak sebagiannya. Dan sebagian lagi Shanum mau membangun sekolah yang dicita-citakan Oma semasa hidupnya." Tambah Shanum lagi dengan mata berkaca-kaca.


"Iya, apa pun yang kamu mau dan selama itu baik Abang akan selalu mendukungnya." Jawab Riqhad dan langsung merengkuh tubuh istrinya dengan sayang.


Beberapa saat kemudian, setelah tubuh Shanum tak lagi bergetar dan isakannya telah menghilang. Riqhad pun merenggangkan pelukannya.


"Ya sudah, ayo siap-siap. Kita ke makamnya Ibu, Ayah dan Oma." Ajak Riqhad yang dibalas anggukan dari Shanum. Shanum pun bergegas mengenakkan kerudungnya serta cadarnya yang mulai saat ini menjadi kebutuhannya.


Setelah Shanum bersiap, keduanya pun meninggalkan kamar mereka dan menuju kamar sebelah yang dihuni oleh Zoeya.


"Oya, mau ikut Abang atau di sini aja?" Tanya Riqhad pada adiknya yang ternyata masih belum membersihkan diri.


"Oya di sini aja deh, Bang. Tapi, Oya mau jalan-jalan di sekitar penginapan ya!" Jawab Zoeya seraya meninggalkan kasurnya.


"Ya sudah, jangan main jauh-jauh dan hubungi Abang kalau ada apa-apa. Oke!" Timpal Riqhad.


Zoeya pun mengangguk dan menyalami Abang dan kakak iparnya. Setelah pamit, Shanum dan Riqhad meninggalkan Zoeya untuk mengunjungi makam orang tua Shanum dan mengunjungi rumah Oma Syafiah yang kata Shanum sekarang dijaga oleh orang kepercayaan Oma.


Sampai di makam


"Ayah, Ibu... Shanum datang. Maafin Shanum udah lama ngga ke sini. Sekarang, Shanum datangnya bertiga. Dengan suami Shanum dan calon cucu kalian." Ucap Shanum sambil mengelus batu nisan orang tuanya, sedangkan makam Omanya berada sedikit jauh dari makam kedua orang tuanya. Riqhad yang berada di samping istrinya, dengan lembut mengikuti gerakan istrinya.


"Assalamu'alaikum Ibu, Ayah! Perkenalkan saya Riqhad, suami dari  putri cantik kalian dan Ayah dari cucu-cucu kalian kelak. Perkenankan saya untuk selalu mencintai putri kalian, saya tak berjanji untuk selalu membuatnya bahagia tapi saya akan berusaha untuk tidak akan menyakitinya sedikitpun. Susah dan senang akan saya lalui bersamanya. Ingin rasanya menjabat tanganmu Ayah saat saya meminta putrimu menjadi pendamping saya tapi tak apa, saya yakin engkau merestui kami. Terimakasih." Sapa Riqhad setelah Shanum menyelesaikan perkataannya. Riqhad dengan setia menggenggam tangan Shanum seraya pamit setelah mereka melafalkan doa untuk Ibu dan Ayah Shanum.


Keduanya pun beranjak ke makam Oma Syafiah dan juga membacakan doa di sana.


Setelah dari makam Oma, mereka berdua pun ingin kembali ke penginapan karena teringat Zoeya yang telah lama mereka tinggal. Namun, sebelum itu pasangan suami istri ini berhenti sejenak di Masjid untuk melaksanakan sholat dzuhur karena telah masuk waktu sholat. Ketika berada luar masjid, saat Shanum menunggu suaminya, dia disapa oleh seseorang yang nampaknya familiar.


"Nak, Elsha kan? Shanum?" Sapa orang itu.


"Eh, iya. Kok Ibu tahu?" Tanya Shanum yang heran apalagi sekarang ia menggunakan cadar, mengapa wanita paruh baya ini masih bisa mengenalinya.


"Iya, saya tahu dari matamu, Nak. Masih ingat sama saya? Saya asisten Ibu Syafiyah yang setelah kamu meninggalkan rumah. Sayalah yang bertanggungjawab menjaganya, meski pun saya tidak menempati rumah itu." Tambah wanita paruh baya ini lagi.

__ADS_1


Shanum masih tidak bergeming di tempat sebab masih mengingat-ngingat mengenai orang di depannya ini. Riqhad yang telah keluar dari masjid menghampiri istrinya.


"Ini suamimu?" Tanya wanita paruh baya ini lagi.


"Iya, kenalkan. Suami Shanum, namanya Riqhad dia juga orang Indonesia." Jawab Shanum.


"Apakah kalian akan mengunjungi rumah Ibu Syafiah?" Tanya Ibu Deva.


"Iya, kami akan mampir sebentar." Jawab Riqhad yang dibalas anggukan dari Shanum.


Setelah kembali dari rumah Omanya, Shanum menjadi lega karena rumah kenangan itu masih terjaga kebersihannya. Kata Ibu yang merawat rumah itu, rumah Omanya telah banyak yang menawari untuk dibeli atau disewa tapi Ibu tidak bisa mengambil keputusan sebelum mendapat izin dari ahli waris yaitu Shanum sedangkan dia kehilangan kontak Shanum dan Shanum belum sama sekali menghubunginya.


"Shanum nggak tahu Bu, menurut Shanum lebih baik disewa saja karena Shanum juga tidak akan tinggal di Singapura." Jawab Shanum saat Ibu Deva menanyainya mengenai rumah Omanya.


"Baiklah, Nak. Kebetulan kemarin ada yang menanyai rumah ini katanya ia akan menyewa untuk waktu satu tahun. Kalau sudah yakin dengan keputusannya. Kita bisa menemui mereka besok."


Shanum dan Riqhad pun pamit setelah menyetujui usul tersebut.


Keesokan harinya


"Kita mau kemana Bang?" Tanya Zoeya saat Riqhad dan Shanum mengajaknya pergi.


"Bertemu orang." Jawab Riqhad singkat.


"Terus jalan-jalannya kapan? Bosan tahu cuma di penginapan dan sekitarnya doang. Kemarin aja Oya ditinggalin." Keluh Zoeya dari bangku belakang. Mereka sekarang tengah berada di mobil yang dikemudikan oleh Riqhad. Riqhad memang menyewa sebuah mobil untuk mereka gunakan sendiri beberapa hari di sini.


"Makanya siapa suruh ikut ke sini." Ucap Riqhad.


"Ishh, Abang jahat..." kesal Zoeya seraya mengalihkan pandangannya ke jalanan. Riqhad dan Shanum hanya tersenyum melihat kekesalan Zoeya.


"Iya, iya... besok kita jalan-jalan." Ucap Riqhad mengembalikan mood Adiknya.


Sampai di tempat perjanjian


"Selamat datang Shanum, Mas Riqhad dan..." Sapa Ibu Deva saat orang yang ia tunggu telah sampai di meja yang ia booking.


"Zoeya adik iparnya Shanum." Jawab Shanum seraya mengenalkan Zoeya. Bu Deva mengangguk sambil menyalami Zoeya.


"Oya permisi ke toilet bentar ya!" Ucap Zoeya.


Saat Zoeya sudah menjauh, Shanum pun bertanya pada Ibu Deva. "Orangnya belum datang ya, Bu?"


"Bentar lagi katanya nyampe Nak." Jawab Bu Deva.


"Permisi. Dengan Ibu Deva?" Tanya sumber suara dari belakang tubuh Shanum.


"Ah, iya Pak. Silakan duduk! Dengan Pak Mero?" Bu Deva berdiri menyambut seseorang tersebut.


"Bukan, saya Asistennya." Jawab orang tersebut sambil mengambil posisi di samping Bu Deva.


Deg


"Pak Andes!" Ucap Riqhad dengan kaget.


"Mas... Mbak...." Pak Andes tak kalah kaget dengan mereka.


"Wah, kita ketemu lagi. Jangan-jangan, kalian ya pemilik rumah yang ingin kami sewa itu?" Tebak Pak Andes.


"Iya, kebetulan sekali. Di mana atasanmu Pak?" Tanya Riqhad seraya mengedarkan pandangannya mencari seorang pria yang pernah ia temui saat di kabin pesawat.


"Ke toilet katanya. Cuma berdua, gadis energik itu dimana?" Jawab Pak Andes dan juga ia menanyai keberadaan Zoeya.


Sementara itu


"Uh lega. Oya udah cantik lagi." Gumam Zoeya setelah menyelesaikan urusannya di toilet dan menata riasannya.


Saat keluar dari toilet dan baru berjalan beberapa langkah, seorang pria  menyikutnya hingga terjatuh ke lantai.


"Gila, siapa yang berani nyenggol Oya!" Geramnya.


Pria itu pun mengernyit seolah tidak asing dengan perempuan berkerudung yang masih terduduk di lantai itu. Saat hendak membantunya berdiri, Zoeya memutar kepalanya dan-


Deg


Ia bersitatap dengan seseorang yang menjadi sumber kekesalannya.


"Kamu! Cewek cerewet!"


"Loe! Cowok ngeselin!"


Kembali ke meja Riqhad dan Shanum


"Nah, itu dia Zoeya. Tapi... kok-" Shanum kaget melihat Zoeya yang jalan beriringan dengan atasan Andes.


Sesampainya Zoeya di meja mereka.


"Loe ngapain ngikutin gue!" Sungut Zoeya sambil melirik orang di sampinya dengan kesal.


Pria itu hanya melirik Zoeya datar seraya menghampiri Andes. Dari sudut mata Andes, pria itu pun tahu bahwa orang yang ingin ditemuinya ada di meja ini.


Andes menatap Zoeya seraya tersenyum. "Mbak Zoeya. Kita ketemu lagi."


Zoeya hanya mengangguk dan memperhatikan mereka semua. Jadi, orang yang ingin ditemui Shanum dan Abangnya adalah pria ngeselin ini? Ya Allah! Kok ketemu orang ini lagi. Batinnya.


Dengan merengut, Zoeya pun mendudukkan dirinya di samping Shanum sambil mendengar pembicaraan di meja ini yang terdengar tidak seru ditelinga Zoeya. Zoeya pun memilih memainkan ponselnya, berbalas chat dengan Aufar lebih menyenangkan.


Tanpa diduga, seseorang di meja ini diam-diam mencuri lihat ke arah Zoeya.


Beberapa saat kemudian, setelah mendapatkan kesepakatan Riqhad dan pria yang tidak mau Zoeya ketahui namanya itu bersalaman.


"Terimakasih atas kesepakatannya. Besok kami akan bawa langsung orang yang akan menempati rumah itu. Tempat dan waktunya silakan ditentukan oleh Mbak Shanum." Ucap Andes sebelum beranjak.

__ADS_1


"Baik Pak, nanti atau besok akan kami kabari lagi. Berhubungan kami juga hanya beberapa hari saja di sini." Balas Riqhad.


__ADS_2