
PART 13 – MASIH RIQHAD POV (FLASHBACK)
"Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai Saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri."
(H.R. Bukhari dan Muslim)
_________________________________________
"Kenapa bisa? Kamu tidak becus!"
Aku masih kesal, karena kepulanganku ke Indonesia harus dipercepat dari jadwal yang telah ditetapkan.
Seharusnya aku masih punya waktu sehari lagi di negara ini, bukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Karena itu sudah beres sejak kemarin. Sesuai dengan yang disampaikan Zoeya, aku ingin menggunakan waktu seharian ini untuk menemani kekasihku yang sedang menuju negara ini dalam rangka study tour.
Aku sengaja mempercepat pekerjaan kemarin sehingga setibanya Fhariza. Kami bisa menghabiskan waktu bersama, namun sial. Rencana hanya tinggal rencana. Pagi-pagi buta, aku sudah didesak oleh Armadan yang mengatakan bahwa kami harus segera pulang hari ini juga ke Indonesia, karena kantor pusat sedang ada masalah. Tak hanya itu, Mama juga memintaku untuk pulang ke rumah, entah untuk urusan apa. Jujur saja, aku masih merasa sesak untuk menginjakkan kaki ke rumah itu. Sudah lama aku memilih tinggal terpisah dari keluargaku.
Mungkin nanti, aku harus menyiapkan sesuatu yang istimewa untuk meminta maaf dan menggantikan rasa kecewa Fhariza.
Sekarang aku dan sekretaris Abangku sedang dalam perjalanan menuju Changi Airport. Semua keperluan sudah dipersiapkan olehnya. Tapi dengan sialnya lagi, tiket kelas utama atau VVIP telah habis. Site Class kosong. Karena terdesak pekerjaan yang tidak dapat ditunda lagi di Indonesia, menyebabkan aku terpaksa mengikuti arahan Armadan agar tetap pulang dengan menggunakan business class.
"Maaf Bos. Kita tidak bisa menunda lagi! Dan tiketnya hanya ada yang itu." Armadan memperhatikan kegelisahanku. Kami telah sampai di Singapore Changi Airport.
Dengan langkah tergesa-gesa lantaran departure kami tinggal beberapa menit lagi, aku hanya melangakah lebar dengan umpatan yang terus tertuju untuk Armadan. Selama ini aku belum pernah menggunakan business class. Aku tidak nyaman seruangan dengan orang lain yang tidak ku kenal.
Dengan masih tergesa-gesa, tiba-tiba saja-
Srrruuttt
Cairan berwarna putih mendarat indah di jasku, aku yang semula kesal, kini bertambah kesal lagi karena kejadian barusan. Aku ketumpahan milkshake yang dibawa oleh orang di depanku.
"Kamu!!!!" Geramku sambil menunjuk orang di depan.
Seorang perempuan sekarang tengah menunduk untuk memungut milkshakenya yang jatuh tertumpah. Siapa suruh jalan tidak menggunakan mata. Batinku geram.
__ADS_1
Setelah berhasil memungut milkshakenya yang tak bersisa lagi, perempuan yang menabrakku kembali berdiri.
"Afwan Akhi, Ana tidak sengaja." Ucap perempuan berpakaian lebar itu dengan pandangan bersalah.
Aku terkesima walaupun hanya beberapa detik saja, perempuan ini terlihat masih sangat muda tetapi dari sikap dan tutur katanya sudah mencerminkan akan sebuah kedewasaan. Aku memandanginya yang kini hanya menatap sepatuku saja. Mengapa ia enggan menatap lawan bicaranya? Apakah sepatuku lebih menarik daripada wajahku? Aku membatin.
Mengenyahkan penilaianku terhadapnya yang kukira seumuran dengan Zoeya, aku mengalihkan pandanganku pada jas hitam yang kini telah basah akibat perempuan mungil ini. Aku kembali menatapnya dengan marah dan kesal. Kemudian, Armadan membantuku untuk melepaskan jas yang terlanjur basah itu, kini hanya tinggal kemeja polos yang sedikit ketat ditubuhku saja.
"Kalau jalan itu lihat-lihat pakai mata! Jangan menunduk saja! Oh... mungkin mata kamu tertutup jilbab panjang itu!” Ucapku menahan marah.
"Dan saya bukan Akhi. Kamu salah orang! Entah kamu Ana atau Ani. Saya tidak peduli!" Sanggahku, enak saja dia asal ganti nama orang yang bahkan tidak dia kenal, dan bahkan ia menyebut namanya sendiri, cih sok akrab sekali.
"Dasar perempuan tidak beretika! Sudah salah, minta maaf saja tidak!" Ucapku lagi sambil berlalu menuju gerbang keberangkatan.
Setelah berada di dalam pesawat, Armadan membisikan sesuatu ke telingaku yang berhasil membuat telinga dan wajahku memerah menahan malu. Berdehem sejenak, aku pun menutup wajahku dengan kedua tangan seraya bersandar untuk mencari kenyamanan. Aku melirik sedikit ke kursi penumpang di sebelah yang belum juga terisi. Memutar mata malas, aku pun mulai memejamkan mata.
***
Beberapa saat memejamkan mata meskipun belum sampai terlelap. Aku sayup-sayup mendengar suara lembut yang melantunkan sesuatu yang sudah lama tidak aku baca, hatiku merasa tenang dan sepercik kesedihan menghampiriku entah apa sebabnya, mungkin saja aku begitu rindu melantunkan apa yang aku dengar ini.
Aku merasa seperti tidak rela orang di sampingku ini menghentikan bacaannya yang begitu merdu meski tidak terlalu jelas terdengar, karena ia sangat memelankan suaranya.
Aku yang tidak bisa memejamkan mata lagi, kembali meluruskan badanku dan seakan penasaran dengan sosok di sampingku. Perlahan aku memutar sedikit tubuhku agar dapat melihat siapakah pemilik kursi sebelah.
Dan-
"Ana! E-eeh, maksudku Kamu!" Ucapku dengan sangat terkejut sambil menunjuk gadis berkerudung di sampingku. Secara spontan aku menyebutnya 'Ana' yang pada awalnya ku kira itu namanya, namun segera ku ralat dengan cepat.
Setelah menutup Al-Qur'an mininya, perempuan itu melirikku sekilas. Aku menatapnya kaget dan bahkan jari telunjukku masih menggantung di udara. Sekian detik aku kembali tersadar dan segera menurunkan jari telunjukku seraya pura-pura batuk sejenak.
"Iya, Akhi. Sekali lagi Ana minta maaf ya ... atas ketidaksengjaan tadi." Ucapnya lembut mengulang kata maafnya.
Aku yang mendengar suara lembut itu pun terkesima dan kemudian menormalkan mimik wajahku seraya berkata, "makanya! Lain kali kalau jalan itu perhatikan sekitar!" Ucapku dengan nada yang masih angkuh seraya memperbaiki posisiku, kemudian memalingkan wajah ke arah berlainan dari gadis berkerudung itu.
__ADS_1
Selain malas untuk melihat seseorang yang sudah menambah list kekesalanku, aku juga malu lantaran salah mengartikan ucapannya di Airport tadi. Aku juga tahu bahwa kejadian di Airport itu bukan sepenuhnya kesalah gadis ini, aku juga salah karena berjalan cepat tanpa memperhatikan orang di depanku, namun aku masih saja kesal karena ulahnya itu.
***
Sesampainya di Bandar Udara Soekarno-Hatta, aku terus berusaha menghubungi kekasihku, tetapi tidak satupun dari puluhan kali panggilanku dijawab, pertanda dia sedang melakukan aksi ngambeknya.
"Bos, kenapa bawa sendiri sih kopernya. Sini, saya saja yang bawa!" Tawar Armadan setelah muncul tiba-tiba dari arah berlainan, tampaknya Armadan baru saja menutup panggilan ponselnya.
"Kamu siapin saja mobilnya. Biar aku saja yang bawa!" Tolakku seraya berjalan cepat meninggalkan sekretaris Abangkuitu. Aku menyeret koper seraya tangan yang satunya lagi terus mengotak-atik ponsel, bermaksud terus menghubungi Fhariza.
" Lama sekali sih Dan! Cepat lah!" Ketusku yang melihat Armadan masih bengong tidak jelas menatap koper.
Setelah selesai mengatur letak koper, Armadan pun ikut memasuki mobil.
Baru saja mobil itu melaju, di spion terlihat gadis berkerudung ungu tengah berlari mengejar mobil kami. Dia juga menyeret koper yang warnanya sama dengan milikku, silver.
Aku yang menyaksikannya dari spion hanya menatap datar. "Apa lagi sih ini? Kenapa dia lari-lari? Mungkin dia mau menumpang, enak saja." Batinku seraya mengalihkan pandangan darinya.
"Bos, sepertinya gadis yang kita temui di Airport itu mengejar mobil ini!" Ucap Armadan.
Aku yang masih sibuk dengan ponselku kini menatap Armadan sekilas seraya berkata, "Mungkin dia ingin menumpang! Enak saja kan!" Ucapku setelah menyimpan ponsel dan menyandarkan punggungku yang terasa begitu penat.
"Bos, sepertinya koper yang bos bawa tadi tertukar dengan gadis itu. Terlihat dari cara dia berusaha mengejar mobil kita dan juga tadi saat saya memasukkan koper, saya merasa aneh dengan gantungan berwarna ungu di koper!" Terang Armadan.
"APAAAAAAAAA!" Teriakku kaget dengan refleks memutar mataku kembali, menatap spion mobil yang hanya menunjukkan pengguna mobil lainnya di belakang kami.
"Dan, putar balik mobil! Kita cari perempuan tadi!" Ucapku tegas dengan cemas pula.
Pantas saja perempuan mungil itu susah-sungah mengejar mobil kami. Arrgh, mengapa aku selalu berfikir buruk kepada seseorang yang bahkan tidak ku kenal. Apakah tidak ada lagi kebaikan yang masih tersisia di diriku. Aku merasa sangat bersalah pada perempuan itu, aku mengakui bahwa aku terlalu kasar dan sudah membentaknya tanpa alasan yang jelas. Meskipun dia telah membuatku kesal, apa salahnya jika aku berkata tanpa menaikkan nada bicaraku. Kini aku diliputi rasa bersalah, dan bagaimana ini?
Aku terus meminta Armadan mengendarai mobil dengan cepat, bagaimana nantinya jika perempuan itu sudah pergi jauh dan tidak ada di tempat tadi, di mana harus aku mencarinya?
***
__ADS_1
Barangsiapa takut kepada Allah SWT niscaya tidak akan dapat dilihat kemarahannya. Dan barangsiapa takut pada Allah, tidak sia-sia apa yang dia kehendaki.
~Khalifah Umar Bin Khattab~