
PART 9 – KEMBALINYA SI TOMBOY
"Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan muka yang manis"
(HR. Muslim)
_________________________________________
"ABAAAAANG!!!"
Ucapan Thoriq terpotong oleh teriakan dari dalam mobil yang dikemudinya. Ternyata Thoriq tidak sendirian di sana. Ia tersenyum kaku setelah mendengar teriakan barusan.
Dari dalam mobil, muncullah sosok perempuan cantik dengan sneaker putih, diikuti celana jeans ketat yang sedikit robek, beratasan kaos oblong yang ditutupi hoodie levis senada. Rambutnya diikat asal serta topi berwarna gelap meninggalkan kesan tomboy pada dirinya.
"Abang kok nggak langsung masuk sih? Malah berhenti di sini? Lagian kenapa nggak bangunin Oya kalo udah sampai!" Ucap perempuan yang baru muncul itu dengan nada tinggi, lengkap dengan wajah kesalnya.
Mata gadis tomboy itu kini menyusuri kedua orang yang diajak Abangnya berbincang. Keduanya sama-sama aneh menurut Zoeya. Satunya mengenakkan kerudung yang begitu lebar serta pakaian yang tak kalah lebar pula dan malahan menutupi kakinya seperti menyapu jalan saja. Zoeya tahu bahwa perempuan itu seumuran dengannya atau selisih sedikit, tapi mengapa pakaiannya sama dengan gaya Mamanya. Gak modis menurutnya. Dan yang satunya malah semakin aneh, wanita itu sebagian wajahnya tertutup kain hitam senada dengan kerudung yang dikenakkannya, hanya terlihat kedua matanya saja. Kayak teroris. Batin Zoeya berlanjut.
Harisa yang merasa tidak enak dipandangi begitu memilih pamit undur diri karena hari semakin sore. Dia meninggalkan Shanum dengan dua orang yang tidak mengenalinya.
Tanpa disadari Thoriq dengan spontan terus memandangi punggung Harisa yang kian menjauh. Terpancar raut kerinduan di pelupuk matanya.
Lamunan Thoriq pasti kian berlanjut jika tidak dihentikan oleh teriakan Zoeya lagi.
"Abaaaaang! Ngapain ngelamun terus! Siapa wanita teroris tadi?" Ucap Zoeya dengan teriakan seperti biasanya.
Hati Shanum tersentak mendengar penilaian dari perempuan di depannya ini yang ia tahu adalah putri dari Ummi Hasna. Astagfirullah, entah bagaimana di zaman sekarang ini. Pakaian tertutup dianggapnya teroris dan pakaian yang terbuka dikatakan modis. Jika wanita itu bebas menunjukkan tubuhnya, lalu mengapa dia tidak bebas untuk menutupinya?
"Ck, dia bukan teroris Oya. Dia itu mengenakkan cadar menutupi wajahnya." Thoriq menimpali dengan kesal entah kenapa.
Kemudian Zoeya kembali memandangi Shanum dengan kerutan di keningnya. "Kenapa perempuan ini tidak pergi juga? Temannya saja sudah pergi, kenapa dia masih berdiri dirumah Oya?" Batinnya heran.
"Shanum, ayo masuk! Hari sudah sangat sore ini." Ucap Thoriq memerintah.
Shanum hanya mengangguk tanpa suara seraya memasuki pekarangan rumah. Sedangkan Zoeya masih bertanya-tanya mengenai sosok gadis seumurannya itu, dia terus memandangi Shanum hingga bunyi klakson menyentak lamunannya.
Tiiin ... tiiin ... tiiiin ....
"Kamu mau jalan kaki ke dalam atau mau naik? Atau ingin berdiri terus di situ sampai besok!" Teriak Thoriq dari dalam mobil.
Zoeya pun mendengus dan menghentakkan kakinya, kemudian memasuki mobil si Abang.
***
"Yuuuhuuu ... Mama, Oya pulang!" Teriak Zoeya ketika sudah memasuki rumahnya. Matanya celingak-celinguk mencari sosok yang dirindukannya itu.
"Nggak usah teriak juga kali, Mama nggak budek." Tukas Thoriq. Ia jengah melihat Adik bungsunya yang suka sekali berteriak di mana pun berada.
"Biarin, uweeek." Cibir Zoeya dengan membiarkan Abangnya mengangkat kopernya yang besar-besar itu entah apa saja isinya.
__ADS_1
"Ma ... Mama ...!" Teriak Zoeya lagi yang kini sudah mencapai ruang tengah.
Kemudian wanita paruh baya muncul dengan tersenyum menyambut kedatangan putrinya. Dia hanya menggeleng pasrah melihat kelakuan anaknya yang tidak pernah berubah, baik hobby teriak-teriaknya maupun segi pakaian yang dia kenakkan. Sudah sering Mama Hasna menasehati putrinya agar merubah penampilannya yang tomboy itu tapi tidak sama sekali digubris oleh Zoeya. Mama Hasna sudah beberapa kali meminta putrinya untuk belajar menggunakan kerudung, tetapi pergaulan anaknya lah yang membuat Zoeya susah dibentuk lagi.
Pernah beberapa kali sahabat Zoeya itu berkunjung dan bermain di rumah ini tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang mengenakkan kerudung. Mereka beralasan bahwa jurusan fashions design yang mereka pilih akan menyulitkan jika mereka harus mengenakkan pakaian lebar-lebar dan lagian itu tidak modis jawab mereka. Mama Hasna hanya menghela nafas berat ketika mendengar itu. Nampaknya setelah ini dia akan meminta Shanum untuk menasehati Zoeya dan mengajarinya berpakaian yang seharusnya sebagai seorang muslimah.
"Mama. Kok ngeliatin Oya gitu amat sih? Nggak kangen apa?" Ucap manja Zoeya seraya menghambur ke dalam pelukan sang Mama.
"Mama kangen banget sama Oya." Jawaban Mama Hasna itu cukup membuat Zoeya senang bukan kepalang.
"Mama bohong, Mama nggak kangen sama sekali dengan Oya. Malahan Mama senang selama Oya nggak ada di sini, rumah jadi aman, tentram dan nggak ada suara petir menggelegar yang memekikkan telinga." Ucap Thoriq menggoda adiknya.
Zoeya yang mendengar itu naik pitam dan segera saja mengejar Thoriq, dia ingin membalas ejekan Abangnya barusan. Setelah lelah berlari, Thoriq pun menyerah dan pasrah saja ketika lengan gagahnya habis-habisan di cubit maut oleh sang adik.
Pancaran senyum terlihat jelas di wajah wanita paruh baya yang menyaksikan tingkah putra-putrinya itu, meskipun sudah dewasa mereka tak pernah berubah jika berada dalam rumah ini.
"Sudah ... sudah! Sekarang Oya bersih-bersih dulu terus istirahat, nanti Mama panggilkan jika makan malam sudah siap. Nanti Mama akan kenalkan Oya dengan anggota baru keluarga kita." Ucap lembut Mama Hasna pada putrinya.
Sang putri yang tengah asyik bercengkrama dengan Abangnya menghentikan aksi cubitan mautnya dengan terpaksa. Mendengar kalimat perintah dari sang Mama tanpa mau bersusah payah menebak siapakah anggota keluarga baru yang Mamanya sebutkan tadi, dia pun menuju kamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang begitu lelah.
"Abang jangan pulang dulu!" Titah sang Mama pada Thoriq yang hendak berpamitan.
***
Di meja makan telah tertata rapi beberapa menu masakan yang terlihat begitu menggugah selera. Dibantu oleh Shanum, pekerjaan Bi Ipah menjadi lebih ringan.
Setelah merasa tidak ada yang kurang, wanita paruh baya itu memanggil anak-anaknya untuk bergabung di meja makan. Thoriq muncul pertama.
Thoriq juga ikut makan malam di rumah karena permintaan dari Mamanya, dia telah menolak tadi sore ketika selesai merapikan koper adiknya dengan beralasan masih ada pekerjaan kantor yang belum selesai. Namun, ekspresi sang Mama mampu menggoyahkan perkataannya sendiri.
Tak lama setelahnya, Shanum pun kembali dari balik dapur setelah merapikan kekacauan di sana. Kekacauan yang diperbuat olehnya dan Bi Ipah tadi. Yaitu menyiapkan makan malam ini. Shanum terdiam seketika karena di ruang makan ini hanya ada dia dan Thoriq saja. Thoriq tersenyum menyaksikan ekspresi Shanum barusan, dia kembali menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Yuhuuuu ... Oya datang wahai makanan!"
Namun, baru saja memasuki ruang makan, Zoeya berhenti seraya menutup mulutnya, ia malu dengan sosok seumurannya tadi yang kini melihatnya dari dalam sana. Zoeya kaku sendiri dengan sikapnya yang sangat hobby berteriak di mana pun dia berada.
"Hahaha ... Ratu petir punya malu juga ternyata." Goda Thoriq setelah menyimpan ponselnya.
Zoeya berdehem dengan wajah yang memerah kemudian mendudukkan dirinya di kursi makan, bersebelahan dengan gadis berkerudung itu.
"Oya, jangan teriak-teriak! Kebiasaan kamu." Tegur sang Mama.
Zoeya hanya menyengir dan duduk menyila di atas kursi. Kakinya diangkat dua-duanya. Shanum melirik gadis di sebelahnya itu dengan heran, gadis cantik yang tomboy baik pakaian maupun kelakuannya terkecuali hobby teriak-teriaknya itu.
"Oya, duduk dengan benar! Kamu tidak malu dengan Shanum, kalian seumuran tetapi sikapmu berbeda jauh dengannya." Tegur Mama Hasnah kembali terdengar.
Zoeya mendengus dan dengan terpaksa menurunkan kakinya, padahal itu adalah posisi ternyamannya ketika makan. Dia memperhatikan Shanum dengan pakaian yang masih sama, selebar yang terakhir dilihatnya. Gaya Ibu-ibu, seperti pakaian Mama batinnya.
Kemudian dia pun mulai melirik dirinya sendiri. Celana jeans pendek di atas lutut dengan baju kaos kekecilan, lengkap dengan ikat rambut asal-asalannya. Berbeda sekali, tapi aku lebih modis, batinnya lagi.
__ADS_1
"Oya, ini Shanum. Anggota keluarga baru kita, dia akan tinggal bersama kita di rumah ini." Kata Mama Hasna memperkenalkan Shanum pada putrinya.
Sebelumnya Mamanya memang sudah mengatakan padanya bahwa akan ada cucu kenalan keluarganya yang akan tinggal di sini, tetapi siapa sangka cucu yang dimaksud mamanya itu seumuran dengannya.
"Dan Shanum, ini Zoeya putri satu-satunya Ummi yang sering Ummi ceritakan itu. Semoga kalian bisa akur ya kedepannya." Tambah Ummi Hasna mengarahkan pandangannya ke Shanum.
Zoeya mengernyit mendengar Mamanya menyebut diri dengan panggilan 'Ummi' pada Shanum. Tapi tidak terlalu mengubrisnya.
"Salam kenal Zoeya, aku Shanum." Sapa Shanum mengulurkan tangan kanannya bermaksud menyalami perempuan di sampingnya itu. Zoeya menyambut uluran tangan Shanum seraya membalas senyum gadis berkerudung itu dengan ramah pula.
"Aku, Zoeya. Panggil saja Oya. Salam kenal kembali Shanum."
Ummi Hasnah tersenyum melihat pemandangan di depannya ini. Dua gadis cantik dengan banyak perbedaan.
Eheemm ...
"Abang lapar. Belum bisa dimakan ini makanannya?"
Intruksi dari pria tampan yang sedari tadi hanya menyaksikan dua gadis itu seketika mengundang tawa yang menghiasi ruang makan, apa lagi suara tawa Zoeya yang terdengar begitu nyaring. Tak enak didengar.
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Thoriq izin pamit untuk kembali ke apartementnya. Zoeya yang bingung dan hendak meminta penjelasan dari Abangnya memilih diam dan akan menanyakan itu pada mamanya nanti.
Zoeya memperhatikan Shanum yang baru kembali dari beres-beres dari ruang makan. Kan ada Bi Ipah, untuk apa dia susah-susah bantuin? Batin Zoeya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oya dan Shanum ... kemari! Ummi mau bicara." Perintah Ummi Hasna dari sofa ruang keluarga.
Mereka pun menghampiri wanita paruh baya itu. Shanum duduk di depan Ummi Hasna dan Oya bergelayut manja di samping Mamanya. Shanum tersenyum miris menyaksikan itu, ia merasa iri karena tidak bisa melakukan hal yang disaksikannya dengan wanita yang melahirkannya, bahkan sekalipun dia tidak pernah merasakannya.
"Mulai besok, Shanum akan kuliah di kampus yang sama dengan Oya tetapi berbeda jurusan. Jadi, Mama minta Oya bisa mengenalkan kampus itu kepada Shanum ya?" Pintanya pada sang anak.
Zoeya pun menegakkan tubuhnya dan menatap Shanum, "Jurusan apa yang kamu ambil Shanum? Dan kamu semester berapa?" Tanya Zoeya penasaran.
"Arsitektur, aku semester tiga. Menyambung kuliahku yang lama." Jawab Shanum.
Zoeya mengangguk-anggukkan kepalanya menandakan ia mengerti. Kemudian Zoeya pun kembali berkata, "Wah, sama dengan jurusannya Bang Riqhad!"
Shanum hanya tersenyum menimpali antusias dari Zoeya. Dia sudah begitu sering mendengar nama Riqhad tetapi belum pernah sekali pun melihat orangnya, Shanum menjadi penasaran dengan sosok yang satu itu.
"Shanum, maafkan Ummi ya ... belum bisa menemukan kopermu yang tertukar itu." Ucap Ummi Hasna.
"Untung saja, kamu menyelipkan barang pribadimu di dalam handbag waktu itu, sehingga memudahkan Thoriq mengurus dokumen perkuliahanmu." Tambah Ummi Hasna kemudian.
"Iya Ummi, tidak apa-apa. Mungkin bukan rezekinya Shanum dan Shanum kembali berterima kasih atas kebaikan keluarga ini." Balas Shanum merendah dengan kepala yang menunduk.
"Jangan begitu, kita ini sudah menjadi keluarga. Jadi, tidak usah sungkan ya Shanum. Kita bisa jadi teman setelah ini. Oya senang punya teman perempuan yang satu rumah dengan Oya." Ucap gadis tomboy itu segera menghampiri Shanum dan duduk di sebelahnya.
"Iya Oya, terima kasih." Ucap Shanum tersenyum lembut.
"Never Mind." Jawab Oya seraya memeluk Shanum.
__ADS_1