Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Curhatan Lidya


__ADS_3

Setelah kejadian tadi malam Lidya masih merasa kesal dan tidak semangat kembali ke kota Semarang. Lidya mengeluh dalam hati. Mempertanyakan keadaanya sekarang.


Oh Tuhan....kenapa Tuhan izinkan aku kuliah di tempat itu? semua teman-temanku kuliah di universitas negeri.... hampir semua sahabatku di Solo dan di Jogja...Aku ini ga ada teman di Semarang. Berat banget rasanya untuk kembali ke kota yang katanya Tuhan sediakan bagiku....Apakah aku sanggup Tuhan melewati semuanya?? Sanggupkah aku mensejahterakan kota di mana Tuhan tempatkan aku di sana?? Sedangkan untuk mensejahterakan diriku sendiri aku ga sanggup.....


Lidya merasa risau, ketika harus pulang kembali ke kota Semarang. Yang ada dipikirannya, ia kan bertemu dengan Frans. Tidak ada teman dan sahabat. Tetapi justru bertemu orang menyebalkan seperti Frans.


Lidya kemudian menenangkan dirinya, memejamkan mata dan berdoa. Seperti mendapat kekuatan baru. Lidya meneteskan air matanya dan menangis sejadi-jadinya.


Lidya tidak mengira kalau mamanya yang sedang menyiapkan makanan mendengar Lidya menangis. Mama mengetuk pintu kamar Lidya dan membukanya secara perlahan. Mama melihat Lidya berdoa sambil menangis. Mama duduk dan memeluk Lidya.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya mama penasaran dengan apa yang terjadi.


Lidya semakin menangis dan memeluk mamanya dengan erat. Lidya tidak tahu dengan apa yang dirasakannya. Lidya juga tidak bisa bercerita karena takut mama akan kecewa, kalau Lidya tidak senang kuliah di Semarang. Mungkin Lidya hanya butuh waktu untuk beradaptasi dan berdamai dengan dirinya sendiri.


Lidya awalnya memilih Fakultas Kedokteran Gigi di universitas negeri di kotanya. Tetapi, pada saat seleksi jalur berprestasi Lidya tidak diterima. Saat seleksi penerimaan mahasiswa baru, Lidya jatuh sakit. Sehingga, ia tidak dapat mengikuti seleksi pada hari kedua. Lidya mencoba merenung, memang semuanya sudah Tuhan atur demikian. Mungkin Lidya tidak mengerti apa yang menjadi rencana Tuhan atas hidupnya. Tapi Lidya percaya pasti itu baik.


"Ayo cerita Sayang! Mama kan jadi khawatir kalau kamu seperti ini." Mama mencoba menguatkan Lidya dan mengajak Lidya berdoa bersama.


"Maaf Ma...Lidya belum bisa cerita." Lidya sudah mulai tenang dan berhenti menangis.


"Ya sudah, Mama tidak akan memaksamu." Mama berkata sambil berfikir ada apa dengan putri kesayangannya.


Mama belum pernah melihat Lidya serapuh ini. Mama tidak tahu kalau Lidya sebenarnya tidak senang kuliah di Semarang.


"Lidya, segera mandi. Papa sudah menunggu dari tadi. Nanti kalau Mama ditanya papa, Mama harus jawab apa?"


"Iya Ma, nanti Lidya nyusul," ujarnya.


"Mama tinggal dulu ya, Sayang. Mama sama papa tunggu kamu ya...."


Mama kemudian keluar dari kamar Lidya. Mama menyiapkan makanan di atas meja. Sambil menunggu Lidya selesai mandi, mama duduk bersama papa.


"Ma, kenapa Lidya?" tanya papa.


"Mama juga tidak tahu, Pa."

__ADS_1


"Tadi malam Papa dengar, Lidya menelpon sesorang. Apa Lidya sudah punya pacar, Ma?"


"Ah masak sih? Enggaklah...Lidya tidak pernah cerita. Mama kan melarang Lidya pacaran." Mama berkata kepada papa.


Di kamar, Lidya masih duduk di atas ranjang. Ia memejamkan matanya dan merenung dalam hati.


Aku harus kuat...aku ga mau lihat mama sedih. Aku pasti bisa melewati semua ini. Tuhan berikan aku sukacita untuk kembali ke kotaku....


Lidya kemudian mandi dan makan bersama mama dan papanya. Di saat makan, papa ingin tahu bagaiman kuliahnya di sana.


"Lid...gimana kuliahmu? Senang kan kuliah di sana?" tanya papa sambil tersenyum.


Lidya tiba-tiba tersedak dengan pertanyaan papa yang mengagetkannya.


"Kamu kenapa Sayang? kok tiba-tiba batuk?" Mama bertanya sambil mengambil minum untuk Lidya.


"Keselek Ma, amanlah...masih adaptasi tapi Lidya bisa mengatasinya. Mama dan Papa tidak perlu khawatir. Ya.. sejauh ini Lidya senang sih, akan banyak hal baru yang bisa Lidya pelajari di sana." Lidya berkata sambil terus makan tetapi tidak berani menatap mama dan papa, karena yang terjadi sebenarnya tidaklah demikian.


Selesai makan, Lidya membantu mencuci piring dan bersiap akan ke gereja bersama.


Sepulang dari gereja, Lidya diantar ke terminal dan tidak lama bus jurusan Semarang pun tiba. Lidya memeluk dan mencium papa mamanya, sebelum masuk ke dalam bus. Mama dan papa masih menunggu sampai Lidya berangkat. Lidya melambaikan tanganya dari balik jendela bus.


Selama perjalanan, seperti biasa Lidya memilih untuk tidur. Di perjalanan tiba-tiba Lidya terbangun. Ia mengingat sesuatu, ingatannya tertuju pada audisi paduan suara di kampusnya. Lidya kemudian mengambil ponsel dan mencari nomor yang disimpan, kemudian mendaftarkan dirinya mengikuti seleksi.


Selamat sore kak, saya mau mendaftar audisi paduan suara.


Tak berapa lama mendapatkan balasan


Silahkam isi form ya


Nama. :


Fakultas :


Angkatan :

__ADS_1


No. Wa. :


Lidya kemudian membalas dengan cepat pesan tersebut sambil tersenyum bahagia.


Silahkam isi form ya


Nama. : Lidya


Fakultas : Psikologi


Angkatan : xxxx


No. Wa. : 082125xxxxxxxx


Lidya mendapatkan balasan dari tim audisi


Oke..audisi besok jumat jam 4 jangan telat ya!


Dan...Lidya sudah sangat antusias sekali.


Siap kak...thx ya....


Aku berharap banget bisa lolos audisi. Setidaknya ini akan jadi penghiburanku selama kuliah di sina. Aku harus semangat...masih ada harapan untuk aku bangkit...Aku harus bahagia...


Bahagia artinya mensyukuri semua yang ada dan yang terjadi di dalam hidup ini hehe


Lidya membesarkan hatinya sendiri. Lamunannya terhenti saat bus sampai di halte, di mana Lidya harus turun untuk kembali ke kosnya. Lidya berjalan dengan cepat sambil menunduk. Lidya masih menyemangati dirinya sendiri.


Aku ga akan lama kok di sini...aku harus cepat selesaikan kuliahku...kalau bisa selesai lebih cepat dan aku memang tidak mau lama-lama di kota ini....


Lidya terus berjalan, ia mencoba memikirkan tentang masa depannya.


Ehm...kalau sudah lulus, aku akan melanjutkan impiku yang tertunda. Siapa yang tidak bangga menjadi mahasiswa di universitas favorit itu. Tidak apalah kalau tidak jadi dokter. Walaupun drg. Lidya lebih keren ya kedengarannya? hahaha....Kalau begitu aku cari pacar dokter aja. Biar tetap bisa dipanggil "Bu Dokter". Soalnya suaminya dokter, jadi aku pun dipanggil dokter juga. Semoga aku dijauhkan dari Frans dan aku didekatkan dengan dokter. Jauh-jauhlah kamu, dasar cowok menyebalkan. Tuhan...dengarkanlah doaku....


Senja menjemput, Lidya masih terus berjalan dengan lamunannya. Ia tidak sadar ada seseorang yang memanggil dari kejauhan. Dengan tas di punggungnya, ia berjalan dan tidak menghiraukan suara tersebut. Tak sekali pun Lidya menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Lidya tidak mendengar namanya sedang di panggil.

__ADS_1


"Lidya....."


__ADS_2