Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Kesalahan Fatal


__ADS_3

Sore itu, Lidya tiba di kota Semarang. Kini, ia tidak lagi murung seperti pertama kali menginjakkan kakinya di kota itu. Tidak lagi seperti dulu, setiap kali kembali ia akan melamun ketika berjalan dari halte bus menuju kosnya.


Setelah kurang lebih satu bulan ia menikmati libur semesteran, saatnya Lidya kembali untuk mengejar mimpinya. Mendung menyelimuti sore itu. Ia berjalan dengan semangat agar segera sampai di kosnya.


"Lidya....."


Suara seseorang yang tidak asing di telinga Lidya. Ia mencari di mana datangnya suara tersebut. Lidya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak tampak satu orang pun yang memanggilnya.


"Hai...Lidya."


Suara itu semakin keras terdengar dan Lidya masih mencarinya. Tak berapa lama, ia melihat seseorang yang berlari menyeberang jalan raya tanpa memperhatikan ada mobil melaju dengan kencang.


Deeeeer......


"Mas Adi," teriak Lidya.


Lidya kemudian berjalan menghampiri Adi yang sudah tergeletak di jalan raya tersebut. Satu per satu orang datang, Lidya berlari dengan segera. Betapa kagetnya Lidya melihat Adi sudah berlumuran darah.


"Permisi, tolong ini teman saya," ucap Lidya menerobos kerumunan orang yang sudah bergerombol, seolah menyaksikan suatu pertunjukkan.


"Awas minggir, kasih jalan...Mbaknya mau lewat."


"Mbak, kita harus bawa ke RS," kata salah satu orang yang berada di kerumunan.


"Pak, tolong...tolong bantu saya," pinta Lidya.


Lidya tidak tidak dapat berkata apa-apa. Ia tak kuasa menahan air matanya. Lidya mendekati Adi dan terus memanggail nama Adi.


"Mas...Mas Adi, dengar aku? Tolong Mas bertahan...."


Tak berapa lama, ambulans dan polisi datang. Adi dibawa masuk ke dalam ambulans dan Lidya menemani Adi. Adi sudah dipasang beberapa alat, Lidya hanya menatap wajah Adi yang masih dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Sampai di RS, Adi langsung di bawa ke ruang IGD. Lidya mondar mandir, berjalan ke sana ke mari. Ia kebingungan apa yang harus dilakukannya.


"Maaf Mbak, anda teman korban?" tanya polisi kepada Lidya.


"Ia betul Pak," ucap Lidya.

__ADS_1


"Teman anda korban tabrak lari, saya bisa minta waktunya sebentar untuk menanyakan beberapa hal."


"Maaf sebelumnya Pak, apakah bisa kita menghubungi keluarganya terlebih dahulu?"


"Orang tuanya sudah kami hubungi, sebentar lagi mereka akan datang."


Lidya sangat panik ketika polisi bertanya beberapa pertanyaan kepadanya.


Perasaannya campur aduk, antara takut terjadi sesuatu dengan Adi dan khawatir salah menjawab pertanyaan polisi karena Lidya menjadi saksi kecelakaan tersebut.


Lidya mencoba untuk tenang, ia juga memikirkan apa yang harus dikatakan kepada orang tua Adi nanti. Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari polisi, ia kemudian duduk merenung.


"Lidya," panggil mama Lia.


"Tante, Lidya minta maaf....." ucap Lidya lirih dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Adi di mana?" tanya mama Lia.


"Masih di dalam Tante," ucap Lidya.


Mata Lidya tertuju kepada papa Chandra yang sedang berbicara dengan polisi. Ada wajah sedih dan menahan marah, hal ini sangat terlihat jelas di mata Lidya. Ia mencoba memahami bagaimana perasaan kedua orang tua Adi. Seandainya itu terjadi pada dirinya, pasti papa mamanya juga sangat sedih dan khawatir.


Lidya terkejut mendengar pertanyaan dari papanya Adi. Ia pun tidak mengira kalau papa Chandra akan menanyakan hal itu.


"Keluarga Adi?" tanya perawat yang baru saja keluar dari ruang IGD.


Lidya seakan lega, setidaknya ia masih ada waktu untuk memikirkan bagaimana menjelaskan kepada papanya Adi.


"Lakukan yang terbaik untuk anak saya Dok," ucap mama Lia.


Mama Lia memeluk suaminya, tampak kesedihan di wajahnya. Papa Chandra berusaha menguatkan istrinya.


"Ma, Adi pasti sembuh. Kita berdoa semoga operasinya lancar."


"Pa, Mama takut kehilangan Adi. Mama tahu rasanya kehilangan seperti apa. Mama tidak sanggup Pa."


Mendengar hal itu, Lidya hanya tertunduk. Lidya bingung harus berbuat apa. Ia menangis, tangannya sudah gemetar. Badannya mulai lemas, pikirannya melayang membayangkan terjadi sesuatu pada Adi.

__ADS_1


Mama Lia melihat Lidya, kemudian datang menghampirinya.


"Tante, saya minta maaf. Saya tidak tahu akan seperti ini," ucap Lidya semakin menangis ketika mama Lia memeluknya.


"Tidak perlu merasa bersalah, mungkin ini sudah kehendak Tuhan. Maaf, Om sudah membuatmu takut. Doakan Adi baik-baik saja. Polisi sudah menjelaskan kronologis kejadiannya, Adi mungkin terlalu senang melihatmu sampai tidak memperhatikan jalan." ucap papa Chandra.


"Lidya, Tante pernah kehilangan kakaknya Adi. Tante tahu betul rasanya kehilangan seorang anak, Tante tidak mau kehilangan Adi. Adi putra kami satu-satunya."


Lidya tidak tega mendengar mama Lia menceritakan anaknya yang pernah meninggal. Apa yang akan terjadi dengannya kalau sampai ia juga kehilangan Adi.


"Kita berdoa Tante, mas Adi pasti sembuh." Lidya berusaha menghibur mama Lia.


"Lidya, dokter tadi bilang kalau operasi ini berhasil, kemungkinan besar Adi akan hilang ingatan parsial. Tante yakin, cuma kamu yang akan diingat oleh Adi. Adi sangat mencintaimu. Lidya, bolehkah Tante minta tolong? Tolong bantu Adi untuk sembuh, Tante tidak mau kehilangan Adi."


"Apa yang harus Lidya lakukan Tante?" tanya Lidya bingung.


"Tolong dampingi Adi sampai dia sembuh. Tanta minta maaf kalau permintaan Tante ini terlalu berlebihan. Tante mohon Lidya bisa mengerti bagaimana perasaan Tante saat ini," ucap mama Lia memohon kepada Lidya.


Lidya semakin bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Permintaan mama Lia sangat mengejutkan. Ia sendiri sebenarnya kurang paham apa maksud mama Lia meminta mendampingi Adi sampai sembuh.


"Lidya, Adi sangat mencintaimu. Apakah kamu tidak memiliki sedikit perasaan untuk Adi?" tanya mama Lia.


Lidya kembali terdiam, ia tidak dapat menjawab pertanyaan mama Lia. Pertanyaan itu sangat sulit dijawab oleh Lidya. Jika ia mengatakan tidak, Lidya takut menyinggung perasaan mama Lia. Namun, ia pun juga tidak bisa mengatakan iya. Perasaannya saat ini masih tertuju kepada Frans.


Meskipun selama satu bulan ia tidak bertemu, pada akhirnya keduanya sama-sama sibuk dengan urusan masing-masing. Bahkan mereka bisa tidak berkomunikasi sama sekali. Lidya tidak tahu harus berkata apa.


"Tante, saya minta maaf..untuk sekarang ini memang saya hanya menganggap mas Adi sebagai teman dan tidak lebih. Saya tahu, bagaimana perasaan mas Adi kepada saya."


"Lidya, Tante tidak memaksa kamu untuk mencintai Adi. Tante hanya memohon, Lidya tolong dampingi Adi sampai sembuh. Tante mohon...."


"Tante, tolong jangan seperti ini."


"Apakah kamu bersedia Lidya?"


Lidya tidak tega melihat mama Lia memohon kepadanya. Ia kemudian berfikir, tidak ada saalahnya kalau menolong. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan Adi.


"Baiklah Tante, saya akan menemani Adi sampai sembuh."

__ADS_1


Entah apa yang sudah dikatakan Lidya kepada mama Lia. Mama Lia tersenyum, ia sangat yakin kalau Lidya adalah orang yang tepat untuk membantu kesembuhan Adi.


"Terima kasih, Lidya. Tante senang mendengarnya."


__ADS_2