
Namaku Christian Adi, aku anak tunggal dari keluarga Chandra Wijaya. Siapa yang tidak mengenal keluargaku? Keluarga kaya dan terpandang. Kedua orang tuaku sukses di dunia bisnis. Papaku di bidang properti dan mamaku di bidang fashion. Mereka pastinya sangat berharap kalau aku akan mengikuti jejaknya.
Sejak kecil, aku mempunyai talenta di bidang seni. Suaraku tidak kalah dengan penyanyi jebolan Indonesian Idol. Aku memang tidak suka belajar, dengan segala kemewahan yang diberikan orang tuaku, membuat aku menjadi sombong dan tidak mempunyai tujuan hidup. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan teman bandku. Hampir tiap hari mereka datang ke rumah untuk latihan di studioku.
Suatu ketika, bandku diundang salah satu cafe ternama. Saat aku sedang menyanyi, polisi datang menangkap temanku. Betapa terkejutnya aku waktu itu, ketika aku mengetahui kalau temanku terlibat narkoba.
Bukan hanya reputasi bandku saja yang hancur, tetapi juga keluargaku. Papaku marah besar dengan pemberitaan di media. Tidak lama, papaku mengadakan jumpa pers dan mengklarifikasi kalau aku tidak terlibat dengan narkoba.
Sejak saat itu, bandku bubar dan aku dilarang gabung menjadi anggota band. Aku kehilangan kepercayaan orang tuaku, aku juga kehilangan teman. Aku melampiaskan dengan gonta ganti pacar. Saat aku akan melanjutkan kuliah, aku ingin mendaftar di institut seni di kota Jogja. Namun, papaku melarang dan memaksa aku kuliah di jurusan manajemen di kota ini. Terpaksa aku menurut, karena papa mengancam akan merusak studioku di rumah.
Pada akhirnya, dengan berat hati aku mengikuti keinginan papa. Aku sama sekali tidak suka dengan jurusan yang aku ambil. Aku kemudian tergabung di paduan suara. Selain karena suaraku yang bisa diandalkan, aku donatur tetap dan menjadi sponsor ketika paduan suara mengadakan kegiatan ataupun perlombaan. Sudah pasti semua orang menghargai keberadaanku. Jangan tanya siapa saja perempuan yang sudah mendekatiku dan berapa kali aku ganti pacar. Jawabannya tidak terhitung dan tidak ada yang berani menolak.
Aku teringat pertemuan pertamaku dengan mahasiswi baru bernama Lidya. Gadis berparas cantik namun sederhana. Biasanya aku tidak pernah mengikuti proses audisi anggota baru. Sore itu, aku tidak ada kegiatan dan aku sedang malas bertemu dengan kekasihku. Aku nongkrong di ruang paduan suara.
"Adi, ayo bantuin audisi anak baru!"
__ADS_1
Temanku mengajakku untuk membantunya, aku pun dengan enggan berjalan mengikutinya. Tiga puluh menit berlalu, tidak ada yang membuatku tertarik. Bagiku biasa saja, baik itu suara ataupun orangnya.
"Halo semua...selamat sore," ucap gadis itu.
Aku sama sekali tidak memperhatikannya, aku sibuk menyiapkan partitur untuk bahan audisi. Aku bahkan berniat untuk mempersulit peserta, ya semacam sengaja mengerjainya.
"Kamu sudah siap? Silahkan dibaca!" kataku sambil menyodorkan satu lembar partitur.
"Mi..mi..re..fa..mi..re..do..........."
Aku sudah pasti akan meloloskannya, tetapi aku melihat Sonya sedari tadi melirikku. Aku tahu maksudnya. Aku sengaja memperlama Lidya mengikuti audisi. Aku menyuruhnya bernyanyi dan akhirnya aku duet dengannya. Sungguh luar biasa, aku langsung jatuh hati kepadanya.
Aku bertekat untuk mendekatinya, aku meminta Rey mencari tahu tentang Lidya. Saat perjalanan pulang, aku melewati halte dan aku seperti melihat sosok Lidya. Aku ingin mengajaknya pulang, tetapi dia menolak. Aku sangat kesal dan marah. Baru kali ini ada gadis yang menolakku.
Aku semakin tertantang untuk mengejar gadis itu. Sangat mudah bagiku untuk mendapatkan nomor ponselnya dan alamat kos Lidya. Aku bertemu lagi dengan Lidya saat aku sedang nonton bersama Stacy. Aku marah melihat Lidya berdua dengan Frans. Aku tidak begitu mengenal Frans, tetapi mereka terlihat sangat akrab.
__ADS_1
Aku ingat bagaimana aku melampiaskan rasa marahku dan menurunkan Stacy di jalan. Aku juga menampar Stacy, itulah kebodohanku sehingga masalah besar menimpa keluargaku. Stacy tidak terima dengan perlakuanku dan mencari gara-gara. Papaku marah karena aku dituduh menghamili Stacy.
Pada akhirnya, aku bisa membuktikan kepada orang tuaku kalau aku tidak bersalah. Ini terjadi karena masa lalu papaku dengan sahabatnya. Waktu itu, orang tuaku mengajakku ke Jakarta. Di sana, kami bertemu dengan tante Yesica. Betapa terkejutnya mamaku melihat kondisi sahabatnya yang tinggal di rumah susun dengan kesehatan yang tidak baik. Papa memutuskan untuk memberikan rumah yang layak untuk ditinggali dan membiayai tante Yesica berobat. Stacy pun senang, ia meminta maaf karena sudah salah paham dengan keluargaku. Mama juga memberikan modal usaha dan memberikan sejumlah uang agar Stacy dapat menyelesaikan kuliahnya.
Sejak aku mengenal Lidya, aku banyak berubah. Mamaku adalah orang yang pertama kali merasakan perubahanku. Aku seperti mempunyai tujuan hidup. Kalau dulunya aku tidak mementingkan kuliahku, aku semakin semangat untuk lulus dan wisuda. Aku pun mengejar Lidya dengan cara yang berbeda, tidak memaksanya seperti yang pernah aku lakukan sebelumnya.
Selama liburan semester, aku menyesaikan skripsiku yang tertunda. Aku sempat menghubungi Lidya, tetapi tidak diangkat. Pikirku, mungkin dia sibuk dengan keluarganya. Aku memberikan ruang untuknya menikmati masa indah bersama dengan orang tuanya. Pagi itu, aku menelponnya dan aku tahu dia akan kembali. Aku sangat senang sekali. Aku sudah tidak sabar ingin memberitahunya kalau aku sudah mendaftar ujian skripsi.
Aku mengira-ira jam berapa Lidya tiba. Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang, aku berniat menjemputnya dan mengantarnya pulang. Aku melihat Lidya turun dari bus. Aku memanggil namanya, tetapi dia tidak mendengar. Aku berlari mengejar dan terjadilah kecelakaan itu.
Aku sudah tidak ingat lagi apa yang terjadi denganku. Aku tidak mendengar apa-apa. Semua terasa gelap, aku mengira kalau aku sudah mati. Aku merasakan tubuhku terasa berat untuk digerakkan. Aku bukan lagi Adi yang dulu, kini aku hanya bisa terbaring lemah tak berdaya.
Satu minggu, dua minggu, tiga minggu berlalu, aku seperti tertidur. Di minggu keempat, aku mulai bisa mendengar mama, papa, dan Lidya datang menyapaku. Namun, aku tidak bisa merasakan tangan mereka menyentuhku. Suara alat yang menempel ditubuh ini membuatku takut, apakah aku masih bisa terbangun dari mimpi burukku?
Aku mengingat setiap kejadian yang pernah aku lewati di masa lalu, tetapi aku tidak ingat tentang kecelakaan itu. Ingin rasanya membuka mata dan mengatakan sesuatu, tetapi semua terasa berat. Aku tahu papa dan mama pasti sangat sedih. Sejujurnya, aku sedikit heran dengan kedatangan Lidya untuk menjengukku. Apakah Lidya hanya merasa kasian dengan kondisiku sekarang? Aku sangat berharap bisa segera bangun dan melihat senyumanmu.
__ADS_1
Tuhan, izinkan aku hidup lebih lama lagi. Aku akan menjadi orang yang lebih berguna. Semoga Tuhan mengizinkan keajaiban terjadi atas hidupku. Mama dan papa, aku sangat merindukanmu...Lidya, aku ingin kau selalu ada bersamaku.