
**Halo... Mas Frans**
Ehm.. kok putus lagi sih?
Lidya kesal karena sambungan teleponnya putus. Lidya sudah kehabisan pulsa untuk menelpon, ia berharap kalau Frans akan menghubunginya kembali. Beberapa menit kemudian, Frans mengirim pesan..
Lidya...maaf ya, pulsaku habis. Besok sampai Jakarta aku kabarin. Selamat tidur....jangan mimpi aku π nanti kamu akan terbangun kalau mimpiin aku hihi... aku takut kamu kangen dan mencariku π
Lidya tersenyum membaca pesan dari Frans. Hatinya berbunga-bunga, sepi yang ia rasakan serasa sirna dalam sekejap. Ia berharap, waktu segera berlalu. Lidya sudah tidak sabar menanti hari esok.
Sementara itu, Widi masih menanti balasan pesan dari Lidya. Ia mencoba menghubungi Lidya kembali, namun Lidya sudah mematikan ponselnya. Rasa kecewa menyelimuti perasaannya. Ia kemudian mengirim pesan singkat untuk Lidya.
Selamat malam Lidya, mimpi indahπ...
Tolong dibalas ya makasih
*******
Pagi menjemput, kereta Frans sudah tiba di stasiun Gambir. Penumpang berdesakan, mereka tidak mau mengantri untuk turun. Frans memilih untuk menunggu, sambil mempersiapkan koper dan ranselnya. Setelah penumpang yang lain turun, Frans berjalan mendorong kopernya. Ia kemudian berjalan menuju pintu kedatangan. Frans berjalan dengan pandangan lurus ke depan tanpa memperhatikan sekitarnya.
"Frans....."
Ia mendengar namanya dipanggil. Frans berjalan ke arah orang yang memanggilnya.
"Lho..kamu kenapa di sini?" tanya Frans heran.
"Aku kan jemput kamu," jawab Christy singkat.
Tampak senyuman bahagia di wajah Christy, saat bertemu dengan Frans.
"Aku tidak meminta kamu untuk menjemput, di mana abangku?" kata Frans ketus.
"Bang Edward masih parkir mobil, tadi aku turun di sini."
"Halo Adikku..." Edward berkata sambil memeluk Frans.
"Bang...apa kabar?" tanya Frans.
"Sehatlah Dik, seperti yang kamu lihat."
"Kamu kenapa baru pulang Frans" tanya Christy penasaran.
"Ada urusan." jawab Frans singkat.
__ADS_1
Christy memang sudah satu minggu di Jakarta. Ia sengaja tidak langsung pulang ke Medan, karena ingin bertemu dengan Frans. Sedangkan Frans, masih menunggu Lidya menyelesaikan tugas paduan suaranya. Christy sangat berharap, di Jakarta Frans bisa bersikap manis kepadanya.
"Frans, mengapa kamu pulang dari Jogja? Kok tidak langsung dari Semarang saja?" tanya Frans penasaran.
"Ada urusan di Jogja," jawab Frans dengan singkat tanpa memandang Christy.
Edward sudah mengetahui kalau hubungan adiknya dengan Christy sudah tidak baik, sejak mereka putus. Edward melihat situasi ini, ia mencoba mencairkan suasana.
"Dik, kita makan dulu yuk!" ajak Edward.
"Aku mau Bang," sahut Christy.
"Aku gerah Bang, pengen langsung mandi. Kita pulang saja," kata Frans.
Frans ingin segera pulang, ia juga malas kalau harus makan bersama Christy. Christy pun kecewa, Frans tidak mau diajak makan.
"Bang, aku ikut pulang bersama kalian ya," ucap Christy.
"Ya pastilah, Abang juga tidak tega meninggalkanmu sendiri di sini. Pulanglah dulu ke rumahku, nanti Frans yang akan mengantar ke rumah tantemu."
"Wah...terima kasih Abangku," ucap Christy dengan manja.
Christy sangat berterima kasih kepada Edward, karena memberinya peluang untuk dekat kembali dengan Frans. Mereka bertiga berjalan menuju tempat parkir. Frans sengaja berjalan lebih cepat meninggalkan Christy dan Edward. Christy berusaha mengimbangi langkah Frans. Sesekali ia sedikit berlari mengejar Frans. Edward hanya tersenyum melihat tingkah keduanya.
"Dik, kau mau bawa mobilnya? Biar Abang duduk di belakang," ucap Edward.
"Bang, aku lelah. Aku mau melanjutkan tidurku. Biarkan aku duduk di belakang", ucap Frans membuka pintu mobil.
Frans duduk di belakang, ia menyandarkan kepalanya. Frans kemudian memejamkan matanya. Christy tampak kesal, ia duduk di samping Edward. Christy mencoba mencari perhatian Frans, ia ngobrol dan bercanda dengan Edward.
Christy melirik Frans dari kaca depan. Christy yakin, kalau Frans hanya pura-pura tidur. Ia kemudian tertawa dengan suara yang keras. Frans membuka matanya. Ia melihat dengan cemberut. Christy kemudian berfikir kalau Frans cemburu melihat kedekatannya dengan Edward. Christy begitu percaya diri, ia merasa kalau Frans masih mempunyai sedikit perasaan dengannya.
Pikiran Frans tertuju kepada Lidya, ia bahkan sama sekali tidak menghiraukan Christy. Frans teringat belum memberi kabar kepada Lidya. Ia mengeluarkan ponselnya. Frans hendak mengirim pesan melalui whatsApp, ia baru menyadari kalau paket internetnya sudah berakhir. Ia sangat kesal, karena bersamaan dengan pulsanya habis. Frans tidak dapat menghubungi Lidya.
"Dik, kau kenapa?" tanya Edward.
"Kenapa gimana?" Frans balik bertanya.
"Abang lihat kau sedang memikirkan sesuatu, ada apa?"
Edward memang melihat Frans dari kaca, ia tampak gelisah. Edward pun penasaran apa yang terjadi. Christy masih mengira kalau Frans kesal karena ia ngobrol dengan abangnya.
"Bang, boleh pinjam ponselmu?" tanya Frans.
__ADS_1
"Pinjam ponsel apa minta pulsa?" goda Edward.
"Kalau tidak boleh ya sudah," jawab Frans ketus.
Edward mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia memberikan ponselnya kepada Frans. Raut wajah Frans pun terlihat berubah menjadi bercahaya.
"Makasih Bang, memang kau sangat pengertian," ucap Frans.
Frans asik dengan ponsel abangnya, ia mengetik sesuatu. Frans memang tidak langsung menelpon Lidya. Ia sudah tahu, Lidya tidak akan mengangkat panggilan dari nomor tidak dikenal. Christy penasaran, ia terus memperhatikan Frans. Tidak sabar dengan apa yang dilakukan Frans, Christy menoleh ke belakang.
"Frans, kamu sedang apa?" tanya Christy.
Frans tidak menjawab pertanyaan Christy, karena memang ia tidak mendengar Christy sedang mengajaknya berbicara.
"Frans......"
"Frans....kamu kenapa sih?" bentak Christy.
Frans terkejut mendengar bentakan Christy. Ia memandang Christy dengan sinis. Frans kembali mengetik di ponsel Edward. Christy jengkel, ia merasa Frans cuek sedari tadi. Christy mengambil ponsel Edward dengan cara paksa. Frans tidak terima dengan sikap Christy, ia kembali menyaut dari tangan Christy.
"Kamu tidak sopan." Frans tidak membentak, ia hanya berkata dengan sedikit nada penekanan.
Edward hanya memperhatikan Christy dan Frans, ia mengernyitkan keningnya. Christy kemudian terdiam, ia kembali menghadap depan sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Edward dapat merasakan bagaimana perasaan Christy.
"Sabar ya...." ucap Edward, sambil menepuk bahu Christy.
Christy hanya menganggukkan kepalanya, ia masih memperhatikan Frans dari kaca depan.
"Dik, apa sudah selesai dengan ponsel Abang?" tanya Edward.
"Sebentar Bang, aku masih menunggu balasan pesan dari temanku."
Christy semakin penasaran mendengar Frans mengatakan kalau sedang menunggu balasan pesan. Ia tidak tenang....
"Temanmu siapa Frans?" tanya Christy tanpa melihat Frans.
"Temanku..emang kenapa? Jangan kepo, bukan urusanmu," ucap Frans kesal.
Tak berapa lama, mobil mereka berhenti di depan rumah Edward. Frans turun mengambil koper di bagasi, ia mengembalikan ponsel ke abangnya. Frans masuk ke dalam rumah, langsung menuju ke kamar depan. Kamar di mana ia biasa tidur kalau menginap di rumah abangnya.
tok...tok...tok...
Frans membuka pintu kamarnya. Ia menatap dengan tatapan dingin.
__ADS_1
"Ada apa? Aku mau mandi," ucap Frans
"Frans, mengapa kamu tidak bisa bersikap baik denganku? Apa salahku?" tanya Christy di saat yang tidak tepat.