Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Adi yang Lemah


__ADS_3

Mama sangat terpukul jika mengingat masa lalu suaminya. Mama tidak bisa menjawab pertanyaan Adi. Adi terus memaksanya, membuat mama Lia menangis mengingat kejadian 25 tahun silam.


"Adi...Mama sudah tidak tahan. Tolong jangan paksa Mama. Mama belum siap berbagi cerita dengamu. Maafkan Mama...," ucap mama Lia sambil terus menangis.


"Maaf..Adi tidak akan memaksa mama." Adi terus memeluk mamanya.


Adi curiga ada yang aneh dengan mamanya. Adi merasa kalau mamanya sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak biasanya mama Lia seperti, namun Adi tidak ingin memaksa mamanya untuk bercerita. Adi yakin pasti ada hubungannya dengan Luciana Megasari. Entah siapa dia, Adi tidak mendapatkan jawaban.


"Ngomong-ngomong, kamu mau ke mana Sayang?"


"Adi mau ke kampus sebentar, ada gladi bersih."


"Gladi bersih apa?" tanya mama lagi.


"Wisuda...tapi bukan Adi yang wisuda..hehe..hehe...paduan suara Mama," jawab Adi sambil tersenyum.


"Ohh mau bertemu Lidya ya?" goda mama.


"Ya begitulah...."


"Adi, kapan kamu wisuda? Apa kamu tidak ingin segera wisuda?" tanya mama penuh harapan.


"Adi usahakan," jawab Adi singkat.


"Adi, apa yang kamu cari? Ehm...maksud Mama, yang menentukan masa depanmu adalah kamu sendiri. Mungkin kamu merasa kalau orangtuamu ini punya bisnis, jadi.....," ucap mama Lia, kemudian dipotong Adi dengan cepat.


"Ma....sudahlah, Adi tidak pernah merasa mengandalkan bisnis papa dan mama. Adi akan lulus dan wisuda pada waktunya. Hehe ya mungkin sekarang belum waktunya Adi lulus." Adi memotong pembicaraan mamanya dan mulai kesal jika ditanya soal wisuda.


"Adi, Mama serius....kamu harus segera selesaikan kuliahmu. Percaya Mama, kalau kamu sudah lulus kamu akan lebih tanggung jawab. Maksud Mama, kalau seperti ini kamu terlalu santai. Apa kamu tidak malu dengan Lidya? Cobalah berfikir dewasa, kamu mendekati sorang mahasiswa baru. Tetapi kamu sampai sekarang belum lulus, apa Lidya akan mau sama kamu? Seorang yang tidak punya masa depan. Maaf Adi, Mama harus tegas. Jangan mengandalkan bisnis papa dan mama. Kalau bisnis kami hancur, kamu mau bagaimana? Mulai sekarang, pikirkan masa depanmu. Kalau kamu lebih suka musik, jadikan itu lahan bisnismu. Bukan seperti ini, hobimu tidak jelas apalagi kuliahmu makin tidak jelas." Mama berbicara serius dengan Adi. Mama mengingatkan soal kuliah Adi.


Entah mengapa, Adi merenung. Adi seolah membenarkan nasihat mamanya. Lidya, mungkin nama inilah yang membuat Adi mulai berfikir serius dengan kuliahnya.


"Adi juga ingin lulus, ini kan tinggal skripsi. Adi malas, selalu banyak revisi."


"Semangat Sayang, berjuanglah...demi masa depanmu."


"Baiklah, Adi akan berusaha."


"Nah begitu dong, ini baru anak Mama. Jangan cuma gigih berjuang untuk urusan pacaran aja ya hahaha....," goda mama.


"Ah Mama ini....Adi sudah capek pacaran. Semuanya tidak jelas, Adi mau serius. Adi mau serius sama Lidya."

__ADS_1


"Berjuanglah mendapatkannya dengan cara yang benar. Semua kalau diusahakan dengan benar, pasti akan menjadi berkat." Mama kembali menasihati Adi.


Mama tahu betul bagaimana wataknya. Adi selalu menghalalkan cara untuk mendapatkan sesuatu. Apapun yang menjadi keinginannya, selalu harus dipenuhi saat itu juga. Ini akibat sejak kecil, Adi selalu dimanja dan disayang semua keluarganya. Mama Lia menyadari, Adi tumbuh besar menjadi seperti ini karena salah pola asuh.


Inilah salah satu alasannya, mengapa Adi tidak lagi memaksa Lidya. Adi mendekati Lidya dengan cara yang halus. Sejak kejadian di kos Lidya, Adi sudah menceritakan kepada mamanya. Mama Lia mulai menasihati Adi untuk mendekati Lidya dengan cari yang baik, supaya dapat menarik simpati Lidya. Bukan dengan cara memaksa dan menghalalkan segala cara. Mama Lia sangat berharap, kehadiran Lidya membuat Adi bisa berubah.


*****


Auditorium Kampus Pusat


Adi mulai gladi bersihnya di kampus. Adi merasakan badannya tidak enak. Mungkin ini akibat, ia tidur di lantai kolam renang tadi malam.


Setelah gladi bersih selesai, Adi duduk menepi dengan tubuhnya yang lemas. Semua teman sudah pulang meninggalkan auditorium. Tampaklah Lidya yang masih sibuk merapikan partitur. Saat Lidya mau pulang, ia melihat Adi duduk diam tidak seperti biasanya. Lidya menghampirinya, kemudian duduk di samping Adi.


"Mas Adi sakit?" tanya Lidya.


"Pusing banget ini....kok rasanya badanku demam ya?"


Lidya mencoba memegang dahi Adi.


"Iya Mas..demam," ucap Lidya setelah memegang badan Adi.


"Lidya, bisakah menolongku?" tanya Adi.


"Tolong antarkan aku pulang, apakah kamu bisa menyetir mobilku?"


"Bisa sih Mas, tapi aku..."


"Baiklah kalau kamu tidak mau, aku akan pulang sendiri," ucap Adi kemudian berjalan keluar.


Adi sengaja memarkirkan mobilnya di dekat auditorium. Sudah pasti tidak ada yang melarangnya, karena Adi mempunyai kartu VIP untuk parkir di halaman kampus. Adi sempoyongan mencoba berjalan menuju mobil. Kemudian dari jauh, Lidya melihatnya dan tidak tega.


"Mas.....tunggu!" panggil Lidya.


Adi berhenti dan menoleh ke belakang.


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Lidya.


Adipun tersenyum senang mendengarnya.


"Terima kasih."

__ADS_1


Lidya membawa mobil Adi dengan hati-hati. Adi merebakan kursinya pada posisi tidur. Adi yang sudah tidak kuat, akhirnya tertidur. Lidya mengikuti petunjuk jalan yang sudah diseting Adi melalui GPSnya. Empat puluh lima menit berlalu, Lidya sampai di depan rumah Adi.


Apa benar ini rumah mas Adi? Gede banget runahnya, bagus...seperti istana.


Security yang melihat mobil Adi, langsung membukakan gerbang dan memberi hormat.


"Selamat sore.."


Lidya membuka jendelanya.


"Selamat sore. Pak, maaf....ini saya mengantar mas Adi."


"Langsung masuk Non, saya teleponkan nyonya."


Lidya melajukan mobil dan berhenti tepat di antara pilar besar. Lidya sangat mengagumi rumah mewah milik Adi. Sampai tidak sadar kalau ada yang mengetuk jendela dari luar.


"Oh maaf, saya melamun," ucap Lidya sambil membuka pintu jendela.


Tak lama, Lidya keluar dari mobil. Seorang security yang berbeda, sudah membantu Adi berjalan dan masuk ke dalam rumah.


"Lidya...apakah kamu benar Lidya?" tanya mama Lia.


"Betul Tante. Perkenalkan, saya Lidya." Lidya menjawab dengan sopan dan bersalaman dengan mama Adi.


"Kamu cantik sekali, Adi sering bercerita tentangmu. Senang sekali, tante bisa bertemu denganmu."


"Terima kasih Tante, maaf saya harus segera pamit."


"Lho...sebentar, ayo masuk!" Masak kita ngobrol di luar. Terima kasih, sudah mengantarkan Adi pulang."


"Sama-sama Tante, tapi...."


"Ayolah nak, mampirlah sebentar. Tante sudah menyiapkan makan malam. Makanlah bersama kami, sebagai ucapan terima kasih karena Lidya sudah menolong Adi."


Lidya melirik jam tanganya, dilihatnya sudah pukul 17.15 WIB. Lidya ingat kalau ada janji makan malam bersama dengan Frans.


"Sekali lagi, saya minta maaf Tante. Saya harus segera pulang."


"Baiklah kalau begitu, tante akan minta sopir untuk mengantarmu pulang."


"Tidak perlu, saya bisa naik ojek online."

__ADS_1


"Jangan, tunggu sebentar...ayolah masuk dulu!"


__ADS_2