Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Jogja#2


__ADS_3

Ketika malam tiba, sunyi menyusup ke hati Frans. Lamunannya tak dapat dihentikan. Ia masih sangat penasaran, apa yang hendak Lidya tanyakan kepadanya. Frans melirik Lidya, dilihatnya Lidya sedang tertidur lelap. Lidya yang sedang bersandar di pintu mobil online, membuat Frans berinisiatif untuk menyandarkan tubuh mungil itu di bahunya.


Lidya tampak tertidur dengan nyenyak. Sesekali di lihatnya wajah Lidya. Frans mencium kening Lidya. Kemudian membelai rambut Lidya yang menutupi wajahnya. Digenggamnya tangan Lidya, sesekali ia juga menciumi tangan itu. Ia tidak menyadari, Rita dan Bima sedang memperhatikan dari belakang.


Rita dan Bima saling memandang, ia seakan membiarkan Frans dengan tidak mengeluarkan suaranya. Ia tidak mau menggangu suasana ini. Rita tidak heran, kalau sahabatnya memang mudah tertidur ketika dalam perjalanan. Rita juga tidak sekali ini melihat sahabatnya tidur di bahu Frans.


"Lho..kok ga dibangungin sih?" tanya Lidya heran dengan posisi tidurnya. Ia segera bangun dan merapikan rambutnya.


"Ehm..kamu tidurnya nyenyak, kasian mau bangunin kamu," seru Rita dari belakang.


Frans segera menoleh ke belakang, dilihatnya Rita dan Bima. Tanpa bersuara, Frans menjadi salah tingkah. Ia kemudian menggesar duduknya, agar sedikit menjauh dari Lidya.


Beberapa menit kemudian, mobil online berhenti tepat di depan rumah Lidya. Mereka turun dan berpamitan untuk melajutkan perjalanannya.


"Terima kasih sudah mengantar Lidya pulang, hati-hati." Mama Lidya berkata dengan ramah.


"Sama-sama, Tante." Mereka bertiga menjawab dengan kompak.


*****


Butiran embun di pagi hari, menetes tepat di jendala kamar Frans. Pagi itu, dengan semangat membara, Frans segera beranjak dari tempat tidurnya. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya.


**Frans : Pagi Lidya...


Lidya : Pagi Mas, kok sepagi ini sudah bangun?


Frans : Iya...sengaja mau telepon kamu.


Lidya : Ada apa Mas?


Frans : Tunggu ya, satu jam lagi aku sampai di rumahmu.


Lidya : Hallo...Mas, emang tahu jalannya?**


Lidya belum selesai berbicara, Frans sudah menutup ponselnya. Di lirik ya jam masih menunjukkan pukul 05.15 WIB. Lidya bergegas mandi dan mempersiapkan dirinya menanti kedatangan Frans.


"Sayang, kamu mau ke mana?" tanya mama heran.


"Mas Frans mau datang, Ma."


"Jam berapa ini?" tanya mama semakin heran.


"Masih pagi...Lidya juga tidak tahu, barusan telepon sejam lagi sampai rumah katanya."


"Mama buatkan sarapan," ujar mama menuju dapur.


"Makasih Mamaku," kata Lidya tersenyum.


Di rumah tantenya Bima, Frans pamit pulang. Ia membawa koper dan ranselnya.


"Terima kasih sekali Tante, saya boleh numpang tidur di sini. Maaf sudah merepotkan," ucap Frans dengan sopan sambil bersalaman untuk pamit.

__ADS_1


"Sama-sama, Tante tidak repot kok. Tante justru senang. Lho katanya kereta sore?" tanya tante bingung.


"Biasalah Tante, anak muda...mau ke rumah calon mertua dulu..hehe," goda Bima.


"Ohh...baiklah, jangan lupa mampir kalau ke Jogja lagi. Sering-sering tidur di sini."


"Aduh Tante, terima kasih...akan menjadi tempat persinggahan saya kalau ke Jogja," ucap Frans dengan senyuman di wajahnya.


Frans sangat yakin ia akan kembali ke kota Jogja. Ia berharap akan bersama dengan Lidya suatu saat nanti.


"Bima, makasih ya..sampai jumpa lagi."


"Sama-sama Bang, hati-hati di jalan."


Mobil online menjemput Frans menuju rumah Lidya. Hatinya berdebar ingin segera menemui pujaan hatinya. Tiba di depan rumah Lidya, ia sudah disambut oleh papa Lidya yang kebetulan sedang membersihkan selokan.


"Pagi Om, boleh saya bantu?"


"Lho jam berapa ini? Kok sudah di sini?"


Pertanyaan papa Lidya membuat Frans menjadi salah tingkah. Ia lupa kalau sekarang masih pukul 06.30 WIB.


"Maaf Om, saya....saya terlalu pagi...."


"Ah tidak apa, Om tadi hanya kaget. Masih sepagi ini kok sudah bertamu."


"Saya minta maaf Om, saya tidak sopan. Tidak seharusnya saya pagi-pagi...."


"Masuklah Nak, Lidya ada di dalam," ujar papa Lidya mempersilahkan masuk.


"Om, saya bantu ya," ucap Frans.


"Waduh tidak perlu, sudah masuk saja. Nanti kamu kotor, Nak." Papa Lidya menolak Frans membantunya.


Frans yang tidak enak, segera memungut kotoran di selokan dan membuangnya ke tempat sampah.


"Sudah Nak, cuci tanganmu dan segera masuk," ucap papa Lidya.


"Saya sudah biasa melakukan ini di rumah. Om tenang saja."


Setelah tiga puluh menit berlalu. Lidya baru menyadari kalau Frans sudah berada di rumahnya. Ia melihat koper dan tas milik Frans di teras rumah.


"Lho Mas Frans ngapain?" tanya Lidya.


"Ajak temanmu masuk, ini malah repot bantu Papa."


"Tidak apa Om, saya senang melakukannya."


Lidya kemudian masuk kembali, ia mengambil minuman dan gorengan yang sudah disiapkan oleh mamanya.


"Temanmu di mana? Kok belum datang," tanya mama.

__ADS_1


"Sudah Ma, lagi bantuin papa bersihkan selokan," kata Lidya


"Papamu ini aneh-aneh, pasti papa yang ngerjain Frans."


"Tidak Ma, mas Frans yang mau sendiri."


"Oh ya baguslah kalau begitu, memang calon menantu yang pengertian hehe..hehe," goda mama sambil terus tertawa.


Setelah membantu papa Lidya, Frans membersihkan tangannya dan meminta izin untuk membersihkan badannya. Ia disambut mama, dengan sarapan yang sudah siap di atas meja makan. Frans merasakan kehangatan keluarga Lidya, hal ini membuatnya nyaman. Selesai sarapan, Frans ngobrol di teras bersama Lidya. Frans kembali menanyakan kepada Lidya tentang pertanyaannya tadi malam.


"Tidak ada Mas, sudah jangan dipikirkan. Aku malah lupa mau tanya apa kemarin."


"Ayolah, jangan buat aku penasaran."


Lidya sudah lupa akan bertanya apa tadi malam, ia menyakinkan Frans kalau tidak ada hal yang penting untuk ditanyakan. Ia sengaja mengalihkan pembicaraan.


"Mas, nanti aku antar ya ke stasiun."


"Dengan senang hati, pamit dulu sama mama papamu."


Saat sedang ngobrol, mama keluar mengajak mereka makan siang.


"Ayo makan dulu! Tante sudah buatkan sop buntut kesukaan Lidya."


"Tante, maaf merepotkan. Saya tadi sudah sarapan, sekarang makan siang. Saya jadi tidak enak," ucap Frans.


"Tidak perlu sungkan, makan yang banyak ya. Tante sudah siapakan juga bekal untuk nanti di kereta," ucap mama.


"Ya ampun Tante, saya malu sekali ini," ujar Frans dengan ekspresi wajah yang tidak dapat diartikan.


Setelah keduanya makan siang, tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 14.35 WIB. Satu jam lagi, kereta Frans akan membawanya menuju Jakarta. Lidya pun berpamitan akan mengantar Frans ke stasiun.


"Mama, Lidya antar mas Frans dulu ya."


"Om dan Tante, terima kasih banyak. Saya pamit pulang. Senang sekali bisa bertemu Om dan Tante. Maafkan kalau saya sudah merepotkan. Saya mohon izin, Lidya mengantar ke stasiun," ucap Frans dengan sopan dan minta izin Lidya mengantarnya ke stasiun.


"Hati-hati Nak,"


Frans bersalaman dengan hormat kepada orang tua Lidya. Keduanya pamit menuju stasiun naik mobil online. Di dalam mobil, Lidya menatap Frans.


"Kok liatinnya gitu sih?" tanya Frans.


"Kapan Mas baliknya?"


"Kenapa? Kangen ya?" goda Frans.


"Enak aja..." ucap Lidya.


"Aku agak lama di Jakarta, aku penelitian di sana. Kamu jangan nakal ya," ucap Frans.


"Nakal gimana?" tanya Lidya.

__ADS_1


"Nanti kalau aku di Jakarta, kamu......"


"Kamu apa Mas?"


__ADS_2