
"Aku minta maaf Stacy, aku tahu kamu sangat membenciku. Aku minta maaf dengan semua perlakuan kasar yang sudah aku lakukan," ucap Adi.
"Cih...akhirnya kamu memohon juga kan?"
"Aku melakukan ini demi mamaku. Mamaku yang meminta agar aku bisa bersikap manis kepadamu. Jujur Stacy, aku muak dengan caramu menjebakku. Aku sudah tahu rencanamu..."
"Adi...dulu memang aku mencintaimu, tetapi sejak aku tau kalau kamu anak dari orang yang sudah menghancurkan ayahku......"
"Stop...tidak perlu kamu lanjutkan. Kamu memang sangat kerasa kepala. Orang tuaku sudah menceritakan semuanya. Stacy, hapuslah dendammu. Keluargaku tidak seperti yang kamu kira."
"Anak sama orang tua sama saja. Mana ada maling ngaku salah????" bentak Stacy.
"Om Wisnu itu sahabat papaku. Mamamu adalah sahabat mamaku. Pikirlah dengan logikamu. Aku tahu ini sulit untukmu, hiduplah dengan normal Stacy. Lupakan dendam masa lalumu." Adi berkata dengan tatapan tajam.
Sejenak suasana menjadi hening. Keduanya hanya terdiam. Hiasan lampu di cafe itu menerangi kebisuan mereka. Adi menghabiskan kopi vietnamnya, sesekali ia memperhatikan Stacy yang hanya tertunduk. Stacy mengepalkan tangannya, menandakan ada kemarahan di hatinya.
"Beri aku waktu Adi, luka hatiku ini tidak bisa secepat itu hilang. Kamu tidak tahu apa yang aku rasakan."
Satu jam berlalu, Adi dan Stacy masih berada di cafe itu. Adi sibuk bermain dengan ponselnya, Stacy hanya terdiam seakan memikirkan sesuatu.
"Stacy, kamu itu cantik.... jangan merusak dirimu hanya dengan emosi sesaat. Percayalah, di luar sana banyak pria baik yang akan menunggumu. Pikirkan masa depanmu. Aku pun sedang belajar berubah menjadi orang baik. Terima kasih, secara tidak langsung kamu sudah menyadarkanku."
Mendengar hal itu, raut wajah Stacy yang tadinya dingin dan menyimpan kemarahaan, ia lalu menebarkan sedikit senyumannya.
"Syukurlah....ternyata aku ada sedikit ruang di hatimu, selama ini aku merasa sangat tertolak dengan sikapmu," ucap Stacy tersenyum.
"Selama kamu tidak bisa memaafkan masa lalumu, kamu akan terus menyakiti dirimu sendiri. Bahkan kamu tidak akan bisa membuka hatimu, kamu bisa menyakiti siapapun yang akan datang untuk mencintaimu," ujar Adi menguatkan Stacy.
"Aku akan mencobanya.... Kamu tahu, aku yang dulu sangat mencintaimu. Aku posesif dan sangat takut kehilanganmu. Aku takut kehilanganmu, bukan semata karena kamu memenuhi semua kebutuhanku. Aku berubah membencimu, yang ada hanyalah kebencian. Sakit hatiku, dadaku terasa sesak setiap mengingat namamu. Orang yang aku cintai ternyata sudah menghancurkan keluargaku. Aku tahu Adi, kamu tidak serius mencintaiku," ucap Stacy sambil meneteskan air matanya.
"Aku minta maaf Stacy.... memang aku tidak mencintaimu. Maksudku, aku dulu memang menyukaimu. Aku hanya bangga mempunyai pacar cantik sepertimu. Aku pernah bertaruh dengan temanku. Bukan Adi namanya kalau tidak bisa membuat wanita sepertimu tergila-gila denganku. Aku minta maaf....
__ADS_1
Stacy, aku juga minta maaf atas perlakuan kasarku waktu itu. Kamu ingat, waktu kita pulang nonton. Aku bertemu dengan seorang wanita, wanita itulah yang membuatku menjadi emosi dan bersikap kasar kepadamu." Adi berbicara panjang lebar menjelaskan kepada Stacy.
Suasana yang tadinya kaku, sedikit berubah hangat. Adi maupun Stacy saling bicara dengan kepala dingin. Mereka cukup dewasa menyelesaikan masalahnya.
Memang butuh waktu untuk Stacy melupakan masa lalunya. Stacy juga butuh waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Stacy berfikir dengan apa yang Adi katakan. Ia pun sependapat dengan Adi. Stacy merenung dan berusaha untuk memaafkan masa lalunya.
"Terima kasih untuk hari ini. Aku akan berusaha berdamai dengan masa laluku. Aku minta maaf Adi, aku sudah membuat kamu dan orang tuamu....."
"Sudahlah... orang tuaku juga sudah memaafkanmu," ucap Adi memotong pembicaran Stacy.
"Adi....," ucap Stacy memegang tangan Adi..
Adi mencoba untuk tenang, ia tidak mau terbawa oleh suasana. Ia menatap Stacy dengan tatapan heran. Adi berusaha melepaskan tangan Stacy.
"Maaf...jangan seperti ini," ucap Adi.
"Maaf Adi, aku hanya..lupakan. Apakah kamu tidak ingin pulang?" tanya Stacy mengalihkan pembicaraan.
"Adi, tolong tinggalkan aku di sini. Aku masih ingin sendiri. Pulanglah....." kata Stacy tersenyum meminta Adi pulang.
"Baiklah kalau itu mau kamu, aku pamit pulang. Terima kasih untuk waktunya. Pesanlah makanan, kamu belum makan kan? Aku akan membayarnya," ucap Adi beranjak dari kursinya.
"Terima kasih, aku bisa membayarnya sendiri. Bayarlah kopimu saja."
Tidak biasanya Stacy menolak seperti ini, tetapi Adi tidak ambil pusing. Ia segera menuju kasir dan membayar. Ia kemudian memesan tenderloin steak untuk Stacy.
Adi keluar menuju parkiran mobil. Adi melajukan mobilnya sambil memutar musik klasik kesukaannya. Ia teringat dengan Lidya. Gadis lugu yang disukainya. Lidya mampu merubah cara pandangnya terhadap wanita. Hanya Lidya, yang tidak mudah untuk diluluhkan hatinya.
Adi kemudian menepikan mobilnya, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
**Adi : Halo Lidya....
__ADS_1
Lidya : Ya Mas, ada apa?
Adi : Tidak, aku cuma ingin mendengar suaramu. Apa kabar?
Lidya : Baik kok...**
Hanya mendengar suara Lidya saja, sudah bisa membuat Adi senang. Namun tidak dengan Lidya. Lidya sedang menanti telepon dari Frans. Sekarang, Adi bisa kapan saja menelpon Lidya, karena Lidya sudah mau menerima teleponnya. Tidak seperti dulu, ketika Adi mengejar Lidya dengan membabi buta.
**Adi : Oh kamu sedang sibuk ya? Maaf kalau aku mengganggumu.
Lidya : Tidak kok, ada apa ya Mas?
Adi : Kan tadi aku bilang, aku cuma ingin dengar suaramu. Ehm Lidya, bolehkah aku ke Jogja? Aku ingin bertemu denganmu.
Lidya tidak segera menjawab, Adi tahu mungkin Lidya keberatan kalau Adi datang ke Jogja.
Adi : Oh maaf, mungkin tidak suka kalau aku ke Jogja. Maaf ya sudah mengganggu bye..**
Adi mengakhiri teleponnya. Entah mengapa Lidya merasa tidak enak, ia kemudian menelpon Adi. Adi sudah melemparkan ponselnya ke belakang, ia tidak tahu kalau ponselnya bergetar.
****
Di tempat yang berbeda, Frans menelpon Lidya beberapa kali tetapi nada sibuk. Setelah menelpon Adi, tak lama Widi menelponnya. Lidya seakan lupa dengan telepon Frans yang sudah dinantikannya.
Frans heran, tidak biasanya Lidya selama ini menggunakan teleponnya. Perasaan Frans pun bercampur aduk. Ada perasaan khawatir dan penasaran. Ia kemudian mengirim pesan kepada Lidya.
Lidya, maaf baru isi pulsa. Kok sibuk terus ya dari tadi? Kamu lagi telepon siapa?
Lidya tidak segera membalas pesan dari Frans, karena memang ia tidak tahu kalau Frans mengirim pesan untuknya. Lidya asik ngobrol dengan Widi. Di rumah Widi, ada beberapa teman sekolahnya. Mereka saling ngobrol bergantian, mereka akan merencanakan reuni kecil.
Kok perasaanku jadi tidak enak ya? Kamu sedang telepon siapa? Dari tadi aku telepon sibuk terus. Apa mungkin Adi? Atau siapa lagi yang telepon kamu selama ini?
__ADS_1