
Selepas kepergian Frans, Lidya kemudian meninggalkan stasiun. Hatinya terasa berat, entah apa yang dirasakan saat itu. Ia berguman dalam hatinya.
Ehm....kok berasa sepi ya...baru juga berapa menit yang lalu. Mas Frans....aku kangen kamu...hihihi....
"Lidya...." Seseorang memanggil Lidya dari belakang.
"Ya..?" Lidya menoleh ke belakang.
"Lidya....apa kabarmu?" tanya Widi
"Halo.....baik," ucap Lidya dengan senyumannya.
"Dari mana Lid?"
"Tadi antar teman ke Jakarta. Kamu baru pulang dari Solo?" tanya Lidya.
"Iya...ini mau pulang? Boleh aku antar?" Widi menawarkan dirinya untuk mengantar Lidya pulang.
Widi adalah teman Lidya saat di sekolah. Ia menyukai Lidya sejak lama, tetapi Lidya tidak mau berpacaran karena memang tidak boleh pacaran oleh orang tuanya.
"Ehm....nanti aku jadi ngrepotin kamu."
"Ah..buat kamu, aku tidak pernah repot."
"Baiklah...terima kasih ya," ujar Lidya berjalan bersama Widi menuju tempat parkir.
Menjelang malam hari, mereka pulang bersama. Widi yang sudah lama tidak berjumpa dengan Lidya, ia memanfaatkan waktu ini. Di tengah perjalanan, Widi mengajak Lidya untuk mampir makan bakso di dekat rumah Lidya. Di warung bakso itu, mereka sering nongkrong bersama teman yang lainnya.
"Lidya, mau kah kamu mampir sebentar makan bakso di warung biru?" tanya Lidya.
Lidya tidak langsung menjawab, ia berfikir sejenak. Ia ingat kalau belum pamit dengan orang tuanya. Ia khawatir kalau mamanya mencari. Lidya segera mengeluarkan ponsel, ia mengirim pesan kepada mamanya.
"Boleh...aku juga sudah lama tidak makan di sana, duh jadi kangen sama teman-teman."
Yesssss
Batin Widi senang, ia melirik dari spion motornya sambil terus tersenyum.
Sampai di warung biru, Lidya langsung menghampiri penjual bakso.
"Mas....rame yo," sapa Lidya.
"Ya ampun Mbak Lidya, lama ga ke sini."
"Iyo Mas, aku kuliah di Semarang," ucap Lidya dengan bahasa jawa.
"Hai... Mas, aku pesen campur kaya biasanya," ucap Widi.
"Lho Mas, berdua aja ke sini?" tanya mas Rudi penjual bakso tersebut.
"Iya Mas, yang lain belum pada ketemu. Ini tadi kebetulan ketemu Lidya di stasiun," kata Widi sambil duduk mengambil kacang goreng.
__ADS_1
"Mbak Lidya, bakso urat ya?"
"Yup.... es teh tawar ya Mas, kamu minum apa Wid?"
"Aku mau es jeruk.." seru Widi.
Saat keduanya sedang ngobrol menunggu bakso pesanannya datang, ponsel Lidya berbunyi.
**Lidya : Halo Mas....
Frans : Sudah di rumah?
Lidya : Ohh belum Mas, ini tadi....
Lidya mau menceritakan pertemuannya dengan Widi, tetapi Frans tidak mendengar karena sinyal di kereta putus-putus.
Frans : Aku lagi makan bekal yang dibawakan mamamu. Makanya ini langsung telepon. Aku makan dulu ya..bye...
Lidya : Oh iya Mas, selamat makan.**
Widi tidak sengaja menguping pembicaran Lidya. Widi mengira kalau Lidya sudah mempunyai pacar.
"Cowokmu ya Lid?" tanya Widi.
"Ini pesanannya ya," ucap mas Rudi mengantar pesanan mereka.
Lidya tidak menjawab pertanyaan Widi, perhatiannya tertuju pada bakso pesanannya yang sudah datang.
Widi pun enggan untuk mengulang pertanyaan yang sama. Ia mencoba menikmati bakso campur yang ada di depannya. Sesekali melirik Lidya, ia masih penasaran dengan sesorang yang di panggil "mas" oleh Lidya.
"Lid, kamu di Jogja sampai kapan?" tanya Widi.
"Ehm...lama, tahun depan hahaha...libur panjang," jawab Lidya sambil terus memakan baksonya.
"Wah...boleh nih kalau aku main ke rumahmu?"
"Ya bolehlah," jawab Lidya dengan tersenyum.
Setelah mereka menghabiskan baksonya, Widi mengantar Lidya pulang. Widi mengingat pada masa sekolah, ia sering mengantar Lidya pulang ke rumahnya. Sampai di depan rumah Lidya, tampak mama sedang duduk di teras.
"Lho...ini Mas Widi?" tanya mama memastikan.
"Betul Ibu, apa kabar?"
"Sehat semuanya, sekarang kuliah di mana Mas?" tanya mama sekedar basa basi, mama sebenarnya sudah tahu kalau Widi kuliah di universitas negeri di Solo.
"Solo Ibu, saya pamit pulang. Ini tadi ketemu Lidya di stasiun," ucap Widi.
"Terima kasih Mas," kata mama dengan tersenyum.
"Lid, aku pulang ya...nanti aku telepon."
__ADS_1
"Makasih ya Wid...hati-hati. Makasih juga baksonya," ujar Lidya.
Mama memang sangat ramah dengan semua orang, termasuk teman Lidya. Setiap orang yang berkunjung ke rumah, mama akan menyambutnya dengan baik. Mama bahkan selalu menyiapkan banyak makanan untuk menjamu teman Lidya. Perhatian mama ini terkadang membuat teman laki-laki Lidya merasa percaya diri. Mereka merasa yakin, kalau kehadirannya diterima dengan baik. Padahal memang begitulah sifat mama. Tidak hanya teman Lidya saja, teman mama atau papa pun juga diperlakukan hal yang sama.
"Kok bisa pulang sama Widi?" tanya mama heran.
"Ketemu di stasiun," jawab Lidya singkat.
"Jadi tadi makan bakso sama Widi?" tanya mama kembali.
"Iya Mamaku......kan tadi Lidya sudah bilang kalau mampir makan bakso."
"Tapi Lidya tidak bilang kalau sama Widi."
Lidya merasa mamanya sudah mulai ingin tahu, pasti sebentar lagi akan banyak pertanyaan. Lidya kemudian pamit untuk mandi.
"Ma...Lidya mandi dulu ya."
"Selalu kan...kalau mama sedang bicara, pasti menghindar."
"Ah Mama ini, Lidya kan belum mandi. Nanti dilanjut lagi aja."
Lidya meninggalkan mama, ia segera mandi. Mama mengetahui kalau Widi sudah lama mendekati Lidya. Lidya pernah cerita kalau Widi menyukainya. Mama semakin penasaran, gejolak keingintahuannya sudah meronta. Begitulah mama, selalu ingin tahu tentang putri semata wayangnya. Lidya menyebut mama ini "kepo". Lidya tidak suka, jika keponya mama sudah tingkat tinggi.
Selesai mandi, Lidya masih di dalam kamar. Ia membuka ponselnya. Lidya berharap, Frans mengirim pesan untuknya.
Lidya, aku seneng banget bisa ketemu kamu....🙂🙂
Lidya membaca pesan dari Widi. Ia tidak segera membalas. Lidya kemudian mencari nama Frans, tidak ada satu pesan dari Frans. Ia kemudian memencet gambar telepon di ponselnya.
**Lidya : Halo Mas....
Frans : Hei...baru mau telepon kamu, sudah keduluan hehe...kenapa? kangen ya?
Lidya : Enak aja....siapa juga yang kangen.
Frans : Serius nih.... ya sudah kalau ga kangen.
Mereka ngobrol cukup lama, walaupun sinyal di kereta tidak bagus. Mereka bergantian menelpon, jika sambungan teleponnya terputus. Mereka tidak peduli berapa pulsa sudah dihabiskan untuk menelpon. Maklumlah anak kuliah, pastinya pulsa pun masih dibelikan orang tua.
Sementara itu, Widi menunggu balasan pesan dari Lidya. Lidya sudah membaca pesan Widi, tetapi belum membalasnya. Kemudian, Widi mencoba menelpon Lidya dari WhatsApp. Lidya tidak menyadarinya, karena memang masih asik ngobrol dengan Frans. Widi bertanya dalam hatinya.
Kok dibaca tetapi ga dibales ya? Ditelpon juga ga diangkat. Apa mungkin lagi telpon pacarnya ya? Coba aku telepon dari sambungan ponsel langsung, kalau sibuk berarti memang bener dugaanku.
Widi kemudian menelpon Lidya dari ponselnya, bukan dari *WhatsApp.
tut..tut..tut*..
Tanda ponsel Lidya sibuk, karena ada panggilan lain.
********
__ADS_1
Mohon dukungannya ya....rate bintang 5, like, komen, dan vote. Segala kritik dan saran sangat saya harapkan, demi kemajuan cerita ini. Ada yang bertanya, apakah novel ini akan tamat dan berlajut ke versi dewasanya? Saya belum tahu, mohon bisa mengikuti alur ceritanya. Novel ini masih setengah perjalanan, kita belum tahu Lidya akan bersama Adi atau Frans. Frans juga belum wisuda kan? hehe.....