Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Merindukanmu


__ADS_3

Frans terus menatap Lidya. Lidya pun demikian, baru kali ini mereka akan berpisah. Mereka berdua sudah terbiasa bersama, karena hampir setiap hari mereka bertemu. Mendekati stasiun Tugu, kemacetan kota Jogja menjadi saksi bisu perpisahan mereka. Walaupun hanya sementara waktu saja mereka harus berpisah. Frans semakin berdebar, entah apa yang dirasakannya.


"Ehm....kenapa ya kok rasanya galau gini." Frans berucap secara tiba-tiba.


"Kenapa Mas?" tanya Lidya.


"Mungkin aku tidak mau berpisah denganmu," ujarnya jujur, sesuai dengan perasaannya saat itu.


Sama.... aku kok jadi sedih ya......


Lidya berguman dalam hatinya, ia pun merasakan hal yang sama. Tak berapa lama, mobil berhenti tepat di lobi stasiun. Mereka turun, Frans berjalan sambil mendorong kopernya. Lidya yang berjalan di samping Frans, tak berhenti memandangi wajah Frans. Langkahnya kemudian terhenti.


"Lid...kamu kenapa?" tanya Frans.


"Aku sedih Mas," kata Lidya polos.


"Aku pasti kangen kamu," ucap Frans lirih.

__ADS_1


Frans mengajak Lidya menepi, dilihatnya tidak ada bangku kosong untuk mereka duduk. Frans kemudian memegang kedua tangan Lidya, menatap wajah sedih wanita yang disayanginya.


"Lidya...aku akan lama di Jakarta. Doakan penelitianku lancar, aku bisa segera kembali dan kita bisa bertemu lagi. Bolehkah aku memelukmu?"


Tanpa berkata-kata, Lidya langsung memeluk Frans dengan erat. Frans pun kaget melihat situasi ini. Tanpa berfikir panjang, ia segera membalas pelukan Lidya. Keduanya hanya terdiam. Frans kemudian melepaskan pelukannya, setelah mendengar kereta yang akan mengantarnya ke Jakarta sebentar lagi akan berangkat.


"Lidya...aku berangkat ya," ucap Frans dengan berat hati meninggalkan Lidya.


"Iya Mas, jangan lupa kabarin kalau sudah sampai." Lidya berkata, sambil menghapus air matanya yang menetes.


"Sudah jangan nangis, nanti aku tambah galau ninggalin kamu. Mumpung libur, kamu bisa berkumpul sama keluarga. Hati-hati pulangnya!"


"Lidya....." teriak Frans memanggil dan melambaikan tangannya.


Lidya tersenyum, ia pun segera melambaikan tangannya. Ia terus melambaikan tangannya sampai kereta itu berlalu dari pandangannya.


*******

__ADS_1


Di kota Semarang, Adi juga merasakan rindu yang sama. Ia merindukan Lidya, Adi sudah tidak sabar akan segera meluncur ke kota Jogja. Namun, ia harus menahan keinginannya. Adi masih harus menyelesaikan masalah dengan Stacy.


Adi hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar, ia mau membuka laptop. Adi menunggu kedatangan temannya, sambil mencoba menyelesaikan revisi skripsinya. Rasa malas membuat Adi enggan untuk meneruskan pekerjaannya. Ia membuka ponselnya, dilihatnya foto Lidya. Adi kemudian teringat nasihat mamanya. Semangat itu kembali datang, ia melihat banyak coretan skripsinya dan melanjutkan untuk mengerjakan di laptopnya.


Tok...tok....


"Masuk, tidak dikunci..." ucap Adi.


"Sayang, ada Rey di bawah." Mama berkata sambil berjalan mendekati Adi.


"Ehm....biar Rey naik saja, Ma."


"Wah tumben, mama baru kali ini melihat kamu menyentuh kembali tumpukan skripsimu," ucap mama heran.


"Mama jangan gitulah, Adi kan sudah ada niat. Adi jadi malas kalau Mama bilang begitu."


"Ayo semangat! Maksudnya, Mama senang sekali melihatmu serius menyelesaikan skripsi. Jangan gensi ah...." kata mama.

__ADS_1


"Makasih Mamaku yang cantik dan awet muda. Ma, minta tolong Rey disuru naik ya," ucap Adi sambil tersenyum merayu mamanya.


"Ya sudah, Mama turun dulu..."


__ADS_2