Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Mama Lia Bertemu Stacy


__ADS_3

Sepulangnya Lidya, mama Lia naik ke kamar Adi. Tampak Adi masih tidur.


"Sayang, kamu tidak makan dulu?" tanya mama Lia.


"Ma, apa Lidya sudah pulang?"


"Pak Tugiman sudah antar Lidya pulang, sebaiknya kamu telepon Lidya. Tanyakan apakah sudah sampai kos," ucap mama Lia.


"Kepala Adi pusing sekali, Ma."


"Ya sudah, nanti minum obat lagi. Mama siapkan di bawah. Adi, Mama turun dulu. Papamu belum makan malam. Ayo, makan bersama papa!" ajak mama Lia.


"Mama duluan saja, nanti Adi nyusul."


Adi mencari ponselnya, kemudian menelpon Lidya.


**Adi : Hallo, Lidya..


Lidya : Ya Mas, gimana sudah enak badannya?


Adi : Ini baru bangun, tadi sudah minum obat.


Lidya : Oh istirahatlah Mas, oya terima kasih..ini aku sudah sampai kos.


Adi : Aku yang terima kasih, sudah mengantarku pulang.


Lidya : Sama-sama, terima kasih juga untuk makan malamnya.


Adi : Makan malam? maksudnya?


Lidya : Ya tadi aku makan malam di rumahmu, Mas.


Adi : Ohh begitu, oke sampai ketemu besok. Makasih ya...bye...**


Adi mengakhiri teleponnya dan bergegas untuk turun. Ia sangat penasaran, akan bertanya kepada mamanya.


"Ma, tadi Lidya makan malam di sini?" tanya Adi sambil melihat menu makan malam yang ada di meja.


"Iya, kenapa Sayang? Ayo temani papamu makan!" ajak mama Lia.


"Lidya mau Ma?"


"Mamamu yang maksa, gimana mau nolak." Papa menimpali pembicaraan dengan sinis.

__ADS_1


"Mama kan hanya minta ditemani makan," ucap mama sedikit mengelak.


"Trus Mama pasti tanya-tanya kan?"


"Ngobrol biasa saja. Tenanglah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Apa Lidya mengeluhkan sesuatu?"


"Tidak ada sih, cuma heran. Lidya tidak pernah mau kalau Adi ajak makan," ucap Adi sedih seperti memikirkan sesuatu.


"Nah, ini kesempatanmu. Ajak dia makan, bilang saja sebagai ucapan terima kasih sudah mengantarmu pulang," ucap papa memberikan ide, sambil terus makan.


"Papa ini, bikin kaget...kirain Papa mau bilang apa." Adi menjawab pendapat papa. Adi duduk dan ikut makan bersama papanya.


"Pa, ngobrol dulu sama Adi ya. Mama mau telepon sebentar."


Adi dan papanya makan berdua. Mereka tidak banyak berbicara. Papa Chandra tidak terlu menikmati makan malamnya. Pikirannya tertuju pada masalah Stacy. Ia sudah tidak sabar menanti hari esok.


Mama meninggalkan anak dan suaminya yang sedang makan bersama. Mama kemudian menuju tepi kolam renang dan duduk di kursi. Mama mengeluarkan ponselnya, menelpon seseorang.


** "Bagaimana? Sudah kamu aturkan? Bagus.... besok jam 10 di Cafe XX ya." **


Mama Lia sengaja menelpon orang kepercayaannya untuk membuat janji dengan Stacy. Mama tidak mau, kalau papa dan Adi mendengarnya. Tak berapa lama, papa menghampiri mama.


"Ma, ngapain di sini? Mama telepon siapa kok sembunyi-sembunyi?" tanya papa heran.


"Mama ini tidak jawab pertanyaan Papa. Mama telepon siapa?" Papa kembali bertanya dengan suara yang mulai meninggi.


"Mama telepon... telepon Dewi. Mama sudah lama tidak ngobrol dengan sahabat Mama," ucap mama mencari alasan agar papa tidak curiga.


"Tumben....curhat? pasti ngomongin Papa." Papa Chandra sebenarnya tidak yakin kalau istrinya menelpon sahabatnya.


"Haha.... takut ya kalau diomongin? Papa, besok mama mau ketemu teman-teman. Kita mau reuni kecil," kata mama Lia mengalihkan pembicaraan.


Papa Chandra mulai yakin kalau istrinya sedang menyembunyikan sesuatu. Mama kemudian mengajak papa untuk istirahat karena hari sudah larut malam.


"Papa, ayo kita istirahat!"


"Mama duluan, Papa kan habis makan. Nanti papa nyusul ke atas."


Setelah melihat istrinya naik, papa Chandra duduk di kursi. Memandang kolam renang yang dihiasi taman di sekitarnya. Sambil melamun dan berguman dalam hati.


Aku tidak akan membiarkan kebahagian keluargaku ini dihancurkan seseorang. Aku harus segera mendapatkan jawaban. Apa hubungan Stacy dengan Luci. Cerita yang sama terulang, setelah sekian tahun lamanya.


Aku yakin, Lia tidak menelpon sahabatnya. Pasti diam-diam mencari tahu tentang Stacy. Aku sudah tidak sabar....

__ADS_1


********


Cafe XX


Mama berangkat untuk menemui Stacy. Di saat yang bersamaan, papa juga sedang menunggu kedatangan David untuk memberikan informasi tentang Stacy.


"Halo Tante, ada apa gerangan yang membuat Tante ingin bertemu dengan Stacy?"


"Tante mau bicara denganmu," jawabnya singkat.


"Wah..suatu kehormatan buat Stacy. Nyonya Lia Wijaya mengundang Stacy untuk membicarakan kelanjutan hubungan putra tunggalnya...."


"Stop...kita tidak perlu basa basi," ucap mama Lia memotong pembicaraan Stacy.


Tampak Stacy mulai menatap wajah mama Lia dengan tajam. Mama Lia dapat membaca situasi ini. Ia tahu ada dendam di hati Stacy. Muncul kemarahan yang tidak diketahui apa penyebabnya. Mama Lia berusaha untuk tenang.


"Maaf, saya akan bicara dari hati ke hati. Saya tahu kamu punya suatu rencana untuk keluarga saya. Apa sebenarnya tujuanmu?" tanya mama Lia lembut.


"Tante, jangan menuduh! Stacy hanya mau kembali dengan Adi."


"Stacy, saya harap kamu bisa diajak bicara dengan baik. Kamu lihat, saya datang sendiri tanpa sopir ataupun pengawal pribadi yang menjaga saya. Itu artinya, saya memang ingin bicara pribadi denganmu."


"Tante tidak percaya kalau tujuan saya cuma mau kembali bersama Adi? Memang Tante, Stacy sakit hati dengan Adi. Tapi..."


Stacy yang sudah sedari tadi bersikap tidak sopan. Hal ini membuat mama Lia mulai memanas. Namun, ia mencoba untuk sabar dan menahan dirinya.


"Kalau kamu sakit hati, mengapa kamu ingin kembali? Itu sesuatu hal yang aneh. Apa yang membuatmu ingin membalas sakit hatimu itu?"


"Tante, saya tidak mau hidup susah."


"Uang? apakah uang yang kamu inginkan? Maaf Stacy, bukan maksud saya merendahkanmu."


"Betul....saya mau uang, Tante."


Mama Lia sengaja memancing Stacy. Mama Lia sangat penasaran dengan tujuan Stacy sebenarnya. Apa hubungan Stacy dengan Luci. Mama Lia menyadari kalau lawan bicaranya, bukanlah seorang anak kuliah yang polos. Mama Lia merasakan ada kebencian di hati Stacy.


"Stacy, apakah kamu sangat membenci keluarga saya? Saya tahu Stacy, Adi hanya kamu jadikan alasan. Kamu tidak sungguh-sungguh mencintai Adi. Benar kan? Sebagai sesama perempuan, saya minta maaf atas perlakuan Adi yang sudah menyakitmu. Saya sangat yakin dan percaya, kalau Adi tidak mungkin melakukan apapun denganmu. Apa kamu sengaja menjebaknya?"


Stacy tiba-tiba menangis. Mama Lia sangat heran melihat Stacy yang awalnya garang, kemudian menangis sesenggukan.


"Kamu kenapa?"


"Tante, saya tahu Adi tidak pernah mencintai saya dengan tulus. Saya juga demikian, Tante. Saya sangat marah dan kesal saat Adi memperlakukan saya tidak menyenangkan... Saya sengaja membuat cerita, saya sangat benci dengan Adi. Saya sangat benci dengan keluarga Wijaya."

__ADS_1


" Mengapa kamu sangat membenci keluarga saya? Siapa kamu sebenarnya?"


__ADS_2