
Malam itu, suasana kantor sangat sepi. Hampir seluruh lampu gedung, sudah dimatikan. Hanya ada satu ruangan yang masih menyala. Tampak Chandra Wijaya masih lembur di dalam ruangan itu. Ia ditemani sekretaris dan assisten pribadinya. Di saat mereka sedang menikmati pekerjaannya, datanglah seorang laki-laki berpenampilan rapi mengenakan setelan jas. Laki-laki tersebut langsung masuk ke ruangan Chandra dan menyapa mereka.
"Selamat malam, apakah kalian tidak berencana untuk pulang?"
"Hai Wisnu, apakah kamu datang untuk menjemput istrimu?"
"Ya..begitulah, aku tidak akan membiarkan istriku terlalu lama bekerja untukmu," ucapnya sambil tersenyum.
"Haha....baiklah. Sepertinya, suamimu ini sudah tidak sabar mau pulang bersamamu," ucap Chandra seraya melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Kenapa? kaget kalau sekarang sudah pukul 10 malam?" tanya Wisnu menggoda Chandra.
Chandra kemudian mematikan laptopnya. Ia segera merapikan semua berkas dan dokuman di atas meja kerjanya.
"Oke baiklah...ayo kita pulang semua!" ajak Chandra pulang dan merekapun meninggalkan gedung itu.
Chandra Wijaya seorang pekerja keras. Ia memulai karirnya sebagai marketing. Hasil penjualannya selalu melebihi target. Tidak heran, kalau ia cepat mendapatkan promosi. Bahkan, ia menjadi incaran perusahaan lain untuk merekrutnya. Wisnu adalah sahabat Chandra, yang sudah merintis bisnis terlebih dahulu. Chandra diajak Wisnu untuk bergabung di perusahaanya.
__ADS_1
Chandra menjadi orang kepercayaan Wisnu. Wisnu sosok laki-laki pencemburu, istrinya tidak diperbolehkan untuk bekerja. Suatu kali, istrinya memaksa untuk bekerja kembali. Kemudian, Wisnu mempercayakan istrinya bekerja sebagai sekretaris Chandra. Wisnu sangat percaya kepada Chandra. Akan lebih baik, kalau istrinya menjadi sekretaris sahabatnya. Daripada, harus bekerja dengan orang lain.
Chandra belajar bisnis dari Wisnu. Suatu kali, Chandra mengutarakan keinginannya kepada Wisnu. Ia ingin mandiri, memulai membangun bisnisnya.
"Wisnu, maaf... aku berencana untuk membuka perusahaan sendiri. Aku tidak bermaksud untuk menyaingimu," ucapnya.
"Wah hebat kamu, aku pasti mendukungmu. Aku tidak pernah berfikir kalau kamu akan menjadi sainganku."
"Terima kasih Wisnu, kamu memang sahabat terbaikku," kata Chadra sambil memeluk Wisnu.
"Aku sangat senang, kalau istrimu tetap menjadi sekretarisku. Aku membutuhkan sekretaris handal seperti dia."
"Pastinya.... Kamu kan tahu, kalau istriku sangat memaksa untuk tetap bekerja. Aku sangat percaya kepadamu."
"Terima kasih, percayalah kepadaku. Aku akan selalu menjaga kepercayaanmu."
Berkat usaha dan kegigihan Chandra membangun bisnis, akhirnya Chandra berhasil menjadi pengusaha yang sukses. Bahkan perusahaan Wisnu pun hampir tergeser. Meskipun demikian, Wisnu tidak pernah punya rencana menjatuhkan perusahaan sahabatnya.
__ADS_1
Sampai suatu ketika, Lucia mulai panik melihat perusahaan suaminya goyang. Dia memikirkan suatu cara untuk membuat bisnis Wisnu kembali bangkit. Malam itu, ketika suami istri ini sedang bercengkrama. Lucia mengutarakan kegelisahannya.
"Suamiku, apakah kamu tidak khawatir kalau perusahaan kita akan terjun bebas? Aku justru bekerja di perusahaan milik Chandra yang sedang berkembang pesat. Hati nuraniku tidak rela kalau....."
"Aku tahu maksudmu, tetapi aku bukanlah sahabat yang licik," ucap Wisnu memotong pembicaraan istrinya.
"Aku akan mengundurkan diri dari perusahaan Wijaya," kata Lucia dengan cepat menangapi suaminya berbicara.
"Jangan.... situasi sekarang ini, aku tidak mau kalau Chandra berfikir buruk tentang aku. Tetaplah bekerja untuknya."
"Apakah kamu yakin? Lalu apa rencanamu?" tanya Lucia.
"Nanti akan aku pikirkan. Ayo kita tidur, ini sudah malam." ajak Wisnu.
Lucia masih belum bisa tidur, ia memikirkan sesuatu dan berguman dalam hati.
Satu-satunya cara hanyalah menghancurkan bisnis Chandra. Tetapi, suamiku sangat mempercayai Chandra. Apa yang harus aku lakukan? Langkah pertama adalah, aku harus membuat suamiku membenci Chandra. Selagi aku masih bekerja untuk Chandra, aku harus bisa menghancurkannya.
__ADS_1