
Papa Chandra keluar dari ruangannya dan bergegas pulang meninggalkan kantor. Bagaikan di sambar petir di sore hari, perasaannnya sudah campur aduk. Bisnis yang dirintisnya mulai dari nol terancam hancur akibat ulah putra tunggalnya dan masa lalunya yang sudah dikubur dalam.
"Maaf Pak, ini kita langsung pulang?" tanya pak Tugiman sopir pribadinya.
"Ohh iya Pak, saya tidak enak badan. Kita langsung pulang saja," ucapnya sambil terus memikirkan ancaman Stacy.
Rumah Mewah Wijaya
Mobil melaju dengan kecapatan tinggi, tiga puluh menit kemudian sampailah di kawasan hunian elit di pusat kota Semarang. Rumah megah dua lantai, berdiri di atas tanah kurang lebih 2000 meter persegi. Bangunan yang sangat mewah bernuansa klasik. Seorang security membukakan gerbang dan memberikan salam hormat kepada tuannya.
"Selamat sore Tuan..."
Di balik jendela mobil, papa Chandra bertanya kepada security.
"Adi sudah pulang?"
"Oh belum Tuan Chandra..."
"Lho itu ada mobilnya?"
"Tadi siang keluar dijemput temannya."
"Oke terima kasih Pak. Kalau Adi pulang, bilang saya tunggu di ruang kerja," ucap papa Chandra.
"Baik Tuan, nanti saya sampaikan."
"Terima kasih."
Mobil berhenti di depan pintu, kemudian papa Chandra keluar disambut mama Lia yang sudah membukakan pintu rumahnya.
"Papa...kok tumben sudah pulang? Papa sakit?" tanya mama Lia, kemudian papa Chandra memberikan tas kerjanya.
"Ya Ma, Papa pusing sekali."
"Papa duduk dulu ya, Mama buatkan teh jahe kesukaan papa." Mama Lia meletakkan tas kerja papa Chandra, lalu berjalan menuju dapur membuat teh jahe.
"Ma...Papa ke ruang kerja ya."
"Ya Pa, nanti Mama antar tehnya," kata mama dari balik dapur .
Selesai membuat teh, mama Lia mengetuk pintu kerja papa Chandra. Tidak ada jawaban dari papa. Mama Lia masuk, mama melihat papa Chandra sedang duduk di depan laptop sambil melamun. Mama Lia memanggilnya, namun papa masih melamun tanpa menyadari kehadiran mama Lia yang sudah berada di sampingnya.
"Astaga...Mama ini bikin kaget saja." Papa segera menutup laptopnya.
"Mama sudah panggil Papa dari tadi, tapi Papa masih sibuk memikirkan sesuatu. Ini tehnya diminum dulu Pa." Mama memberikan secangkir teh untuk papa.
"Ma...apa Mama tahu bagaimana hubungan Adi dengan Stacy?" tanya papa sambil minum teh jahe, kemudian menggela nafas panjang.
"Kenapa Pa? meraka kan sudah putus," jawab mama singkat dan melihat ada yang aneh dari suaminya.
"Ma...papa ada masalah yang bisa mengancam kita semua," ucap papa Chandra berdiri dan duduk di sofa ruang kerja. Papa hendak menceritakan kepada istrinya.
"Maksud Papa?" tanya mama Lia mengikuti suaminya duduk. Menatap heran, merasakan ada yang aneh dari papa Chandra.
__ADS_1
Papa Chandra menceritakan kejadian tadi di kantor. Mendengar hal itu mama Lia sangat marah. Marah dengan Adi dan juga Stacy. Mama Lia mencoba tenang dan berfikir positif. Mungkin saja, ini hanya alasan Stacy dan harus cek kebenarannya dengan Adi.
"Pa...kita harus tenang dulu, belum tentu Stacy itu bener Pa. Bisa jadi itu cuma kebohongan Stacy saja. Mama dari awal tidak suka dengan Stacy. Latar belakang keluarganya tidak jelas. Dia cuma cewek matre yang cuma morotin anak kita saja." Mama Lia berkata sambil mendekati suaminya mencoba menenangkannya.
"Papa juga pikir begitu Ma, kita tunggu Adi pulang dulu nanti kita tanya anak kita."
"Sebentar Pa, biar mama telepon Adi dulu." Mama segera berinisiatif menelpon anaknya.
tut....tut....tut...tut...
"Di mana Adi ini? kok diangkat pa"
dret....dret....dret...
"Ohh ini Adi..."
**Mama Lia : Halo Adi, kamu di mana sayang?
Adi: Kenapa Ma? Adi masih ada acara.
Mama Lia: Adi, tolong segera pulang! Papa menunggu di rumah.
Adi: Tumben cari Adi.....
Papa Chandra kemudian merebut ponsel istrinya dan berteriak keras.....
Papa Chandra: Adi....cepat pulang sekarang!!!
Papa Chandra: Papa tunggu di rumah.**
Papa Chandra menutup telepon dan mengembalikan ponsel kepada istrinya.
"Pa...sabar...Papa kalau sama Adi tidak bisa seperti itu. Papa ingat, Adi pernah pergi dari rumah. Papa mau seperti itu lagi?" Mama menasehati papa untuk tidak emosi.
"Anak itu ya...semakin hari semakin tidak bisa diatur. Mana kuliah juga tidak selesai? Habiskan uang saja. Kalau tahun depan tidak lulus, suruh bayar sendiri Ma. Ini sudah tahun kelima kan Ma?"
"Sudah lewat Pa...tahun ini jalan keenam," jawab mama sambil menggelengkan kepalanya.
Mama Lia pamit untuk menyiapkan makan malam, papapun masuk ke kamar untuk mandi. Tiga jam berlalu, Adi belum juga pulang. Kedua orangtuanya memilih untuk makan malam terlebih dahulu, sambil menungu kepulangan Adi. Papa Chandra tampak gelisah, dilihatnya jam tangan sudah pukul 21.15 WIB. Papa berdiri melihat dari balik jendela rumahnya.
"Ke mana ya Ma anak itu?" tanya papa.
"Tadi pamit ke kampus Pa, tapi mama juga tidak tahu lagi ada acara apa." Jawab mama.
"Kampus...kampus...." kata papa marah.
Tak berapa lama, Adipun pulang. Mama menyambut dengan membuka pintu.
"Adi dari mana saja kamu ini?" bentak papa.
"Kok aneh tanya Adi seperti itu? Bukan kah ini biasa? Justru Adi pulang lebih sore dari biasanya?" jawab Adi ketus dan heran dengan kedua orangtuanya yang sudah menunggunya pulang.
Adi jarang punya waktu berkualitas dengan keluarganya. Orangtuanya sibuk bekerja, mama Lia mempunyai bisnis fashion dan beberapa butik barang branded. Namun sepertinya, Adi tidak memiliki bakat bisnis yang menurun dari kedua orangtuanya. Adi kurang tertarik dengan dunia bisnis. Adi lebih senang dengan musik. Mama sudah sering menasehati Adi untuk belajar bisnis, supaya kelak bisa meneruskan usaha papanya.
__ADS_1
"Adi...duduk, Papa mau bicara!!" bentak papa meminta Adi untuk duduk.
"Pa...sabar, biarkan Adi mandi dulu." Mama menenangkan papa, walaupun mama tahu kalau papa sudah sangat marah.
"Tidak apa Ma....nanti mandinya," jawab Adi.
"Adi...Papa sudah nunggu kamu dari tadi, ada hal yang mau kita bicarakan soal Stacy." Mama berusaha mengambil bagian untuk mengawali pembicaraan.
"Stacy kenapa Ma? Adi kan pernah cerita sama Mama kalau Adi sudah putus. Stacy itu cewek matre cuma mau morotin Adi."
Kedua orangtua Adi sebenarnya sangat menyayanginya. Walaupun bentuk perhatian papa lebih bersifat materi. Adi sendiri lebih memilih dekat dengan mama. Adi mau mendengar kalau mama yang berbicara.
"Iya Mama tahu, kamu juga lagi deketin seseorang kan?" tanya mama dengan lembut.
"Ya kan Adi juga sudah cerita sama Mama. Adi suka sama teman paduan suara. Jadi sudah ga ada hubungan apa-apa lagi sama Stacy. Adi juga sudah lama ga pernah ketemu dia kok," ucap Adi menjelaskan tentang Stacy.
Stacy memang tidak satu kampus dengannya. Sejak putus, Adi sudah tidak pernah berkomunikasi dengan Stacy. Apalagi bertemu, tidak pernah sama sekali.
"Tapi kamu sudah apakan Stacy????." bentak papa sambil melotot ke arah Adi.
"Maksud Papa apa sih?" Adi membalas dengan marah pertanyaan papa.
"Kamu sudah tidur kan dengan Stacy?? kamu buat hamil tidak?"
"Papa ya....Adi tidak sebejat itu."
"Sudah...sudah dengarkan dulu, jangan emosi. Ayo Papa duduk!" Mama melerai dan meminta papa untuk duduk.
"Dengarkan Adi, tadi sore Stacy datang ke kantor papa dan meminta tanggung jawab atas perbuatanmu...." belum selesai mama berbicara, Adi sudah memotong pembicaraan mama.
"Tanggung jawab apa? Apanya yang mau ditanggung jawabin? Orang Adi ga ngapa-ngapain kok. Apa Stacy bilang kalau Adi ini hamilin dia?"
"Kamu sudah kasar sama Stacy, menampar Stacy dan memutuskannya. Jawab jujur...kamu sudah pernah belum tidur dengan Stacy???" Papa terus menuduh Adi dan membuat Adi terpojok.
"Ya memang Adi marah waktu itu, Adi tampar dan turunkan Stacy di pinggir jalan. Tapi pa...Adi ga buat dia hamil."
"Adi...tolong jawablah dengan jujur, ceritakan apa yang terjadi. Stacy mengancam akan bicara di depan media. Stacy melakukan itu karena merasa sakit hati denganmu. Ini ancaman untuk keluarga kita." Mama berbicara sambil mendekati Adi dan membelai kepala Adi dengan lembut.
"Aneh...seorang Stacy bisa mengancam Papa," ucap Adi heran.
"Dengar ya Adi, Papa ini mau launching apartemen baru. Kalau Stacy berkoar di depan media, anak tunggal Chandra Wijaya pemilik bisnis properti mencampakkan begitu saja setelah........."
Adi lalu memotong pembicaraan papanya.
"Pa...ga usah lebay deh. Mana mungkin Stacy melakukan itu. Ya memang waktu itu Adi pernah diajak Stacy pergi ke villa sama teman-temannya dan Adi mabuk trus...."
"Trus apa Adi?" Mama bertanya dengan nada mulai meninggi.
"Ma...Stacy ga hamil....Adi juga ga yakin kalau terjadi sesuatu waktu itu. Meskipun Adi mabuk, Adi yakin ga melakukan apapun."
"Adi...kalau sampai Stacy bicara di depan media tentang apa yang sudah kamu lakukan, kami kuatir itu akan berpengaruh dengan bisnis papa. Papa akan launching apartemen baru. Bagaimana dengan rekan bisnis papa? Investor? Saham perusahaan kita? Bisnis papa itu juga bisnismu...perusahaan papa juga perusahaanmu. Bisnis papa dan mama ini semuanya juga milikmu sayang. Papa bukan lebay dan berlebihan Adi. Mama kan pernah nasehati kamu, ingat bergaul...ingat nama baik keluarga kita. Jangan egois...kamu itu anak pengusaha ternama." Mama berbicara sambil meneteskan air mata, merasakan sesak di dadanya.
"Lalu...apa yang harus Adi lakukan?"
__ADS_1