
Lidya mendengarkan uangkapan hati Frans. Hatinya mulai bergejolak. Entah apa yang dipikirkannya saat ini. Lidya bahkan tidak siap dengan suatu jawaban. Meskipun belum pernah pacaran sebelumnya, namun Lidya tidak mau kalau hanya sekedar mencoba untuk pacaran. Frans sangat berharap jawaban dari Lidya dan menatapnya dengan penuh harapan.
"Aku...gimana ya Mas? Maaf apa tidak terlalu cepat? Kita baru tiga bulanan ini kenal. Aku takut mengecewakanmu"
"Lid...hanya untuk menunggu saja, tunggulah aku! Aku selesaikan dulu skripsiku dan kamu akan mendampingiku wisuda nanti."
"Mas...jujur...aku juga menyukaimu, tapi aku belum siap. Bagiku pacaran itu harus punya komitmen, bukan hanya sekedar jalan bareng. Maaf kalau aku berfikir terlalu jauh."
"Jadi... apakah kamu tidak mau menungguku?" Frans kembali bertanya sambil kedua tangannya menggenggam tangan Lidya.
Lidya tidak segera menjawab, Lidya justru melamun seolah memikirkan sesuatu. Frans juga tidak mau memaksa Lidya.
"Baiklah Lid...aku tidak akan memaksamu," ucapnya pasrah dan melepaskan genggaman tangan Lidya.
"Mas....aku akan dukung kamu. Selesaikan skripsimu! Buatlah orangtuamu bangga! Fokuslah dengan apa yang menjadi mimpimu, jangan karena aku nanti konsentrasimu terganggu."
"Jadi maksudnya....?" tanya Frans bingung.
"Kita jalani aja yang ada ya. Kita sama-sama saling mendukung, aku kan juga ga mau lama-lama di sini mas. Aku mau balik ke Jogja mencari mimpiku."
__ADS_1
"Kamu mau ambil profesi di Jogja ya?"
"Ya Mas.. kuliah di universitas negeri di kotaku adalah impian terbesarku. Aku sudah pernah menceritakan sebelumnya, itu mimpiku," ucap Lidya sangat optimis.
"Lid...setelah lulus, aku mau bekerja di Jakarta. Aku ingin sekali bekerja di salah satu perusahaan terbesar di sana."
"Ayo Mas, kita kejar mimpi kita!"
"Lid.. aku suka kamu apa adanya. Kamu beda dengan yang lain, dan ternyata kita mempunyai satu visi yang sama."
"Visi apa misi?" goda Lidya mencairkan suasana.
"Jadi intinya..?"
"Lid....tapi aku butuh kepastian, supaya aku bisa fokus dengan skripsiku."
"Maaf Mas, aku belum bisa kasih jawaban sekarang. Bagiku ini terlalu cepat Mas."
"Baiklah...aku tidak memaksamu. Memang terkadang tidak harus dikatakan. Aku bisa merasakan ketulusan hatimu," ucap Frans penuh percaya diri kalau Lidya sebenarnya juga mau menunggunya.
__ADS_1
"Aku suka kamu Mas...tapi aku butuh waktu untuk meyakinkan perasaanku"
"Terima kasih, ini sudah lebih dari cukup untuk menjawab permintaanku," ucap Frans.
Lidya malu dengan pernyataan Frans. Lidya memang menyukai Frans, namun masih ragu dengan perasaannya.
"Makanya jangan lama-lama skripsinya." Lidya keceplosan dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Frans yang mendengar langsung tersenyum. Secara tersirat Frans dapat menangkap jawaban Lidya.
Mereka berdua melanjutkan ngobrol dan memanggil penjual bakso yang lewat di depan kos Lidya. Hari menjelang sore, setelah makan Frans pamit pulang. Frans janjian besok akan menjemput Lidya berangkat kuliah. Lidyapun tidak menolaknya.
*******.
Semenjak kejadian di kos Lidya waktu itu, Adi sudah tidak terlalu mengganggunya. Adi sudah mendapatkan informasi tentang Lidya dan Frans dari orang terpercaya. Adi yang sudah berjanji akan sportif mengejar Lidya, ia akan menepatinya. Meskipun demikian, bukan berarti Adi diam saja tidak mengejar Lidya. Adi masih terus mengejar Lidya, tetapi dengan cara yang halus dan tidak reseh. Lidya yang lolos audisi paduan suara, setiap minggu bertemu dengan Adi untuk latihan bersama. Di situlah Adi beraksi mendekati Lidya.
Tanpa terasa, satu semester berlalu. Frans dan Lidya semakin dekat. Mereka bagaikan sepasang kekasih yang selalu berdua kemana pun. Menjelang libur semester, Lidya akan kembali ke Jogja dan Frans berencana akan mengantarkan Lidya pulang.
"Lid...kapan rencana pulang Jogja?" tanya Frans.
__ADS_1
"Jumat minggu ini ya Mas," jawab Lidya.
"Aku mau pulang ke Jakarta Lid, mungkin nanti naik kereta dari Jogja. Sekalian mengantarmu pulang."