
Adi melajukan mobilnya dengan sangat kencang membuat Stacy ketakutan.
"Sayang...kenapa ngebut? stop...." pintanya.
"Kamu mau turun di sini?" tanya Adi.
"Kamu kenapa sih?? dari tadi aku perhatikan kamu jadi bad mood setelah ketemu teman kamu itu?" tanya Stacy penasaran.
"Sudahlah...jangan ganggu aku dengan pertanyaanmu yang ga penting itu."
Adi menepikan mobilnya dan berhenti.
"Turunn.......!" bentak Adi membuat Stacy menangis karena tidak tahu apa salahnya.
"Hiks...hiks....hiks...tega kamu Adi, apa salahku? kamu turunkan aku dipinggir jalan."
"Denger ya.....aku sudah bosan denganmu, turun sekarang dan kita putus....." Adi memutuskan Stacy dengan santai tanpa merasa bersalah sudah menghancurkan perasaan Stacy.
"Aku ga mau.....jangan paksa aku....tolong
...hiks...hiks....hiks" Stacy terus menangis dan memohon kepada Adi.
"Kamu bisa turun tidak?? atau aku paksa kamu turun????Aku sudah muak sama kamu, jangan kamu kira aku ini tidak tahu ya, kalau kamu hanya mau dengan uangku saja."
Adi semakin marah karena Stacy tidak mengikuti keinginannya. Stacy yang tersinggung dan merasa harga dirinya dihancurkan justru menantang Adi.
"Sombong kamu Adi......jangan sok kamu ya, ya memang...Kalau bukan karena kamu tajir, aku juga ga mau sama kamu....! Aku lebih sayang hartamu. Sini aku lihat, mana ada cewek baik-baik yang mau sama kamu? kuliah ga jelas....tampang pas-pasan, kalau bukan mobil kamu yang keren........."
Plak..
Belum selesai Stacy melanjutkan makiannya, Adi sudah menampar pipi Stacy dan membuatnya berhenti memaki Adi. Namun, kali ini Stacy tidak lagi menangis. Stacy keluar dari mobil dan membanting pintu.
Deeeeer
Suara pintu mobil dibanting Stacy dengan sangat keras, Adi melaju dengan kencang meninggalkan Stacy.
Awas kamu Adi....seenak otakmu, kamu mencampakkan aku begini...tunggu pembalasanku....aku tidak terima kamu memperlakukan aku seperti sampah....kamu buang aku setelah kamu ga butuh aku lagi.
Stacy sangat marah diperlakukan Adi seperti itu dan diapun tidak bisa menerimanya. Stacy segera mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
**Halo... bisa tolong jemput aku di jalan xxx, aku tunggu ya....jangan pakai lama.**
***********
__ADS_1
Frans dan Lidya keluar dari bioskop menuju tempat parkir dan mereka akan segera pulang. Dengan wajah yang berseri-seri, Frans membantu Lidya memakaikan helm.
"Makasih Mas...." Lidyapun tersenyum.
"Lid...aku ajak kamu ke kosku bentar ya. Aku mau ambil proposalku untuk di jilid ke fotocopyan. Jadi nanti, setelah antar kamu pulang bisa sekalian, jadi ga bolak balik"
"Boleh Mas...aku juga belum tahu kosmu di mana," ucap Lidya.
"Emang penting ya kalau kamu itu tahu kosku di mana?" tanya Frans heran.
"Ya...kan kalau kamu culik aku, orangtuaku bisa gampang cari kamu mas.." goda Lidya.
"Halah...aku ga perlu culik kamu, orang kamu udah mau kok aku ajak pergi hahaha...."
Frans melajukan motornya dengan kecepatan sedang sambil menikmati perjalanan berdua dengan Lidya. Tak terasa, sampailah di kos Frans. Frans tidak pernah mengajak teman perempuannya ke kos. Hanya Christy saja yang pernah datang dan itupun Frans tidak mengijinkan Christy masuk ke kamarnya.
Lidya memandangi setiap sudut kos Frans. Kos yang cukup mewah untuk ukuran kos laki-laki. Berbeda dengan kos Lidya yang berbentuk rumah sederhana. Kos Frans ini bisa dibilang mirip dengan apartemen, hanya tidak terlalu besar dan beberapa lantai saja.
"Kosmu bagus ya Mas..." ucap Lidya polos.
Frans pun tersenyum, mengajak Lidya masuk.
"Hai Bang...wah tumben ini bawa ceweknya ke sini, lama kali ga pernah lihat abang sama cewek.." goda Pak Slamet penjaga keamanan kos sambil tersenyum.
"Halo Non....." sapa Pak Slamet.
"Saya Lidya, Pak." Lidya bersalaman dan menyapa Pak Slamet dengan ramah.
"Cantik Bang ..ramah lagi, ga kaya yang dulu....hihi..." Pak Slamet mendekati dan berbisik di telinga Frans.
Frans mengajak Lidya masuk ke dalam kosnya, Lidya duduk di ruang tamu menunggu Frans mengambil berkasnya. Tak lama Frans keluar dari kamar dan mengajak Lidya pulang.
"Ayok....aku anter kamu pulang!"
"Oke Mas...."
" Pak Slamet, pulang dulu ya..."
"Siap Non...hati-hati..."
Pak Slamet memberikan kode jempol ke arah Frans sambil melirik Lidya, Franspun tersenyum meninggalkan kos.
"Jalan dulu Pak..." kata Frans berpamitan.
__ADS_1
Kos Lidya
Sampai di depan kos, Lidya kaget melihat mobilnya sudah parkir di halaman kos. Sambil terus melihat mobil tersebut,
"Hai....kamu kenapa?" tanya Frans heran.
"Ini kan mobilnya mama, Mas."
"Lho..mamamu datang? seneng dong harusnya kok kamu malah bingung ketakutan gitu sih? ucap Frans penasaran.
"Soalnya...mama kan kemarin marah...."
Lidya yang masih bengong, kemudian semakin kaget mendengar suara mamanya keluar dari balik pintu kos.
"Sayang....kok ga masuk dari tadi," Sapa mama sambil melirik Frans.
"Lidya..dari mana saja?" tanya papa.
Frans yang merasa sungkan mengantarkan Lidya pulang dan bertemu dengan orangtuanya. Frans langsung memperkenalkan dirinya dengan tegas dan sudah siap jika dirinya akan mendapatkan omelan ataupun dimarahi oleh orangtua Lidya.
"Maaf Om dan Tante. Perkenalkan saya, Frans. Maaf, saya sudah membuat Om dan Tante khawatir. Saya yang kemarin mengajak Lidya pulang sampai malam. Hari ini, saya juga yang mengajak Lidya nonton. Saya berjanji tidak akan mengajak Lidya pulang sampai malam lagi. Saya bisa pastikan kalau putri Om dan Tante sudah berada di kos sebelum jam 22.00 WIB." Frans menjelaskan kepada orangtuanya dengan tegas dan dengan sopan menghormati orangtua Lidya.
Mendengar Frans berbicara, papa dan mama tersenyum dan menjawab gegelisahan mama yang sudah sangat penasaran dengan Frans.
"Makasih sudah mengantarkan Lidya, lain kali jangan pulang malam lagi. Ini mamanya sudah kepikiran ga bisa tidur. Maklumlah Lidya putri tunggal kami." Papa berkata sambil bersalaman dengan Frans.
"Baik Om dan Tante, maaf saya permisi pulang dulu." Frans berpamitan pulang
Frans bersalaman dengan mamanya, lalu menundukkan kepalanya sebagai tanda menghormati kedua orangtua Lidya.
"Makasi Nak Frans," sapa mama.
Setelah Frans pulang, Lidya masuk bersama papa dan mama.
"Ma..kok ga kasih kabar mau ke sini?" tanya Lidya heran.
"Kejutan.....Mama sengaja ga bilang-bilang biar Lidya ga persiapan. Kalau Mama bilang mau datang, Mama ga akan liat kejadian tadi," kata mama sambil membelai rambut Lidya. Dengan senyuman di wajah mama, membuat Lidya merasa aneh.
"Mama kenapa sih kok senyum-senyum?"
"Mamamu ini penasaran sama temanmu yang namanya Frans. Dari kemarin sudah uring-uringan...khawatir kalau terjadi sesuatu sama kamu. Kebetulan pesanan catering sudah beres makanya Papa anter aja mamamu ini ke sini," kata papa jutek.
Mereka bertiga duduk di ruang tamu, dan mama menanyakan pertanyaan yang membuat Lidya tidak bisa menjawabnya.
__ADS_1
"Sayang....Frans itu pacarmu ya?"