
Sore itu, aku mendapat telepon dari mas Adi. Dia menanyakan kabarku. Aku mengatakan kepadanya kalau sedang dalam perjalanan menuju Semarang. Aku tahu dia sangat senang mendengarnya. Ia segera munutup telepon, tak lama mengirimkan pesan untukku. Namun, aku tidak sempat membaca pesan darinya. Ponselku tiba-tiba mati, karena baterainya habis.
Kira-kira tiga puluh menit kemudian, aku mulai ngantuk. Aku menyandarkan kepalaku dan mulai tertidur. Tak lama seseorang membangunkanku, karena sudah sampai ke tempat tujuanku. Aku bergegas turun dari bus. Sejujurnya aku masih sangat ngantuk, aku ingin segera sampai kos.
Saat diperjalanan menuju kos, aku teringat kalau sudah lama kosku tidak aku tinggali. Sudah pasti kotor dan lembab. Aku sangat kesal, di saat lelah dan ngantuk seperti ini aku masih harus membersihkan kos terlebih dahulu.
Aku berjalan sambil memikirkan suasana kos yang tidak nyaman. Aku menggendong tas di
punggungku, lalu menenteng beberapa bekal makanan yang disiapkan mama untukku. Tak lupa aku juga membawa tas laptop di bahuku. Bisa dibayangkan betapa ribetnya saat itu.
Aku berjalan dengan tetap fokus dan konsentrasi, karena jalan raya cukup ramai. Saat aku menyebrang jalan, samar-samar terdengar suara seseorang memanggilku.
"Lidya..."
Aku tetap berjalan, beberapa kali suara itu terdengar memanggilku. Aku mengenali suaranya, tetapi aku tetap berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku mencari di mana suara tersebut berasal, itu pasti suara mas Adi. Aku sempat ragu, karena aku tidak melihat mobil sport hitam miliknya.
"Lidya..."
Suara terdengar lebih keras, aku menoleh dan aku melihat mas Adi berlari. Mas Adi menyeberang tanpa melihat dari arah berlawanan, ada mobil sedan melaju dengan kecepatan tinggi. Pikiranku sudah melayang, aku memejamkan mataku. Suara itu terdengar sangat keras.
Deeer...
Setelah aku membuka mataku, betapa terkejutnnya aku. Banyak orang sudah bergerombol dan kerumunan orang seperti membentuk lingkaran.
"Mas Adi," teriakku.
Aku mempercepat langkahku, seseorang membantuku menyeberang jalan itu. Aku segera berlari mendekati kerumunan.
"Permisi, tolong ini teman saya," ucapku menerobos kerumunan orang yang sudah bergerombol, seolah menyaksikan suatu pertunjukkan.
"Awas minggir, kasih jalan...Mbaknya mau lewat."
__ADS_1
"Mbak, kita harus bawa ke RS," kata salah satu orang yang berada di kerumunan.
"Pak, tolong...tolong bantu saya," pintaku kepada mereka.
Aku melihat dengan jelas, mas Adi sudah tergeletak di jalan raya. Kepalanya berlumuran darah, ia tidak sadarkan diri. Aku sudah ketakutan. Aku menangis, aku bingung, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
Pikiranku tiba-tiba melayang, aku teringat saat mas Adi menyanyikan lagu cinta di depan kosku. Aku tahu bagaimana perasaanya kepadaku. Sudah kesekian kalinya ia menyatakan rasa cintanya kepadaku. Entah mengapa, aku sangat sedih dan takut kehilangannya. Aku mengira mas Adi sudah meninggal dengan kondisinya yang sangat memprihatinkan.
Tak berapa lama, ambulans dan polisi datang. Mas Adi di bawa masuk ke dalam ambulans oleh tim medis, aku tidak berfikir panjang. Aku segera masuk menemani mas Adi. Beberapa polisi sepertinya akan meminta keterangan mengenani kecelakaan itu. Aku semakin takut, bagaimana kalau aku menjadi saksi dan aku semakin takut kalau terjadi sesuatu dengan mas Adi.
"Kondisinya kritis," ucap salah satu perawat sambil memasang beberapa alat.
Mendengar perawat mengatakan hal itu, dan suara sirine ambulans yang terdengar kencang membuatku semakin takut. Aku juga membayangkan kalau orang tuanya akan menyalahkanku. Mereka pasti akan mengatakan kalau akulah penyebab kecelakaan ini.
Aku berdoa dalam hati, semoga semua akan baik-baik saja. Aku pandangi wajah mas Adi yang tampak seperti menahan sakit.
"Mas, kamu harus kuat ya..." ucapku lirih tanpa kenyakinan. Aku pun ragu melihat kondisinya saat itu.
"Maaf Mbak, anda teman korban?" tanya polisi kepadaku.
"Ia betul Pak," ucap Lidya.
"Teman anda korban tabrak lari, saya bisa minta waktunya sebentar untuk menanyakan beberapa hal."
"Maaf sebelumnya Pak, apakah bisa kita menghubungi keluarganya terlebih dahulu?"
"Orang tuanya sudah kami hubungi, sebentar lagi mereka akan datang."
Aku sangat panik ketika polisi bertanya beberapa pertanyaan kepadaku. Namun, aku sedikit lega karena polisi mengatakan kalau mas Adi korban tabrak lari. Setidaknya polisi tidak menuduhku kalau aku sebagai tersangka penyebab kecelakaan mas Adi.
Walaupun begitu, tetap saja perasaanku campur aduk. Aku takut terjadi sesuatu dengan mas Adi. Aku juga khawatir kalau salah menjawab pertanyaan polisi. Aku di sini menjadi saksi kecelakaan tersebut.
__ADS_1
Setelah menjawab beberapa pertanyan, aku duduk di bangku. Aku hanya bisa menanti keajaiban dari Tuhan. Mujizat pasti terjadi, aku sangat berharap mas Adi sembuh.
"Lidya," panggil tante Lia.
"Tante, Lidya minta maaf....." ucapku lirih dengan air mata yang sudah membasahi pipiku
"Adi di mana?" tanya mama Lia.
"Masih di dalam Tante," ucapku sambil menunjuk ruang IGD.
Mataku tertuju kepada om Chandra yang sedang berbicara dengan polisi. Ada raut wajah sedih dan menahan marah. Aku sangat paham bagaimana perasaan kedua orang tua ini. Seandainya itu terjadi pada dirinku pasti papa mamaku juga sangat sedih dan khawatir.
Beberapa menit kemudian, pintu ruang IGD terbuka, seorang perawat keluar mencari keluarga mas Adi.
"Keluarga Adi?" tanya salah satu perawat dan tak lama seorang dokter berbicara dengan orang tua mas Adi.
Sebelum berbicara dengan dokter, om Chandra sempat bertanya kepadaku mengapa kecelakaan ini bisa terjadi. Aku hanya terdiam lalu aku melihat dari jauh, sepertinya mereka sedang berbicara serius. Aku melihat tante Lia menangis. Hatiku semakin sedih, mas Adi adalah anak tunggal mereka. Aku tidak bisa membanyangkan kalau terjadi hal yang buruk.
Setelah berbicara dengan dokter, tante Lia mengatakan sesuatu kepadaku. Aku pun terkejut mendengarnya, ternyata tante Lia pernah kehilangan kakaknya mas Adi.
"Lidya, dokter tadi bilang kalau operasi ini berhasil, kemungkinan besar Adi akan hilang ingatan parsial. Tante yakin, cuma kamu yang akan diingat oleh Adi. Adi sangat mencintaimu. Lidya, bolehkah Tante minta tolong? Tolong bantu Adi untuk sembuh, Tante tidak mau kehilangan Adi."
"Apa yang harus Lidya lakukan Tante?" tanyaku bingung.
"Tolong dampingi Adi sampai dia sembuh. Tanta minta maaf kalau permintaan Tante ini terlalu berlebihan. Tante mohon Lidya bisa mengerti bagaimana perasaan Tante saat ini," ucap tante Lia memohon kepadaku.
Aku tidak tega melihat tante Lia memohon kepadaku. Aku pun berfikir, tidak ada saalahnya kalau menolong. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi dengan mas Adi.
"Baiklah Tante, Lidya akan menemani mas Adi sampai sembuh."
Entah apa yang baru saja aku katakan. Bagaimana kalau mas Adi benar hilang ingatan, berapa lama ia akan sembuh. Aku lupa dengan janjiku, aku sudah berjanji akan menunggu mas Frans sampai wisuda.
__ADS_1