
Enam puluh delaman hari lamanya, Adi masih tidak menunjukkan perubahan. Keluarga Wijaya sudah membawa Adi pulang ke rumah dengan menyewa peralatan yang sudah
Papa Chandra persiapkan. Mereka juga akan membawa Adi terbang ke luar negeri untuk menjalani perawatan.
"Mama, besok kita transit dulu di Jakarta."
"Besok? Papa kenapa mendadak?" tanyanya kaget.
"Maaf, Papa mendadak memberitahukannya. David kemarin telepon kalau semua sudah siap dan besok kita bisa berangkat. Papa pikir semakin cepat semakin baik. Kita transit di Jakarta untuk cek kondisi Adi." Chandra menjelaskan kepada istrinya dengan sangat antusias.
Lia kemudian menelpon assisten pribadinya untuk mendelegasikan pekerjaan yang harus ditinggalkan. Setelah itu, menyiapkan semua kebutuhan selama di luar negeri.
"Papa, Mama berencana mengajak Lidya ke Jakarta. Bagaimana menurut Papa?"
"Apa Lidya mau?" Chandra balik bertanya.
"Mungkin saja..."
"Kalau Lidya mau ya silahkan, tetapi jangan dipaksa".
Tak berapa lama, Lidya keluar dari kamar Adi dan memanggil Lia.
"Tante...Mas Adi..."
Betapa kagetnya Lia, hatinya seperti teriris ketika mendengar Lidya memanggil dengan histeris. Ia kemudian bergegas masuk dan melihat Adi. Tak lama raut wajahnya berubah
__ADS_1
"Ada apa Ma?" tanya Chandra penasaran, mengekor istrinya masuk ke kamar Adi.
"Adi menggerakkan tangannya..."
"Wah...ini sangat luar biasa, Papa akan telepon dokter."
Setelah sekian lamanya, kini Adi dapat merespon dengan menggerakkan tangannya. Ini merupakan kejutan kecil bagi keluarga Wijaya. Tak berapa lama, dokter datang memeriksa Adi.
"Selamat... akhirnya mujizat terjadi, namun kita tetap harus berjaga."
Setelah memeriksa Adi, dokter pun pulang dan mereka kembali mengajak Adi berbicara.
"Mama, kita batalkan rencana besok."
Chandra membatalkan rencananya ke luar negeri, ia yakin kalau Adi akan segera bangun dan memberinya kejutan lagi. Malam itu, Lidya masih setia menemani Adi di rumahnya. Lidya sudah seperti kekasih Adi yang selalu ada untuk Adi di saat kondisinya terpuruk. Berawal dari rasa kasian dan merasa bersalah atas apa yang menimpa Adi, Lidya mulai merasakan adanya getaran lain di dalam hatinya.
Satu bulan kemudian, Adi membuka matanya. Raut wajah kebahagian terpancar dari keluarga Wijaya dan Lidya. Ini sungguh keajaiban dari Tuhan.
"Mama...Papa...Lidya..."
"Adi, Sayang...kamu sudah bangun dari mimpi burukmu? Mama bahagia sekali..."
"Mas...akhirnya kamu sadar... apa yang terjadi denganmu saat kau tidur?"
"Aku mendengar semuanya, tapi tubuhku terasa lemah. Terima kasih Lidya, kamu sudah menemaniku..."
__ADS_1
"Papa senang sekali, Nak."
Adi mencoba untuk duduk, tubuhnya masih lemah. Namun, dia sangat bersemangat dan tidak mau melihat orang-orang yang disayanginya kecewa.
"Jangan dipaksa, dokter akan segera datang untuk memeriksamu!" ucap Chandra.
Dua bulan setelah Adi sadar dari komanya. Adi bertekat untuk mengikuti ujian skripsi yang tertunda. Lidya dengan setia menemani Adi ke kampus, ia menunggu di depan ruang sidang skripsi.
Seharusnya aku menemanimu mas...Kamu sungguh tega, meninggalkanku tanpa kabar. Aku bahkan tidak tahu apa kamu sudah kembali dari Jakarta, atau kamu sekarang sudah lulus?
"Lidya..aku lulus...terima kasih, semua karena kamu..."
"Semua karena Tuhan, bukan karena aku."
"Karena Tuhan sudah menghadirkan kamu untukku..."
"Selamat ya Mas..."
Tepat di hari wisuda Adi, Lidya memilih untuk pulang ke kota Jogja. Ia tidak mau datang ke acara wisuda tersebut. Adi dan mamanya sudah meminta dan sedikit memaksa Lidya untuk datang bersama ke acara wisuda, namun Lidya tetap tidak mau dengan alasan ada acara keluarga di Jogja.
Hati Lidya terisak mengingat janjinya akan menunggu dan mendampingi Frans saat wisuda nanti. Air mata terus mengalir, ia semakin tak kuasa menahan kesedihan dan perasaanya yang begitu hancur.
Hidup itu memang rahasia Tuhan. Tidak ada yang dapat mengetahuinya apa yang akan terjadi ke depan. Aku yang dulunya ingin kuliah di universitas negeri favorit, ternyata Tuhan punya rencana lain. Di kota asing itu, di mana aku sama sekali tidak pernah membayangkan sebelumnya. Aku bertemu dengan seorang bernama Frans. Laki-laki yang membuatku semangat untuk meneruskan impianku. Laki-laki yang menyadarkanku kalau mimpi itu harus dikejar. Kita tidak akan pernah dapat memperoleh kabahagian, kalau kita hanya berdiam diri saja menanti kebahagian itu menjemput kita. Aku tahu, kamu sudah bahagia dengan mimpimu. Kamu sudah berjuang meraih cita-cita dan masa depanmu. Aku bersyukur mengenalmu... Walaupun aku masih penasaran kenapa kamu pergi tanpa kabar dam tidak kembali lagi...Aku akan berjuang mengejar mimpiku yang tertunda.
Tepat tiga tahun, Lidya lulus dengan predikat cumlaude. Sangat membanggakan, ia mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu yang singkat. Tiga tahun untuk meraih gelar sarjana. Selama dua tahun itu, Lidya memutuskan untuk fokus menyelesaikan kuliah. Ia berhenti mengikuti paduan suara dan memilih tidak berkomitmen dengan siapapun termasuk Adi yang sudah berharap akan menjadi kekasih Lidya.
__ADS_1
-TAMAT-