Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Kehujanan


__ADS_3

Lidya dan Frans sampai di suatu cafe. Cafe itu dihiasi dengan lampu-lampu. Pandangan Lidya takjub dengan design cafe tersebut. Lidya memandang setiap sudut ruang itu.


"Woow.....keren banget Mas." Lidya terus memandangi dengan tersenyum kagum.


Melihat hal itu, Frans melipat tangannya di dada dan bersandar di tembok memperhatikan Lidya. Kemudian bertanya


"Kamu suka?


"Suka banget Mas...makasih ya"


Polos banget sih kamu....Duh....jadi gemes tahu, kalau aku makin suka kamu gimana dong?


Lamunan Frans berhenti saat seorang pelayan mempersilahkan duduk dan memberikan daftar menu.


"Silahkan duduk....mau pesan sekarang atau nanti?" tanya pelayan itu dengan ramah.


"Ehm...Lid, kamu mau makan apa? lihat-lihat dulu apa langsung pesen?" Frans bertanya kepada Lidya yang masih terus memperhatikan lampu-lampu disekitarnya.


"Terserah Mas..apa aja aku mau kok," katanya singkat.


"Oke Mbak...ini aku pesan tenderloin steak kematangannya mateng banget ya," kata Frans menunjuk gambar menu makanan.


"Ehm aku juga sama Mbak...mateng banget, tenderloin steak." Lidya memesan menu yang sama dan tersenyum kepada pelayan itu.


"Oh kamu ga mau cobain yang lain Lid?" tanya Frans lagi.


"Mbak...ini pesen tenderloin 1, sirloin 1, fish and chips 1 trus minumnya aku mau es coklat hazelnut 1 itu aja Mbak," kata Frans memilih menu makan kemudian menunjuk Lidya yang belum pesan minuman.


"Aku air mineral aja...yang dingin ya Mbak," kata Lidya sambil merapikan rambutnya.


"Oke baik saya ulang ya pesanannya....."


" Mas...aku ke toilet dulu ya..."


Setelah Lidya kembali dari toilet, Frans gantian meminta ijin ke toilet. Frans meninggalkan ponselnya di atas meja. Lidya mendengar ada panggilan masuk dari ponsel Frans. Lidya memperhatikan ponsel Frans yang berdering. Tak lama, ponsel Frans berdering lagi untuk kedua kalinya. Lidya ragu mau mengambilnya. Walaupun hanya sekedar melihat, siapa yang menelpon. Kemudian, datanglah pelayan membawa makanan dan minuman pesanan mereka. Mau tidak mau Lidya harus memindahkan ponsel Frans. Saat mengambil ponsel Frans, Lidya melihat panggilan masuk.


" Christy "


Frans kemudian kembali dan duduk. Lidya tidak enak karena memegang ponsel Frans.


"Mas...maaf tadi mbaknya bawa makanan, aku cuma mindahin aja kok ponselmu," kata Lidya gugup menjelaskan kepada Frans.


Frans hanya tersenyum berkata, "Ga masalah"


"Mas..tadi Christy telepon. Maaf, aku ga sengaja... tadi lihat ponselmu bunyi ada panggilan masuk." Lagi-lagi Lidya gugup.


"Sudah...taruh aja ponselnya, ayo kita makan!" ajak Frans segera makan.


"Mas...ini kok banyak sekali. Porsinya gede gini mas," ucap Lidya heran melihat makanannya.


Ya berarti kita harus berlama-lama di sini sampai makanan ini habis. Kalau ga habis kita ga boleh pulang," kata Frans becanda tetapi ditanggapi Lidya dengan serius.


"Ha?? beneran ini?" jawab Lidya lugu.

__ADS_1


" Hehehe.....kamu ini..serius banget sih...udah makan pelan-pelan, awas masih panas ya!"


Keduanya makan sambil ngobrol kesana kemari. Lantunan musik mengiringi makan malam mereka, dengan lampu-lampu yang begitu indahnya menambah suasana menjadi romantis. Bagaikan sepasang kekasih, mungkin seperti itulah para tamu yang lain melihatnya. Mereka mengira Lidya dan Frans adalah sepasang kekasih. Frans memotong daging miliknya dan menyuapi Lidya untuk mencoba makanannya. Lidyapun tidak menolak suapan yang diberikan Frans kepadanya.


"Aku kenyang Mas....."


"Lha ini fish and chips belum di makan lho." Frans menunjuk makanan itu di atas meja.


"Mas sih pesen kebanyakan, oya kenapa Mas kok ajak aku makan di sini?" Lidya bertanya penasaran Frans mengajak makan di cafe ini.


"My birthday dinner..."


"Hahaha.....yang sudah terlambat...tapi kadonya nyusul tidak masalah....hahaha."


Frans mencoba mencairkan suasana melihat ketegangan Lidya menatapnya .


"Astaga....iya nanti kadonya nyusul ya mas"


"Hahah....kamu polos banget sih...aku suka"


"Maksud Mas suka apa ya?" tanya Lidya heran sambil mengerutkan dahinya.


"Ohh..enggak..lupakan" Frans menjawab salah tingkah dan tidak sengaja menjatuhkan pisaunya karena panik.


Lidya melihat Frans dan semakin heran dengan Frans yang salah tingkah.


Kamu suka aku mas?


Mereka melanjutkan ngobrol sambil menghabiskan makanannya. Frans melihat ponselnya sudah jam 20.15 WIB.


"Ayo Lid, kita pulang! Ini sudah malam," ajak Frans kemudian membayar di kasir.


Frans dan Lidya kemudian pulang. Di tengah perjalanan, tiba-tiba hujan lebat. Frans menepi untuk berteduh.


"Lid...maaf ya, aku cuma bawa jas hujan satu...kamu pakai aja ya, kata Frans.


"Tunggu hujan agak reda aja Mas....nanti mas Frans kehujanan kalau ga pakai jas hujan."


Mereka berteduh di depan toko. Di sana sudah penuh dengan beberapa orang, yang berteduh terlebih dahulu. Lidya merasa kedinginan, Frans kemudian melepas jaketnya dan meminta Lidya untuk memakainya.


"Lid...pakai jaketku," kata Frans sambil memberikan jaketnya.


"Makasih Mas....aku kedinginan"


"Maaf ya Lid, kamu jadi basah gini....."


Frans merasa kasian melihat Lidya yang kehujanan dan kedinginan karena bajunya yang basah.


"Aduh...hujannya makin deres Mas," kata Lidya kuatir takut tidak bisa pulang.


"Kita langsung pulang aja ya..kamu pakai jas hujanku." Frans kemudian berlari ke arah motornya mengambil jas hujan.


"Mas...Mas...." Lidya memanggil Frans karena Frans nekat hujan-hujan.

__ADS_1


"Hufh....deres banget..." Kata Frans.


"Kan...bajumu jadi basah Mas." Lidya memegang baju Frans yang basah.


Deeeeer.......


Suara petir menyambar......


"Mas...aku takut....." Lidya reflek memeluk Frans dan menyembunyikan kepalanya di badan Frans.


Frans kaget melihat Lidya tiba-tiba memeluknya. Tangan kirinya masih memegang jas hujan. Frans kemudian membalas pelukan Lidya dan mengusap kepala Lidya dengan tangan kanannya. Frans tidak dapat berkata apapun. Frans mencium rambut Lidya yang wangi dan terus membelai rambut Lidya. Jantungnya berdetak dengan kencang. Lidya merasakan detak jantung Frans, Lidya melepaskan pelukannya.


"Maaf Mas....." Lidya merasa tidak enak memeluk Frans, segera ia menjauh dari Frans.


"Lid...jalan aja yuk...ini sudah jam 21.00 WIB. Nanti kosmu di gembok lho," kata Frans kuatir.


Lidya bingung, apakah masih berteduh atau nekat pulang. Apa harus membiarkan Frans kehujanan karena jas hujannya cuma satu.


"Mas...itu jas hujan celana apa kelelawar?" tanya Lidya menunjuk jas hujan milik Frans.


"Ehmmm bukan celana sih..." jawab Frans.


"Mas pakai aja kalau gitu, nanti aku sembunyi di belakang." Lidya memberikan solusi.


Frans yang harus mengejar waktu, akhirnya menyetujui usul Lidya. Frans kuatir kalau terlalu lama berteduh maka kos Lidya akan di gembok. Saat Lidya dan Frans sedang melipat celananya, ada mobil lewat di depannya dan berhenti di depan mereka.


bim...bim....


Seseorang membuka jendela mobil.


"Lidya...? kamu Lidya kan?"


"Iya...maaf siapa ya?"


Kemudia pria itu keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri Lidya.


"Hai...aku Adi." Adi memperkenalkan dirinya dan memberikan tangannya untuk bersalaman.


"Adi...?" Lidya mencoba mengingat siapa Adi dan ingatannya kembali ke audisi beberapa jam yang lalu.


"Aku yang tadi mengaudisi kamu..."


"Iya Mas..maaf aku lupa"


"Kamu mau ke mana? boleh aku antar?" sambil melihat arah hujan yang masih deras.


"Mau pulang mas...."


Frans sedari tadi memperhatikan Lidya sedang ngobrol dengan Adi. Frans kemudian memakai jas hujannya dan berkata,


"Lid...ada baiknya kamu pulang sama temanmu...ini sudah malam, sebentar lagi kosmu di gembok. Nanti kamu ga bisa pulang." Frans menawarkan Lidya untuk pulang bersama Adi. Tentunya dengan wajah sedikit kecewa, tetapi mungkin ini pilihan yang baik. Frans tidak ingin Lidya kehujanan.


"Tapi Mas....." jawab Lidya bingung.

__ADS_1


__ADS_2