Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Sahabat Lidya


__ADS_3

Lidya tak kunjung membalas pesan dari Frans. Ponselnya pun sibuk sedari tadi. Frans meremas pucuk rambutnya, kemudian ia bercermin dan mengacak-acak rambutnya sendiri. Rasa kesal membuatnya ingin segera melangkah keluar kamar. Frans rasanya mau beranjak ke kos Lidya, ia lalu kembali masuk. Frans lupa kalau dirinya sekarang di Jakarta, sedangkan Lidya di Jogja.


Ia mengambil ponselnya kembali....


**Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi**


Sial....kenapa tidak aktif?? Lidya..


gumannya dalam hati, kemudian melempar ponselnya di ranjang.


*****


Jogja


Setelah menerima telepon, Lidya pamit pergi ke rumah temannya. Siang itu, Lidya melajukan motornya menuju rumah Widi. Tampak wajahnya berseri akan bertemu dengan sahabatnya. Lidya seakan melupakan Frans. Ia tidak menyadari kalau Frans sudah menunggu balasan pesannya.


Sampai di rumah Widi, Lidya bercanda gurau dengan teman sekolahnya. Ia benar-benar tidak ingat dengan sosok Frans yang sudah tercabik-cabik perasaannya.


"Lid..kenapa baru sekarang kamu mau gabung sama kita lagi?" tanya Lila.


"Ehm...aku minder sama kalian," jawab Lidya singkat.


"Minder, gimana maksudnya?" Lila kembali bertanya.


Semua mata memandang Lidya. Mereka bersahabat enam orang. Lidya, Lila, Nia, Kristine, Ryan, dan Widi. Keenamnya mempunyai group di whatsApp. Sejak Lidya kuliah, ia jarang nimbrung di group. Lidya bahkan sempat menghilang. Hal ini membuat temannya khawatir dan bertanya-tanya. Lidya akhirnya memutuskan keluar dari group, ia merasa obrolan sahabatnya sudah tidak nyambung.


"Ya...aku minder sama kalian. Kalian semua kan hebat kuliah di universitas negeri. Sedangkan aku?"


"Duh..kamu kok begitu?" Nia berkomentar sambil memeluk Lidya, diikuti dengan Kristine .


Lila kemudian datang dan mereka berempat saling berpelukan. Sementara Ryan dan Widi hanya saling memandang.


"Kamu tidak tahu Lid, kami semua kangen sama kamu...." ucap Lila tidak melepaskan pelukannya.


"Maaf ya...membuat kalian semua khawatir. Sekarang, aku jauh lebih bahagia. Aku sudah bisa menerima kenyataan ini."


"Kok jadi sedih? Ayolah....jangan pelukan terus. Masak aku peluk Widi sih?" kata Ryan protes melihat sahabat perempuannya saling berpelukan.


"Haha...haha.."


"Lid...kamu tetap sahabat kami, mau kuliah di negeri ataupun swasta itu tidak akan mempengaruhi persahabatan kita," ujar Widi.


"Kalian tidak tahu bagaimana perasaanku waktu itu," ucap Lidya.


"Hush...sudah, yang penting sekarang kita sudah bisa berkumpul lagi." Kristine mengalihkan pembicaraan, ia tahu Lidya tampak sedih jika mengingat kembali masa itu.

__ADS_1


"Ryan, masukkan lagi Lidya di group kita," kata Lila meminta Ryan memasukkan Lidya karena, ia yang sedang memegang ponsel.


"Jangan leave lagi lho ya!" kata Ryan.


Lidya baru menyadari kalau Lidya tidak membuka ponselnya sedari tadi.


Astaga..ya ampun...aku sama sekali lupa kalau belum telepon mas Frans.


Lidya melamun dan berguman dalam hatinya.


"Lid...Lidya," panggil Lila.


"Kamu kenapa Lid?" tanya Widi penasaran.


"Oh tidak...aku lupa, sepertinya aku tidak membawa ponselku."


"Kamu ini kebiasaan. Sudah hafal aku, bagimu memang ponsel itu tidak penting," ucap Kristine kesal.


"Ayo kita ke mall, mau ga?" ajak Lila.


"Aku kok males ya...." ucap Lidya, pikirannya sudah melayang ke Frans.


Lidya sudah ingin pulang, ia yakin sekali pasti Frans mencarinya. Sedangkan sahabatnya masih ingin berkumpul bersama.


"Aku sungkan kalau kita di rumah Widi terlalu lama." Lila memberi alasan, kalau tidak enak berlama-lama di rumah Widi.


"Yang lain?" Ryan meminta pendapat yang lain.


Widi melirik Lidya, ia seakan tahu kalau Lidya sedang memikirkan sesuatu dan enggan pergi ke mall. Widi penasaran, ia pun mulai ingin tahu apa yang sedang Lidya pikirkan.


"Lid...kamu mikirin apa?" tanya Widi.


"Ehm..."


"Ponselmu ya? Apa mau diambil dulu?" Widi sudah bertanya kembali, sebelum mendapat jawaban dari Lidya.


"Aku pulang dulu ya, ambil ponselku." Lidya beranjak untuk pamit pulang.


"Aku antar ya..." Widi menawarkan dirinya.


Kompak semua mata memandang ke arah Widi. Sudah bukan jadi rahasia lagi, Widi memang dari dulu menyukai Lidya. Lila kemudian menegur Widi, ia mengingatkan kalau Lidya tadi ke rumahnya bawa motor sendiri.


"Bukannya tadi Lidya bawa motor sendiri ya? Kenapa kamu mau antar?" tanya Lila dengan wajah bingung.


"Maksudku biar motor Lidya ditinggal di sini dulu," jawab Widi dengan jujur.

__ADS_1


"Lha kenapa Lidya tidak pulang bawa motornya? Nanti kamu jemput Lidya di rumahnya?" Ryan berkomentar seakan memberikan ide agar Widi bisa bersama dengan Lidya. Ryan lalu mengedipkan matanya memberi kode kepada Widi.


"Makasih bro...idemu luar biasa," ucap Widi menyetujui usul Ryan dengan senyumannya.


"Ya sudah, kita berangkat sekarang ya...keburu sore nanti," ujar Nia.


"Kita ketemu di mall XB ya," ucap Kristine.


Lidya melajukan motornya diikuti oleh Widi di belakangnya. Pikiran Lidya sudah melayang jauh. Ia sudah tidak berkonsentrasi mengemudikan motor. Teriknya matahari siang itu membuat keringat Lidya bercucuran. Saat hendak menyeka keringat di dahinya, Lidya tidak melihat ada polisi tidur. Lidya melepas tangan kirinya dan kehilangan keseimbangan.


Br**uuuugggggg........


"Lidya......"


Dengan segera Widi berhenti dan memparkir motornya di tepi. Ia melihat Lidya sudah terjatuh dengan posisi kakinya tertimpa motor. Widi berlari monolong Lidya.


"Lid...kamu tidak apa-apa?" tanya Widi panik.


"Tolong Wid..."


Widi bergegas memindahkan motor Lidya, kemudian membantu Lidya berdiri. Widi mengajak Lidya ke tepi jalan. Ia melihat luka di kaki Lidya.


"Aku baik-baik saja kok," ucap Lidya.


"Kamu kenapa Lid? Aku perhatikan dari tadi ada sesuatu yang kamu pikirkan."


"Tidak ada kok."


"Kamu yakin? Buktinya kamu tidak fokus bawa motor kan?"


Lidya hanya terdiam dan menunduk. Ia kemudian berusaha berdiri. Lidya memperhatikan kaca spionnya yang pecah. Widi mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia segera menghubungi Ryan.


**Halo....Ryan, bilang yang lain kita batal ke mall, langsung ke rumah Lidya ya..Ini Lidya jatuh dari motor di jalan YYY**


Lidya tampak bingung, ia kemudian berfikir kalau mamanya pasti akan marah melihatnya jatuh dari motor. Sebelum berangkat, mama sudah melarang Lidya naik motor. Tetapi Lidya nekat pergi sendiri.


"Lidya, kamu tunggu di sini ya! Aku ke mini market dulu, sebentar lagi Ryan datang," ucap Widi meninggalkan Lidya untuk membeli obat.


Ah..kenapa aku hari ini. Mama pasti marah. Aku harus bilang apa ini. Mas Frans, maafkan aku ya...Kamu asti menunggu teleponku.


Tak berapa lama Ryan pun datang. Ia melihat Lidya duduk di tepi trotoar. Lidya masih tampak bingung, antara takut dan menahan sakit.


"Lidya, kamu tidak apa-apa?" tanya Ryan.


"Tenang...cuma sakit sedikit."

__ADS_1


"Kamu yakin? Kok bisa jatuh kenapa? Kamu sakitkah? Kakimu berdarah...."


__ADS_2