
Dua minggu setelah Lidya jatuh dari motor, Lidya lebih banyak menghabiskan waktu dengan sahabatnya. Frans memilih untuk fokus menyelesaikan penelitiannya. Sesekali Frans mengirim pesan dan menelpon Lidya. Hubungan tanpa status yang mereka jalani hanya mengandalkan komitmen.
Hari ini adalah hari pertama Frans melakukan penelitian di perusahaan besar yang menjadi incarannya sejak lama. Frans tampak sengat bersemangat.
"Pagi Bang..." sapa Frans.
"Wow...kau tampak semangat hari ini," ucap Edward.
"Berangkat dulu Bang, takut telat."
"Hati-hati ya..."
Frans berpamitan dan segera melajukan motornya. Edward duduk di teras depan sambil memainkan ponselnya. Edward membaca beberapa pesan dari whatsApp. Edward membaca pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Ia pun penasaran dan membalas pesan tersebut.
Maaf...ini siapa ya??
Tak kunjung mendapatkan balasan, Edward segera menelpon nomor tersebut
**Edward : Halo...maaf ini siapa ya?
Lidya : Saya Lidya, ini siapa ya?
Edward : Lho kok balik tanya? kamu kan yang kirim pesan buat saya? Kamu siapa?
Lidya : Maksudnya?
Edward : Coba cek saja...**
Edward langsung mematikan ponselnya. Ia kemudian berfikir sejenak.
Lidya? apa aku punya teman namanya Lidya ya? gumannya dalam hati, lalu Edward menyimpan nama Lidya.
Tak berapa lama Lidya membalas pesan dari Edward.
Mohon maaf menganggu, saya Lidya temannya mas Frans. Kapan hari mas Frans mengirim pesan dari nomor ini 🙏🙏🙏
Edward kemudian teringat kalau Frans pernah meminjam ponselnya untuk menghubungi seseorang. Ia membalas kembali pesan dari Lidya.
Saya Edward, abangnya Frans..oke thx 🙂
Setelah dibalas Edward, Lidya tidak lagi membalas pesan tersebut. Lidya menyimpan nomor Edward, secara otomatis foto profile Lidya sudah dapat dilihat oleh Edward.
Oh ini yang namanya Lidya? ehm cantik juga.
Edward berguman dalam hatinya.
__ADS_1
*****
PT. Krisna Persada
"Selamat Pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis pada perusahaan tersebut.
"Perkenalkan, nama saya Frans. Saya ingin bertemu dengan bapak Antok, saya akan melakukan penelitian mulai hari ini," ucap Frans dengan tegas.
(Antok ada di novel Pernikahanku Hanyalah Status, ceritanya akan berhubungan dengan cerita ini. Mohon maaf masih dalam proses penulisan yang belum terealisasi)
"Silahkan duduk dulu ya," ucap Nita mempersilahkan Frans duduk.
Frans duduk di kursi lobi sambil memperhatikan beberapa karyawan yang lalu lalang antri di depan lift.
"Wah siapa itu? karyawan baru ya? cakep amat...divisi apa ya"
Begitulah komentar beberapa staf perempuan yang melihat Frans sedang duduk di lobi. Mereka mengira kalau Frans adalah karyawan baru di perusahaan ini. Frans tersenyum, ia tetap duduk dengan percaya diri. Ia tidak menyadari kalau dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
"Selamat pagi, Frans."
Frans segera beranjak dari tempat duduknya dan bersalaman.
"Selamat pagi Pak Antok," ucap Frans dengan sopan.
"Maaf, saya stafnya pak Antok. Perkenalkan nama saya Rio, saya yang akan mentoring kamu selama penelitian di kantor kami. Mari silahkan ikut saya, kita ke ruangan pak Antok," ajak Rio menuju lift.
ting....
Pintu lift terbuka, Frans berjalan mengikuti Rio. Frans mempercepat langkahnya, berjalan di samping Rio. Semua mata memandang ke arah dua laki-laki berwajah tampan yang masih tampak muda.
"Doi siapa?" tanya Yoan sambil mengedipkan matanya serasa memberi kode kepada rekan kerja yang lainnya.
"Udah tahu, tadi duduk di lobi. Staf HRD baru kayaknya," ucap Vivi.
"Cakep juga," celetuk Sandra.
"Hei...ngomongin siapa kalian?" tanya Febe.
"Feb, ada staf baru ya di HRD?" tanya Sandra heboh.
"Staf baru? siapa?" Febe heran dan bertanya kembali kepada mereka.
Febe salah satu staf divisi HRD tidak tahu kalau ada staf baru. Ia pun bingung ketika Sandra bertanya kepadanya.
"Lha malah tanya balik, cepet sono cari info...cakep lho orangnya, tapi kayaknya daun muda deh," ucap Yoan.
__ADS_1
"Kan lagi trend kalau sama daun muda," ucap Vivi dengan gaya santainya.
Ruang Divisi HRD
"Halo..selamat datang di kantor kami," sapa Antok kepada Frans.
"Selamat pagi Pak Antok," ucap Frans sambil bersalaman.
"Mari ke ruangan saya!" ajak Antok ke ruangannya.
Antok menjelaskan selama penelitian akan di dampingi oleh Rio. Di rasa sudah mengerti, Frans pamit untuk mulai penelitiannya. Antok sangat ramah, Frans pun merasa nyaman disambut dengan hangat.
"Frans, kapan lulus?" tanya Antok.
"Secepatnya Pak, doakan lancar bulan empat nanti saya bisa wisuda," ucap Frans penuh pengharapan.
"Saya suka dengan semangatmu, semoga lancar ya dan kamu bisa bergabung bersama kami. Kebetulan saya rencana akan memisah divisi HRD ini," ucap Antok.
"Wah senang mendengarnya Pak, saya sudah lama sekali ingin bekerja di perusahaan ini. Ini menambah semangat saya. Saya pastikan akan lulus secepatnya dan akan melamar di perusahan ini." Frans sangat senang dan semakin yakin akan segera menyelesaikan skripsinya. Bekerja di perusahaan impian Frans sudah menjadi cita-citanya sejak lama.
"Oke selamat bekerja ya, tanya ke pak Rio kalau perlu bantuan."
"Siap Pak...terima kasih Pak Rio sudah membantu saya."
"Sama-sama, saya pasti akan membantumu," ucap Rio sambil mengajak Frans keluar dari ruangan Antok.
Frans memulai penelitiannya hari ini, ia sangat antusias. Harapan dan cita-citanya seakan sudah di depan mata. Kesibukan membuatnya melupakan sejenak sosok Lidya. Wanita yang disayanginya, namun masa depan baginya tetap jauh lebih penting dibandingkan hanya mengejar cinta seorang gadis.
Frans sudah sangat percaya kalau Lidya akan menunggunya. Ia berharap cita-cita dan cintanya akan datang secara bersamaan. Walaupun saat ini, Frans lebih memilih untuk mengejar cita-citanya.
Delapan jam berlalu, Frans selesai melakukan penelitian hari ini. Ia pulang dengan wajah yang berseri. Senja menyelimuti perjalanannya, dengan melajukan motor dengan kecepatan yang sedang. Pikirannya melayang membayangkan tidak lama lagi ia akan lulus dan bekerja di perusahaan impiannya.
Jalanan ibu kota akan menjadi saksi hidup masa depannya kelak. Begitulah yang menjadi harapan dan impian Frans. Sedangkan di pojokan kota Jogja, Lidya juga mempunyai impian akan masa depannya. Melanjutkan program profesinya di universitas negeri impiannya.
Lidya...tunggu aku ya, aku tidak akan lama....
Setelah semuanya selesai, kamu akan menjadi pendamping wisudaku. Aku akan kembali ke kota ini untuk bekerja. Kejarlah mimpimu dan aku akan mengejar mimpiku. Kita akan berjuang bersama mengejar mimpi kita. Aku akan menemanimu mengejar mimpimu.
Bim...bim..
Lamunan Frans terhenti saat dia menyadari lampu sudah hijau dan Frans belum melajukan motornya.
"Woi jalan...." seseorang menegurnya.
Frans kembali melajukan motornya, ia benar- benar menikmati perjalanannya sore ini. Sepanjang jalan ia membayangkan indahnya masa depan yang sudah ia impikan sejak lama.
__ADS_1
Dukung terus ya....like, komen, vote, dan rate bintang 5. Terima kasih