
Lidya justru tertawa terbahak melihat Frans...
"Haha...hahaha...lucu kamu Mas," ucap Lidya sambil terus tertawa dan merapikan piring dan sendok bekas makan mereka.
"Lucu gimana? Emang aku badut ya? kamu tertawa sampai seperti itu?" tanya Frans keheranan melihat Lidya tertawa.
Melihat Lidya tertawa, Frans merasa bahagia karena itu tandanya Lidya tidak marah lagi kepadanya. Frans pun tersenyum.
"Kenapa Mas?" tanya Lidya menghentikan tawanya memperhatikan Frans.
"Tidak apa..aku suka lihat kamu tertawa. Walaupun aku jadi merasa aneh kamu menertawakan aku seperti itu" Frans menjawab dengan jujur.
"Oh...maaf Mas, oya..makasih ya untuk hari ini. Sudah mengorbankan waktu untuk menjagaku di klinik dan menemani makan," kata Lidya menatap Frans dengan hangat.
"Aku tidak merasa mengorbankan waktuku kok, ini obatnya kamu minum dulu." Frans meminta Lidya minum obat sambil memberikan obat untuk Lidya.
"Makasih Mas...." Lidya menjawab dengan lembut sambil mengambil gelas berisi air dan segera minum obatnya.
"Lid, aku juga makasih ya sudah boleh makan di kosmu..sepertinya aku harus pulang. Kamu istirahatlah, nanti malam aku ke sini lagi dan bawa makanan untukmu." Frans berpamitan, supaya Lidya bisa istirahat.
"Lho....emang aku minta Mas Frans bawakan makan ya?" Lidya menggoda Frans.
"Kalau kamu tidak mau ya tetap aku bawakan. Aku mau makan lagi di sini bersamamu" kata Frans sambil memaksa.
"Kan...mulai deh....Aku kan jadi takut," kata Lidya menatap Frans dengan mengerutkan dahinya, kemudian berdiri membukakan pagar untuk Frans.
"Takut kenapa?" Frans bertanya heran.
"Aku takut Mas, kalau Mas Frans sudah ngomong dengan nada tinggi seperti itu" Lidya menjawab dengan polos.
"Maaf Lid, aku rasa ini hanya soal gaya bahasa. Aku dari Medan dan sudah terbiasa dengan seperti ini. Maaf bukan membela diri dan membicarkan soal suku." Frans mencoba menjelaskan dan Lidya memotong pembicaraannya.
"Ohhhh Mas Frans ini orang B***k to?" kata Lidya dengan logat medoknya.
"Kenapa emangnya?" tanya Frans dengan nada meninggi membuat Lidya takut kalau Frans tersinggung.
__ADS_1
"Maaf...maaf, maksudku seharusnya aku panggil Bang Frans ya.." Lidya berkata dengan hati-hati.
"Ya memang itu begitulah, aku biasa dipanggil seperti itu tapi di sini aku dipanggil Kak dan cuma kamu yang panggil aku Mas...haha..." kata Frans sambil tertawa yang artinya Frans tidak sedang marah.
"Baiklah Mas eh...Bang Frans..eh Kak Frans..." Lidya belepotan memanggil Frans.
"Haha....haha...sudah...sudah...apalah artinya...tapi aku lebih suka kalau kamu panggil aku, *M*as...dengan logat medokmu itu...haha...haha..." Frans tertawa dengan motor yang sudah siap melaju tetapi terhenti karena ngobrol dengan Lidya.
"Kan....jadi ga pulang-pulang....makasih Mas, hati-hati ya" Lidya melambaikan tangannya.
"Makasih ya...da..da....aku pulang" Frans juga melambaikan tangannya.
Lidya kemudian membawa piring, sendok dan gelas kotor lalu mencucinya. Setelah semua bersih, Lidya masuk kamar dan tidur. Lidya mendapat surat ijin untuk istirahat selama dua hari. Lidyapun tenang tidak masuk kuliah hari ini. Menjelang malam Lidya terbangun, Lidya mengambil ponselnya melihat jam sudah pukul 17.50 WIB. Lidya merasa kedinginan dan mengurungkan niatnya untuk mandi.
Frans dengan semangat membara sudah meluncur mencari makan dan siap menuju kos Lidya. Di depan kos Lidya, Frans merapikan rambutnya. Kemudian membuka pagar dan masuk dengan membawa bungkusan makanan.
"Cari siapa Mas?" tanya Mbak Siti, pembantu kos.
"Lidya ada ya Mbak?" Frans bertanya balik.
tok...tok.....tok.....
"Mbak Lid....ada tamu Mbak." Mbak Siti memanggil Lidya dan mengetuk pintu.
"Oh...iya Mbak, makasih..suru tunggu dulu," ucap Lidya.
Lidya tahu, pasti itu Frans yang datang. Kemudian Lidya gosok gigi dan mengganti bajunya lalu menyisir rambut. Lidya berjalan keluar dengan ragu-ragu karena tadi tidak mandi, dan mengira Frans akan mengetahuinya. Lidya berguman sendiri.
Aku kan ga mandi tadi, mas Frans pasti tahu kalau aku ga mandi..apa aku mandi dulu ya..ahhh tapi aku kedinginan kalau mandi jam segini, sudahlah aku jujur aja....
"Mas..maaf ya, aku belum mandi. Permisi sebentar, aku mandi dulu ya.."Lidya dengan lugunya mengatakan kalau belum mandi dan berpamitan untuk mandi.
"Eh...ini jam berapa? Kok baru mau mandi? Kamu kan masih sakit. Sudahlah ga perlu mandi," kata Frans mengejutkan Lidya.
"Tapi Mas...aku bau belum mandi. Malu aku mas." Lidya berkata sambil menciumi bajunya.
__ADS_1
"Duduklah....ga usah malu...tenang aja k
Kamu ga bau kok, kamu tetep cantik meskipun ga mandi," kata Frans keceplosan membuat pipi Lidya merona.
"Baiklah....sebentar ya aku siapkan minum dan ambil piring." Lidya masuk dan mengambil peralatan makannya.
Frans menunggu Lidya di teras sambil berguman dalam hatinya melihat kepolosan Lidya yang membuatnya heran.
Ya ampun...cewek ini lugu banget ya...baru kali ini aku ketemu cewek seperti ini. Biasanya..kalau aku datang ke kos cewek, pasti sudah siap berdandan...malah kadang berlebihan...lha ini lugu banget bilang kalau belum mandi. Keluar pakai kaos oblong dan celana dengan santainya bilang "aku belum mandi, aku mandi dulu.." mana ada cewek yang belum mandi berani ketemu aku kalau bukan seorang Lidya. Astaga....kamu memang bener apa adanya dan jujur aku bilang, kamu tetap cantik meskipun belum mandi. Lidya....Lidya...polos banget sih...
Tak lama Lidya duduk sambil meletakkan piringnya, membuat lamunan Frans tersadar kalau Lidya sudah duduk di depannya.
"Ini Mas minumnya...mau makan sekarang?" tanya Lidya sambil menatap Frans.
"Ehm...kita makan sekarang ya, kamu kan masih perlu istirahat. Aku ga bisa lama-lama, aku harus selesaikan proposalku," kata Frans membantu Lidya membuka nasi bungkusnya.
"Oh Mas Frans sudah skripsi?" tanya Lidya.
"Belum...masih ajukan proposal skripsi, targetku tahun depan harus sudah wisuda." Frans menjawab pertanyaan Lidya.
Mereka berdua makan sambil ngobrol dan suasanapun tidak hening seperti tadi siang. Mereka saling bercerita dan mengenal lebih dekat satu sama lain. Lampu teras dan suara gemericik kolam ikan menambah suasana menjadi lebih hangat. Canda tawapun membuat keduanya terlihat semakin akrab.
Lidya merasa nyambung ngobrol dengan Frans. Lidya mulai mengenal Frans, sosok yang dianggap aneh dan labil ternyata punya kepribadian yang baik. Frans selain aktif berorganisasi di kampusnya, Frans juga termasuk mahasiswa berprestasi. Lulus dengan predikat cumlaude merupakan impiannya. Frans bertukar pengalaman dengan Lidya. Lidya yang sejak sekolah aktif menjadi pengurus OSIS, tertarik bergabung dalam organisasi senat mahasiswa.
"Aku aktif organisasi untuk bekal nanti bekerja...pengalaman organisasi itu penting," kata Frans kepada Lidya.
Lidya mulai mengagumi sosok Frans. Lelaki yang dewasa, tegas dan merencanakan masa depannya. Lidya akhirnya menyadari mengapa Frans menjadi idola para wanita.
"Oh...Mas Frans pantes jadi idola. Pasti banyak ya cewek yang suka sama Mas Frans," kata Lidya dengan polosnya.
"Ahhh kamu ini kok polos banget sih. Mungkin saja begitu, tapi sebenarnya aku tidak merasa jadi idola. Itu hak mereka kalau menyukaiku..haha...haha," kata Frans dengan percaya diri tingkat dewa.
Lidya belum pernah berpacaran sebelumnya. Orang tuanya melarang Lidya berpacaran saat sekolah. Lidya yang menjadi idola di sekolah, tentunya tidak hanya satu cowok saja yang mendekatinya. Tetapi Lidya menganggap mereka semua hanyalah teman.
**************
__ADS_1
Lalu bagaiman dengan Frans? Apakah Frans termasuk cowok yang mendekatinya juga? Apakah Lidya juga hanya menganggap Frans sebatas teman? Tunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa tinggalkan jejak!