Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Duka Mendalam


__ADS_3

Pagi itu setelah menerima telepon dari rumah sakit, mama Lia bergegas menyusul suaminya yang menunggu Adi sejak semalaman. Chandra duduk dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya yang tampak sayu.


"Pa...Adi kenapa?" tanya Lia sambil menatap wajah suaminya yang sudah berderai air mata.


"Mama harus sabar, ini cobaan keluarga kita. Mama, Adi sudah berjuang tapi Tuhan berkehendak lain."


"Adi..." teriaknya dengan tatapan yang sudah tidak dapat diartikan lagi.


"Mama mau lihat Adi, Mama tidak bisa hidup tanpa Adi."


Kedua orang tua itu saling berpelukan. Hatinya seperti tersayat ketika melihat kondisi putra tunggalnya sudah terbaring tak berdaya. Harapan kesembuhan Adi sirna sudah ketika dokter sudah angkat tangan. Alat yang terpasang hanya membantu Adi bertahan menunggu kedatangan mamanya.


"Ibu, kami sudah berusaha yang terbaik. Jika ibu sudah berkenan, kami akan melepas alat ini."


"Jangan Dok, biarkan alat ini tetap terpasang di tubuh Adi. Saya belum siap kehilangannya," ucap mama Lia yang sudah tidak kuasa menahan kesedihannya.

__ADS_1


"Dok, tolong izinkan kami melihat Adi lebih lama lagi. Alat ini jangan dilepas!" pinta Chandra sedikit memaksa dengan air mata yang penuh pilu.


Dokter dan perawat meninggalkan mereka, Chandra mengajak istrinya untuk keluar tetapi mama Lia masih mau bertahan menemani Adi.


"Mama masih mau di sini, mama mau menemani Adi di sisa terakhir hidupnya."


"Papa tunggu di luar." Chandra keluar sambil menepuk bahu istrinya, kemudian menelpon seseorang.


Di dalam ruang ICU, mama Lia tak berhenti menangis. Ibu separuh baya itu menggenggam erat tangan anaknya.


"Adi...bangunlah, Mama ingin kamu pulang ke rumah bersama kami. Ayolah Nak! Kalau kamu mendengar ucapan Mama, bertahanlah. Mama tidak sanggup kehilanganmu. Adi, berjuanglah...Mama yakin kamu pasti sembuh. Mama, papa, dan Lidya menunggumu. Kamu tahu Adi, Lidya setiap hari melihatmu sampai malam dan pulang bersama Mama. Lidya menginap di rumah kita, dia sangat cantik sekali. Lidya sangat berharap kamu bisa sembuh. Setiap hari ia berdoa untukmu. Bangun ya Nak..."


"Tante..." panggil Lidya.


"Tante belum siap..." ucapnya sambil menangis. Lidya memeluk dengan erat.

__ADS_1


"Tante sabar ya, mas Adi pasti kuat...dia sedang berjuang, Lidya yakin masih ada harapan..."


"Adi, ini Lidya datang...Mama keluar dulu ya, Lidya akan menemanimu."


Mama Lia keluar dan menemui suaminya, mereka masih melihat Adi dari balik kaca jendela di luar.


"Mama, Papa berencana akan membawa Adi ke luar negeri..."


"Apa itu aman Pa?"


"Papa sudah telepon David, dia akan mengatur semuanya. Papa sudah minta David mencari informasi rumah sakit terbaik untuk Adi."


"Apa Papa yakin Adi masih ada harapan untuk hidup?"


"Awalnya Papa ragu, tapi hati kecil Papa mengatakan kalau Adi akan sambuh."

__ADS_1


"Kita berdoa ya Pa, Mama tidak sanggup kalau harus kehilangan Adi. Mama masih tidak mengira Adi akan seperti ini. Kasian Adi Pa, semua alat terpasang ditubuhnya. Mama tidak tega melihatnya tersiksa, tetapi Mama belum siap kalau alat itu harus dilepas. Mama tidak bisa..."


"Mama lihat itu, Adi seperti tertidur. Ia tidak merasakan sakit, ia hanya tidur Ma. Anak kita pasti sembuh, kita harus yakin..."


__ADS_2