
Senja datang menjemput, diiringi dengan hujan geremis. Lidya bersama dengan Frans, Rita, dan, Bima menikmati perjalanan menuju kota Jogja. Tiga jam berlalu, mereka sampai juga di terminal. Mereka kemudian, memesan mobil online menuju rumah Lidya. Lidya duduk dengan Frans di bagian tengah. Rita dan Bima duduk di bagian belakang.
"Mas Frans, kereta jam berapa ke Jakarta?" tanya Lidya.
"Besok sore kok"
"Bang, jadi ikut aku kah?" tanya Bima.
"Ikut ke mana Mas?" tanya Lidya ingin tahu.
"Ada deh..." jawab Frans menoleh ke belakang. Ia mengedipkan matanya memberi kode kepada Bima.
"Nyebelin banget sih..." jawab Lidya kesal.
Frans melirik Lidya, namun Lidya masih kesal. Lidya cemberut, mukanya asam. Frans pun tersenyum melihat muka Lidya yang cemberut.
"Kenapa liatin aku terus?" tanya Lidya ketus.
"Siapa coba yang liatin?" Frans balik bertanya dengan senyuman menggoda.
Rita dan Bima memperhatikan tingkah Lidya. dari belakang. Keduanya saling berbisik, sesekali mereka tertawa. Mendengar Rita dan Bima tertawa, Lidya kemudian berpindah menghadap ke belakang.
"Kamu ngapain sih Rit? ngetawain aku ya?"
"Aduh...PD dahsyat deh...siapa juga yang ngetawain kamu?" Rita menjawab, kemudian melirik Bima.
"Ehm..udah deh ah...ngapain sih kalian ini?" tanya Lidya marah lalu duduk ke arah jendela, memandang ke luar tanpa menghiraukan mereka.
"Jangan ngambek dong! Gitu doang marah..." Frans kembali menggoda, menggeser tempat duduknya mendekati Lidya.
"Apa sih? Ga usah deket-deket."
"Cie...cie...." Rita semakin menggoda Lidya.
"Jadian dong, udah capek lho kita nunggu kisah selanjutnya." Bima menimpali Rita, menggoda Lidya.
"Sayang aku, jangan gitu...nanti Lidya tambah ngambek. Kayaknya mereka sebentar lagi juga jadian kok," ucap Rita tanpa wajah bersalah.
"Oalah Rit...kamu iki..lak podo wae," ucap Lidya dengan bahasa jawa.
"Kita kan pasangan kompak," kata Bima sambil tersenyum melirik Rita.
Rita dan Bima, memang sudah akrab sejak hari pertama orientasi. Tak lama, mereka pun jadian. Bima berasal dari kota Solo. Di Jogja, Bima akan tinggal di rumah tantenya. Frans berencana akan ikut Bima menginap di sana.
"Ayo turun, ini rumahku!" ajak Lidya.
Mama dan papa Lidya sudah menyambut di teras rumah. Lidya memeluk kedua orangtuanya.
"Apa kabar Tante?" sapa Frans sambil bersalaman.
"Semuanya baik, Tante senang sekali kalian bisa mampir ke rumah Lidya."
"Halo Tante, mama mau pesan udang baladonya," ucap Rita menyapa mama Lidya.
"Wah syukurlah kalau suka masakan Tante. Boleh, nanti Tante buatin ya."
"Lidya, ajak temanmu masuk. Itu mamamu sudah masak spesial untuk kalian semua," kata papa Lidya mempersilahkan mereka makan bersama.
__ADS_1
"Wahh makan enak kita, terima kasih Om dan Tante," ujar Bima tanpa malu-malu.
Seperti biasanya, mama selalu mempersiapkan makanan terbaik untuk menyambut kedatangan putrinya. Kali ini, mama masak istimewa. Mama sudah diberitahu Lidya sebelumnya, kalau temannya akan ikut pulang ke rumah.
"Waduh maaf ya Tante, jadi merepotkan." Frans berkata dengan sopan, ia melihat menu makan di atas meja yang super lengkap.
"Tidak perlu sungkan, makan yang banyak. Tante sudah biasa masak untuk ratusan orang. Ini tidak seberapa."
"Kalau begitu, Tante keluarkan menu yang lain...hehe...." ucap Bima keceplosan.
"Hush..jangan buat malu aku dong." Rita menegur Bima dengan manja.
"Maaf Tante, Bima cuma bercanda kok."
Mama dan papa Lidya, memilih untuk duduk di teras. Mereka membiarkan Lidya dan temannya untuk menikmati makanan yang sudah disajikan. Sesekali mama dan papa mendengar candaan mereka dari tempat makan. Setelah makan, mereka berencana akan menikmati malamnya kota Jogja.
********
Rumah Chandra Wijaya
Setelah pertemuan mama Lia dan Stacy. Mama Lia pulang dan segera mencari suaminya. Papa sendiri sudah menunggu di ruang kerjanya.
"Papa, maaf Mama baru pulang."
"Mama dari mana kok sampai malam begini ini?" tanya papa Chandra penasaran.
"Maaf Pa, Mama ada keperluan penting."
"Katanya Mama reuni?"
"Mama duduk sini, Papa mau bicara."
"Soal Stacy ya Pa? Apa kata David?" Mama bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Stacy itu ternyata anaknya Wisnu, Ma."
"Wisnu dengan Yesi," jawab mam Lia.
"Yesi? Mama tahu dari mana?"
"Maaf, Pa. Sebenarnya, tadi Mama pergi menemui Stacy." Mama berkata jujur kepada suaminya.
"Mama serius?"
"Iya, Mama bicara banyak dengan Stacy.
"Mama, Wisnu sudah lama meninggal. Yesi menikah dengan Wisnu dan Stacy anak mereka? Betul begitu Ma?"
"Betul, tetapi Mama belum mendapatkan jawaban tentang Yesi dan Wisnu. Stacy masih syok, ia menangis histeris. Mama tidak bisa memaksanya untuk bercerita."
"Ma, sepertinya Stacy salah paham dengan keluarga kita. Apa Mama tidak mencoba menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya?"
Mama Lia kemudian menceritakan semua kepada suaminya. Begitu pula papa Chandra, ia juga menceritakan informasi yang sudah David berikan kepadanya. Mereka berdua saling bertukar pikiran. Mereka mencari solusi untuk menyelesaikan masalah ini.
*******
Jogja
__ADS_1
"Rame juga ya..."
"Mas, kalau sepi namanya kuburan," ucap Lidya.
Frans dan Lidya duduk menikmati malamnya Mallioboro. Rita dan Bima memilih untuk jalan berdua dan membiarkan Lidya bersama Frans.
"Gimana Mas skripsimu?" tanya Lidya.
"Sedikit lagi, sudah masuk bab 4. Kamu sabar ya...."
"Sabar? Maksudnya?"
"Sabar menunggu aku wisuda," ujar Frans.
"Mas, sebenarnya ada yang mau aku tanyakan."
"Mau tanya apa?"
Lidya tidak menjawab pertanyaan Frans. Lidya tidak yakin apakah ini waktu yang tepat untuk bertanya kepada Frans. Kedekatan mereka, memang sudah seperti layaknya sepasang kekasih. Walaupun keduanya tidak pacaran. Ada hal yang mengganjal di hati Lidya. Ia ingin mencari jawaban dari Frans.
"Ehm..ga jadi deh Mas," ucap Lidya.
"Kok ga jadi sih? tanya aja."
"Sepertinya bukan waktu yang tepat kalau aku tanya sekarang."
"Kok gitu sih? Aku kan penasaran."
Di saat mereka sedang ngobrol, Rita dan Bima datang menghampiri. Mereka mengajak pulang, karena hari sudah larut malam.
"Lidya, ayo kita pulang!" ajak Rita.
"Oke...ini ke rumahku dulu kan?" tanya Lidya.
"Ya dong kan tas kita ada di rumah kamu," ucap Bima.
Frans masih penasaran dengan pertanyaan Lidya. Ia pun berguman dalam hatinya.
Lidya ini mau tanya apa sih? Aku jadi penasaran. Apa ya kira-kira?
Lamunannya terhenti, saat ia menyadari kalau Lidya sudah memegang tangannya dan memanggil.
"Mas, kamu kok melamun?" tanya Lidya.
"Oh enggak kok..."
"Mas Frans jadi nginep bareng Bima?"
"Ohh iya..." jawab Frans singkat.
Frans tidak konsentrasi. Ia masih memikirkan apa yang akan ditanyakan Lidya. Saat mereka berjalan menunggu mobil online, Frans menarik tangan Lidya. Ia membiarkan Rita dan Bima berjalan di depan terlebih dahulu.
"Lidya, apa yang mau kamu tanyakan?" Frans menggandeng tangan Lidya dan berbisik di telingan Lidya.
"Tidak penting kok, Mas."
"Ayolah...aku sudah penasaran."
__ADS_1