Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Adi Kritis


__ADS_3

Keesokan harinya, Adi sudah dipindahkan di ruang ICU. Setelah menjalani operasi, kondisi Adi masih kritis. Tubuhnya terlempar akibat ditabrak mobil yang melaju dengan kencang menyebabkan benturan yang sangat keras di bagian kepala.


"Dok, bagaimana kondisi anak saya? Mengapa belum sadar?" tanya mama Lia dengan kekhawatiran melihat Adi yang masih terbaring lemah.


"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik, Ibu dan Bapak tolong bantu saya dengan berdoa," ucap dokter Fajar.


"Dok, apa benar Adi beresiko amnesia?" tanya papa Chandra.


"Benturan keras di kepala memang dapat menyebabkan hilang ingatan jangka pendek ataupun panjang. Sedangkan pendarahan otak yang dialami oleh putra Bapak dan Ibu, merupakan pendarahan yang terjadi di dalam jaringan otak. Kondisi ini disebabkan oleh pecahnya pembuluh arteri di otak, sehingga menyebabkan matinya sel-sel otak." Dokter Fajar menjelaskan kepada orang tua Adi. Mereka memperhatikan dengan serius.


"Apakah masih ada harapan Dok?" tanya papa Chandra dengan raut wajah penuh pengharapan.


"Harapan pasti ada, kita berdoa ya...Tuhan pasti akan memberikan mujizat untuk putra Bapak dan Ibu. Mohon maaf harus memeriksa pasien yang lain. Saya permisi dulu."


Setelah kepergian dokter Fajar, orang tua Adi saling berpelukan. Mereka menguatkan satu sama lain. Masih ada harapan, begitulah kata dokter. Mama Lia dan papa Chandra meyakini kalau anaknya akan segera terbangun.


Sementara itu, setelah mama Lia meminta Lidya untuk pulang ke kosnya, Lidya masih tampak syok. Sambil duduk di tempat tidurnya, ia teringat ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri. Adi terlempar dan benturan yang sangat keras terdengar ditelinganya. Air matanya pun menetes.


Aku mau menelpon mas Frans, aku butuh kamu mas di sini. Aku takut...


Lidya mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, ia segera memencet nomor Frans.


**Nomor yang anda tuju tidak aktif atau sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi.**


Lidya sangat ingin sekali menelpon Frans, ia berniat menceritakan semua yang terjadi. Namun, ponsel Frans tidak aktif. Wajahnya yang sendu dan perasaanya yang sudah campur aduh tidak dapat diartikan lagi.


Kamu di mana mas? Situasi ini sangat sulit, aku minta maaf tidak bisa memegang janjiku. Aku menyayangimu mas Frans, tetapi aku tidak tega melihat tante Lia dan mas Adi. Kamu harus tahu apa yang terjadi di sini.


Lidya berguman dalam hati dengan air mata yang sudah menetes sedari tadi. Gadis ini memeluk guling dengan kaki yang sudah bersila di atas tempat tidurnya. Perasaanya sangatlah hancur, memikirkan kondisi Adi dan Frans yang tidak dapat dihubungi dari kemarin. Frans bagaikan ditelan bumi, tanpa kabar apa pun. Padahal biasanya, pria itu selalu memberi kabar ataupun menanyakan sesuatu kepada pujaan hatinya.


Lidya menang tidak senang kalau berkomunikasi melalui pesan singkat, ia takut salah persepsi. Apalagi, ini sangtlah penting baginya. Lidya ingin menyampaikan secara langsung dan berbicara dengan Frans. Ia juga tidak berani kalau memberitukan kepada orang tuanya, Lidya takut mamanya khawatir.


Lidya kemudian teringat, hari ini ia berjanji akan datang ke rumah sakit. Ia bergegas mandi dan mempersiapkan dirinya. Lidya memesan ojek online dan tak lama sampai di rumah sakit.

__ADS_1


"Lidya...," panggil mama Lia.


"Tante, apa mas Adi sudah sadar?" tanya Lidya.


"Belum, Tante masih menunggu keajaiban Tuhan," ucap mama Lia sambil menahan tangisannya.


"Tante, bolehkah Lidya masuk?"


"Silahkan Nak, masukklah! Tante akan beritahu perawat,"


"Terima kasih Tante."


Lidya masuk ke ruang ICU, mama Lia memperhatikan dari luar melalui jendela. Ia melihat Lidya sedang berusaha berbicara dengan Adi. Lidya membisikkan sesuatu di telinga Adi.


"Mas...ini aku, Lidya. Aku datang melihatmu, aku ingin kamu sembuh. Ayo Mas, bangun! Mama dan papamu menunggu di luar. Aku di sini juga menunggu kamu bangun." Lidya berbisik sambil menggengam tangan Adi.


Setelah kurang lebih dua puluh menit, Adi masih tidak merespon. Perawat kemudian datang meminta Lidya untuk ke luar, karena Adi akan disuntik beberapa obat melalui selang infusnya. Adi masih terbaring tak berdaya dengan alat medis yang terpasang di tubuhnya.


Lidya keluar dari ruang ICU, mama Lia lalu memeluk erat Lidya. Keduanya saling menatap dan mengeluarkan air mata. Tampak raut wajah kesedian pada perempuan paruh baya itu. Lidya menepuk punggung dan memberi kekuatan kepadanya.


"Tante tidak bisa makan kalau Adi belum sadar."


"Tante harus makan, kalau Tante tidak makan nanti Tante sakit. Kasian Om sendiri menjaga Tante dan Mas Adi."


Lidya kemudian mengajak mama Lia untuk makan bersamanya.


"Ayo kita makan! Lidya juga belum makan," ajak Lidya.


Mama Lia setuju, mereka kemudian berjalan menuju cafetaria. Papa Chanda masih duduk menyendiri sedari tadi. Mama Lia tahu watak suaminya kalau sudah seperti itu, ia tidak bisa diganggu.


"Nanti kita bungkus makan untuk Om," ucapnya sambil menggandeng tangan Lidya.


Setelah selesai makan, mereka kembali berjalan menuju ruang ICU. Tampak papa Chandra berdiri melihat Adi dari balik jendela. Berharap ada mujizat terjadi, ia terus berdoa dengan raut wajah yang sudah tidak dapat diartikan lagi. Mama Lia mendekati suaminya.

__ADS_1


"Pa...ini minum dulu tehnya." Mama Lia memberikan satu gelas teh untuk suaminya.


"Mama, Adi kok belum sadar ya?"


"Adi pasti sadar, hanya tunggu waktu saja dia pasti akan terbangun dari mimpi buruknya."


"Mama dari mana?" tanya papa Chandra tampak bingung. Ia tidak menyadari kepergian istrinya yang sudah berpamitan akan makan bersama Lidya.


"Mama tadi makan, ini Mama sudah bungkuskan makanan untuk Papa."


"Papa tidak selera Ma."


"Pa, sedikit saja. Nanti Papa sakit,"


Mama Lia memaksa suaminya supaya mau makan. Ia tidak ingin kalau suaminya sakit. Mereka kemudian duduk di ruang tunggu. Tak berapa lama, salah satu perawat membuka pintu ruang ICU.


"Keluarga Christian Adi Wijaya?"


Lidya bergegas memanggil orang tua Adi. Mereka bertiga tampak panik dan menemui perawat tersebut.


"Ada apa dengan anak saya?"


"Maaf Pak, kondisi putra Bapak masih kritis. Kami membutuhkan tambahan darah, kebetulan stok kantong darah untuk golongan darah A sedang menipis. Apakah bisa mencari pendonor darah?"


"Ambil darah saya," papa Chandra segera menawarkan dirinya.


"Maaf, tetapi kami tidak hanya membutuhkan satu kantong saja. Kami membutuhkan beberapa kantong golongan darah A."


"Golongan darah saya A, saya bersedia mendonorkan darah untuk mas Adi," ucap Lidya tanpa ragu.


"Lidya, terima kasih Nak. Tante berhutang budi kepadamu."


"Tidak apa-apa Tante, tidak perlu sungkan."

__ADS_1


"Kalau begitu saya akan mengantar ke ruang pemeriksaan. Kita tidak bisa menunggu lama. Mari ikut saya!" ucap perawat sambil diikuti oleh Lidya dan papa Chandra.


__ADS_2