Ada Cinta Di Kampus

Ada Cinta Di Kampus
Mengkhawatirkan


__ADS_3

Satu minggu berlalu, kondisi Adi tidak menunjukkan perubahan. Lia dan Chandra pun semakin gelisah melihat anaknya yang masih terbaring koma di ruang ICU.


"Dok, bagaimana kondisi Adi? Mengapa Adi tidak merespon? Kami setiap hari mengajaknya berbicara."


"Ibu, Adi masih koma. Koma adalah tingkatan paling dalam ketika seseorang tidak sadarkan diri. Penderita yang mengalami koma tidak dapat merespon terhadap lingkungannya sama sekali. Perlu ibu ketahui kalau penderita koma tidak akan melakukan gerakan, mengeluarkan suara, apalagi membuka mata, meskipun sudah dicubit. Berbeda dengan pingsan, yang hanya terjadi sementara, penderita koma mengalami penurunan kesadaran untuk waktu yang lama." Dokter memberikan penjelasan, mama Lia memperhatikan sambil termenung. Chandra menepuk bahu istrinya memberikan kekuatan.


Setelah Lidya mendonorkan darahnya untuk Adi, mama Lia semakin bersimpati kepada Lidya. Lidya sering diminta pulang bersama ke rumahnya, dengan alasan sudah larut malam. Lagi-lagi Lidya tidak bisa menolak karena memang jam malam di kos hanya sampai pukul 22.00 WIB.


"Tante, maaf...Lidya tidak enak kalau pulang ke rumah Tante."


"Ini sudah malam, bukankah jam 10 malam sudah ditutup?"


Mama Lia memang sudah meminta asistennya untuk mempersiapkan segala segala sesuatu yang dibutuhkan Lidya selama menginap di rumah Adi. Mulai dari handuk, baju tidur, baju ganti untuk kuliah, sepatu, bahkan pakaian dalam, semuanya sudah tertata rapi di kamar tamu. Mama Lia juga memilihkan kamar khusus untuk Lidya, agar ia nyaman dan betah tinggal di rumahnya.


Keesokan harinya, ketika matahari mulai bersinar. Sorotan sinarnya dari balik tirai berwarna putih, menghangatkan sebagian kaki Lidya. Terdengar kicauan burung yang berterbangan membangunkan tidurnya. Lidya membuka jendela dan melihat awan di langit sangat cerah. Tumbuhan hijau pun tampak segar dan semakin hijau karena terkena cahaya matahari. Lidya tersenyum menikmati keindahan ciptaan Tuhan.

__ADS_1


Tuhan, semoga ada kabar baik hari ini. Mas Adi, segeralah bangun...


Tok...tok...


Lidya memghentikan lamunannya dan bergegas membuka pintu.


"Maaf Mbak...tadi sebelum pergi, ibu pesan untuk membangunkan Mbak Lidya."


"Tante ke mana Bi?" tanya Lidya penasaran, ia melirik jam di dinding masih menunjukkan pukul 05.35 WIB.


Lidya segera mencari ponselnya, ia sangat khawatir dengan keadaan Adi. Saat akan menghubungi mama Lia, ia baru menyadari kalau baterai ponselnya habis.


"Mbak, ibu tadi juga pesan kalau Mbak Lidya harus sarapan dulu sebelum berangkat ke kampus. Bajunya sudah siap di lemari ya Mbak. Bibi tinggal dulu..."


"Terima kasih, saya mau mandi dulu."

__ADS_1


Lidya segera masuk ke kamar mandi, ia masih gelisah dan khawatir dengan kondisi Adi. Ia memejamkan matanya di depan cermin wastafel.


Mengapa sepagi itu tante Lia ke rumah sakit, ada apa sebenarnya? perasaanku sudah tidak enak...Ah aku harus ke rumah sakit sebelum berangkat ke kampus.


Selesai mandi, Lidya menggunakan celana jeans dan kemeja kotak berwana merah muda yang sudah dipersiapkan mama Lia untuknya. Gadis ini bercermin sebelum turun, ia memandangi wajahnya dengan riasan tipis dan pakaian bermerek yang dikenakan memang membuatnya terlihat samakin cantik.


"Wah...Mbak Lidya cantik sekali, Mbak cocok memakainya. Memang nyonya saya tidak pernah salah memilih, Mbak Lidya sudah seperti anak mantu keluarga Wijaya. Hehe..."


"Ah..Bibi bisa saja memuji, terima kasih."


"Ayo mbak, sarapan dulu!


"Iya Bi, ini juga mau turun kok.."


Sementara itu, Frans sama sekali tidak ada kabar. Ia sangat sibuk menyelesaikan penelitian dan skripsinya. Target lulus membuatnya fokus dan konsentrasi. Hanya dengan satu tujuan agar berhasil meraih impiannya, ia bisa melupakan cintanya sejenak.

__ADS_1


__ADS_2