
Keesokan harinya Nayla datang kerumah Dina untuk menjemputnya. Karena mereka sudah janji akan kerumah Jenny.
Sesampai Nayla sudah sampai rumah Dina, mereka langsung berangkat. Karena Dina sudah siap-siap sebelum Nayla datang.
Akhirnya mereka sampai dirumah Jenny. Mereka langsung menggetok pintu rumahnya.
Tok..tok..tok
"Maaf,non. Mau cari siapa?" tanya seorang pembantu ketika membuka pintu.
"Kami temannya Jenny, Bi. Jenny ada,bi?" tanya Dina.
"Ada, non. Silahkan masuk,non" ucap Bi Nani sambil mempersilahkan Mereka masuk.
"Permisi, non . Saya panggilkan non jenny!"ucap nya dengan lembut.
Selang beberapa menit, Jenny turun keluar dari kamarnya.
"Akhirnya kalian datang. Bram mana?" ucapnya setelah sampai didepan mereka.
"Katanya,sih dia masih otw" ucap Nayla.
Disaat mereka berbincang, kedua orang tuang Jenny turun dan datang menjumpai mereka.
"Wah, teman Jenny sudah datang!" kata papanya Jenny.
Dina dan Nayla langsung berdiri dari duduknya dengan tersenyum kepada mereka.
Saat mereka sudah didepan mereka Soni dan Sari langsung terpesona dengan wajah Dina. Mereka terkejut wajah Dina sangat mirip wajah cantik Sari.
Sebenarnya Dina dan Nayla juga terkejut melihat wajah Dari mamanya Jenny, yang sangat mirip dengan Dina. Tapi mereka langsung bisa mengendalikan ekspresi wajah mereka.
Jenny melihat pasti mama dan papanya terkejut melihat wajah cantik Dina dan sangat mirip pada mamanya. Seperti dia pertama kali melihat Dina, yang sangat terkejut dan dia melihat Dina sangat mirip dengan mamanya. Jenny juga yakin Dina terkejut melihat wajahnya mirip dengan mamanya. Jenny hanya tersenyum yang tidak bisa diartikan melihat keterkejutan mereka.
"Ma, kenalkan ini sahabat-sahabat ku" ucapnya, orang tuanya tersenyum.
__ADS_1
"Saya Dina, om tante" ucapnya sambil menyalam tangan Soni dan Sari. Begitu juga Nayla memberi salam pada mereka sambil menyebut namanya.
Disaat Dina mensalam tangan kedua orang tua Jenny, dia merasakan getaran yang aneh dihatinya, jantungnya berdetak lebih cepat. Dan dia merasa seperti ingin memeluk mereka. Dina tidak tahu kenapa seperti itu.
Diruang tamu, Soni dan Sari terus melihat Dina dengan sesama. Tapi mereka sadar mereka harus bisa mengendalikan sikap mereka.
"Kalian, sudah makan?" tanya Sari mamanya dari Jenny.
"Belum, Tante." jawab Dina dengan lembut.
"Nanti kita makan siang bareng saja,ya." ucap mamanya Jenny. Mereka hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka melihat orang tuanya Jenny sangat ramah.
Mereka mengobrol sambil menunggu makanannya yang lagi disiapkan sama pembantu Jenny. Sesekali mereka. ketawa dari hasil perbincangan mereka. Disaat mereka ketawa, tampak seorang pria mengetok pintu. Mereka langsung beralih memandang siapa yang datang. Ternyata Bram,lah yang datang.
"Bram! Lama amat datangnya. yuk masuk." kata Jenny sambil menarik tangan Bram dari pintu.
"Ma, pa perkenalkan ini teman Jenny" ucapnya sambil mereka berjalan kearah bangku. Bram yang langsung beralih pandangannya kearah orang tua Jenny. Bram juga sangat kaget melihat wajah canti wanita yang umurnya sudah tua tapi terlihat awet muda sangat mirip Dina.
"Bram, om Tante" ucap nya dengan gugup sambil memberi salam pada orang tua Jenny.
"Saya Soni dan ini istri saya Dari orang tua Jenny. Silahkan duduk nak." kata papanya.
"Nya, makan siangnya sudah siap" ucap pembantunya.
"Baik, bi. Trimakasih ya." ucap mamanya Jenny.
"Makanannya sudah siap, kita makan siang dulu ya. Nanti lagi saja ngobrolnya" ucap mamanya Jenny.
"Yuk, pa" ucap Sari pada suaminya. Sari langsung menggandeng tangan Soni. Teman-temannya Jenny sangat kagum dengan kedua orang tua Jenny yang tetap romantis meskipun sudah berumur 50 tahun.
Setelah sampai diruang makan, Dina, Nayla dan Bram kaget melihat banyaknya makanan yang disediakan.
"Wah, banyak sekali makanannya Tante?" kata Nayla dengan kagum sambil duduk.
Sari tersenyum mendengar yang dikatakan Jenny.
__ADS_1
"Kalian banyak makan ya" kata Sari.
Sari menuangkan nasi untuk suaminya, dan lauk pauknya pun dia juga yang meletakkannya di piring Soni. Mereka melihat mamanya Jenny melayani Soni dengan baik. Merekapun juga mengambil nasi mereka sendiri.
"Banyak yang makan kalian, yah. Lauknya sangat banyak, ini ada seafood dan daging. Juga ada sayurannya ada 2 macam. Tante sengaja suruh bibi banyak buatkan lauknya." ucap mamanya.
"Iya, tante" ucap mereka kompak.
Mereka menikmati makanannya, Dari melihat Dina hanya memakan daging tidak ada makan seafoodnya dan sayuran yang ada wortelnya.
"Dina, kenapa tidak ambil seafoodnya, sayur wortelnya juga. Mau tante ambilkan" ucap Sari.
"Saya, alergi makan seafood Tante, kalau wortel saya tidak suka" jawabnya dengan lembut.
Sari terkejut mendengarnya begitu juga dengan Soni.
"Sama dengan om kalau begitu" kata Sari dengan senyum yang tidak bisa diartikan.
Dina hanya membalas dengan senyum.
Selesai makan Jenny membawa teman-temanya kumpul dibelakang rumahnya . Mereka ngobrol dipinggir kolam. Sedangkan orang tua Jenny lebih memilih duduk diruang tengah menonton TV, mereka tidak mau menggangu acara anak muda.
Sari terus memikirkan Dina, dia sangat bingung sekali melihat Dina sangat mirip dengannya sewaktu muda. Apalagi dia tidak bisa makan seafood sama seperti Soni.
Soni melihat istrinya melamun terus, meskipun pandangannya kearah TV.
"Ma, kenapa melamun?" tanya Soni sambil mengelus rambut Sari dengan lembut. Meskipun mereka sudah mulai menua, Soni terus memperlakukan Sari dengan lembut, karena baginya keluarganya lah yang lebih berharga.
"Pa, apa papa tidak merasakan Dina mirip dengan mama?" ucapnya dengan serius sambil melihat kearah Soni.
Soni yang mendengar pertanyaan Sari, dia langsung melihat wajah istrinya dengan serius.
"Ternyata, bukan papa saja yang memikirkan seperti itu"
"Apa jangan-jangan Dina anak kita ya,pa?" ucap Sari dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Mama tenang dulu. Papa akan cari tahu semuanya" ucap Soni sambil memeluk istrinya supaya istrinya tenang.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸