Ada Pelangi Sehabis Hujan

Ada Pelangi Sehabis Hujan
Episode 45


__ADS_3

"Terimakasih, kak." ucap Maya dengan malu. Maya melihat jam, dia teringat dengan perkataan Satria tentang bajunya.


"Ya, sudah kak Maya balik dulu ya" ucap Maya sambil mengambil tasnya dan bangkit berdiri dan pergi sebelum mendengar jawaban dari Satria. Satria mengikuti Maya dari belakang.


Maya langsung menuju meja kasir, disana dia langsung kasih bonnya dan memberi kartunya. Dari belakang Maya Satria langsung mengambil kartu Maya.


"Tidak, usah! Kakak yang traktir" ucap Satria pada Maya dengan senyum sambil memberi kembali kartu milik Maya.


"Tapi, kak! Baiklah, Maya sangat senang menerimanya, sering-sering ya kak!" ucap Maya dengan senyum. Awalnya dia tahu tapi karena melihat wajah Satria berubah dengan menatapnya tajam yang mendalam tidak ada kata penolakan, akhirnya Maya menerimanya.


Maya dan Satria sama-sama keluar dari resto.


"Baiklah, kak. Sampai jumpa lagi. Maya mau lanjut belanja dulu" ucap Maya sambil melihat kearah Satria yang berada disampingnya.


"Kakak temani saja!" ucap Satria sambil menarik tangan Maya. Maya sangat kaget dengan Satria yang telah menggemgam tangannya. Dia hanya dia saja, dari dalam hatinya dia sangat senang dan jantungnya berdetak lebih cepat. Dia hanya diam saja berjalan disamping Satria. Untuk menormalkan detak jantungnya dia berusaha melihat sekelilingnya. Dia melihat toko baju, dia baru ingat kalau dia ingin beli baju untuk kantornya.


Tanpa sadar Maya langsung menarik tangan Satria untuk mengikutinya. Satria yang disamping Maya tersenyum melihat apa yang dilakukan Maya padanya.


"Kak, temani aku pilih baju untuk kantor aku ya! Tidak apa-apa kan kak?" tanya Maya pada Satria yang disampingnya.


"Dengan senang hati" ucap Satria dengan senyum manis sambil mengacak rambut Maya. Semua wanita yang berada dekat mereka sangat kagum dengan wajah tampan Satria kalau tersenyum. Setiap wanita yang lewat pasti ingin mencari perhatian padanya.


Maya dan Satria pun langsung masuk kedalam, Maya mengambil beberapa pasang baju yang akan di cobainya. Satria lah yang selalu menilai baju yang dikenakan Maya. Satria sangat sabar menunggu Maya selesai mencoba satu persatu baju yang da di toko. Akhirnya Maya mendapatkan baju yang diinginkannya, saat dia mau membayar baju yang dibelinya, Satria dari belakang lebih dulu memberi kartunya untuk membayar baju Maya.


"Kakak saja yang bayarnya" ucapnya sekalian memberi kartunya pada pegawai kasir toko. Kasir yang melihat senyum Satria langsung terpesona.


"Tapi, kak.." Maya sangat bingung dengan Satria.


"Wah, nona sangat beruntung ya punya kakak yang baik. Tuan boleh kenalan, tidak?" ucap salah satu pegawai yang ada dimeja kasir juga.

__ADS_1


"Maaf, saya sudah punya pacar! Pacar saya wanita yang sangat cantik" ucap Satria dengan senyum. Maya yang mendengar perkataan Satria merasakan sakit dihatinya.


"Kenapa rasanya sakit mendengar apa yang dikatakan kak Satria?" gumamnya dalam hati. Satria melihat Maya hanya diam saja, dia langsung menarik tangan Maya dan tangannya satu lagi membawa belanjaan Maya. Maya sangat kaget tangannya digenggam Satria lagi. Dan Maya teringat apa yang dikatakan Satria pada pegawai itu, dia menari tangannya dari Satria.


"Maaf, kak. Nanti pacar kakak cemburu kalau kakak pegang tangan Maya. Terimakasih untuk semuanya, nanti Maya akan membalasnya!" ucap Maya sambil menarik tangannya dari Satria dengan cepat dia mengambil belanjaannya dari tangan Satria lalu dia berlari menjauh dari Satria. Satria sangat bingung apa yang terjadi dengan Maya.


Maya terus berlari sampai kedalam parkiran dan masuk kedalam mobilnya, tanpa sadar dia menangis di mobilnya. Maya tidak tahu kenapa dia menangis.


"Kenapa sakit rasanya? Kenapa aku menangis?" ucapnya sendiri sambil menghapus air matanya yang sudah mengalir di pipinya. Satria masih berdiri dengan binggung kenapa dengan Maya yang pergi menjauh darinya. Tiba-tiba dia teringat apa yang dikatakannya pada kasir itu.


"Ah, sial. Pasti dia sudah salah paham!" ucapnya dengan kesal. Lalu dia berlari mengejar Maya. Saat diparkiran dia melihat Maya sudah melakukan mobilnya.


"Ah..." ucapnya dengan kesal.


***


"Auw...auw..." teriaknya sambil memegang perutnya yang sudah besar itu. Gio melihat istrinya kesakitan, dan dia juga melihat wajah istrinya yang mulai memucat.


"Sayang kamu kenapa? Kita kerumah sakit, ya!" ucapnya dengan panik.


"Ah..." teriak Dina sambil meremas tangan Gio dengan kuat. Gio semakin panik mendengar Dina terus menjerit kesakitan. Dengan cepat Gio mengendong Dina dan berlari keluar. Sekretaris Gio yang didepan binggung melihat Gio membawa Dina dengan menggendong. Dia pun juga ikut berlari mengikuti Gio, dia berpikir mana tahu bosnya membutuhkannya karena Toni tidak ada. Gio berlari kearah lift, dengan sigap sekretarisnya Gio membukanya. Semua pegawai melihat CEO mereka berlari menggendong istrinya, dengan cepat Gio berlari ke mobilnya.


"Citra cepat buka pintunya dan kamu langsung masuk temani istri saya" ucap Gio pada sekretarisnya yang terus mengikutinya.


"Baik, pak!"


Gio langsung masukkan istrinya dia meletakkan kepala istrinya dipangkuan Citra. Dengan cepat Gio melakukan mobil nya menuju rumah sakit milik keluarganya yang sangat dekat dengan kantornya. Didalam mobil, Gio langsung menghubungi Tasya selaku dokter kandungan Dina.


Didepan rumah sakit Figo dan Tasya sudah ada didepan rumah sakit dan beberapa perawat. Setelah Gio menghentikan mobilnya, Figo dan Tasya langsung ambil alih untuk menangani Dina. Mereka berlari dengan cepat kearah UGD,

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Tasya pada Gio.


"Aku, tidak tahu tiba-tiba saja dia kesakitan seperti itu" ucap Gio dengan panik. Depan ruangan UGD Gio dilarang masuk oleh Figo dan Tasya. Didepan ruangan dia merasakan kakinya lemas, dia duduk dilantai sambil meremas rambutnya.


"Ah...." teriaknya sambil menangis. Citra yang dari tadi terus melihat bosnya seperti itu, sangat kasihan. Ini pertama kalinya dia melihat bosnya menangis, tapi dia tidak berbuat apa-apa. Setelah 30 menit pemeriksaan, Tasya dan Figo keluar, Gio melihat pintu terbuka langsung bangkit berdiri.


"Bagaimana Dina? Apa ada masalah? Dia baik-baik saja kan?" tanyanya dengan panjang lebar. Figo dan Tasya melihat sahabatnya yang sangat berantakan.


"Kita bicarakan dituangkan aku saja" ucapan Tasya.


"Baiklah. Citra kamu tolong jaga istri saya sebentar" perintah Gio.


"Baik, pak" ucapnya. Gio mengikuti Figo dan Tasya. Didalam ruangan Tasya Figo dan Tasya menatap Gio dengan tajam.


"Jangan memandangku seperti itu! Bagaiman Dina? Apa ada masalah?"


"Saat ini keadaanya masih stabil. Darah rendahnya lah yang membuat dia merasakan kesakitan. Untuk saat ini usahakan hatinya selalu senang jangan membuat dia banyak pikiran. Kalau tidak akan membahayakan hidupnya dan janinnya, usahakan satu bulan ini dia tidak ada masalah lagi"


"Baiklah. Terimakasih. Aku mau menemani istri Akau dulu"


"Gio ada satu hal lagi yang haru kamu tahu," ucap Tasya sebelum Gio keluar dari ruangan.


"Jika Dina terus merasakan kesakitan dan keadaannya memburuk kita harus segera mengoperasinya mengeluarkan bayinya supaya bayinya selamat"


"Tapi belum waktunya? Apa tidak ada jalan lain?" ucap Gio dengan wajah kaget.


"Tidak ada. Makanya usahakan dia mengalami suasana hati yang senang. Jangan lupa kabari orang tua kalian" ucap Figo. Gio langsung keluar tanpa menjawab Figo dan Tasya.


🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


__ADS_2