Ada Pelangi Sehabis Hujan

Ada Pelangi Sehabis Hujan
Episode 6


__ADS_3

Gio POV


Sesampainya kami di kampus, kami langsung disambut sama Dekannya. Pak Zainal, ya itulah nama dekan dikampus Nusantara, kampus milik keluargaku. Aku menyuruhnya untuk membawa ku keliling kampus.


Aku melihat sekelilingku berharap gadis yang ingin kulihat muncul didepan mataku. Saat kami berjalan menuju kantin, aku melihatnya gadis yang membuat tujuan ku datang kemari. Melihat wajahnya yang sangat cantik membuatku ingin sekali langsung mendekatinya padahal dia hanya memakai kaos dan celana jeans yang panjang, dan rambutnya yang lurus panjang itu dibiarkan tergerai sudah membuat dia sangat cantik.


Aku melihat banyak mata pria yang meliriknya karena mengagumi kecantikannya disaat dia berjalan, aku melihat dia tiba-tiba terjatuh, akibat tersandung kaki seorang wanita yang sengaja dilakukannya. Aku ingin membantunya, tapi tangan ku dipegang Toni, yang mengisyaratkan kalau aku jangan ikut campur dulu, aku menahan amarah ku. Aku, hanya bisa melihat kejadian itu saja. Untung ada teman yang berjalan bersamanya tadi membantunya dan membelanya. Aku juga mendengar hinaan wanita itu kepada gadis itu. Tapi, yang membuatku kagum dengannya dia tidak marah dengan perempuan itu. Dia dan temannya memutuskan untuk pergi dari tempat itu.


Tapi disaat dia pergi dia membuat aku kaget, tiba-tiba dia jatuh pingsan. Aku tidak peduli larangan Toni pada ku. Aku langsung berlari untuk menolongnya, dan aku menggendongnya seperti bridal style. Aku tidak peduli orang memandangku. Yang kupikirkan saat ini adalah gadis ini. Aku terus berlari membawanya masuk ke mobil ku, aku memerintahkan Toni untuk membuka mobil ku.


"Toni, cepat buka mobilnya. kita kerumah sakit" perintah ku kepada Toni.


"Tunggu, aku ikut dengan kalian" seorang gadis yang kulihat bersamanya tadi menghentikan kami saat kami mau pergi.


"Aku tidak mengenal kalian, aku harus tahu bagaimana keadaan sahabatku" ucap perempuan itu lagi pada kami. Aku memaklumi kekuatirannya pada temannya.


"Baiklah, kau boleh ikut. Duduklah didepan" jawabku kepadanya.


Didalam perjalanan, aku terus memandang gadis yang di pangkuanku ini, tampak wajahnya yang sangat pucat di keningnya kelihatan darahnya. Aku menidurkannya kepalanya dipangkuanku. Aku sangat kuartir dengannya. Aku berharap dia tidak mengalami luka yang serius akibat benturan di kepalanya.


Author POV


Akhirnya mereka tiba dirumah sakit. Gio lansung menyuruh dokter untuk menangani Dina. Dina langsung dibawa kedalam IGD. Mereka hanya bisa menunggu Dina diluar, Nayla yang dari tadi melihat kegusaran Gio. Dia bingung kenapa Gio sangat cemas dengan sahabatnya Dina. Nayla ingin sekali bertanya siapa dia sebenarnya, tapi diurungkannya.


"Trimakasih, sudah menolong sahabat ku" ucap Nayla, memecahkan keheningan Susana saat itu.


"Sama-sama" jawab Gio.


"Apakah kau sudah menghubungi keluarganya" sambung Gio pada Nayla.


Nayla memandangnya dengan wajah yang sedih.


"Dia tidak punya saudara, dia hanya tinggal sebatang kara. Bundanya sudah meninggal 6 bulan yang lalu." jawab Nayla dengan wajah yang sedih.


Gio terkejut mendengarnya. Gio jadi teringat kejadian enam bulan yang lalu dimana dia pertama kali berjumpa dengan Dina.

__ADS_1


'Apakah disaat kejadian itu, dia merasa terpukul karena orang tuanya meninggal? sampai - sampai dia ingin bunuh diri?' gumam Gio di dalam hatinya.


Akhirnya terdengar suara pintu terbuka. Dokter yang menangani Dina keluar.


" Maaf, apakah keluarga pasien ada?"tanya dokter


"Saya tunangannya dok. Bagaimana keadaannya?" tanya Gio. Nayla terkejut dengan yang dikatakan Gio, tapi Toni hanya diam saja, karena dia tahu Gio sangat mencintai Dina dan bagaimana perasaan Gio saat ini.


"Pasien, baik-baik saja. Dia hanya butuh istirahat" jawab dokter.


"Apakah kami bisa melihatnya?" tanya Gio.


"Tentu boleh, silahkan kalian masuk. Saya permisi dulu tuan" kata dokter.


"Ya, trimakasih, dokter" kata Gio.


"Sama-sama pak, itu sudah tugas saya" jawab dokter itu sambil tersenyum pada Gio.


Mereka masuk keruangan Dina, Dina terlihat masih tidur, dan keningnya yang terluka tadi sudah diperban. Nayla yang melihat keadaan sahabatnya seperti itu, dia sangat. Dia berpikir kenapa sahabatnya selalu mendapat hal yang buruk.


"Tentu saja, hubungilah keluargamu dulu" jawab Gio.


Nayla langsung menghubungi keluarganya saat dia sudah diluar ruangan Dina untuk memberitahu bahwa dia sedang dirumah sakit.


"Bu, Nay hari ini agak telat pulangnya"


"Kenapa sayang? Kamu sekarang dimana?"


"Begini,Bu" jawab Nayla dengan ragu. Dia takut ibunya akan histeris, karena mereka sudah menganggap Dina anak mereka.


"Ada apa,sih sayang? Kamu dan Dina baik-baik saja kan?" tanya ibunya dengan was-was.


"Dina, masuk rumah sakit Bu!" jawab Nayla dengan suara yang kecil, tapi ibunya masih bisa mendengarnya.


"Ya, ampun Dina. Sekarang kalian dirumah sakit mana? Biar ayah dan ibu kesana" kata ibunya dengan cemas.

__ADS_1


Nayla akhirnya memberi tahu tempat rumah sakit Dina dirawat. Setelah 1 jam ibu dan ayahnya Nayla datang kerumah sakit. Ibunya yang melihat Nayla duduk di tepi ranjang Dina, mereka langsung mendekat padanya dan bertanya kepada Nayla apa yang telah terjadi.


"Nay, kenapa Dina seperti ini?" tanya ibunya sambil nangis dengan menyentuh wajah Dina. Ayahnya menenangkan istrinya dari belakang, karena melihat kepala Dina yang kena perban dan wajahnya kelihatan pucat.


"Dina tadi jatuh, bu dikantin" Jawab Nayla dengan sedih.


Gio yang juga duduk disamping Dina melihat orang tua Nayla yang sangat cemas dengan Dina. Setelah orang tuanya Nayla sudah tenang, mereka baru sadar ada orang lain juga dikamar Dina. Nayla sadar orang tuanya saat ini pasti butuh penjelasan siapa pria yang disamping Dina. Nayla langsung menjelaskan siapa Gio.


"Maaf, ya kami tidak tahu kalau ada orang lain disini juga. Tapi, kami mengucapkan trimakasih sudah membantu Dina" kata ibunya Nayla dengan tersenyum kepada Gio dan Toni.


"Sama-sama Bu" jawab Gio.


"Maaf, kami permisi dulu. Ada pekerjaan yang harus kami selesaikan" kata Gio. Karena Gio harus kekantor - nya untuk mengikuti rapat penting.


"Baik, nak. Sekali lagi trimakasih sudah menolong Dina" kata ayahnya Nayla. Gio hanya tersenyum. Gio dan Toni akhirnya keluar kamar. Nayla mengikuti mereka dari belakang. Setelah diluar kamar, Nayla memanggil mereka.


"Maaf,pak." kata Nayla. Gio dan Toni langsung berhenti ketika ada seseorang yang berbicara kepada mereka. Mereka langsung melihat Nayla yang sudah dibelakang mereka.


"Apa ada yang bisa saya bantu nona?" tanya Toni.


"Saya, hanya mau bilang trimakasih untuk semuanya" kata Nayla.


"Sama-sama. Oh,ya nona biaya administrasinya kami sudah bereskan, dan ketika dia sadar, bisakah anda menelepon saya?" kata Gio.


"Baik, nanti saya akan hubungi" kata Nayla dengan tersenyum.


"Ini kartu nama saya" kata Gio sambil memberikan kartu namanya.


Setelah memberi kartu namanya, mereka langsung pergi. Nayla masih tetap berdiri diluar pintu sampai punggung mereka menghilang. Disaat mereka sudah pergi Nayla membaca kartu namanya, Nayla sangat kaget jati diri Gio sebenarnya. Dia sangat bingung kenapa seorang CEO perusahaan terbesar datang ke kampus mereka? Dan kenapa dia mau membantu Dina? Itulah pertanyaan dalam pikirannya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ


**Selamat membaca, trimakasih bagi teman-teman yang sudah membaca karya saya.


Maaf, baru bisa update๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™**

__ADS_1


__ADS_2