Ada Pelangi Sehabis Hujan

Ada Pelangi Sehabis Hujan
Episode 35


__ADS_3

Semuanya berkumpul diruang tengah, mereka tampak menggoda Dina, yang sekarang tampak terus memeluk Gio. Dan saat semua tampak bahagia, Dina melihat dia mendapatkan pesan dari nomor asing itu lagi.


'Nikmatilah kebahagian,mu sekarang. Karena sebentar lagi akan hilang kebahagian itu dari hidup,mu'


Gio melihat perubahan wajah Dina yang sekarang tidak ada senyum lagi sambil memegang HP nya, dan Gio merasakan tangan Dina mulai dingin. Gio langsung mengambil HP Dina dan membacanya. Gio langsung memukul meja sambil meremas Ho, semua sangat kaget dengan tindakan Gio.


Dina langsung melepaskan tangannya dari tangan Gio dan bangkit berdiri. Saat dia bangkit dia melihat matanya seperti agak kabur, dan langsung pingsan. Untuk Gio disampingnya dan langsung menangkap tubuh Dina.


"Dina" menjerit semuanya. Gio langsung membawa Dina kedalam kamar dengan style bridal.


"Tasya, Figo kalian ikut dengan ku!" ucap Gio. Mereka langsung mengikuti, yang mengikutinya dari belakang bukan hanya mereka berdua tapi semuanya. Mereka sangat cemas terutama mamanya dan mama mertuanya. Gio meletakkan Dina dengan hati-hati. Kalian periksa Dina. Saat mereka memeriksanya dan nadi Dina, mereka berdua saling pandang.


"Gio, kamu harus bawa Dina kerumah sakit. Kita harus lihat perkembangannya" ucap Tasya tersenyum.


"Wah, selamat ya bro. Akhirnya kamu akan jadi ayah" ucap Figo sambil memeluk Gio.


"Terimakasih" ucap Gigi membalas pelukan Figo.


"Maksud kamu apa Figo? Ayah? Apa Dina lagi hamil?" tanya Cantika dengan terkejut.


"Benar, Tante. Selamat ya Tante, om kalian akan jadi opa sama Oma." ucap Tasya.


Kedua wanita paruh baya itu langsung duduk di kasur di samping Dina, ada yang sebelah kiri dan ada sebelah kanan. Mereka langsung menggemgam tangan Dina. Dina mulai terbuka matanya. Dia melihat mama dan mertuanya disampingnya.


"Sayang, kamu sudah sadar? Selamat ya sayang" ucap Cantika sambil mencium kening Dina,


"Anak, mama. Selamat ya,nak. " ucap Sari sambil membelai pipinya dengan penuh kasih sayang. Dina sangat bingung. Kenapa dia diberi selamat. Dina melihat kearah Gio meminta penjelasan, Gio mengerti dari tatapan istrinya. Gio langsung mendekat kearah Dina, kedua mamanya langsung memberi dia ruang. Gio langsung menggemgam kedua tangan Dina.


"Sayang, kita akan menjadi orang tua,"

__ADS_1


"A..aku hamil?"tanya Dina gugup. Gio menganggukkan kepalanya dan membelai wajah istrinya dengan lembut. Tanpa sadar Dina langsung meneteskan air matanya dan sambil mengelus perutnya. Dia tidak menyangka Tuhan memberikan dia kepercayaan untuk menjadi orang tua dengan cepat. Gio langsung memeluk Dina karena nangis.


"Aku akan menjaga kalian dengan baik. Tidak akan aku biarkan kalian disakiti siapapun!" ucap Gio ditelinga Dina. Dina mendengarnya jadi tambah nangis dan dia memeluk erat Gio.


"Wah, aku jadi tidak sabar akan punya keponakan" ucap Jenny dengan semangat. Dina dan melepaskan pelukannya karena mendengar celoteh saudaranya itu. Semuanya tampak bahagia mendengar Dina hamil. Tapi tiba-tiba Dina teringat ancaman itu, wajahnya jadi berubah dengan ketakutan. Gio melihatnya, dan akhirnya mata Gio dan Dina bertemu.


"Apa dia juga akan menyakiti anak,ku?" tanya Dina sambil meneteskan matanya. Semuanya kaget apa yang dikatakan Dina.


"Dia, tidak akan menyakiti kalian. Siapapun dia pasti kita akan menemukannya, aku janji tidak akan ada yang bisa menyentuh kalian!" ucap Gio dengan lembut sambil menghapus air mata yang sudah keluar dari mata Dina.


"Apa maksudnya? Siapa yang mau menyakiti kalian?" ucap Soni. Gio dan Dina melihat kearah kedua orang tua mereka.


"Jelaskan pada kami Gio!" perintah Soni kepada menantunya itu.


Gio pun langsung menceritakannya apa yang terjadi pada Dina. Semuanya kaget mendengar penjelasan dari Gio.


"Sepertinya ancaman ini tidak hanya gertakan. Gio kamu harus Dina dijaga 24 jam. Kami tidak mau terjadi sesuatu pada menantu kami dan calon cucu kami" ucap Cantika.


"Iya,ma. Kemarin aku sudah bilang sama Toni untuk mencari bodyguard yang terbaik"


"Tenang saja, Saya dan Joni sudah menyiapkan semuanya. Kemanapun Dina pergi dia tetap harus dikawal" ucap Toni.


***


Gio dan Dina kerumah sakit untuk memeriksa kandungan Dina.


"Selamat ya, untuk kalian bayinya nampak sehat, karena ini masih jalan 2 Minggu, masih sangat rentan, jangan sampai lelah dan banyak pikiran. Bawa semuanya dengan rilex. Gio jaga baik-baik Dina. Aku akan kasih resep vitamin saja dulu. Kalau ada mual atau perasaan yang lain kasih tahu aku." Ucap Tasya. Karena Tasya dokter spesialis kandungan.


Tasya memutuskan kembali ke kota x, karena dia dan Joni berencana untuk menikah. Keluarga mereka juga berada di kota X dan mereka setuju untuk hubungan mereka.

__ADS_1


"Makasih, ya kak" ucap Dina.


"Kami balik dulu ya, sya" ucap Gio. Gio dan Dina pulang kerumah mereka, karena sudah kesepakatan kemanapun Dina pergi harus dikawal, meskipun dia perginya sama Gio.


Diparkiran rumah sakit, seorang wanita dalam mobil lagi sangat kesal melihat Dina dan Gio


"Ah, sial. Penjagaannya ketat pula, lagi. Lihat aku akan membuatmu hancur" ucapnya dengan keras sambil memukul setir mobilnya. Dia pun langsung melaju mobilnya dengan cepat.


Mobilnya masuk kedalam rumah yang sangat mewah bersebelahan dengan rumah Bram. Dia langsung menakutkan mobilnya dan langsung masuk kedalam rumahnya.


"Dari mana ? Apa kau buat ulah lagi?" tanya seorang pria yang sudah tampak tua duduk diruang tengah sambil membaca korannya. Perempuan itu hanya diam saja, lalu meninggalkannya.


"Maya Charles apa kau tidak mendengar ayah,mu?" teriak pria itu dengan kesal melihat anak perempuannya yang tidak mendengar pertanyaannya.


Maya tetap naik keatas, dia tidak peduli dengan teriakan ayahnya, Maya sangat kesal ayahnya selalu saja berteriak padanya dan ayahnya kelihatan tidak peduli dengannya.


"Dasar anak tidak untung. Kerjaan mu selalu buat masalah. Dengar kalau buat kesalahan lagi, jangan pernah kau kembali" ucap ayahnya sambil berteriak.


Maya masuk kamarnya sambil membanting pintu kamarnya karena mendengar ancaman ayahnya.


"Ah sial.." teriaknya sambil melempar bantal yang ditempat tidurnya. Wajah Maya sudah tampak seperti orang hilang kendali. Dia ingat wajah Dina yang tersenyum bahagia dengan Gio.


"Ah..." teriaknya lagi dengan mengajak rambutnya sampai berantakan.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Eps selanjutnya author akan buat kisah Maya dulu ya. hehehe


Mohon dukungannya ya...πŸ™πŸ» terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2