
Tak terasa tinggal seminggu lagi Din melahirkan dari perhitungan waktu yang dikatakan Tasya sebagai dokter kandungan Dina. Gio menjadi ambil cuti, dia ingin jadi suami yang siaga bagi istrinya. Dia ingin disaat istrinya mulai kontraksi, dia ada disamping istrinya.
Waktu masih menunjukkan jam 2 pagi, tapi Dina dari tadi selalu gelisah dan tidak bisa tidur. Sebenarnya dia ingin membangunkan Gio, hanya saja dia tidak tega karena Gio belakangan ini banyak kerjaannya. Saat dia ingin ke kamar kecil, perutnya sangat sakit. Dia berusaha memanggilkan Gio.
"Mas..Gio" ucap Dina sambil menahan rasa sakitnya. Gio juga belum bangun dari tidurnya. Dina terus memanggilnya lagi.
"Mas Gio!" teriak Dina. Gio yang mendengar suara istrinya, terbangun dan dia bangkit dari tidurnya. Gio terkejut Dina sudah terletak dilantai menahan rasa sakit.
"Sayang! Kamu kenapa?" ucap Gio dengan panik.
"Bawa Dina kerumah sakit mas, mungkin Dina mau melahirkan!" ucap Dina sambil menggemgam tangan Gio kuat karena menahan rasa sakitnya.
"Bukannya harus seminggu lagi? Tunggu mas, panggil papa dan mama" Dina hanya menganggukkan kepalanya. Gio berlari keluar kamar ke kamar orang tuanya. Gio menggedor pintu kamar orang tuanya dengan kuat sambil memangil.
Adi dan Cantika terbangun dan membuka pintu kamarnya.
"Ma, pa Dina akan melahirkan" ucap Gio dengan panik
"Apa!" Cantika terkejut mendengar menantunya akan melahirkan. Mereka berlari ke kamar Gio untuk melihat Dina.
"Sayang" teriak Cantika sambil memeluk Dina.
"Papa, siapkan mobil dulu! Kamu angkat Dina" ucap Adi. Adi langsung berlari keluar. Gio langsung mengendong Dina, Cantika mengikuti Gio dari belakang. Adi memutuskan dia yang akan membawa mobil.
"Gi, kamu duduk dibelakang temani Dina. Biar papa yang bawa" ucap Adi.
Mereka membawa Dina kerumah sakit milik keluarga mereka. Selama dalam perjalanan, Gio menghubungi Tasya kalau Dina akan melahirkan. Gio ingin Tasya yang menangani Dina, sedangkan Cantika menghubungi Soni dan Sari kalau Dina akan melahirkan.
__ADS_1
Sesampai dirumah sakit Dina langsung dibawa keruang bersalin. Wajahnya sangat pucat. Gio selalu memberi kekuatan untuk Dina, supaya bisa bertahan. Saat Dina lagi dibawa dalam ruangan, Soni dan Sari bersama Jenny datang dan langsung menghampiri mereka.
"Bagaimana dengan Dina, Gi?" tanya Soni pada Gio yang dari tadi duduk sambil menutup wajahnya. Mereka melihat wajah Gio sangat kuatir dengan Dina, apalagi Dina memiliki riwayat darah rendah. Gio melihat mertuanya sudah datang dan berdiri didepannya. Gio langsung bangkit berdiri dan memberi salam kepada mertuanya.
"Dina masih didalam, pa. Lagi ditangani sama Tasya" ucapnya. Cantika langsung menghampiri Sari dan mereka saling berpelukan. Cantika mengajak Sari untuk duduk. Karena dia tahu saat ini sahabatnya sekaligus besannya sedang cemas dengan menantunya. Jenny terus mondar mandir depan pintu bersalin, berharap Dina tidak masalah. Saat pintu terbuka semua langsung mendekat kearah Tasya.
"Tasya bagaimana dengan istriku?" ucap Gio dengan cemas.
"Saat ini kami butuh persetujuan kamu. Karena keadaan Dina, membuat Dina tidak bisa melahirkan secara normal. Dia harus operasi dengan cepat. Bagaimana?" Tanya Tasya.
"Baiklah. Kemari berkasnya aku akan menandatangani nya, aku ingin anak dan istriku selamat. Semua aku serahkan pada mu"
Akhirnya Dina masuk kedalam ruang operasi, tampak semua wajah mereka sangat cemas. Saat mereka menunggu, Bram, Nayla dan Toni datang menghampiri mereka. Jenny lah yang memberitahu Bram dan Nayla. Sedangkan Toni tahu dari istrinya yaitu Nayla. Toni melihat wajah sahabatnya sangat tegang.
"Tenang, Dina dan anakmu pasti akan baik-baik saja. Berdoalah!" ucap Toni untuk menenangkan Gio yang dari tadi duduk di kursi depan ruang operasi. Saat mereka duduk, seorang suster keluar dan memanggil keluarga dari Dina. Setelah setengah jam Siarang tangisan bayi terdengar nyaring.
Terpancar wajah bahagia semuanya,
"Selamat nak kamu sudah jadi seorang ayah" ucap Adi pada Gio yang langsung berdiri saat mendengar suara tangisan bayi dari dalam. Orang tua mereka saling memberi selamat karena mereka sudah menjadi seorang kakek dan nenek. Para sahabat Dina juga sangat bahagia. Saat mereka bahagia, seorang suster keluar dari dalam.
"Keluarga ibu Dina?" teriaknya seorang suster depan pintu. Gio langsung menghampiri mereka dengan wajah bahagia
"Bagaimana, sus? Anak saya baik-baik saja kan?" tanya Gio.
"Anak bapak sehat-sehat saja. Tapi ada masalah dengan ibu Dina. Ibu Dina saat ini membutuhkan transfusi darah secepatnya. Keadaannya semakin kritis. Kebetulan stok darah dirumah sakit tidak cukup. Jadi kami butuh siapa yang bisa mendonorkannya?". Semuanya sanagt terkejut mendengar Dina lagi kritis. Apalagi Gio. Gio sempat mau terjatuh karena terkejut mendengar istrinya lagi kritis, serasa kakinya lemas untuk menopang tubuhnya. Untung Toni yang disampingnya langsung menopang Gio.
"Apa golongan darah istri saya?" tanya Gio, matanya mulai tampak berkaca-kaca.
__ADS_1
"B positif pak"
"Ambil darah saya saja" ucap Soni, Adi dan Gio serentak. Ternyata Adi dan Gio golongan darah mereka sama dengan Dina, kalau Soni tentu saja sama karena Dina adalah putri kandungnya.
"Baiklah, ikuti saya" Merekapun mengikuti langkah suster itu. Akhirnya setelah satu jam, operasinya selesai. Tasya dan Figo telah keluar, Figo ada didalam karena perintah Gio untuk membantu Tasya mengoperasi Dina sewaktu Dina kritis.
"Bagaimana dengan istri, ku?" ucap Gio langsung menghampiri Tasya dan Figo setelah keluar dari ruang operasi.
"Semuanya aman, masa kritis Dina sudah terlewati. Kalian bisa melihatnya setelah Dina dipindahkan keruangan nya." ucap Figo sambil menepuk bahu Gio.
"Anak, ku?"
"Tenang saja dia sudah dipindahkan keruangan bayi, kalian sudah bisa melihatnya juga" ucap Tasya tersenyum.
"Terimakasih kalian sudah membantu" ucap Gio. Rasanya pundak Gio terasa lebih ringan setelah mendengar anak dan istrinya baik-baik saja.
"Itu sudah tugas kami sebagai dokter. Oh, ya selamat kamu sudah menjadi seorang ayah" ucap Figo dengan tersenyum
Figo dan Tasya kembali keruangan mereka masing-masing. Sedang Gio dan seluruh keluarganya pergi keruangan bayi. disana mereka melihat wajah anak Gio dan Dina. Hanya Gio saja yang bisa masuk untuk menggendong anak mereka.
Gio sangat senang putra mereka sangat tampan dan wajah sangat mirip dengan wajah Gio. Hanya saja bibirnya dan matanya yang mirip dengan Dina. Ya, Dina melahirkan seorang putra yang sangat tampan. Selama masa kehamilan Dina tidak pernah mengalami yang biasa dialami wanita hamil. Kalau untuk ngidam, Giolah yang selalu mengalaminya. Mereka juga sudah mengetahui bahwa Dina akan melahirkan seorang putra, karena diusia 5 bulan kandungannya Gio mengajak Dina untuk USG.
***
Setelah Dina dipindahkan Gio dan keluarga terus menunggu Dina sadar. Gio duduk disamping Dina sambil menggemgam tangan Dina. Semua tampak wajah yang lelah karena tidurnya mereka sangat kurang. Waktu sudah menunjukkan Jam 8 pagi, Dina juga belum sadar.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1