Ada Pelangi Sehabis Hujan

Ada Pelangi Sehabis Hujan
Episode 25


__ADS_3

Dirumah kediaman Soni


Soni dan Sari dan Jenny duduk dimeja makan, mereka menikmati makan malamnya. Tampak hening disaat itu.


"Pa, kapan kita jemput Dina?" tanya jenny sambil menikmati makanannya.


"Besok kita akan jemput ya, kamu tahu kan rumah Dina?"


"Ehm. Saat ini Dina tinggal di keluarga Nayla" jawabnya.


"Kenapa sayang?" tanya mama Sari.


"Sebenarnya kemarin Dina mengalami musibah ma, pa." jawab Jenny sambil menundukkan kepalanya.


"Apa? Musibah, Jen?" tanya mama Sari dengan kaget.


"Se..Sebenarnya, sewaktu kami camping Dina hampir dilecehkan. Untung saat itu kami cepat menolongnya, kalau tidak..."jawab Jenny sambil menangis mengingat kejadian itu.


Sari dan Soni sangat kaget mendengarnya. Sari tidak tahan mendengar tentang anaknya.


"Pa..hiks...Dina,pa...hiks..." tangis Sari sambil memukul dadanya. Dia sangat menyesal karena kelalaiannya dia kehilangan anaknya.


"Tenang, ma. Besok kita akan jemputnya. Yang penting dia selamat,ma." ucap Soni sambil memeluk istrinya ketika istrinya memukul dadanya sendiri.


Jenny pun langsung datang menghampiri kedua orang tuanya, dia langsung memeluk mamanya juga.


Keesokan harinya berhubung hari Minggu, Soni libur dari kantornya. Selesai sarapan keluarga Soni bersiap siap berangkat kerumah Nayla. Didalam mobil Sari terus menggemgam tangan suaminya. Dia takut Dina menolaknya, banyak ketakutan dari dirinya. Soni tahu saat ini istrinya pasti sangat grogi dan takut bertemu Dina anaknya.


Setelah setengah jam lebih, mereka sampai di rumah keluarga Nayla. Jenny mengetuk pintu rumah Nayla yang pintunya keluar.

__ADS_1


"Eh, ada non Jenny. Cari non Dina dan non Nayla ya silahkan masuk dulu,non" ucap bibi yang bekerja dirumah Nayla. Mereka pun disuruh masuk kedalam, karena pembantunya mengenal Jenny sebagai sahabat anak dari majikannya.


Mereka, pun masuk dan duduk di kursi ruang tamu.


"Sebentar, ya non saya panggil dulu." ucap bibi. Saat dia mau jalan ibu dan ayahnya Nayla datang keruang tamu.


"Hei, nak Jenny datang. Sama siapa?" tanya ibu Nia.


"pagi Tante, om." sapa Jenny sambil memberi salam kepada kedua orang tua dari sahabatnya.


"Pekerjakan Tante ini orang tua Jenny" kata jenny. Kedua orang tua Jenny berjabat tangan dengan kedua orang tua Nayla. Kedua orang tua Nayla kaget melihat wajah Sari. Wajah yang sangat tidak asing bagi mereka. Mereka saling pandang wajah perempuan itu mirip dengan seseorang.


"Saya, Doni dan ini istri saya Nia. Kami kedua orang tua Nayla" ucap ayahnya Nayla. Sambil terus melihat kearah mereka dengan bingung.


"Saya Soni dan istri saya Sari" jawab papa Soni.


"Silahkan duduk dulu." kata Ayah Doni.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" tanya Sri sambil memeluk Dina. Dina sangat kaget dengan perlakuan Sari. Meskipun dia tahu wanita paruh baya ini sangat baik padanya.


"Dina baik-baik saja Tante." ucap Dina.


Sari langsung melepaskan pelukannya. Dia terus merangkul Dina. Dia tidak melepaskan Dina. Nayla dan kedua orang tuanya sangat kaget.


"Duduk dekat sama mama,ya" kata Sari sambil menarik Dina. Sebenar Dina kaget mendengar Sari mengatakan kata mama. Tapi Dina hanya diam saja, mengikuti kemauan Sari.


Sedangkan Nayla memutuskan duduk dekat orang tuanya. Dia masih bingung kenapa keluarga sahabatnya datang dipagi-pagi begini dan tingkah mama nya Jenny yang seperti tidak ingin pisah dari Dina.


Saat Dina dan Sari duduk berduaan, kedua orang tua Nayla melihat wajah mereka yang sangat mirip. Meskipun Sari umur Sari sudah hampir kepala lima. Wajahnya tampak awet muda dan tetap cantik. Kecantikannya sama seperti Dina. Kedua orang tua itu bersaing pandang, sedangkan Nayla tidak heran melihat wajah mereka yang mirip karena dia sudah tahu dari awal.

__ADS_1


"Dina, kami kemari mau membicarakan hal yang penting. Kami berharap kamu mau mendengarnya dan menerimanya ya, sayang" Ucap Sari dengan lembut sambil menggemgam kedua tangan Dina ditangannya.


Dina tampak diam, kemudian dia menganggukkan kepalanya. Kemudian Sari menarik nafasnya dalam-dalam.


"Belasan tahun yang lalu tante, melahirkan seorang putri yang cantik. Keluarga kami sangat bahagia dengan kedatangannya ditengah keluarga kami. Disaat umurnya 2 bulan kami membawanya jalan-jalan ke taman yang ada dekat komplek rumah kami." Dina dan keluarga Nayla sangat serius mendengar cerita Sari.


"Karena kelalaian kami kehilangan putri kami, dia diculik saat itu. Kami sudah berusaha mencarinya. Melaporkan pada polisi, menyewa detektif bahkan kami sudah menyebarkan foto kami berharap ada yang melihatnya" ucap Sari sambil memberikan foto anak bayi yang manis pada Dina.


Dina melihat foto bayi, dia terkejut melihatnya sampai dia menutup mulutnya.


"Ini.. foto Dina sewaktu bayi kan, Tante? " kata Dina suara yang agak tersedak dengan raut wajah yang tampak binggung. Dina belum bisa mencerna apa maksudnya.


"Benar, sayang. Dina kamu anak Tante dan om Soni" ucap Sari sambil menangis.


Dina belum bisa percaya. Dina masih binggung apa yang terjadi saat ini. Sepertinya kepintarannya belum bekerja. Dina masih mematung.


"Dina, apa kamu tidak percaya? Apa kamu tidak senang bahwa kami adalah orang tuamu?" tanya Sari sambil menangis. Soni tampak sedih melihat istrinya, yang berusaha meyakinkan anaknya. Soni bangkit dari tempat duduknya dan duduk di samping istrinya, dia langsung merangkul istrinya untuk memberi kekuatan. Sari langsung memeluk suaminya sambil menangis.


"Dina, mungkin saat ini kamu masih belum percaya. Tapi lihatlah di amplop ini, disini banyak foto mu masih bayi saat bersama kami" Soni langsung memberikannya pada Dina.


Dina nampak ragu-ragu membuka amplop itu. Jenny melihatnya, dia tidak tahan mamanya terus menangis, karena putrinya yang selama ini dicarinya tidak mempercayainya.


"Din, kamu adalah sahabatku. Kamu tahukan aku tidak pernah sekalipun berbohong padamu. Percayalah, mama Sari dan papa Soni adalah orang tua kandungmu. Aku adalah saksinya bertahun tahun mereka terus mencari mu tapi tidak pernah ada hasilnya." Jenny langsung berpindah tempat duduk di samping Dina. Jenny langsung kedua tangan Dina untuk digenggamnya. Dina mengalihkan pandangannya kearah Jenny yang disampingnya.


"Dengar, Din sebenarnya dari awal aku ketemu dengan mu, aku mengenal wajahmu seperti wajah mama Sari. Aku langsung berpikir, mungkin kamu adalah anak mereka yang hilang. Aku langsung ingin dekat dengan mu, aku ingin mengenalmu. Sifat yang kamu miliki sangat mirip dengan mama, kepintaran mu sama seperti papa. Jadi aku memutuskan, aku ingin mengundang mu kerumah supaya orang tua ku melihatmu." Jenny melihat Dina tampak serius mendengarnya.


Jenny menarik nafasnya dalam-dalam sebelum dia melanjutkannya.


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ

__ADS_1


Maaf ya teman-teman baru bisa up. Untuk teman-teman yang masih setia pada karya, saya terima kasih, tapi kalau sudah mampir tolong jangan lupa kasih jejaknya ya dan kalau ada kesalahan tolong beri tahu saya ya. Thanks๐Ÿ™๐Ÿป


__ADS_2