
"Dan, dari dalam kotak ini sangat bau amis tuan" terang bibi lebih jelas lagi. Toni jadi bertambah penasaran. Toni jadi teringat Gio meminta mereka dijemput sekarang dan saat penjemputan mereka harus dijaga bodyguard. Toni langsung mengambil kotak itu dari tangan bibi. Dia langsung kembali duduk di kursi, saat dia mencium kotak itu ada bau amisnya walaupun tidak menyengat kali. Toni langsung membukanya ternyata ada foto Dina yang sudah dihancurkan dan ada noda darah, sama seperti yang dikirim seseorang pada Dina melalui SMS.
"Siapa yang berani meneror menantu ku?" emosi Adi setelah melihatnya dengan berteriak. Sedangkan Toni tetap bersikap tenang. Mendengar suara teriak dari Adi Jaya, Cantika yang sedang didapur membantu memasak, dia langsung berlari keruang kerja suaminya. Dia langsung mendekati suaminya.
"Pa, kenapa berteriak?" Adi tetap diam, Cantika langsung beralih pandangannya dengan kotak yang di meja, Cantika sangat terkejut isi kotak itu. Dan dia langsung menangis.
"Pa, siapa yang ingin menyakiti menantu kita? Sekarang bagaimana mereka?" tanya Cantika dengan cemas sambil memukul lengan suaminya. Adi langsung memeluk erat Cantika supaya tenang.
"Toni apa kamu sudah menyuruh orang untuk menjemput mereka?" Tanya Adi.
"Sudah, om. Saya baru dapat pesan dari Gio, mereka sudah naik jetnya" Toni langsung menghubungi seseorang untuk menyiapkan bodyguard yang sudah ahli untuk disiapkan di bandara.
***
Gio melihat Dina masih tidur dalam dekapannya, karena dia membawa Dina keluar hotel saat Dina masih tidur, Setelah 4 jam Dina tidur, dia mulai membuka matanya. Saat dia membuka matanya dia melihat bukan didalam kamar hotelnya, dan dia melihat suaminya tidur disampingnya sambil memeluknya. Gio merasakan Dina yang bergerak dari pelukannya. Dia langsung membuka matanya.
"Kamu sudah bangun, sayang?" tanya Gio pada Dina dengan lembut sambil melonggarkan pelukannya. Dina langsung bangkit duduk sambil melihat sekelilingnya,
"Kenapa kita di pesawat, kak?" tanya Dina sambil menatap Gio dengan bingung. Gio pun langsung bangkit untuk duduk dari tidurnya.
"Kita perjalanan pulang sayang" ucap Gio dengan lembut.
"Bagaimana kita bisa sampai disini?" tanyanya lagi.
"He..he..he..Tentu saja aku gendong sayang, aku tidak mau membangunkan mu"
"Owh. Dina lapar" ucapnya dengan wajah memelas.
"Baiklah, sebentar kakak suruh mereka membawa makanan untuk,mu." Gio pun langsung menghubungi pramugari untuk membawa makanan dan minuman.
__ADS_1
Selang beberapa menit, makanannya datang. Mata Dina sangat berbinar dengan makanannya yang sudah datang. Dina langsung memakan makanannya dengan lahap. Gio sangat gemas melihat Dina yang selera makannya kembali.
"Pelan-pelan makannya sayang, tidak akan ada yang merebut makananmu" ucap Gio sambil membelai rambutnya Dina. Dina hanya tersenyum membalas perkataan Gio.
Sesudah makan, Dina duduk membaca majalah yang didekatnya, sedangkan Gio sibuk dengan HP nya. Karena dia lagi menghubungi Toni bertanya tentang bodyguard mereka. Dina merasakan matanya yang mulai lelah, dia melihat suaminya yang disampingnya kemudian memeluk pinggang suaminya sambil mencium bau badan suaminya. Dia sangat bingung sangat menyukai bau badan Gio.
"Kak, kita tidur dulu yuk" ucap Dina dengan manja. Gio tersenyum melihat tingkah Dina. Gio langsung menganggukkan kepalanya. Merekapun langsung merebahkan tubuhnya. Dina tetap memeluk Gio, Gio pun juga memeluk Dina sehingga tangan Gio yang jadi bantalan kepala Dina dan kepala tepat di dada Gio. Gio merasa geli Dina sekali-kali mencium bau badannya.
"Kenapa, terus mencium badan ku sayang? Bau keringat, loh tubuh ku" tanya Gio dengan tersenyum.
"Aku tidak tahu, kak. Sepertinya bagiku, bau badan kakak sangat harum" ucap Dina yang masih setia memeluk tubuh Gio. Gio tersenyum mendengarnya, karena dia tahu ini adalah efek saat ini karena Dina lagi hamil.
Gio belum memberitahu Dina kalau dia lagi hamil, dia Inging Dina di periksa dulu sama dokter kandungan setelah mereka sampai dirumah.
***
Setelah 16 jam lebih mereka di pesawat, saat mereka keluar dari pesawat, mereka sudah disambut Toni dan bodyguard. Mereka pun langsung masuk ke mobil dan diikuti beberapa mobil
"Kak, kenapa banyak penjagaan?" tanyanya dengan wajah yang masih bingung. Gio langsung menggemgam tangan Dina sambil tersenyum.
"Untuk penjagaan saja sayang, aku tidak mau terjadi hal yang buruk pada kalian!"
Dina jadi tambah bingung apa maksud dari Gio dengan kata kalian,
'Apa maksud kak Gio, kalian? Apa kalian itu maksudnya seluruh keluarga?' gumamnya dalam hati.
"Sepertinya orang yang meneror mu tidak takut. Dia sudah semakin berani meneror mu Sampai kerumah" terang Gio lagi. Dina sangat kaget Gio tahu kalau dia sedang diteror.
"Kalian sudah, tahu?" tanyanya dengan suara pelan. Gio hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dengar sayang setiap apapun kamu harus beritahu kakak, jangan pernah ada yang disembunyikan. Kamu adalah tanggung jawab,ku sekarang dan kamu sumber kebahagian ku" ucap Gio sambil mengelus wajah Dina dengan lembut. Dina merasa bersalah karena sudah menutupi sama suaminya apa yang dialaminya. Dina langsung memeluk Gio dari samping sambil meneteskan air matanya. Gio hanya tersenyum dan mengelus rambut Dina dengan penuh kasih sayang sambil membalas pelukan Dina. Toni yang jadi supir mereka sangat senang melihat kebahagian mereka.
"Toni, suruh Figo kerumah" perintah Gio.
"Baik"
Setelah satu setengah jam mereka sampai dirumah. Orang tua mereka dua dan para sahabat Dina dan sahabat Gio termasuk Figo yang sudah menunggu kedatangan mereka. Dina langsung memeluk mereka semua. Dina sangat kaget ada dua orang yang belum dikenalnya. Gio terkejut Joni dan Tasya datang kerumahnya. Gio melihat wajah Dina yang bingung melihat sahabatnya itu.
Gio langsung memeluk pinggang Dina.
"Sayang ini Joni dan Tasya sahabatku. Mereka kemarin tidak datang kepermukaan kita karena mereka ada pekerjaan di LA" ucap Gio.
"Hai, Dina saya Tasya sahabat Gio" sapa Tasya sambil mengulurkan tangannya, Dina membalasnya
"Dina, kak"
"Kalau saya Joni, sahabatnya yang paling keren" sambil mengulurkan tangannya
"Dina, kak"
"Wah, tangan kamu lembut ya. Kamu canti lagi" goda Joni, Tasya langsung mencubit pinggang Joni karena menggoda Dina. Sedangkan Gio menatap tajam Joni yang telah berani menggoda istrinya, Gio langsung mengeratkan pelukannya di pinggang Dina.
"AW. Sakit, loh beb" ucap Joni sambil mengelus pinggangnya yang bekas cubitan Tasya.
"Makanya, jangan menggoda Dina" ucap Tasya sangat kesal.
"Iya, beb sorry. Hanya bercanda" ucap Joni yang masih merasa sakit. Sedangkan yang lainnya hanya ketawa melihat Joni yang merasa kesakitan padahal tubuhnya sangat besar. Dina juga ikut tertawa jadinya.
"Maaf, ya. Kami kemarin tidak bisa hadir di pernikahan kalian. Ini kado untuk kalian" ucap Tasya tersenyum lembut kepada Dina sambil memberikan kado mereka.
__ADS_1
"Terimakasih, kak" ucap Dina dengan lembut.
🌸🌸🌸🌸🌸