
Gio membawa Dina kedalam kamar yang dekat ruangan ballroom, tempat pestanya berlangsung. Yang lainnya juga pada mengikuti dari belakang. Dina sangat bingung karena mereka sudah berjalan melewati ruangan pesta.
"Mas, kita mau kemana?" tanya Dina.
"Kamu harus diperiksa dulu. Kalau hasilnya yang mengharuskan kamu untuk istirahat, kita akan pulang langsung" jelas Gio
"Tapi.." ucapan Dina langsung terpotong oleh Gio.
"Tidak ada bantahan sayang" ucapan Gio dengan tegas. Dina langsung terdiam, karena melihat wajah suaminya tampak dengan tegas.
Dina sudah duduk ditepi tempat tidur yang didalam kamar, teman mereka hanya diam saja.
"Toni beri tahu Tasya untuk memeriksa Dina sebentar" perintahnya. Toni pun langsung melaksanakannya. Semuanya hanya diam saja, karena mereka yakin saat ini Gio sangat mencemaskan Dina.
***
Tasya masuk kedalam ruangan kamar yang dekat dengan ruangan pesta pernikahannya dengan cemas dan dibelakangnya tampak Joni dan Toni juga cemas yang buruk pada calon keponakan mereka. Semuanya langsung memberi ruang untuk Tasya supaya dia leluasa untuk memeriksa Dina.
Tasya langsung periksa Dina, Karena.
"Bagaimana, sya?" tanya Gio
"Semuanya baik - baik saja"
"Terimakasih, kak. Maaf sudah mengganggu acara kakak dan kak Joni" ucap Dina dengan merasa bersalah karena telah mengganggu acara mereka.
"Tidak apa - apa, Din. Kami kembali dulu, ya"
Tasya, Joni dan yang lainnya kembali duluan kedalam ruangan, yang tinggal hanya didalam ruangan Gio dan Dina. Setelah Dina minum dan makan dengan disuap oleh Gio baru mereka kembali keruangan pesta.
***
Setelah pesta Toni dan Bram datang ke kantor polisi, mereka memberi semua bukti dari CCTV untuk kejahatan Maya dan dua orang suruhannya.
Disaat mereka memberikan bukti, kedua orang tua Maya datang kekantor polisi. Mereka kaget disana ada Bram, dan disamping Bram ada Maya.
"Maya, apa yang terjadi, sayang?" Tanya Rani pada Maya dengan menangis. Maya yang mendengar suara mamanya, dia langsung menangis dan lari ke pelukan mamanya. Rani memeluk anaknya dengan membelai lembut kepala Maya
"Sayang, kenapa begini?"
__ADS_1
"Maaf, ma. Maya semuanya karena kebencian Maya pada Dina" ucapnya sambil menangis. Ketika dia melepaskan pelukan mamanya, dia melihat kearah papanya.
"Papa" ucap Maya yang masih menangis.
Prak...Prak...
Terdengar suara tamparan keras di pipi mulus Maya. Semua yang ada dikantor polisi kaget apa yang dilakukan Ray pada putrinya, terutama Bram sangat kaget karena setahu dia Ray sangat mencintai putrinya. Rani sang mama yang melihat putrinya ditampar depan umum menangis dan langsung memeluk putrinya.
"Papa sudah peringatkan kamu jangan buat ulah lagi!" teriak Ray. Maya semakin menangis papa nya sekarang benar - benar murka padanya.
"Sekarang tidak ada satupun yang akan membebaskan, mu dari sini. Terimalah akibat perbuatan,mu. Sayang kita pulang!" ucap Ray sambil menarik tangan istrinya. Tapi Rani langsung menghempaskan tangan Ray dari tangannya. Ray sangat kaget tangannya dihempas.
"Aku tidak akan meninggalkan putri ku disini sendiri" ucap Rani sambil menangis dengan memeluk erat putrinya.
"Akh..." teriak Ray kesal karena istrinya menolak pulang bersamanya sambil mengusap mukanya dengan kasar. Bram langsung menghampiri Ray untuk menenangkannya.
"Tenang, om." ucap sambil memegang pindah Ray.
"Bram, kasih tahu kami apa sebenarnya yang terjadi. Dan siapa yang disakiti Maya lagi?" tanya Ray. Bram langsung mengajak Ray untuk duduk. Setelah duduk Bram menceritakan semuanya, dan siapa yang disakiti Maya lagi saat ini.
Ray jadi semakin marah, ternyata Maya masih mengganggu anak menantu dari sahabatnya. Ray langsung bangkit dan ingin memukul Maya, tapi dihalangi Rani. Rani langsung membentangkan tubuhnya untuk Maya.
"Tenang, pak Ray. Ini kantor polisi tolong jaga sikap anda" kata seorang polisi yang ada dalam ruangan itu.
Rani yang mendengar nama sahabatnya itu, langsung kaget.
"A..Adi Jaya? Apa maksud kamu, mas?" tanya Rani dengan gugup.
"Maaf, nyonya Yang disakiti putri anda adalah menantu dari keluarga Adi Jaya" ucap Toni yang dari tadi diam memperhatikan semuanya. Rani yang mendengar nama sahabatnya itu langsung lemas.
***
Dina dan Gio sudah pulang kerumah mereka. Semua para sahabatnya juga ikut kerumah Gio. Orang tua Dina Soni dan Sari juga datang kerumah Gio. Karena dia dapat kabar dari Jenny, bahwa Dina diserang sama orang yang selama ini mengancam Dina. Mereka langsung cemas keadaan putrinya dan calon cucu mereka.
Sesampai dirumah Gio langsung membawa Dina untuk istirahat. Dina, pun langsung mengikuti perintah suaminya. Karena dia tahu saat ini Gio tidak bisa dibantah karena dia sangat kuatir dengan kesehatan Dina dan calon bayi mereka. Sahabat mereka dan orang tua Dina memilih untuk tinggal dirumah Gio.
***
Setelah Ray dan Rani mendapatkan info tentang apa yang terjadi, Ray mengajak Rani untuk pulang dulu karena sudah malam. Sebenarnya Rani tidak mau pulang, karena Ray sudah berjanji mereka akan pergi kerumah Adi untuk menyuruh Gio mencabut tuntutan mereka pada Maya, barulah dia mau ikut pulang. Bram dan Toni sudah lebih dulu pulang setelah menjelaskan semuanya, mereka langsung pulang kerumah mereka masing - masing.
__ADS_1
Gio melihat Dina sudah tertidur, Gio langsung ke balkon kamarnya dan menghubungi Toni.
"Bagaimana semuanya? Aku mau kali ini jangan sampai dia bisa bebas lagi!" ucap Gio pada Toni ditelepon.
"Baik. Tapi sepertinya, mendengar nama om Adi mereka sangat terkejut. Sepertinya mereka punya hubungan"
"Aku tidak peduli."
"Baiklah. Tenang saja semuanya sudah beres"
"Terimakasih. Besok pagi datang kemari langsung"
"Oke" Gio dan Toni pun langsung mengakhiri pembicaraan mereka. Gio langsung masuk kedalam untuk tidur bersama Dina. Dia langsung memeluk istrinya dengan erat dari belakang, Dina yang merasakan tubuhnya, langsung memutar tubuhnya. Sehingga mereka saling berhadapan, Dina membalas pelukan Gio, dia langsung menenggelamkan wajahnya di dada Gio. Tak butuh lama Gio pun langsung bergabung dengan Dina kedalam mimpi.
***
Di pagi hari semuanya sarapan bersama dengan penuh canda tawa. Selesai sarapan mereka kumpul ditaman belakang rumah keluarga Adi. Toni dan Bram juga sudah bergabung bersama mereka.
Ray dan Rani berkunjung kerumah Adi Jaya. Mereka berharap mereka mau melepaskan tuntutan mereka pada putri mereka.
Tok...Tok...Tok...
Bi Minah pembantu keluarga Adi Jaya yang membuka pintu.
"Maaf, mau cari siapa?"
"Maaf, bi. Kami mau cari Adi dan Cantika. Apa mereka ada? Kami teman lama mereka" ucap Ray dengan lembut.
"Oh, ada pak. Silahkan masuk dulu" Ray dan Rani langsung duduk diruang tamu keluarga Adi Jaya.
"Sebentar saya panggilkan tuan dan nyonya, soalnya mereka semua lagi kumpul dibelakang" ni Minah langsung pergi ke taman belakang, tapi langsung berhenti karena Ray memanggilnya.
"Tidak, usah bi. Kalau boleh kami saja yang kebelakang."
"Boleh pak, bu. Mari saya antar" Ray dan Rani langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti bibi Minah. Saat mereka berjalan, mereka melihat banyak foto - foto mereka sewaktu persahabatan mereka masih erat dan Rani juga melihat foto pernikahan Gio bersama seorang wanita yang tidak asing bagi mereka wajahnya.....
πΈπΈπΈπΈ
Maaf, teman - teman saya baru bisa up. Soalnya saya masih repot memperbaiki episode sebelumnya akibat typo dimana - mana. Terimakasih ππ»
__ADS_1