
Rani dan Ray melihat foto pernikahan Gio dengan wanita yang sangat cantik dan tidak asing bagi mereka. Mereka saling pandang.
"Bi, maaf apa itu foto pernikahan Gio?" tanya Ray. Bi Minah yang mendengarnya langsung menghentikan langkahnya dan melihat kearah mereka lalu melihat kearah foto yang mereka tanyakan.
"Benar, pak" jawab Bi Minah
"Siapa namanya?" tanya Rani
"Nama istri tuan muda nona Dina, bu." Rani dan Ray hanya bisa saling pandang. Mereka berpikir itu foto sahabat mereka yang bernama Sari.
Mereka pun melanjutkan langkahnya, sampai dihalaman belakang mereka mendengar suara orang lagi senda gurau.
"Permisi, tuan, nyonya ada tamu. Katanya teman lama tuan dan nyonya" ucap bibi Minah. Ray dan Rani muncul dari belakang bibi Minah. Mereka berdua tersenyum ramah.
"Hay Adi, Cantika lama kita tidak ketemu!" ucap Ray. Adi dan Cantika yang melihat mereka sangat terkejut, begitu juga dengan Soni dan Sari.
Ray dan Rani jadi terdiam setelah melihat yang disamping Adi. Mereka melihat ternyata ada Soni dan Sari berkunjung kerumah Adi.
"Silahkan duduk dulu. Kita sudah lama tidak jumpa" ucap Adi setelah dia mengendalikan wajahnya. Begitu juga dengan istrinya, Sari dan Soni. Sedangkan anak muda yang hanya bingung melihat ekspresi wajah orang tua mereka semua.
Ray dan Rani langsung duduk di bangku yang kosong. Rani melihat wajah yang sangat mirip dengan Sari disampingnya dan juga tangan wanita itu sedang digenggam Gio.
"Sepertinya ada yang sangat penting kalian datang kemari." ucap Adi dengan dingin. Karena dia masih ingat akibat perbuatan sahabatnya itu dia hampir kehilangan sahabatnya yang lain. Ray sadar sampai saat ini sahabat mereka belum memaafkan dirinya dan Rani. Ray langsung melihat kearah Gio yang lagi menggemgam tangan wanita yang sangat cantik dan sangat mirip dengan Sari yang duduk disamping wanita itu. Adi yang melihat kearah pandangan Ray, dia langsung mengenalkan menantu kesayangannya.
"Aku yakin kamu sudah kenal dengan anak kami Gio, dan yang disampingnya adalah istrinya Dina"
"Saya Dina om, Tante" ucap Dina sambil menyalami tangan mereka dengan sopan.
"Dina adalah anak dari Sari dan Soni" Sari dan Soni langsung memberi senyum yang agak canggung. Ray langsung mengerti, karena wajah Dina tidak asing bagi mereka. Berbeda dengan Rani wajahnya sangat terkejut, dia tidak menyangka wanita itu anak kandung dari Sari dan Soni.
__ADS_1
"Bukannya anak mereka menghilang? Kenapa bisa?" gumamnya dalam hati.
"Sekarang katakan ada perlu apa kalian datang? Aku yakin pasti ada hal yang mendesak, soalnya kita tidak pernah berhubungan lagi" ucap Cantika dengan ketus. Sari dan Soni hanya diam saja. Mereka tidak mau ikut campur. Ray mendengar perkataan sahabatnya yang sangat ketus, masih mengerti, beda dengan Rani yang mendengarnya sangat sakit.
"Kenapa kalian sepertinya tidak suka kami datang? Apa karena mereka sudah jadi besan kalian?" tanya Rani yang sudah mulai kesal.
"Ingat sayang jangan buat keributan" ucap Ray mengenakan istrinya. Bram dan Toni langsung mengerti maksud kedatangan mereka.
"Om dan Tante kenapa kemari? Apa ada hubungannya dengan Maya?" tanya Bram dengan serius. Semuanya langsung melihat kearah Bram, mereka sangat bingung kenapa Bram bisa bawa nama Maya dihadapan mereka.
"Bram kamu disini?" tanya Ray dengan tatapan bingung. Mereka tidak sadar ternyata Bram ada disana.
"Iya, om. Saya sahabat Dina dan pacar dari Jenny anak dari om Soni dan Sari" Ray dan Rani sangat kaget. Mereka baru sadar pantas saja Bram ada dikantor polisi dan juga sebagai saksi.
"Apa benar om dan Tante kemari karena ada hubungannya dengan Maya?" tanya Bram sekali lagi. Ray hanya menghela nafas panjang.
"Kami minta tolong pada nak Gio, tolong cabut tuntutan kamu dengan anak kami Maya"
"Tunggu dulu. Apa hubungannya anak kami dan anak kamu Maya?" tanya Cantika karena dia dan yang lainnya pada tidak mengerti.
"Tante, Maya itu yang selama ini meneror Dina, dan yang menculik Dina kemarin dan Maya juga lah yang menyuruh orang untuk melecehkan Dina dulu!" ucap Nayla dengan kesal.
"Jadi anak kamu yang membuat menantu kami menderita?" Cantika terkejut mendengarnya. Sedangkan Sari yang mendengar Dina pernah dilecehkan menangis.
"Kenapa anak kalian begitu jahat pada anak kami?" tanya Sari sambil menangis. Soni langsung memeluk istrinya karena menangis.
Ray dan Rani hanya bisa menundukkan wajahnya karena malu mendengar perbuatan anaknya.
"Sekarang apa maksud om dan Tante saya ingin membebaskan anak kalian? Dulu aku membiarkannya bisa bebas dengan mudah. Kali ini aku tidak akan membiarkannya. Apa kalian tahu akibatnya jika aku tidak cepat sadar kalau istri aku hilang?" tanya Gio dengan suara yang keras.
__ADS_1
"Kami tahu dia Maya sudah kelewatan, kami janji dia tidak akan menyakiti Dina lagi" ucap Ray
"Tidak, bisa. Anak kalian sudah kelewatan. Gio jangan pernah biarkan anak mereka bebas" ucap Soni dengan tegas karena dia tidak mau dia akan kehilangan anaknya kedua kalinya.
"Soni, tolong maafkan putri, kami" ucap Rani dengan wajah sedih. Sari terus menangis, dia tidak menyangka Dina mengalami hal yang paling sulit.
"Apa Tante tahu waktu dulu akibat dari ulah Maya, Dina pernah hampir bunuh diri" ucap Gio sambil emosi karena mengingat kejadian Dina yang mencoba bunuh diri.
"Aku juga tidak setuju Maya bebas begitu saja" ucap Cantika dengan emosi karena dia dari tadi mendengar menantunya sangat menderita dulu.
"Dina, saya minta tolong maafkan anak kami Maya" ucap Ray memohon pada Dina, karena dari tadi Dina hanya diam saja.
"Jangan pernah menghasut putri kami untuk supaya membebaskan anak kalian!" ucap Soni dengan tegas. Dina melihat kali ini papanya sangat marah.
"Anak kalian pantas didalam penjara" sambung Soni lagi.
"Cukup!" teriak Rani bangkit dari tempat duduknya yang dari tadi menahan kalau putrinya dihina
"Kami datang kesini baik - baik, tapi kalian!" ucap Rani sambil menunjuk mereka semua. Ray langsung menarik tangan istrinya.
"Tenang, ma." bujuk Ray. Rani langsung menghempaskan tangan Ray. Semuanya kaget melihatnya.
"Kamu diam, mas. Aku dari tadi sudah menahan emosi, ku mendengar mereka menjelekkan putri, ku." teriak Rani pada Ray.
"Aku yakin kenapa anak ku bisa menyakiti anak kalian. Pasti anak kalian yang duluan menyakiti anak, ku. Sari tidak cukup, kamu sudah merebut Soni dari, ku? Apa kamu juga mau memisahkan aku dengan putri, ku?"
"Sari tidak pernah merebut aku dari kamu Rani! Kamulah yang meninggalkan ku, karena tidak bisa hidup sederhana bersama, ku. Dan kamu lebih memilih hidup bersama sahabat ku, karena dia kaya!" ucap Soni dengan suara yang keras. Ray hanya diam saja menahan amarahnya karena Rani ternyata masih memiliki rasa bersama Soni.
🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1