
Dina mulai sadar, perlahan-lahan matanya mulai terbuka. Matanya menangkap cahaya lampu dimatanya, dan dia melihat sekelilingnya seluruh keluarga dan sahabatnya duduk di sofa sambil tertidur. Saat dia ingin mengerakkan tangannya, dia merasakan sangat berat. Dina langsung mengalihkan pandangannya kesamping. Dia melihat suaminya tertidur disamping dengan menggenggam tangannya. Dina pelan-pelan menarik tangannya dari Gio. Setelah lepas, Dina mengelus rambut suaminya dengan penuh kasih sayang sambil tersenyum.
Gio yang merasakan sentuhan di kepalanya, perlahan-lahan dia membuka matanya. Dia melihat Dina tersenyum padanya.
"Sayang, kamu sudah sadar?" ucap Gio sambil mencium tangan Dina yang sudah digenggamnya lagi. Dina hanya menganggukkan kepalanya. Keluarganya yang tidur, terbangun mendengar suara Gio yang agak kuat. Semuanya melihat Dina yang sudah sadar. Mereka langsung mendekati Dina. Sonni langsung memanggil dokter untuk memeriksa putrinya.
Semuanya sedikit menyingkir dari tempat tidur Dina, supaya Figo bisa memeriksanya.
"Dina baik-baik saja. Hanya tinggal pemulihan tenaganya saja, 2 hari lagi nyonya sudah bisa pulang" jelas dokter pada seluruh keluarga Dina
"Terimakasih dok" ucap Gio.
Setelah dokter pergi, semuanya bergantian memeluk Dina, tapi hanya wanita saja yang diperbolehkan Gio, para pria tidak boleh kecuali ayah mertuanya dan ayahnya. Semuanya hanya ketawa saja melihat tingkah Gio.
"Mas, kemana putra kita?"
"Sebentar sayang aku akan menyuruh suster membawanya" Akhirnya seorang suster membawa bayi yang sangat tampan. Suster langsung memberikan pada Dina. Din sangat senang melihat putranya sangat sehat.
"Aku sangat kesal, mas" ucap Dina sambil melihat kearah bayinya yang tersenyum karena Dina memainkan pipinya yang melihat chubby. Gio sangat bingung kenapa istrinya sangat kesal.
"Kenapa sayang? Apa ada yang salah?" tanya Gio.
"Tentu saja ada yang salah! Aku yang melahirkannya tapi kenapa wajah sangat mirip denganmu, mas? Kenapa sedikitpun tidak ada yang mirip dengan, ku?" ucap Dina sambil mengecut kan bibirnya. Keluarga mereka ketawa mendengar kata-kata Dina.
"Tentu saja dia mirip aku. Aku yang membuatnya sayang" ucap Gio sambil memeluk Dina. Dina memukul lengan Gio karena ucapan Gio, membuat dia semakin malu. Semuanya ketawa melihat tingkah Gio dan Dina.
"Sudah kalian ini membuat menantu cantik, ku jadi malu. Nak, apa kalian sudah menyiapkan nama untuk cucuku?" ucap Cantika yang berdiri disamping Adi.
"Sudah, ma. Kami sudah menyiapkan namanya. Kami beri dia nama Prince Jaya" ucap Gio sambil mengelus wajah putranya yang tersenyum, yang seakan dia sangat senang nama yang diberikan orang tuanya. Semuanya bergantian menggendong baby Prince, wajahnya yang chubby membuat orang sangat gemas padanya. Apalagi Prince dari tadi tidak ada rewel, dia selalu saja senyum dan ketawa seakan dia sudah mengerti apa yang dikatakan pada orang dewasa tentangnya. Gio dan Dina sangat bahagia melihat banyak orang yang sayang pada putra mereka.
__ADS_1
Akhirnya Dina diijinkan pulang, Gio yang menjemputnya dengan dibantu Toni dan Nayla. Seluruh keluarga dan para sahabat mereka sudah menunggu Dina dikediaman keluarga Adi Jaya. Mereka membuat pesta kecil menyambut kepulangan Dina dan sang penerus keluarga raja bisnis Adi Jaya.
Akhirnya mobil mereka sampai didepan rumah mereka, Dina menggendong baby-nya keluar dari mobil, sedangkan Gio membawa barang-barang Dina. Saat mereka membuka pintu, mereka sangat terkejut semua keluarga dan para sahabat mereka menyambutnya dengan meriah, hanya keluarga Ray dan Satria yang belum datang.
"Selamat datang kembali" teriak kompak semuanya. Dina sangat senang semuanya ada dirumahnya untuk menyambut Dina dan baby-nya.
"Sayang, ayok masuk." ucap Cantika sambil merangkul Dina.
Didalam semuanya tampak bahagia, semua yang ada tampak berebut menggendong baby Prince. Selesai mereka ngobrol, mereka makan siang bareng.
"Oh, ya Jenn bagaimana persiapan pernikahan kalian?" tanya Dina.
Sebulan yang lalu setelah Bram melamar Jenny, keluarga Bram datang kerumah Keluarga Soni untuk melamar Jenny. Soni dan Sari sangat senang putri mereka akan menikah, meskipun Jenny bukan anak kandung mereka tapi mereka ingin Jenny menikah dengan sangat meriah. Sama seperti pernikahan Dina. Mereka tidak ingin membeda-bedakan. Orang tua mereka sepakat mereka akan menikah setelah satu bulan lamaran. Jadi, pernikahan Jenny tinggal seminggu lagi.
"Semuanya lancar, persiapannya juga sudah 90%" ucap Jenny.
"Apa Maya dan kak Satria tidak datang?" tanya Dina yang lagi asik menggendong baby Prince pada Gio.
Tak butuh lama, yang dicari Dina muncul juga. Ray, Rani dan orang tua Satria juga ikut datang bersama karena Ray mengajak mereka bersama.
"Wah sepertinya kami sudah terlambat" ucap Ray. Serentak semua yang ada duduk dimeja makan menoleh ke sumber suara.
"Ray, Rani akhirnya kalian datang" ucap Soni. Para orang tua saling berpelukan, karena mereka sudah lama tidak berkumpul karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Selamat untuk kalian sudah menjadi kakek dan nenek" ucap Rani. Mereka serentak ketawa.
"Terimakasih. Sebentar lagi giliran kalian" ucap Cantika. Gio dan Dina memberi salam kepada Ray, Rani dan orang tua Satria.
"Selamat ya, sayang untuk kalian." ucap Rani sambil memeluk Dina. Rani melihat baby Prince.
__ADS_1
"Hai, sayang gemasnya nenek melihat mu" ucap Rani sambil mencium pipi chubby baby Prince. Baby Prince ketawa melihat Rani, seakan dia mengerti apa yang dikatakan Rani.
"Dina selamat, ya" ucap Maya sambil cipaka cipiki dengan Dina.
"Selamat untuk kalian" ucap Satria sambil memeluk Gio ala pria.
"Terimakasih May, kak Sat. Kalian sudah datang" ucap Dina.
"Maaf, ya kami tadi ada urusan bentar" jelas Maya.
"Ah, gemasnya melihat kamu sayang" ucap Maya sambil mencium pipi baby Prince.
***
Para orang tua ngobrolnya berpisah ngobrol dengan anak muda. Semuanya tampak bahagia.
"May, kak Juna dimana?" tanya Jenny karena tidak melihat Juna datang bareng bersama mereka.
"Kak Juna lagi banyak kerjaan. Jadi, dia hanya titip salam saja. Juga katanya, dia tidak tahan kalau kumpul dengan kita. Kita pasti bergandengan tangan dengan pasangan masing-masing sedangkan dia tidak ada. Hahaha" ucap Maya. Semuanya pada ketawa mendengar penjelasan Maya.
"Lagian ngapain sih kak Juna betah sendiri?" tanya Jenny.
"Katanya, sih dia masih ingin fokus dengan kerjaannya. Lagian juga, kak Juna sangat susah dengan perempuan" terang Maya. Maya melihat mengingat tingkah kakaknya membuatnya sangat geram.
Juna memang pria yang sangat tampan, sebenarnya banyak perempuan yang suka dengannya. Tapi tidak satupun yang menarik baginya. Juna lebih fokus dengan pekerjaannya. Kalau sudah bekerja seperti tidak mengenal waktu. Sampai-sampai Juna sering melewatkan makan siangnya. Maya mengetahui semuanya karena Maya selalu bertanya pada sekertaris Juna apakah Juna sudah makan apa belum.
"Kenapa Kak Juna tidak dijodohkan sama om dan Tante, Mau?" tanya Dina.
"Dia tidak mau. Katanya sih, bisa cari sendiri" ucap Maya. Mengingat perkataan kakaknya kalau kakaknya tidak mau dijodohkan.
__ADS_1
**Terimakasih untuk masih setia membaca karya saya. Tolong jangan lupa kasih jejaknya, ya...
Teman-teman sekedar info mungkin novel saya ini tinggal beberapa episode lagi, ya**.