
"Tidak apa-apa, mas. Mas sudah makan?" Dina sangat kuatir suaminya belum makan malam. Dia tahu kalau suaminya lagi banyak kerjaan, pasti dia akan mengabaikan makanannya.
"Mas, lebih suka memakan kamu" ucap Gio sambil mengecup bibir tipis istrinya.
"Ehm, mas.." Dina sudah tidak bisa bicara karena Gio tidak memberinya untuk bicara. Dina berusaha ingin terlepas dari Gio. Tapi, disaat Gio terus me***** istrinya, terdengar suara tangis Prince, Gio langsung menghentikannya. Dina langsung mendorong tubuh Gio dari atas tubuhnya. Dina melihat putra terbangun, Dina langsung menggendong Prince. Gio yang melihatnya sangat kesal.
"Aku merasa iri dengannya. Kamu selalu mengutamakan dia. Sepertinya aku punya saingan berat setelah anak kita datang!" ucap Gio yang masih duduk ditepi tempat tidur mereka. Dina yang mendengar ocehan suaminya melihat kearah suaminya, dan duduk ditempat tidur. Dina langsung memberi anaknya Asi. Dina masih menatap suaminya. Gio sadar saat ini istrinya menatapnya dengan tajam karena perkataannya.
"Kenapa mas menjadikan anak kita jadi saingan mas. Mas, ini ada-ada saja. Sudah mandi dulu sana, Dina akan menemani mas makan malam" ucap Dina dengan kesal karena suaminya menjadikan anak mereka menjadi saingan.
"Baiklah istri, ku yang cantik. Cup" Ucap Gio sambil mengecup pipi istrinya itu. Dina langsung tersenyum malau karena gombalan Gio, dia lupa kalau dia kesal karena perkataan suaminya.
Setengah jam Gio menyelesaikan tubuhnya. Saat Gio keluar kamar mandi yang sudah berpakaian lengkap, melihat putranya sudah kembali tidur ditempat tidurnya, dan dia melihat istrinya tidak ada dalam kamar. Gio langsung turun kebawah. Karena saat ini pasti Dina lagi menyiapkan makan malam untuknya.
Saat dia turun, Gio langsung kearah meja makan. Di sana dia melihat Dina lagu menyiapkan makan malam untuknya. Gio langsung memeluk pinggang istrinya dari belakang, dan kepalanya terletak di bahu istrinya. Dina merasakan dua lengan kekar memeluk dirinya membuat dia berhenti. Dina tahu kalau itu adalah suaminya dan Dina langsung mengecup pipi suaminya itu.
"Ayuk, makan dulu mas!" ucap Dina sambil tangannya sebelah kiri menyentuh pipi suaminya. Di dapur tidak tampak pembantu satu orang, pun. Karena Dina menyuruh mereka istirahat saja, dia ingin dirinya sendiri yang melayani suaminya. Kepala Gio yang masih dibagi istrinya hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum. Gio pun langsung duduk dimeja makan. Dina menyajikan makanan untuk suaminya. Saat Dina ingin duduk duduk didepan suaminya, Gio langsung menarik tangan istrinya.
"Duduk, disamping aku saja sayang!" ucap Gio sambil menatap mata Dina. Dina tersenyum dan sambil menganggukkan kepalanya. Dina pun duduk disamping Gio.
Setelah 15 menit Gio sudah menyelesaikan makan malamnya. Saat Dina ingin membersihkan piring suaminya. Gio langsung menggendong Dina dengan style bridal. Dina meminta Gio untuk menurunkannya.
__ADS_1
"Mas, turunkan aku! Aku belum membersihkan piring, mu!" ucap Gio sambil meronta.
"Biarkan saja bibi yang membersihkannya. Pasti saat ini kamu sudah capek. Saatnya kita tidur" ucap Gio sambil berjalan. Dina yang takut jatuh, akhirnya membuat kedua tangannya di leher Gio. Sesampai dalam kamar, Gio meletakkan Dina pelan-pelan ditempat tidur. Gio pun langsung naik ketempat tidur, Gio menarik istrinya kedalam pelukannya. Dina juga membalas pelukan suaminya, dia menenggelamkan kepalanya di dada suaminya. Dina merasakan kehangatan dan ketenangan diperlukan suaminya.
***
Tak terasa sudah 1 bulan Jenny dan Bram menghabiskan waktu mereka untuk berbulan madu. Banyak hal-hal yang manis dilakukan Bram untuk Jenny. Jenny sangat senang Bram memperlakukannya dengannya. Bram dan Jenny sudah sepakat tidak akan menunda untuk mendapatkan momongan. Mereka ingin didalam rahim Jenny tumbuh buah cinta mereka. Bram dan Jenny selalu melakukannya. Setelah satu bulan, Bram dan Jenny memutuskan untuk pulang. Karena banyak pekerjaan mereka yang sudah menanti. Bram dan Jenny memutuskan mereka akan tinggal dirumah orang tua Bram. Mereka tidak ingin membeli rumah, karena Bram tidak ingin Jenny nanti merasakan kesepian. Jenny sangat setuju. Mereka sampai ke Indonesia pagi hari.
"Sayang tidak masalahkan kita tinggal dirumah papa?" tanya Bram pada Jenny. Mereka sudah berada didalam taxi untuk menuju rumah orang tua Bram Mereka tidak mengabari siapapun atas kepulangan mereka.
"Tidak, sayang! Aku senang, lagian aku bisa ngobrol-ngobrol dirumah Maya kalau aku sendiri dirumah. Oh ya, mas 2 hari lagi pernikahan Maya dan kak Satria. Kita belum menyiapkan kado untuk mereka" ucap Jenny sambil merangkul lengan Bram, pria yang sekarang akan selalu menemaninya seumur hidupnya.
"Iya, sayang". Akhirnya mobil mereka sampai dirumah orang tua Bram. Mereka langsung mengetok pintu rumahnya, dan salah pembantu yang membuka pintu untuk mereka.
"Tuan muda dan nona muda sudah sampai" ucap pembantu yang sudah tampak kerutan diwajahnya.
"Iya, bi. Mama dan papa ada dimana, bi?" tanya Bram.
"Ada didalam tuan, lagi sarapan"
"Ya, sudah barang-barangnya langsung masukkan melamar saya ya, bi!" perintah Bram. Jenny hanya senyum saja kepada pembantunya dan dia masih merangkul lengan Bram dengan erat.
__ADS_1
"Baik, tuan!" Bram dan Jenny langsung menemui orang tua mereka di meja makan.
"Pagi ma, pa" ucap Jenny. Orang tua Bram langsung melihat kearah sumber suara. Mereka sangat kaget putra dan menantu mereka sudah pulang. Mereka langsung bangkit dari kursinya dan menghampiri mereka berdua. Bram dan Jenny langsung memeluk orang tua mereka. Jenny sudah sangat dengan mertuanya dari awal dia dengan Bram menjalin hubungan. Mamanya Bram sangat menyayangi Jenny. Dulu sebelum Jenny dan Bram menikah, mamanya Bram selalu mengajak Jenny untuk jalan-jalan bareng dengannya.
"Kenapa kalian tidak kabari mama dan papa kalau kalian pulang? Kami bisa jemput kalian dari bandara!" ucap Papanya Bram.
"Kita mau buat kejutan saja, pa!" jawab Bram.
"Ya, sudah kalian pasti belum sarapan. Kita sarapan dulu!" ajak mamanya. Merekapun makan bersama. Selesai sarapan, Bram dan Jenny pergi ke kamar mereka. Mereka sudah satu jam dikamar mereka. Setelah mandi, dan merapikan barang bawaan mereka, Bram dan Jenny menghampiri orang tua mereka. Saat mereka turun, Jenny kaget ternyata mama dan papanya sudah ada dirumah mertuanya.
"Mama, papa" ucap Jenny sambil berlari memeluk dan mencium orang tuanya. Orang tuanya sangat senang melihat wajah putrinya terpancar wajah bahagia. Bram langsung memberi salam kepada mertuanya.
"Sepertinya kalian sangat bahagia, sampai-sampai selama kalian bulan madu jarang menghubungi orang tua kalian" ucap Sari sambil melihat putri dan menantunya. Jenny sangat malu mendengar ucapan mamanya.
"Kita dulu, kami ingin tahu bagaimana acara bulan madu kalian" goda mamanya Jenny.
"Mama" ucap Jenny dengan manja kepada mamanya sambil menggandeng tangan mamanya.
Mereka pun mengobrol diruang tengah keluarga. Jenny dan Bram sangat malu setiap mendengar pertanyaan orang tua mereka. Apalagi saat mereka bertanya apakah mereka sudah membuat cucu untuk mereka. Tampak wajah bahagia dari orang tua mereka kalau mereka tidak menunda mendapatkan momongan.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1