Ada Pelangi Sehabis Hujan

Ada Pelangi Sehabis Hujan
Episode 48


__ADS_3

Akhirnya Maya mendapatkan balasan dari Satria.


πŸ“¨ "Selamat untuk perjodohannya. Tidak perlu bertanya pada, ku. Pergilah!" balasan dari Satria.


Maya membaca balasan dari Satria merasakan dadanya sangat sakit. Dia meremas dadanya, dia langsung menidurkan tubuhnya seperti anak kecil, dengan menangis Maya memeluk handphone nya.


Maya melupakan sarapannya bahkan untuk makanan siang saja dia tidak berselera. Pembantunya terus memanggil Maya untuk makan siang, tapi Maya menolaknya. Sampai hari sudah sore, Maya mendengar suara ketokan dari pintunya.


"Sayang apa kamu sudah siap-siap? kita jam 6 sore harus sudah berangkat" terik Rani didepan pintu Maya. Maya yang mendengar suara mamanya, berusaha membangkitkan tubuhnya dari tempat tidur.


"Ia, ma! Maya lagi siap-siap" teriaknya dari kamarnya.


"Baiklah, kami tunggu dibawah, ya sayang!" Rani langsung turun kebawah menjumpai suaminya dan putranya. Juna lebih awal pulang, karena dia harus ikut acara pertemuan calon adiknya.


"Kemana Maya, ma? tanya Ryan.


"Sebentar lagi dia turun, pa".


***


Maya yang sudah membersihkan tubuhnya, merasakan sakit di kepalanya. Tapi, dia berusaha menahannya dan langsung meminum obat sakit kepala yang ada di laci mejanya. Maya bercermin, wajahnya sangat pucat. Tapi dia langsung menutupi dengan sedikit riasan supaya tidak tampak.


Setengah jam dia berusia-siap. Lalu dia turun kebawah melihat orang tuanya dan kakaknya sudah menunggunya. Mendengar suara langkah dari tangga, mereka langsung menoleh melihat Maya yang sudah kelihatan cantik. Rani langsung memeluk Maya.


"Anak, mama cantik banget! Tapi, sayang kelihatan wajahmu agak pucat" ucap Rani kwartir, Maya mendengarnya sangat terkejut. Padahal dia sudah berusaha menutupi wajahnya dengan sedikit riasan.

__ADS_1


"Tidak, ma. Maya sehat-sehat saja" ucapnya berusaha tersenyum manis, padahal kepalanya terasa berdenyut lagi dia berusaha menahan rasa sakitnya.


***


Akhirnya keluarga Maya sudah tiba di restoran milik keluarga Bram, restoran bintang 5. Mereka masuk kedalam ruangan VVIP. Didalam tampak seorang wanita yang sudah berumur tapi masih kelihatan cantik, dan pria yang sudah berumur. Melihat keluarga Ray datang mereka langsung menyambutnya dengan senang.


"Ray, Rani kalian sudah datang?" ucap Pria itu.


"Max, Nifana Maaf kami telat datangnya" ucap Ray. Mereka para orang tua pun langsung berpelukan dengan ketawa.


"Oh, iya kenalkan ini putri kami Maya" ucap Ray pada calon besannya. Maya tersenyum dan mengsalami kedua tangan calon mertuanya.


"Maya ini Tante Nafina dan itu om Max" ucap Ray. Nafina langsung memeluk calon menantunya dengan mencium keningnya penuh kasih sayang.


"Kamu sangat cantik, sayang. Mama senang kamu menerima perjodohan ini!"


"Tentu saja ketika kamu sudah memutuskan menerima perjodohan ini, kami sudah menganggap kamu putri, kami. Ya, kan mas?" ucapnya sambil melirik kearah Max. Max yang mendengar tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Jangan panggil kami Tante dan om. Tapi panggil kami mama dan papa" ucap Max tersenyum. Maya mendengarnya hanya tersenyum saja.


"Ya sudah kita duduk dulu" ucap Nafina.


Maya melihat sekelilingnya tidak ada tampak anak dari Max dan Nafina. Nafina melihat calon mantunya seperti melihat sekelilingnya, dia langsung mengerti pasti Maya mencari calonnya.


"Sebentar lagi dia datang, sayang. Kami tahu putra kami sebenarnya sudah ingin bertemu denganmu tapi karena ada pekerjaannya yang penting makanya dia agak telat datang" ucap Nafina sambil tersenyum. Maya yang mendengarnya langsung malu, kalau dia ketahuan mencari pria yang akan jadi calon suaminya. Tiba-tiba kepalanya kembali lagi berdenyut. Dia menahan rasa sakitnya. Keluarganya dan kakaknya tidak tahu perubahan wajah Maya. Karena mereka asik ngobrol dengan canda tawa. Maya merasakan dingin disekujur tubuhnya, dan Maya juga mulai keluar keringat. Dia menekan keningnya berharap rasa sakit kepalanya hilang. Saat dia menahan rasa sakit kepalanya, dari pintu dia melihat sepatu seorang pria masuk kedalam menyapa mereka, Maya tidak tahan menegakkan kepalanya karena menahan rasa sakit kepalanya.

__ADS_1


"Maaf, saya lama datangnya om, Tante" ucapnya dengan tersenyum.


Maya mendengar suara pria itu, suara itu sangat tidak asing baginya. Pria itu sudah berdiri didepan Maya. Maya berusaha menegakkan kepalanya setelah rasa sakit kepalanya sudah mereda, Maya sangat kaget dan langsung bangkit dari kursinya.


Maya tidak menyangka pria itu adalah pria yang telah membuatnya menangis tadi pagi karena membaca balasan pesan darinya. Pria itu tersenyum manis pada Maya.


"Hai, May gadis manis" ucap Satria. Ya, ternyata pria yang dijodohkan ya adalah Satria. Pria yang sudah membuat Maya beberapa hari ini gelisah apalagi telah membuat dia menangis. Maya langsung melihat kearah kedua orang tuanya dan kakaknya. Maya hanya melihat wajah orang tuanya tersenyum padanya begitu juga kakaknya.


"Maaf, sayang kami tidak beritahu kalau Satria yang akan jadi calon suamimu" ucap Rani dengan tersenyum. Maya langsung melihat kearah Satria, tiba-tiba rasa sakit kepalanya kumat lagi. Maya langsung memegang kepalanya dan Maya yang sudah merasakan lemas dan pandangannya mulai redup , tubuhnya jatuh.


Tapi sebelum jatuh kelantai, Satria yang tadi sudah melihat perubahan wajah Maya yang seperti lagi menahan rasa sakit, langsung berlari dan ketika Maya jatuh dia bisa langsung menangkap tubuh Maya. Kedua orang tua mereka sangat terkejut melihat Maya pingsan.


"May, sadar! Om, Tante lebih baik kita membawa Maya kerumah sakit" ucap Satria dengan cemas. Ray hanya menganggukkan kepalanya, menangis melihat putrinya tidak sadarkan diri. Satria lah yang membawa Maya dengan menggendong ala bridal. Semuanya mengikuti Satria dari belakang.


Bram yang lagi di restorannya menyiapkan acara dinner ya dengan Jenny, melihat Satria menggendong Maya diikuti keluarga Maya dari belakang. Bram langsung menghampiri Juna, karena Juna yang paling belakang.


"Kak, Maya kenapa?" tanya Bram dengan cemas. Juna berhenti melihat Bram disampingnya.


"Dia tadi tiba-tiba pingsan. Nanti kakak kabari. Kami bawa Maya kerumah sakit dulu" ucap Juna sambil menyentuh bahu Baram. Dia tahu saat ini sahabat adiknya cemas dengan adiknya. Bram hanya menganggukkan kepalanya. Bram hanya menemani Samapi depan pintu restorannya. Melihat dua mobil melaju dengan cepat.


Satria menaiki mobil Juna, dia duduk belakang menemani Maya, Satria meletakkan kepala Maya di pangkuannya, Juna lah yang membawa mobilnya. Sedang kedua orang tua Juna naik ke mobil keluarga Satria, Max yang membawa mobilnya. Rani duduk dibelakang bersama Nafina, Rani terus menangis melihat putrinya pingsan. Nafina yang dari tadi melihat sahabatnya menangis seperti itu langsung memeluknya untuk menenangkannya.


Nafina dan Rani adalah sahabat dari masa kecil, mereka tetanggaan. Jadi mereka besar bersama-sama. Mereka berpisah semenjak Nafina memilih kuliah di LA. Tapi mereka tetap saling berhubungan. Max dan Ray juga sahabatan dari kecil, mereka berpisah ketika Max mengikuti orang tuanya pindah ke LA untuk mengembangkan bisnis keluarga Max.


Di LA lah, awal perjumpaan Nafina dan Max.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸


__ADS_2