
Akhirnya ini adalah hari yang istimewa bagi pasangan Jenny dan Bram. Jenny sudah tampak cantik seperti tuan putri didalam ruangan ditemani Nayla dan Maya. Jenny sangat tegang, karena tinggal beberapa menit lagi dia harus masuk kedalam gedung tempat dia akan mengucapkan kata janji suci mereka nanti.
"Tenang Jen, semuanya akan lancar" ucap Nayla kepada sahabatnya itu. Karena dia pernah merasakan posisi seperti Jenny yang sangat tegang. Akhirnya Soni datang menjemput putrinya untuk bersama masuk dengannya.
Didalam ruangan yang serba putih seorang pria sudah menunggu pengantinnya didepan altar. Saat pintu terbuka, semua melihat kearah yang baru saja masuk kedalam. Jenny yang digandeng Soni sangat gugup, karena semua mata tertuju padanya.
"Santai, sayang. Lihatlah ke depan masa depanmu menunggu" ucap Soni sambil mengelus tangan putrinya yang digenggamnya, karena dia tahu saat ini putrinya lagi gugup. Mendengar ucapan papanya, Jenny melihat pria yang sebentar lagi jadi suaminya sedang menatapnya dengan tersenyum. Sesampai depan altar Soni memberi tangan Jenny kepada Bram.
"Sekarang papa menyerahkan putri kami yang berharga pada, mu. Sekarang dia tanggung jawabku" ucap Soni.
"Iya, pa" jawab Bram tersenyum. Kini Bram dan Jenny sudah didepan altar.
Akhirnya mereka mengucapkan janji suci mereka dihadapan Tuhan. Setelah mereka mengucapkan janji sucinya, mereka bertukar cincin. Acara pernikahan mereka penuh hikmat, semua keluarga mereka tampak bersukacita karena pernikahan mereka sangat lancar.
Setelah, pernikahan mereka, Bram dan Jenny menggelar resepsi pernikahan mereka di hotel milik keluarga Gio. Banyak tamu-tamu penting yang datang. Semuanya para tamu bergantian datang ke depan untuk mengucapkan kata selamat kepada kedua mempelai.
Acaranya sampai jam 10 malam, seluruh keluarga dan para sahabat mereka sudah pulang kerumah mereka masing-masing. Hanya Bram dan Jenny lah yang memilih tinggal di hotel. Mereka sepakat untuk pergi bulan madu besok paginya. Jenny yang sangat gugup untuk malam pernikahannya, dia berpikir bagaimana dia harus melayani pria yang dicintainya. Bram yang mengetahui saat ini Jenny sangat gugup. Jenny yang sudah duduk ditempat tidur, Bram langsung memeluk Jenny dari samping. Jenny merasakan jantungnya berdetak lebih cepat karena pelukan Bram. Mungkin pun Bram mendengar detak jantung Jenny yang sangat cepat. Bram ingin menggoda Jenny.
"Sayang, tidurlah. Besok kita harus pergi pagi-pagi untuk bulan madu kita. Tenang saja, malam pertama kita aku ingin kita lakukan ditempat bulan madu kita" Mendengar ucapan Bram wajah Jenny menjadi merah karena Bram.
"Kamu itu" ucap Jenny langsung memukul lengan Bram. Bram ketawa melihat Jenny yang sangat malu-malu padanya. Bram langsung menarik Jenny untuk tidur disampingnya. Jenny sangat bahagia, karena Bram sangat mengerti dirinya. Bram memeluk tubuh Jenny sangat erat. Jenny membalas pelukan Bram, dan kepala Jenny sekarang berada di dada Bram. Bram tersenyum melihat Jenny memeluk tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
Di malam yang panjang kedua pengantin baru itu hanya tidur saja sambil memeluk. Tidak ada aktifitas yang lain.
Keesokan paginya, Jenny dan Bram sudah bersiap untuk pergi bulan madu. Untuk barang-barang mereka sudah ada didalam hotel, mereka sudah menyiapkan semuanya dari awal. Mereka naik jet pribadi milik Soni. Mereka pergi sendiri ke bandara, tidak ada satupun keluarga yang mengantar mereka. Karena mereka melarangnya, karena mereka tahu saat ini keluarganya pasti masih kelelahan karena acara pernikahan mereka.
***
Kini Dina menikmati hari-harinya sebagai seorang ibu. Dina menjadi seorang ibu yang selalu siap siaga untuk anaknya. Dia juga tidak ingin memakai baby sister, dia masih ingin menikmati hari-hari bersama putranya, padahal Gio sudah membujuknya supaya Dina tidak capek. Gio yang mengerti pada Dina, Gio akhirnya setuju.
Gio selalu pulang setiap makan siang, karena dia selalu kangen dengan istri dan putranya. Meskipun Dina selalu sibuk mengurus keperluan putranya, tapi dia tidak lupa kewajibannya sebagai seorang istri. Setiap makan siang, Dina lah yang selalu melayani Gio begitu juga malam.
Dina melihat jam 10 malam, Gio juga belum pulang. Malam ini adalah pertama kalinya Gio pulang sangat lama dan tidak ada kabar. Dina sangat cemas, setiap Dina meneleponnya Gio tidak ada mengangkatnya.
Toni yang lagi didalam kantor dalam ruangnnya mendengar Hp nya berbunyi. Toni sangat kaget, Dina menghubunginya. Toni langsung mengangkatnya.
"Halo, Dina! Ada apa, Din?"
"Kak, apa mas Gio ada bersama kakak? Soalnya Dina telepon dia tidak mengangkatnya"
"Dia ada di ruangannya. Dia lagi banyak pekerjaan. Makanya kami lagi lembur. Apa Gio tidak mengabari kamu?"
"Tidak, kak. Ya, sudah yang penting Dina sudah tahu mas Gio masih dikantor. Terimakasih, kak"
__ADS_1
"Oke. Sama-sama, Din." ucap Toni sambil menutup teleponnya. Setelah Toni mendapat telepon dari Dina, dia langsung menutup berkas-berkasnya. Dia memutuskan besok dia akan melanjutkan pekerjaannya besok, karena dia pun juga pasti istrinya lagi menunggunya. Apalagi saat ini Nayla sudah berbadan dua.
Awalnya Toni dan Nayla tidak tahu kalau Nayla sudah berisi. Setelah satu hari pernikahan Jenny, Nayla pingsan dikantor. Karena mereka satu kantor, Toni langsung tahu bahwa istrinya pingsan. Toni langsung membawa Nayla kerumah sakit.
Ternyata hasil dari pemeriksaan Nayla telah hamil 2 Minggu. Jadi, Toni memutuskan untuk sementara Nayla cuti dari kantor. Karena kata dokter kehamilan Nayla yang masih muda, jadi masih rentan.
Dia ingin keruangan Gio, untuk mengajak Gio pulang dan memberitahu Dina menunggunya dengan cemas.
"Gio, kenapa kamu tidak mengangkat telepon Dina? Dia sangat cemas dengan, mu karena tidak ada kabarmu!" ucap Toni yang sudah berdiri didepan Meja Gio. Gio langsung menatap Toni.
"Benarkah? Tapi hp ku tidak berbunyi!" ucap Gio, Gio langsung mengambil hpnya. Dia kaget ternyata dari tadi hpnya mode silent. Gio melihat banyak panggilan dari istrinya.
"Aku lupa mematikan mode silent nya. Kita pulang sekarang!" ucap Gio dengan panik. Gio langsung menutup berkasnya. Dia menyuruh Toni agak cepat membawanya.
Sesampai dirumahnya, Gio langsung masuk kedalam rumahnya. Saat dia masuk, Gio melihat sosok istrinya yang tertidur di sofa, ruang tamu. Gio langsung mendekati Dina dan berlutut supaya bisa melihat wajah istrinya. Gio langsung mengangkat Dina dengan style bridal. Dia tidak ingin menganggu tidur Dina. Sesampai dalam kamar, Gio langsung meletakkan Dina dengan pelan-pelan. Saat Gio meletakkan Dina, Dina terbangun dan melihat wajah Gio didepan matanya.
"Mas Gio sudah pulang?" Dina memilih duduk, Gio yang duduk ditepi tempat tidur samping Dina, mengelus wajah Dina dengan penuh kasih sayang.
"Maaf, sayang aku sudah membuat kamu gelisah" ucap Gio dengan merasa bersalah melihat wajah Dina. Dina tersenyum mendengar perkataan Gio.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
__ADS_1