
Gio langsung masuk kedalam ruangan istrinya. Gio duduk disamping istrinya, dia melihat wajah cantik istrinya sangat pucat. Gio ingat dia belum menghubungi keluarganya. Dia langsung memberi pesan kepada seluruh keluarganya. Gio selalu menggemgam tangan Dina dengan erat, sambil mengelus wajah istrinya dengan lembut. Air mata Gio selalu keluar melihat istrinya terbaring, dalam waktu setengah jam orang tua mereka datang. Jenny, Bram, Maya dan Satria pun juga datang. Keluarganya memberikan kekuatan pada Gio.
"Kak, makan dulu sana!" ucap Jenny pada Gio yang selalu menggemgam tangan Dina yang dari tadi tidak mau melepaskan tangannya dari tangan Dina.
"Tidak. Aku tidak lapar. Aku akan makan kalau Dina sudah sadar. Aku ingin sewaktu dia sadar, aku ada disisinya" ucap Gio sambil menatap wajah istrinya yang pucat. Karena sudah malam Gio menyuruh keluarga mereka pulang. Yang tinggal hanyalah Gio. Gio tertidur dipinggir tempat tidur Dina, sambil menggemgam tangan Dina.
***
Pagi hari Dina mulai membuka matanya, dia melihat ruangan yang serba putih dan melihat tangan kanannya kena infus. Dina ingin mengangkat tangan kirinya, dia merasakan berat, saat dia melihat dia melihat wajah suaminya yang lagi tertidur. Dina tersenyum melihat suaminya berada disampingnya.
"Mas Gio" ucapnya lirih. Gio merasakan namanya dipanggil, Gio memaksa matanya terbuka. Dia melihat kearah istrinya yang sudah bangun.
"Sayang, kamu sudah bangun?' ucap Gio sambil mencium tangan Dina. Dina tersenyum melihat suaminya dan sambil menganggukkan kepalanya.
"Maaf, mas aku sudah membuatmu cemas" ucap Dina dengan sedih.
"Tidak, sayang. Aku lah yang seharusnya minta maaf. Maaf, aku telah membuat kamu seperti ini" Dina langsung menganggukkan kepalanya. Gio langsung mencium pucuk kepala Dina dengan penuh kasih sayang.
***
Setelah 2 hari dirawat Dina diperbolehkan pulang. Gio selalu menemani Dina selama dirumah sakit, ayahnya yang selama ini membantunya mengurus perusahaan karena Toni belum pulang dari bulan madunya.
Gio jadi super protektif dengan Dina, Gio menyuruh Dina tidak boleh mengerjakan apapun sampai hari kelahirannya. Setiap Gio pergi bekerja Sari dan Cantika lah yang selalu menjaganya. Karena kalau tidak ada yang menjaga Dina maka Gio tidak akan mau pergi bekerja.
Dina tahu apa yang dilakukan Gio untuk kebaikan dan bayi mereka, Gio tidak mau terjadi sesuatu pada Dina.
***
Semenjak kejadian Maya dan Satria bertemu, Satria sering datang kerumah Maya. Semakin lama mereka jadi semakin dekat.
"Sayang, mama dan papa mau bicara sama kamu, boleh kami masuk?" ucap Rani didepan pintu kamar Maya. Maya yang lagi bermain Hp nya ditempat tidurnya melihat kedua orang tuanya lagi didepan pintu kamar.
"Ma, pa masuklah!" ucap Maya.
__ADS_1
Ray dan Rani langsung duduk dipinggir tempat tidur Maya.
"Sayang kami mau tanya, apakah kamu sama Satria punya hubungan?" tanya Rani dengan senyum. Maya kaget mendengar pertanyaan mamanya. Karena dia saja tidak tahu apa statusnya bersama Satria. Karena dia tidak tahu dari mereka mengucapkan kata cinta dari mulut mereka.
Maya sebenarnya sangat takut kalau dia akan mengalami cinta sepihak seperti dia dulu. Dia memang sangat nyaman setiap jalan dan ngobrol sama Satria. Setiap Satria dekat sama perempuan saja dia merasakan tidak senang, tapi dia tidak tahu apakah itu cinta. Kalau dia cinta sama Satria apakah Satria juga mencintainya? Atau hanya menganggapnya sebagai adik saja.
"Tidak, ma. Kami hanya teman saja. Kenapa, ma?"
"Owh. Karena sebenarnya mama dan papa ingin menjodohkan kamu dengan anak sahabat mama di Amerika" tapi anaknya tinggal disini. Buka usaha sendiri katanya di kota ini. Jadi, kami ingin memastikan dulu apakah kamu sudah punya pacar"
"Ma..." ucap Maya Engan sedih mendengar dia akan dijodohkan.
"Kalau kamu tidak suka mama dan papa tidak akan memaksanya sayang! Kamu pikirkan saja dulu ya, sayang." ucap Ray dia langsung tahu saat ini putrinya sedih.
"Kenapa tidak kak Juna saja yang duluan menikah?" tanya Maya.
"Saat ini kakak kamu katanya mau serius dulu menjalankan perusahaan. Dan juga dia bilang kamulah yang harus menikah dulu" ucap Ray lagi.
"Baiklah, sayang. Mama dan papa kebawah duluan. Kamu cepat turun, ya. Biar kita makan malam. Sebentar lagi kakak kamu akan pulang" ucap Rani. Maya langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah kepergian kedua orang tuanya. Maya ingin menceritakan pada sahabatnya. Maya langsung mengirim pesan digrup whatsapp.
π¨ "Apakah kita bisa kumpul besok?" pesan dari Maya
π¨ " Kita kumpul dirumah aku, saja. Soalnya aku tidak diijinkan mas Gio kemana-mana" balasan dari Dina.
π¨ " Ya, sudah kita kumpul dirumah Dina saja, kebetulan malam ini aku sudah pulang. Sekalian aku bawa oleh-oleh untuk kalian" balas Nayla.
π¨ "Fix ya kita kumpul dirumah Dina" balasan Jenny
π¨ "Oke" balasan Maya.
Setelah chat dengan sahabatnya, Maya turun kebawah bergabung dengan kedua orang tuanya. Dia juga melihat kakaknya Juna juga sudah sampai. Mereka pun langsung makan malam bersama dengan canda tawa.
__ADS_1
***
Semenjak Dina cuti dari pekerjaannya Jenny lah yang ambil alih tugasnya, tugas Dina hanya menandatangani berkas-berkas yang memerlukan tanda tangannya. Untuk hubungannya dengan Bram tetap berjalan, meskipun mereka sibuk dengan kerjaan mereka. Mereka berusaha membagi waktu untuk kebersamaan mereka.
"Siang sayang" ucap Bram. Bram memberi kejutan pada Jenny berkunjung kekantor Jenny.
"Sayang..." Jenny langsung bangkit dari kursinya untuk memeluk Bram.
"Aku bawa makanan kesukaan kamu, aku mau kita makan siang bareng" ucap Bram sambil menunjukkan bungkusan yang dibawanya.
"Makasih, sayang. Muach" Jenny mencium pipi Bram. Bram sangat senang melihat Jenny selalu manja padanya.
Merekapun menikmati makan siang mereka. Sesekali Bram memberi suapan makanannya ke Jenny.
"Sayang, apa kamu besok malam sibuk?" tanya Bram
"Tidak, aku hanya ada acara penting nanti sore"
"Kemana? Acara apa?"
"Tenang sayang banyak amat pertanyaannya. Aku mau kumpul sama sahabatku, dan kami kumpulnya dirumah kak Gio. Kamu tahu sendirilah Dina tidak bisa keluar rumah tanpa kak Gio"
"Owh. Oh, ya besok aku mau ajak kamu dinner. Kamu bisa, kan?"
"Oke" jawab Jenny dengan senyum bahagia. Selesai makan siang, Bram langsung kembali ker estorannya.
Jenny setelah kepergian Bram dia sangat senang besok akan dinner dengan Bram.
"Apa jangan-jangan dia mau melamar ku? Kalau ia, aku pasti langsung menjawabnya setuju. Hahahaha. Ah, aku tidak sabar menunggu besok" gumam Jenny yang duduk di bangkunya sambil memutar-mutar kan kursinya dengan pandangan keatas sambil tersenyum bahagia.
Jenny, sebenarnya sudah lama berharap Bram akan melamarnya. Karena melihat para sahabatnya sudah pada menikah. Yang tertinggal hanya dirinya dan Maya.
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
__ADS_1