Ada Pelangi Sehabis Hujan

Ada Pelangi Sehabis Hujan
Episode 24


__ADS_3

Akhirnya Dina pulang kerumah Nayla. Jenny pun juga ikut mengantar Dina kerumah Nayla.


Setelah Jenny mengantar Dina, Jenny memutuskan pulang kerumahnya.


Didalam mobil dia terus berpikir.


'Kenapa sampai sekarang papa belum dapat info tentang Dina? Aku yakin Dina anak papa dan mama." gumamnya dalam hati.


Setelah setengah jam dalam perjalanan Jenny sampai di rumahnya. Dia melihat kedua orang tuanya lagi berbicara dengan seorang pria. Jenny melihat pria itu memberi amplop kepada ayahnya. Setelah dia memberi amplop itu pria itu langsung permisi untuk pergi.


Jenny langsung mendekat dan duduk bersama kedua orang tuanya.


"Siapa dia, pa?" tanya Jenny


"Dia detektif yang papa sewa untuk mencari latar belakang Dina" jawab papanya.


"Sayang bagaiman hasilnya?" tanya istrinya dengan cemas.


Soni membuka amplop itu, dia membaca informasi semua tentang Dina. Didalam data itu Ibunya Dina bernama Naya , Naya seorang janda. Sebelum dia tinggal di kota x dia merubah tinggal di desa. Naya tinggal bersama suaminya di desa. Suaminya meninggal karena kecelakaan. Dia dan suaminya tidak punya anak setelah 5 tahun membina rumah tangga, karena suaminya ternyata mandul. Didalam amplop data rumah sakit tentang kondisi suaminya Naya.


Semenjak suaminya meninggal dia memutuskan tinggal di kota x. Dan memutuskan untuk bekerja dan menjual rumahnya yang di desa untuk membeli rumah di kota. Tapi sampai di kota Naya membawa seorang bayi. Dan dari selidikan Dina bukan anak kandungnya, tapi anak angkatnya. Didalam amplop juga ada foto seorang bayi.


Saat mereka melihat foto bayinya, Soni dan Sari terkejut melihatnya.


"Pa, ini anak kita. Berarti Dina memang anak kita,pa?" kata Sari sambil nangis dan memeluk foto bayi.


"Tenang saja, ma kita akan jemput Dina." Kata Soni sambil memeluk istrinya supaya istrinya tenang.


Jenny sangat bahagia akhirnya kedua orang tuanya menemukan anak mereka yang hilang selama belasan tahun.


Dirumah Nayla.

__ADS_1


Dina sangat diperhatikan kedua orang tua Nayla. Karena mereka tetanggaan sekaligus ibunya Nayla sahabat ibunya Dina.


Dina sangat bahagia melihat perhatian orang tua Nayla, sampai-sampai tak terasa air matanya mulai jatuh. Mereka terkejut Dina meneteskan air mata.


"Sayang, kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya ibunya Nayla.


"Tidak tante hanya saja, Dina sangat senang kalian sangat menyayangi Dina. Dina jadi kangen ibu. Hiks...hiks.." Dina mulai menangis.


Ibu Nayla langsung memeluk Dina, sambil mengelus rambutnya. Nayla dan ayahnya sedih melihat Dina. Saat Dina tidak menangis lagi ibunya Nayla melepaskan pelukannya.


"Tante, ada sesuatu yang ingin Dina tanyakan." ucapnya dengan wajah yang masih sedih.


"Apa itu sayang?"


"Apa benar Dina bukan anak kandung bunda?" tanyanya. Ibu Nayla sangat terkejut mendengarnya. Nia langsung melihat kearah suaminya. Suaminya hanya menganggukkan kepalanya. Menandakan sudah saatnya Dina harus tahu kebenarannya.


"Baiklah Dina, tante kasih tahu. Sebenarnya Dina memang bukan anak bunda Naya. Bunda Naya menemukanmu di jalan saat dia dalam perjalanan untuk tinggal di kota setelah suaminya meninggal di desa." ucapnya. Dia melihat Dina tetap diam saja. Nia pun melanjutkannya.


"Sebenarnya ibu mu sudah pergi kekantor polisi yang ada di desa, mana tahu kalau ada orang tua yang kehilangan anak bisa mencarikan dirinya. Dari yang ditunggu-tunggu tidak ada satupun yang datang mencarinya. Jadi dia berpikir mungkin dirimu dikirim Tuhan supaya dia tidak kesepian lagi. Bunda Naya sangat mencintai dirimu, sayang. Itulah yang tante tahu sayang"


"Tante, Dina ingin mencari kedua orang tua Dina. Dina ingin tahu kenapa mereka membuang Dina" ucapnya sambil menangis.


"Caranya bagaimana sayang? Kami akan bantu" Tanya ayah Nayla.


"Kata ibu, kalung ini satu-satunya yang bisa Dina pakai untuk menemukan kedua orang tua Dina" ucapnya sambil menunjukkan kalung yang selalu dipakainya semenjak bundanya memberitahu kebenaran padanya lewat surat.


"Aku akan membantumu, Din!" kata Nayla sambil memeluk sahabatnya itu.


Tanpa mereka sadari Gio dan Toni dari tadi mendengar percakapan mereka. Di sore hari Gio dan Toni kembali kerumah Nayla. Sebenarnya tadi pagi Gio mengantar Dina kerumah Nayla kemudian dia langsung pergi ke kantor. Karena dia sudah kangen dengan Dina, di sore harinya Gio dan Toni kerumah Nayla. Sesampainya mereka mengetok pintunya dan pembantu keluarga Dina yang buka, pembantunya langsung mengatakan semuanya lagi dikamar Dina. Gio dan Toni langsung kesana, Gio melihat mereka lagi ngobrol. Jadi semua obrolan mereka Gio dan Toni mendengarnya.


Setelah Gio mendengar tidak ada lagi percakapan, dia langsung mengetok pintu kamarnya. Semua yang dikamar melihat kearah mereka.

__ADS_1


"Wah, nak Gio dan Toni sudah datang? Silahkan masuk, pasti sudah kangen dengan Dina ya?" goda ayahnya Nayla. Gio tersenyum mendengarnya.


"Iya, om. Habisnya Dina selalu buat kangenin. Saya tidak mau jauh-jauh dari Dina om. hehehe" kata Gio sambil melirik kearah Dina.


Semuanya ketawa mendengar yang dikatakan Gio. Apalagi Dina, wajahnya sudah memerah karena mendengar perkataan Gio.


"Ya, sudah nikah aja kali kak. Supaya Dina nya di samping kakak terus" ucap Nayla sambil menyenggol Dina. Dina mencubit lengan Dina karena menggodanya.


"Maunya, sih gitu. Sekarang Dina nya mau tidak?" ucap Gio sambil senyum-senyum kearah Dina. Dina jadi semakin tersipu malu dibuatnya.


"Sudah - sudah kasihan Dina nya. Lihat wajahnya sudah semakin memerah" ucap ibunya Nayla.


"Kalian ngobrol saja dulu. Nayla Ayuk kita siapkan makan malam" ajak ibunya Nayla. Merekapun keluar dari kamar termasuk Toni.


Gio pun duduk dipinggir tempat tidur Dina. Dina menundukkan wajahnya karena Dina sangat malu Gio terus memandangnya.


Gio sangat gemas melihat Dina yang sangat malu padanya. Gio memegang dagu Dina dan membuat wajah Dina mengarah padanya dan akhirnya mata mereka bertemu. Gio sudah tidak tahan dengan wajah Dina yang selalu dirindukannya, Gio langsung m****** bibir Dina yang menurutnya manis. Pertama Dina sangat kaget, tapi lama-lama Dina juga menikmatinya. Karena mereka merasakan oksigen mereka yang mulai habis mereka melepaskan ****** mereka. Kening mereka saling bersatu. Dina sangat malu apa yang mereka lakukan.


Gio langsung memeluk Dina dengan erat.


" Setelah kita menemukan orang tuamu, aku akan langsung melamar mu" kata Gio ditelinga Dina.


Dina melepaskan pelukan Gio. Dia heran kenapa Gio bisa tahu. Gio melihat Dina seperti orang binggung kenapa Gio bisa tahu tentangnya.


"Aku tidak sengaja mendengar semuanya. Kamu setuju kan?" tanya Gio pada Dina.


Dina menganggukkan kepalanya menandakan dia setuju dengan Gio. Gio tersenyum kepada Dina karena Dina setuju dengannya. Gio langsung menarik tubuh Dina untuk dipeluknya.


"Terimakasih sayang. I love you" kata Gio ditelinga Dina.


"I love you too," kata Dina dengan tersenyum malu.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Thanks pada teman-teman yang masih setia membaca karya saya, jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...πŸ™πŸ»


__ADS_2