
Carol terlihat begitu kaget saat Andrew mengatakan hal tersebut, sebuah penawaran baik yang membuat Carol tercengang.
Mungkin jika Andrew menjadi suaminya, itu akan terasa lebih baik. Karena akan ada yang menjadi sosok ayah untuk putranya, akan ada sosok pria yang menjadi seorang pelindung untuk dirinya.
Namun, dia tidak bisa menikah begitu saja dengan Andrew. Karena selama ini dia hanya menganggap Andrew sebagai sahabat, tidak lebih dari itu.
Lagipula anak yang dia lahirkan bukan anak Andrew, dia takut jika suatu saat nanti anaknya akan menjadi perdebatan atau akan dibedakan saat dia memiliki anak dari pria yang kini menawarkan diri untuk menjadi ayah dari bayinya itu.
Melihat Carol yang hanya diam saja, Andrew terlihat paham. Dia juga sangat tahu jika selama beberapa bulan dia mendekati Carol, wanita itu memang sangat baik.
Namun, Carol selalu membuat dinding pembatas di antara mereka. Dengan seperti itu Andrew sangat sadar jika Carol tidak menyukai dirinya sebagai seorang pria.
"Kenapa diam saja?" tanya Andrew dengan sorot mata kecewa.
Carol terlihat tidak enak hati, dia menatap wajah Andrew seraya memaksakan senyumnya.
Dia sangat tahu jika Andrew pasti paham dengan apa yang akan dia katakan, tapi pria itu seolah masih mengharapkan sesuatu dari dirinya.
"Maaf, sampai saat ini gue masih merasa nyaman bersahabat sama elu. Elu sahabat terbaik gue l, dia sama kaya Diana, terima kasih karena elu selalu baik sama gue."
Carol terlihat mengelus lembut punggung tangan Andrew, dia juga berusaha untuk tersenyum hangat di depan pria yang selalu berbuat baik terhadap dirinya itu.
"Gue paham," jawab Andrew dengan wajah yang begitu lesu.
Carol benar-benar tidak tega melihat akan hal itu, tapi dia juga tidak mau membohongi dirinya. Dia tidak mau menerima Andrew hanya karena kasihan, jika dia menikah dengan Andrew pun pasti hanya akan menyakiti kedua belah pihak.
"Sorry," ucap Carol dengan nada pelan.
"Ya, tapi kali ini elu jangan nolak. Gue udah beliin elu rumah, ngga gede. Cuma ada tiga kamar, satu ruang tamu, ruang makan sama dapur."
Andrew memang masih berstatus sebagai mahasiswa, hanya tinggal beberapa bulan lagi dia akan lulus kuliah.
Namun, selain kuliah dia juga membantu ayahnya mengembangkan usaha milik keluarga yang ada di negara tersebut. Sehingga setiap bulannya dia selalu mendapatkan gaji yang lumayan besar.
Maka dari itu Andrew dengan percaya dirinya mengajak Carol untuk menikah dan. memebelikan wanita itu rumah.
Lagi pula sebentar lagi dia kan lulus kuliah, sudah barang tentu semua perusahaan milik keluarganya akan jatuh ke tangannya.
Karena dia adalah pewaris tahta satu-satunya, anak semata wayang dari keluarga Kandala. Pengusaha asal negeri Singa yang mampu melebarka sayapnya sampai ke negeri A.
__ADS_1
Carol terdiam mendapatkan penawaran dari Andrew, dia bingung haruskah menerima tawaran dari pria itu atau harus menolaknya.
Jika menerima pun dia merasa malu, karena Andrew terlalu baik kepada dirinya. Andrew terlalu sempurna untuk wanita yang sudah terenggut mahkotanya bahkan telah melahirkan.
"Gue ngga bisa nerima rumah itu, karena elu sudah terlalu baik sama gue," kata Carol menolak dengan halus.
"Pokoknya elu harus terima, karena ini buat anak elu. Elu masih kuliah, seengganya nanti elu akan butuh babysitter buat jagain anak elu. Pastinya dia harus tinggal bareng elu, biar anak elu aman." Andrew berbicara dengan sungguh-sungguh.
Carol terlihat menatap wajah Andrew yang begitu terlihat tulus ingin membantu dirinya, tapi Carol merasa tidak bisa.
"Nanti gue pikirin dulu," kata Carol pada akhirnya.
Karena dia tidak enak hati terhadap Andrew, padahal Carol sudah berencana jika nanti dia akan menyewa sebuah kamar kost yang lebih besar.
Jadi, dia akan tidur dengan nyaman bersama dengan putranya dan juga Diana. Jika nanti dia kuliah, dia akan menitipkan putranya kepada bibi Nancy.
Wanita yang selalu bersikap baik kepada Carol dan juga Diana, dia tinggal tidak jauh dari asrama mereka.
Wanita itu tidak memiliki keturunan, sudah dapat dipastikan jika Carol menitipkan putranya kepadanya bibi Nancy, pasti wanita itu akan sangat bahagia, pikirnya.
"Terima kasih, karena elu masih mau mempertimbangkan permintaan gue," kata Andrew seraya tersenyum.
"Ya, kalau gitu gue mau pamit dulu. Ini sudah mau sore, lagian sebentar lagi Diana datang. Ada Diana yang akan jagain elu," kata Andrew.
"Ya, terima kasih untuk semuanya," jawab Carol seraya tersenyum hangat.
Andrew terlihat bangkit dari duduknya, kemudian dia mengelus lembut puncak kepala wanita yang sangat dia sukai itu.
Carol hanya terdiam, dia tidak mau menolaknya. Dia takut jika Andrew akan tersinggung.
Setelah itu dia berjalan ke arah box bayi, dia tatap wajah bayi yang begitu tampan itu lalu dia mengelus lembut pipi gembil puta Carol.
"Apa kamu sudah mempunyai nama untuknya?" tanya Andrew.
Tatapan mata Andrew tidak terlepas dari wajah tampan bayi lelaki milik Carol, dia begitu mengagumi ketampanan dari bayi tersebut.
"Hem, namanya Julian," jawab Carol.
"Nama yang bagus," kata Andrew. "Gue pamit," kata Andrew setelah puas menatap wajah tampan putra Carol tersebut.
__ADS_1
***
Setelah tadi malam terjadi drama sakit perut, sakit pinggang, tubuhnya bergetar hebat dan juga merasa sesak napas. Pagi ini Jonathan sudah merasa lebih baik, dia terlihat sudah bersiap untuk berangkat bekerja.
Tentu saja karena pagi ini ada meeting penting dengan klient, ada project besar yang sedang dia jalani dengan kliennya.
"Kamu sudah mau berangkat, Sayang? Tidak sarapan dulu?" tanya Berlin.
"Nanti saja, Mom. Soalnya ini janjian meetingnya di Cafe, jadi sekalian sarapan di Cafe aja," jawab Jonathan.
"Ya sudah, hati-hati. Oiya, Boy. Bagaimana keadaan kamu? Sudah lebih baik?" tanya Berlin penuh perhatian.
"Sudah lebih baik, daddy mana, Mom?" tanya Jonathan.
"Di ruang fitnes," jawab Berlin.
"Oh! Aku pergi dulu, sampaikan salam sayang untuk daddy!" kata Jonathan.
"Hem," jawab Berlin.
Jonathan terlihat menunduk dan mengecup kening ibunya, lalu dia pun terlihat pergi dari kediaman Anderson. Tiba di halaman rumahnya, ternyata di sana Leo sudah menunggu.
Saat melihat dirinya, dia terlihat membukakan pintu untuk Jonathan. Leo memang selalu menjadi pekerja yang baik dan rajin.
"Selamat pagi, Tuan. Silakan!" kata Leo seraya membungkuk hormat.
Jonathan tersenyum, kemudian dia masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumpang dengan anteng.
Setelah memastikan Jonathan duduk dengan baik, Leo terlihat memutari mobil mewah tersebut dan masuk untuk segera pergi menuju ke Cafe tempat di mana mereka berjanji akan bertemu dengan klien penting hari ini.
Tiba di dalam Cafe, mereka langsung di sambut hangat oleh tuan Ernard dan juga asistennya. Merek langsung duduk bersama dan mulai melakukan meeting penting.
Di kala meeting berlangsung, tanpa sengaja tatapan mata Leo bersibobrok dengan Meriana. Wanita itu nampak sedang menangis, ada rasa kasian yang menyeruak. ke dalam hatinya.
Namun, dengan cepat dia memalingkan wajahnya. Dia tidak mau hatinya melemah karena melihat tatapan wanita yang sudah. menolaknya itu.
'Aku tidak boleh melihatnya,' batin Leo.
******
__ADS_1
Selamat Malam, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, sayang kalian semua.