After Six Years

After Six Years
Terasa Tidak Ingin Berpisah


__ADS_3

Entah kenapa dia begitu ingin mencicipi bibir itu, bibir yang terlihat begitu menggoda dirinya. Tanpa ragu Jonathan langsung menempelkan bibirnya, tanpa berniat untuk memagutnya.


Hanya sekedar ingin merasakan manisnya bibir itu, Jonathan memejamkan matanya seraya menghirup aroma tubuh Carol.


Tangannya bahkan terlihat terulur untuk merapikan rambut Carol yang menutupi wajahnya, lalu dia selipkan di balik cuping telinganya.


Ingatannya langsung tertuju saat dia memagut bibir itu dengan kasar, bahkan Jonatahan mengingat jika waktu itu dia hampir membuat Carol kehabisan napas karena ulahnya.


'Rasanya sangat manis, wangi tubuhnya masih sama. Kamu memang wanita itu,' ucap Jonathan dalam hati dengan tubuh yang terasa lemas.


Di saat sedang asik memikirkan masa lalunya, dengan bibir yang masih saling menempel. Jonathan terlihat panik, dia bahkan langsung memundurkan tubuhnya saat melihat Carol menggeliatkan tubuhnya.


Dengan cepat dia menegakkan tubuhnya, dia pura-pura melihat ke arah depan dengan tangan yang dia ketuk-ketukan di atas kemudi.


"Engh!"


Terdengar lenguhan dari bibir Carol, mendengar akan hal itu membuat jantung Jonathan langsung berdetak dengan cepat. Suara itu terdengar begitu seksi di telinganya.


Padahal pada kenyataannya, Carol hanya melenguh seraya mengheliatkan tubuhnya yang terasa kaku.


"Eh? Sudah sampai, ya? Kenapa ngga bilang?" tanya Carol seraya mengedarkan pandangannya.


Jonathan terlihat salah tingkah, karena dia sedang mencari alasan agar Carol tidak marah terhadap dirinya.


Jika saja Carol tahu bahwa baru saja dia mencicipi bibirnya kembali, sudah dapat dipastikan dia akan mendapatkan tamparan dari wanita yang berada di sampingnya tersebut.


"Ehm, itu. Anu, tadi kamu tidurnya pules banget. Aku ngga tega buat bangunin kamu," kata Jonathan seraya menjilat bibir bawahnya.


Hal itu tidak luput dari penglihatan Carol, Jonathan terlihat begitu seksi di matanya. Apalagi saat ini wajah Jonathan terlihat diterpa cahaya lampu, sangat tampan sekali, pikir Carol.


"Oh, maaf kalau aku ketiduran. Aku sangat lelah soalnya," kata Carol.


Carol terlihat tidak enak hati, dia bahkan berpikir jika Jonathan pasti sudah lama menunggui dirinya yang ketiduran. Padahal, jika Carol tertidur lebih lama pun Jonathan akan lebih senang.


"Tidak masalah," jawab Jonathan.


Setelah mengatakan hal itu, jonathan langsung turun dari mobilnya. Dia memutari mobilnya itu, lalu membukakan pintu untuk Carol.


Julian yang berada di pangkuan Carol, membuat dirinya kesusahan untuk bangun. Jonathan dengan sigap menunduk dan mengangkat tubuh mungil anak berusia lima tahun itu.

__ADS_1


"Terima kasih," kata Carol seraya turun dari mobil Jonathan.


"Sama-sama, oh iya. Di mana kamarnya Ian? Biar aku yang mengantarkan," kata Jonathan.


"Tidak usah, biar aku saja," jawab Carol tidak enak hati.


"Biar aku saja, kasihan dia. Lagi pula kamu sangat cape, nanti kamu berat gendong dia," kata Jonathan beralasan.


Padahal, alasan yang sesungguhnya bukan itu. Dia masih belum rela jika harus pulang saat ini juga, dia masih ingin menatap wajah cantik Carol.


Dia juga masih ingin berdekatan dengan Julian, entah kenapa semenjak bertemu dengan Julian dirinya seakan enggan untuk berpisah.


Walaupun hasil tes DNA yang dilakukan oleh ibunya sedang berlangsung, tapi dari dalam hatinya yang sangat dalam dia begitu yakin jika Julian adalah putranya sendiri, putra kandungnya.


"Baiklah, terserah kamu saja," kata Carol pada akhirnya.


Akhirnya Carol mengalah, dia mengajak Jonathan untuk masuk ke dalam rumahnya. Bahkan, Carol juga mengajak Jonathan untuk masuk ke dalam kamar Julian.


Tiba di kamar Julian, Jonathan langsung merebahkan tubuh bocah kecil itu di tempat tidurnya dengan perlahan.


Hatinya benar-benar berdebar tidak karuan saat melihat kamar Julian yang nampak sama dengan kamar miliknya, semuanya didominasi dengan warna abu-abu dan juga hitam.


Tidak perlu tes DNA, menurutnya. Karena Jonathan benar-benar sudah sangat yakin jika Carol adalah wanita yang pernah dia tiduri, dia yakin jika Julian adalah putra yang terlahir dari benihnya.


Kini Jonathan tinggal berfikir bagaimana cara mendekatkan diri kepada Carol dan juga Julian, Jonathan harus berpikir bagaimana cara agar Carol mau memaafkan dirinya dari kesalahan yang pernah dia perbuat di masa lalu.


Jonathan terlihat menunduk, lalu dia mengecup kening Julian dan menarik selimut untuk menutupi tubuh mungil Julian.


"Selamat tidur, Boy," ucapnya dengan penuh kasih.


Dadanya benar-benar terasa sesak saat menatap wajah tampan Julian, dia benar-benar ingin sekali bertanggung jawab atas lima tahun yang telah terlewati tanpa dirinya.


"Ehm, ini sudah malam. Ngga baik kalau anda terlalu lama di sini," kata Carol.


Jonathan yang sedang begitu asyik menatap wajah Julian, langsung menolehkan wajahnya ke arah Carol. Dia tersenyum kecut lalu berkata.


"Iya, aku akan segera pulang. Tapi, bolehkah jika kamu memanggilku dengan sebutan Jo saja? Tidak usah memanggilku dengan sebutan Tuan," pinta Jonathan.


Carol langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, rasanya dia merasa tidak sopan jika harus memanggil Jonathan dengan hanya menyebut namanya saja.

__ADS_1


"Tidak bisa, anda adalah orang berpengaruh di negeri ini. Masa saya manggil anda dengan sebutan nama doang, udah gitu anda lebih tua dari saya. Ngga sopan banget ya, kan?" ucap Carol seraya terkekeh.


Jonathan terlihat memajukan bibirnya, dia pura-pura merajuk kepada Carol. Padahal hatinya malah merasa lucu mendengar Carol mengucapkan hal tersebut.


"Ya ampun, aku belum tua," kata Jonathan seraya melipat kedua tangannya di depan dada.


Carol malah tertawa melihat akan hal itu, karena tingkah Jonathan sama persis seperti Julian dikala merajuk.


Dia bahkan sampai berpikir, kenapa bisa julian begitu sama tingkahnya, kesukaannya bahkan wajahnya dengan Jonathan.


"Ya ampun, cup, cup, cup. Jangan merajuk, aku hanya bercanda," kata Carol seraya terkekeh.


"Aku tidak akan marah, yang penting kamu nyebut aku Jo aja. Ngga usah ada Tuannya segala," pinta Jonathan.


"Setelah aku perhatikan, anda memang belum terlalu tua. Anda masih sangat tampan dan juga terlihat lebih muda dari umur anda. Namun, tetap saja usia saya di bawah anda. Maaf jika aku tidak bisa memanggil anda dengan sebutan nama saja," kata Carol.


Jonathan terlihat membuatkan matanya dengan sempurna, dia tidak habis pikir jika Carol tetap saja kekeh pada pendiriannya. Padahal, apa susahnya memanggil nama saja, pikirnya.


"Oh ya ampun, Carol. Ayolah, panggil aku Jo saja. Rasanya itu lebih enak di dengar," kata Jonathan.


"Baiklah, Jo. Sekarang pulanglah," kata Carol dengan tidak enak hati.


Lidahnya terasa tidak enak saat menyebut nama Jonathan dengan hanya menyebut namanya saja, tapi dia tidak mau berdebat lagi.


"Nah, itu lebih enak di dengar," kata Jonathan seraya mengusap kedua pundak Carol dengan sangat lembut.


Carol terkesiap mendapatkan perlakuan seperti itu, bahkan dia sampai memundurkan tubuhnya.


Wajahnya terlihat memerah, dia terlihat begitu salah tingkah. Jonathan benar-benar merasa lucu melihat tingkah Carol seperti itu, kalau saja Carol mau menikah dengannya, dia berjanji dalam hati tidak akan menyia-nyiakan Carol dan juga Julian.


"Maaf," kata Jonathan lesu.


"Ah, tidak apa-apa. Sekarang waktunya kamu pulang, ayo aku anter ke depan," kata Carol yang sudah tidak ingin berlama-lama lagi bersama dengan Jonathan.


Bukan karena benci, tapi dia merasa takut jika dirinya akan jatuh cinta kepada Jonathan. Sosok lelaki yang dengan mudahnya menyususp ke dalam relung hatinya.


***


Selamat sore, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Jangan lupa tinggalkan like dan juga komentarnya, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2