After Six Years

After Six Years
Terharu


__ADS_3

Sebenarnya Leo merasa bingung kenapa Merlin kini terlihat begitu baik dan juga wajahnya terlihat lebih manis, bahkan sikap Merlin terhadap Leo kini berubah seratus delapan puluh derajat.


Dia yang selalu jutek dan juga cuek, bahkan dia yang sering mengeluarkan kata-kata pedas dari mulutnya, kini dia malah terlihat begitu lembut dalam bertutur kata.


Melihat perubahan Merlin yang begitu luar biasa, membuat Leo kini menjadi resah. Karena hatinya selalu saja gundah, bahkan jantungnya selalu saja berdetak dengan cepat ketika dia berdekatan dengan Merlin.


"Kenapa menatap aku seperti itu?" tanya Merlin.


Leo yang sedang menatap wajah Merlin dengan lekat langsung memalingkan wajahnya, dia merasa malu karena Merlin bertanya seperti itu.


"Tidak apa-apa, masuklah!" ucap Leo.


Leo terlihat menegakkan tubuhnya, dia terlihat sangat gugup sekali. Berbeda dengan Merlin yang nampak biasa saja, dia terlihat tersenyum lalu duduk tepat di samping Leo.


"Ada perlu apa?" tanya Leo.


Di satu sisi Leo merasa bahagia karena bisa berdekatan dengan Merlin, tapi di satu sisi lainnya Leo rasanya ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar laut yang paling dalam.


"Ehm, aku... aku hanya ingin mengajak kamu untuk memulai semuanya dari awal. Seperti yang pernah aku katakan waktu itu, tapi aku sudah tua. Umurku sudah tiga puluh tahun--"


Merlin terdiam, dia seakan malu untuk melanjutkan ucapannya. Leo tersenyum kikuk, lalu dia berkata.


"Maksud kamu seperti apa? Mau mulai dari awal seperti apa? Aku tidak paham, coba jelaskan!" pinta Leo.


Merlin menundukkan kepalanya, dia seakan ragu untuk berucap. Dia bahkan terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian, Leo baru kali ini melihat Merlin yang begitu kesulitan untuk mengungkapkan apa yang dia ingin katakan.


"Maksud aku, kita mulai semuanya dari pernikahan. Bukan sekedar pacaran, karena aku tidak ingin berpacaran lagi. Aku sudah berumur, mau kapan aku punya anak kalau hanya memikirkan pacaran saja."


Merlin mengucapkan keinginannya dengan ragu-ragu, bahkan dia tidak berani menatap wajah Leo. Dia takut jika Leo akan menolak dirinya, rasanya itu akan sangat memalukan.


"Menikah? Maksudnya kamu mau nikah sama aku?" tanya Leo.


Mendengar pertanyaan dari Leo, Merlin terlihat mengangkat wajahnya. Dia memberanikan diri untuk menatap wajah pria yang beberapa hari ini selalu menghantui pikirannya.


"Ya, aku mau menikah dengan kamu, Leo. Selama ini banyak pria yang datang hanya untuk mengajakku bersenang-senang saja, tidak ada pria yang datang untuk menikahiku. Jadi, aku datang ke sini untuk melamar kamu. Maukah kamu menikahiku, Leo?"


Merlin terlihat bertanya kepada Leo dengan sungguh-sungguh, bahkan tangannya terulur untuk menggenggam kedua tangan Leo dengan erat.


Leo terlihat terdiam terpaku, dia tidak tahu harus berkata apa. Antara kaget dan juga bahagia, itulah yang Leo rasakan saat ini.

__ADS_1


"Leo!" panggil Merlin.


Leo tetap terdiam, dia seakan sedang berpikir keras dengan apa yang harus dia ungkapkan sebagai jawaban kepada Merlin.


Merlin terlihat menundukkan kepalanya, dia benar-benar takut jika Leo akan menolaknya. Karena Leo hanya diam saja, dia seperti tidak berantusias untuk menanggapi pertanyaan darinya.


"Bukan seperti itu, aku hanya orang biasa. Apa kamu tidak akan menyesal jika kamuenikah denganku?" tanya Leo.


"Bukankah lebih baik menikah dengan lelaki yang begitu mencintaiku, dari pada aku harus mengejar pria yang tidak pernah melihatku sebentar saja?" tanya Merlin.


"Memangnya kamu pikir aku mencintai kamu?" tanya Leo.


Mendengar apa yang Leo katakan, Merlin terlihat lebih menundukkan kepalanya lagi. Dia benar-benar merasa malu saat Leo mengatakan hal itu.


Leo tersenyum, lalu tanpa ragu dia mengangkat tubuh Merlin dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


Merlin sampai memekik kaget dengan apa yang Leo lakukan, dia bahkan sampai memeluk leher Leo dengan erat.


"Haish! Kamu membuat aku kaget," kata Merlin seraya memukul pundak Leo dengan gemas.


"Maaf, jadi... mana cincinnya?" tanya Leo.


"Cincin apa?" tanya Merlin bingung.


"Aih! Ngga ada," jawab Merlin malu-malu.


"Kalau begitu, aku mau jadi suami kamu. Tapi, kiss dulu," kata Leo seraya memonyongkan bibirnya.


"Kamu nakal!" kata Merlin seraya menunduk dan menyatukan bibir mereka.


--------


Jika Leo sedang merasakan kebahagiaan dengan Merlin, berbeda dengan Jonathan yang terlihat bingung harus memakai baju apa.


Padahal, setiap hari juga Jonathan selalu memakai baju mewah koleksinya. Namun, kali ini semua baju yang dia miliki terasa jelek saat akan dia pakai untuk melamar Carol. Tidak ada yang bagus satu pun.


Berlin bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dari putranya tersebut, Jonathan benar-benar bertingkah seperti anak kecil yang masih labil.


"Pakai yang mana saja, jangan ragu. Menggunakan baju yang mana saja kamu udah ganteng," kata Berlin.

__ADS_1


"Iya, Mom," jawab Jonathan dengan lesu.


Karena merasa tidak menemukan baju yang cocok, akhirnya Berlin pun memilihkan salah satu kemeja yang menurutnya sangat cocok untuk putranya itu.


----


Malam yang ditunggu telah tiba, Jonathan dan Berlin sudah tiba di kediaman Carol. Wajah Jonathan yang selalu terlihat tampan terasa tidak terlihat, hanya ada kegugupan yang kentara dari wajahnya itu.


Berkali-kali dia menghela napas panjang, hanya untuk mengurangi kegugupannya. Berlin hanya bisa terkekeh melihat akan hal itu.


"Ayo kita masuk," ajak Diana yang tiba-tiba saja datang dan menepuk lengan Jonathan.


Jonathan sampai terjingkat kaget saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Diana, sedangkan Berlin langsung tertawa.


"Ayo, Sayang!" ajak Berlin.


Berlin juga mengajak sopirnya untuk membawakan barang-barang yang akan dia berikan kepada Carol, karena barang bawaannya lumayan banyak.


"Ehm, selamat malam, Sayang," sapa Berlin saat mereka tiba di dalam ruang tamu.


"Malam Tante," sapa balas Carol.


Mereka berdua terlihat saling memeluk dan saling menautkan pipinya, berbeda dengan Jonathan yang malah terdiam seraya memperhatikan wajah Carol.


Dia begitu mengagumi kecantikan Carol, malam ini Carol terlihat begitu cantik di matanya. Dia memakai dress selutut berwarna hitam dengan motif bunga berwarna emas.


Dia sempat menunduk untuk melihat baju yang dia pakai, malam ini Berlin memilihkan kemeja berwarna hitam.


Dia langsung tersenyum, bahkan dia merasa bersyukur dan merasa perlu berterima kasih kepada ibunya. Mereka terlihat begitu serasi dengan warna baju yang terlihat sama.


"Daddy!" teriak Julian.


Mendengar Julian memanggilnya dengan sebutan daddy, Jonathan terlihat hampir menangis. Dia merasa terharu, Jonathan bahkan langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.


Dengan senang hati Julian langsung melompat ke dalam pelukan Jonathan, kedua pria tampan berbeda usia itu terlihat memeluk dengan saling erat.


Carol, Diana dan juga Berlin ikut terharu melihat akan hal itu, karena Jonathan kini terlihat menangis seraya mengelusi punggung putranya.


***

__ADS_1


Selamat sore, Ayang.


Satu bab untuk menemani waktu sore kalian, terima kasih sudah meninggalkan komentarnya. Sayang kalian selalu, Love sekebon kembang.


__ADS_2