After Six Years

After Six Years
Persiapan Pulang


__ADS_3

Carol terlihat bersemangat saat merapikan barang-barang yang akan dia bawa untuk pulang ke tanah air, dia bahkan terdengar bersenandung dengan riang.


Enam tahun dia meninggalkan tanah kelahirannya untuk menyembuhkan lukanya, untuk bersembunyi dari rasa pahit yang dia rasakan.


Kini saatnya dia keluar dari tempat persembunyiannya, ini saatnya dia hidup kembali dengan normal tanpa rasa takut.


Ini saatnya dia dan Julian merasakan hidup yang lebih baik, hidup yang nyaman dan juga merasa tenang.


Lagi pula sebentar lagi Julian harus masuk sekolah TK, Carol harus mengurus semuanya agar Julian tidak tertinggal dalam bersekolah.


"Semangat Carol! Semangat untuk membuka lembaran baru, semoga semuanya bisa lebih baik," kata Carol seraya merapikan mainan kesayangan Julian yang akan dia bawa.


Di ruang tamu Diana terlihat sedang asik bermain game dengan Julian, Julian terlihat duduk di atas pangkuan Diana seraya menyandarkan kepalanya pada pundak Diana.


"Yah, Tante kalah lagi, payah!" seru Julian.


Diana tersenyum dia memang sengaja mengalah, agar anak tampan itu bangga akan kemenangan yang dia dapatkan.


"Hehe, Iya. Tante payah banget, ya?" kata Diana seraya nyengir kuda.


Dia merasa hidupnya selalu saja payah, percintaannya bahkan dirasa lebih payah. Namun, walaupun seperti itu dia tetap merasa bangga bisa hidup berbarengan dengan Carol dan juga Julian.


Lagi pula Diana merasa tahu diri jika selama ini biaya kuliah dia saja semuanya Carol yang membiayai, wajar rasanya jika dia mengalah untuk wanita yang menjadi sahabatnya itu.


"Tapi Tante selalu Ian sayang walaupun selalu kalah," kata Julian seraya mengecup pipi Diana.


Diana tersenyum saat Julian mengecup pipinya, rasanya jika sudah seperti itu dia ingin segera menikah dan memiliki anak yang lucu-lucu. Karena ketika dia berada di dekat anak kecil, rasanya membuat dia lebih bahagia.


"Ehm, permisi. Apa Om boleh gabung?" tanya Andrew yang ternyata sudah ada di ambang pintu.


Julian yang memang sudah dekat dengan Andrew langsung turun dari pangkuan Diana, lalu dia menghampiri Andrew dan melompat ke dalam pelukannya.


Dengan senang hati Andrew langsung menangkap anak tampan yang terlahir dari rahim wanita yang sangat dia cintai itu, walaupun Carol tidak pernah membalas cintanya.


"Ian kangen, Om sudah satu minggu ngga dateng." Julian memeluk Andrew dengan posesif.


Andrew tersenyum kecut saat mendengar penuturan dari Julian, seminggu yang lalu dia kembali melamar Carol.


Sayangnya wanita yang berstatus sebagai singel parent itu tidak menerima lamarannya, hal itu membuat dirinya kecewa.


Rasanya untuk bertemu dengan Carol sangat malu dan juga sedih, karena dia terus-terusan saja ditolak setiap kali dia melamar Carol.


Namun, kali ini dia bertekad untuk menemui Carol sebelum Carol pergi ke tanah air. Jujur saja dia merasa berat untuk melihat kepergian Carol, tapi dia juga rindu.


Dia ingin menemui wanita yang sangat ia cintai itu sebelum wanita itu pergi meninggalkan dirinya, jika masih berada di sana dia bisa mencari waktu untuk menemui Carol.


Namun, jika Carol sudah pulang ke tanah air tentunya dia akan sulit untuk bertemu dengan Carol dan juga Julian.


"Sorry, Om terlalu sibuk. Om dengar kalian mau pulang ke tanah air, apa itu benar?" tanya Andrew seraya mengalihkan pandangannya kepada Diana.


Diana tersenyum getir, lalu menganggukkan kepalanya. Dia ingin sekali menghampiri Andrew dam melompat ke dalam pelukan Andrew sama seperti Julian.


Sekian lama Diana mencintai Andrew, sayangnya rasa cinta itu tidak pernah dia ungkapan lewat kata-kata bahkan lewat perbuatannya.


"Yes, Om. Kami akan pulang, mom akan bekerja di sana, apa Om mau ikut?" tanya Julian.

__ADS_1


Jika saja ikut bersama dengan Carol adalah hal yang sangat mudah, Andrew sudah pasti akan ikut bersama dengan wanita yang dia cintai itu.


Sayangnya, tidak semudah itu. Andrew memiliki tanggung jawab yang besar di perusahaan milik ayahnya yang kini semakin berkembang di negara tersebut.


"Sangat, Om sangat mau. Tapi pekerjaan Om masih sangat banyak di sini, mungkin nanti Om akan membuka cabang juga di sana. Biar bisa ketemu sama kamu and mom Carol," kata Andrew pelan.


Dia sangat ingin membuat cabang perusahaan di tanah air, sayangnya kini ayahnya sedang sakit-sakitan.


Dia tidak mungkin meninggalkan ayahnya sendirian, di saat ini dia tidak mungkin mementingkan cintanya terhadap Carol.


Karena walau bagaimanapun juga dia sangat sadar kalau ayahnya lebih penting dari segalanya, ayahnya yang selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk dirinya.


"Good ideas, nanti Ian tunggu kedatangan Om." Julian turun dari gendongan Andrew dan mengajaknya untuk duduk tepat di samping Diana.


Andrew menurut, karena dia ingin menikmati kebersamaannya dengan Julian. Bahkan, kalau bisa dia ingin mengajak Julian dan juga Carol untuk pergi ke suatu tempat agar mereka bisa memiliki momen yang indah sebelum besok Carol pulang ke tanah air.


"Elu ikut pulang juga, Na?" tanya Andrew seraya mengangkat tubuh Julian ke atas pangkuannya.


Diana yang sedari tadi diam saja tersenyum ke arah Andrew, lalu dia menganggukkan kepalanya dan berkata.


"Tentu saja, gue akan ikut. Kami memang ditugaskan untuk mengelola perusahaan cabang bersama," kata Diana.


Lagi pula bukan hanya itu saja, Diana juga sudah rindu dengan rumah sederhana miliknya. Rumah sederhana peninggalan dari kedua orang tuanya, setidaknya dia bisa merasakan kenyamanan di rumah kecilnya. Walaupun kedua orang tuanya memang sudah tidak ada.


"Gue pasti kangen kalian," kata Andrew yang tanpa sadar menepuk paha Diana beberapa kali.


Diana terdiam, dia memejamkan matanya menikmati sentuhan dari Andrew yang tidak pernah dia rasakan. Tidak lama kemudian dia kembali membuka matanya.


"Rindu Carol sama Julian, gue ngga elu rindukan." Diana berbicara seraya tertawa, menutupi kesedihan di dalam hatinya.


Jantung Diana berdetak dengan sangat cepat, rasanya dia ingin menghentikan waktu agar dia bisa merasakan lebih lama sentuhan dari lelaki yang sangat ia cintai itu.


Namun, dengan cepat dia menyadarkan dirinya jika ini tidak boleh terjadi. Dia tidak boleh terhanyut dalam perasaan cintanya yang tidak mungkin terbalaskan.


"Hey! Gue juga pasti bakalan kangen sama elu, elu itu sahabat terbaik gue. Elu selalu mau gue ajakin curhat walaupun mata elu udah mau nutup," kata Andrew seraya terkekeh.


Ya, terkadang Andrew selalu melakukan panggilan video call kepada Diana ketika malam hari ketika dia tidak bisa tidur.


Dia akan mencurahkan isi hatinya kepada Diana, karena Andrew menganggap jika Diana adalah sahabat terbaik untuk diajak berbicara.


Bahkan Andrew selalu senang karena Diana mau mendengarkan curhatannya, walaupun matanya sudah tidak tahan untuk segera terpejam.


"Abisan kalau gue ngga mau elu suka ngambek, padahal elu banyak temennya tapi kalo apa-apa ngomongnya sama gue," kata Diana seraya memukul pundak Andrew dengan gemas.


Diana bahkan berusaha untuk melepaskan diri dari rangkulan tangan Andrew, dia takut hatinya tidak akan kuat jika terlalu lama mendapatkan perlakuan seperti itu dari Andrew.


"Karena cuma elu yang selalu bisa nyimpen dengan rapi semua yang gue ungkapin," kata Andrew. "Cuma elu yang selalu mengerti keinginan gue," imbuhnya lagi.


'Ya, bahkan gue selalu nyimpen perasaan cinta gue samma elu dengan rapih, An. Sayangnya elu ngga bisa mengerti akan perasaan gue, miris banget hidup gue.' Diana membatin.


"Kok diem?" tanya Andrew yang melihat Diana hanya diam seraya memandang wajahnya.


Diana yang malah sibuk dengan lamunannya langsung tersadar kala Andrew menegur dirinya, dia segera berkata.


"Eh? Ngga kok, gue cuma lagi mikir aja. Nanti kalo gue udah balik ke Indo, elu bakal hubungin gue lagi ngga? Terus, elu masih suka curhat lagi ngga sama gue?" kata Diana beralasan.

__ADS_1


Andrew tertawa mendengar apa yang ditanyakan oleh Diana, lalu dia kembali menepuk-nepuk paha wanita yang dia anggap sebagai sahabat itu.


"Pasti, Na. Elu itu selalu bisa bikin gua nyaman kalo gue ajak ngobrol, nanti gue pasti bakal sering hubungin elu. Oiya, Carol mana?" tanya Andrew seraya mengedarkan pandangannya.


Hatinya terasa berdenyut nyeri kala Andrew menanyakan Carol, padahal dia masih ingin mengobrol dan duduk bersama dengan Andrew. Jarang-jarang mereka memiliki kesempatan untuk bisa mengobrol dengan sedekat ini.


"Di dalam kamarnya, lagi rapihin barang-barang. Kayaknya tinggal barang-barang milik Julian aja yang belum," jawab Diana.


"Gue boleh nemuin dia?" tanya Andrew.


"Ck! Biasanya juga elu asal masuk aja, ngapa sekarang malah minta izin?" tanya Diana.


"Iya, sih. Ya udah, gue nemuin Carol dulu," kata Andrew seraya memindahkan Julian ke atas pangkuannya Diana.


"Hem," jawab Diana lesu.


Diana kembali terlihat bermain bersama dengan Julian, memainkan game yang sempat terhenti karena kedatangan Edward.


Berbeda dengan Andrew yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar Carol, saat dia tiba di ambang pintu dia melihat Carol yang begitu sibuk memasukkan barang-barang yang perlu dibawa.


Andrew bisa melihat jika wanita itu sangat bahagia karena dia akan kembali ke tanah air,


tapi dia merasa ada satu sisi di hatinya yang merasa sakit melihat kebahagiaan Carol yang ingin meninggalkan dirinya.


Andrew terlihat berjalan dengan perlahan, lalu dia duduk bersimpuh tepat di samping Carol yang sedang merapikan barang-barangnya.


"Hai! Sepertinya elu seneng banget mau ninggalin gue," kata Andrew tiba-tiba.


Carol sampai terlonjak kaget karena tidak menyadari kedatangan dari Andrew, dia bahkan sampai mengelus dadanya dengan kedua tangannya.


"Elu ngapa ngagetin gue sih? Orang ngomong apa kek pas mau masuk, biar gue kaga kaget. Dasar!" kata Carol seraya memukul pundak Andrew.


"Sorry, gue lupa. Abisan gue kangen banget sama elu, ini adalah kesempatan terakhir gue buat ketemu sama elu sebelum pulang. Tapi, kalau nanti elu udah di tanah air gua pasti bakalan datang buat nemuin kalian. Entah kapan, tapi pasti," kata Andrew.


"Iya, iya. Gue paham, gue tunggu kedatangan elu. Tapi, nanti kalau elu nemuin gue, elu harus sudah bawa calon. Karena gue engga mau elu dateng buat ngelamar gue lagi," kata Carol to the point.


Dia merasa sangat kasihan terhadap Andrew yang berusaha untuk menggapai dirinya, dia sudah sangat kasihan terhadap Edward yang begitu mencintai dirinya.


Karena sekeras apa pun Andrew berusaha untuk menggapai hatinya, entah kenapa dia tidak bisa membalas perasaan dari pria itu.


"Gue paham, tapi please izinin. gue buat peluk elu sebelum elu pergi," kata Andrew seraya merentangkan kedua tangannya.


Andrew terlihat menatap wajah Carol dengan penuh harap, Carol terlihat menghela napas berat. Kemudian, dia membalas pelukan Andrew lalu dia menepuk-nepuk punggung Andrew dengan pelan.


"Terima kasih atas apa yang sudah elu lakuin selama ini buat gue dan juga anak gue, elu terlalu berharga buat mencintai wanita seperti gue. Elu pantes dapat wanita yang masih ori, yang lebih baik dari gue. Gue merasa ngga pantes buat elu," kata Carol pada akhirnya.


"Hem, gue paham, kata Edward seraya melepaskan pelukannya. "Kalo cium boleh?" tanya Andrew seraya terkekeh.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Andrew, sontak Carol langsung mengambil mainan milik Julian dan hendak memukulkannya kepada Andrew. Namun dengan cepat Andrew menangkap tangan Carol.


"Bercanda! Gue cuma bercanda, tapi kalo elu mau ngasih ya gue mau banget," kata Andrew seraya memonyongkan bibirnya.


Carol langsung tertawa seraya memukul pipi Andrew, lelaki yang lebih tua tiga tahun di atasnya itu.


****

__ADS_1


Selamat siang, happy weekend. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, jangan lupa tinggalkan like dan juga komentarnya, sayang kalian selalu.


__ADS_2