
Pagi-pagi sekali Jonathan sudah terlihat rapih dan juga tampan, dia terlihat menghampiri ibunya, Berlin yang sedang menikmati teh hangat di ruang keluarga.
Dia duduk di samping ibunya, lalu mengecup pipinya dengan sangat lembut. Berlin tersenyum kala melihat wajah Jonathan yang ceria.
"Selamat pagi, Mommy," siapa Jonathan dengan riang.
Jonathan memeluk Berlin dengan sangat erat, lalu dia menyadarkan kepalanya di pundak ibunya tersebut. Berlin tersenyum lalu membalas sapaan putranya.
"Pagi, Sayang. Tumben ceria sekali, sudah wangi banget lagi. Padahal baru jam enam, mau ke mana?" tanya Berlin.
Berlin memandang putranya dengan penuh tanya, karena biasanya Jonathan akan rapi setelah pukul setengah delapan pagi dan dia akan berangkat bekerja pukul delapan.
"Aku mau ketemu Julian, Mom. Katanya hari ini Carol mau mencari sekolah TK untuknya, aku mau ikut," jawab Jonathan bersemangat.
Lima tahun tidak bisa menikmati kebersamaannya dengan Julian dan juga Carol, dia rasa hari ini adalah hari yang tepat untuk memulai semuanya.
Dia ingin memulai semuanya dari awal, dia ingin mencari perhatian dari Carol dan juga Julian agar mau menerimanya dengan baik.
"Oh ya ampun, Sayang. Benarkah itu? Jadi cucuku mau masuk sekolah TK?" tanya Berlin.
Dia hampir lupa tentang hal itu, padahal kemarin dia bertemu dengan Julian. Julian sudah berusia lima tahun dan sangat tampan sama seperti Jonathan, putranya.
"Iya, dia mau masuk sekolah dan aku ingin mengantarkannya," kata Jonathan lagi.
Melihat binar bahagia di wajah putranya, Berlin langsung tertawa. Dia tahu jika Jonathan bukan hanya ingin bertemu dengan Julian, tapi Jonatan juga begitu terlihat merindukan Carol.
"Wah sepertinya kamu bukan hanya ingin bertemu dengan Julian, tapi juga ingin bertemu dengan mom-nya," kata Berlin seraya putranya.
Jonathan terlihat melerai pelukannya karena malu saat Ibunya menggoda dirinya, dengan cepat dia menolak.
"Tidak seperti itu juga, Mom," elak Jonathan dengan wajah yang memerah. Karena ketahuan oleh ibunya jaga dirinya memang merindukan Carol.
Setelah semalam mencicipi bibir Carol, Jonathan malah teringat terus akan Carol. Dia ingin lebih dari itu tapi tidak berani.
"Cie, malu-malu. Akui saja, tidak apa-apa kok. Mom tidak akan marah," kata Berlin.
Justru Berlin akan sangat senang jika Jonathan benar-benar bisa menikah dengan Carol, karena itu artinya dia akan merasakan kebahagiaan kembali.
Dia bisa melihat putranya menikah, dia bisa bermain dengan cucunya juga. Namun, saat ini yang dia tanyakan adalah apakah putranya bisa mengambil hati Carol setelah dulu dia menghancurkan kehidupan Carol karena ulahnya?
"Dih, lagian ngapain juga Mom marah. Aku sudah besar, sudah bisa menentukan urusanku sendiri. Aku sudah bisa memilih jalan hidupku sendiri," kata Jonathan.
Dia sengaja mengatakan hal itu, karena tidak mau dianggap bergantung kepada orang tuanya. Karena memang, sedari remaja dia sudah mampu merintis usahanya sendiri.
__ADS_1
"Ya, Mom akui. Tapi, kalau tidak diarahkan kamu itu tidak bisa apa-apa," kata Berlin seraya terkekeh.
"Mom suka gitu," kata Jonathan seraya cemberut. Berlin terkekeh, lalu dia berkata.
"Sudah-sudah, kalau begitu kita sarapan dulu. Nanti kita ke rumah Carol," ajak Berlin.
Mendengar apa yang dikatakan oleh mom'nya, Jonathan terlihat menatap ibunya itu dengan raut wajah bingung.
"Eh? Kok Mom bilang 'kita'? Emang Mom mau ikut?" tanya Jonathan.
Berlin kembali tertawa, tentu saja dia ingin ikut dengan Jonathan. Dia ingin bertemu dengan Julian, cucunya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk bertemu dengan bocah tampan itu.
"Tentu, Mom mau ikut. Mom juga mau mengantar Julian untuk pergi menuju sekolahnya," jawab Berlin.
"Tapi, Carol bilang dia belum mendaftarkan Julian. Dia baru ingin melihat-lihat sekolah TK yang cocok untuknya," kata Julian.
"Kalau begitu Mom akan antarkan mereka, karena Mom tahu di mana sekolah TK yang paling bagus untuk anakmu," kata Berlin.
"Benarkah, Mom?" tanya Jonathan.
"Tentu, Sayang. Tempat sekolah kamu dulu, di sana pendidikannya sangat bagus, penjagaannya juga ketat. Jadi, tidak khawatir putra kamu akan kenapa-napa," jelas Berlin.
"Baiklah, terserah Mom. Tapi, aku tidak mau sarapan terlebih dahulu. Nanti aku telat datang, aku takut mereka sudah pergi," ungkap Jonathan tidak sabar.
"Baiklah-baiklah, kalau begitu kita berangkat sekarang," ajak Berlin.
"Yes, Mom," jawab Jonathan penuh semangat.
Pada akhirnya Berlin dan juga Jonathan meninggalkan kediaman Anderson, lalu mereka pun segera pergi menuju rumah Carol.
Benar saja, saat Jonathan dan juga Berlin tiba di kediaman Carol. Carol terlihat baru saja keluar dari rumahnya bersama dengan putranya, Julian.
Carol terlihat sangat cantik sekali, dia memakai dress selutut berwarna biru cerah dengan motif bunga. Cocok sekali digunakan dengan warna kulitnya yang putih, Julian putranya terlihat memakai kemeja berwarna senada dengan baju yang Carol pakai.
Melihat akan hal itu, Jonathan dengan cepat turun dari mobilnya dan langsung menghampiri Carol dan juga Julian.
"Hey! Kalian sudah mau berangkat?" tanya Jonathan.
Melihat kedatangan Jonathan yang tanpa memberitahukan dirinya terlebih dahulu, Carol terlihat kaget.
"Iya, kok kamu ada di sini?" tanya Carol bingung.
"Aku mau mengantarkan kalian," kata Jonathan.
__ADS_1
"Tidak usah, ada Diana yang akan menjemput," kata Carol menolak dengan halus.
"Aku sudah sampai di sini, ada Mom juga menunggu di mobil. Tapi kalau kamu ngga mau aku anatar ya sudah ngga apa-apa, aku pergi saja," jawab Jonathan lesu.
Jonathan merasa sangat kecewa karena niatnya tidak diterima dengan baik oleh Carol, padahal dia sudah sangat bersemangat untuk mengantar Julian menuju sekolah TK yang terbaik untuk putranya itu.
Namun, jika dirinya memaksa pun dia merasa tidak punya hak. Karena memang mereka tidak ada hubungan apa pun.
"Om'nya jangan disuruh pergi, Mom. Ian mau pergi sama Om," kata Julian.
"Tapi, Sayang. Tante Diana sebentar lagi akan datang," kata Carol.
"Satu kali ini saja, Mom. Aku mau diantarkan oleh Om Jo, biar keren. Nanti kalau sampai di sekolah aku ngga bakal ditanyain aneh-aneh," kata Julian.
Selama ini Julian selalu merasakan kesedihan, hanya saja dia tidak pernah berbicara apa pun kepada Carol.
Setiap kali melihat keluarga yang lengkap anak itu ingin merasakannya juga. Setiap kali ada anak kecil yang digendong oleh ayahnya, Julian juga sama, ingin merasakannya.
Hanya saja dia tidak pernah berani berkata apa pun kepada Carol, melihat Carol yang bekerja sendirian. Melihat Carol yang pulang setelah bekerja dalam keadaan lelah, Julian tidak pernah berani berkata apa pun.
Anak berusia lima tahun itu tumbuh dengan pemikiran yang cepat dewasa, cara pikirnya pun tidak seperti anak kecil lainnya.
"Maksudnya?" tanya Carol.
Dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Julian, dia juga baru kali ini melihat Julian meminta hal yang di luar dugaannya.
"Kalau aku datang sama Om Joe, pasti tidak akan ada yang bertanya ayah kamu mana," jawab Julian seraya tertunduk.
Hati Carol mencelos mendengar apa yang dikatakan oleh putranya, ingin sekali dia menangis dan menjerit sekuat tenaga.
Dia bukan tidak mau memberitahukan siapa ayah Julian, hanya saja dia tidak tahu siapa ayah biologis dari putranya. Dia bahkan tidak melihat dengan jelas wajah lelaki itu.
Lagi pula, jika suatu saat dia bertemu dengan lelaki yang sudah memberikan seorang putra itu untuknya, dia belum tentu siap.
"Oke," jawab Carol pada akhirnya.
Mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Carol, Julian terlihat begitu senang. Bahkan, anak berusia lima tahun itu langsung melompat kegirangan dan menghambur ke dalam pelukan Jonathan.
"Thank you so much, Carol," kata Jonathan lirih dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
****
Selamat pagi, selamat beraktifitas. Happy weekend, terima kasih sudah mampir dan meninggalkan like juga komentarnya.
__ADS_1