
Leo benar-benar tidak percaya dengan apa yang Merlin lakukan terhadap dirinya, dia masih terdiam mematung seraya menatap kepergian Merlin yang begitu cepat dengan berlari ke rumahnya.
Setelah cukup lama terdiam, Leo terlihat menghela napas berat seraya mengusap bibirnya. Bibir yang masih terasa hangat saat bersentuhan dengan bibir Merlin.
"Astaga! Apa yang dia lakukan tadi?" tanya Leo dengan bingung.
Tangan yang sedang dia gunakan untuk mengusap bibirnya, kink turun menyentuh dadanya. Tangan itu mengelus dadanya, dia merasa jika detak jantungnya berdebar dengan tidak karuan.
"Oh ya Tuhan, apakah aku mulai menyukainya? Apakah dia juga menyukaiku" tanya Leo dengan bingung.
Leo terlihat menggelengkan kepalanya, dia berusaha untuk mengembalikan kesadarannya. Setelah itu dia segera melanjukan mobilnya menuju rumahnya.
Ini sudah malam, pikirnya. Dia harus secepatnya istirahat agar pikirannya waras kembali, agar wanita yang bernama Merlin itu menghilang dari otaknya.
Di kediaman Carol.
Setelah melaksanakan makan malam, Julian mengajak Jonathan untuk kembali ke dalam kamarnya.
Padahal tadinya Jonathan sudah berniat untuk pulang, karena dia tidak enak terhadap ibunya, Berlin.
Takut-takut ibunya itu akan kecapean, tapi tentu saja dia tidak bisa menolak keinginan dari putranya itu. Karena ini adalah kesempatan yang langka, dirinya bisa bersama dengan Julian.
Saat tiba di dalam kamar, Julian ternyata meminta Jonathan untuk tidur bersama dengan dirinya.
Jonathan menurut, dia berharap sekali anaknya akan cepat tertidur. Karena dengan seperti itu, dia akan bisa cepat pulang.
Walaupun dia menginginkan segera tinggal satu atap dengan Julian dan juga Carol, tapi saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk bisa terus bersama.
Mereka belum menikah, jika mereka tinggal bersama yang ada nanti Jonathan akan digerebek warga dan di kawinkan secara paksa.
Dia tidak mau seperti itu, dia ingin memberikan sebuah pernikahan yang luar biasa untuk Carol. Pernikahan yang tidak bisa dilupakan seumur hidupnya, bukan dengan cara yang salah.
Cukup sudah kesalahan yang pernah dia lakukan saat enam tahun yang lalu, dia meniduri Carol dan merenggut keperawanannya.
Dia tidak ingin melakukan kesalahan lagi, dia ingin hidupnya lebih bermakna, berarti dan juga lebih bermanfaat untuk orang lain.
Sayangnya, bukannya hanya Julian saja yang tertidur. Justru jonathan dan Julian kini terlihat saling memeluk dan mereka terlihat terlelap dalam tidurnya.
Ketika Carol masuk ke dalam kamar Julian, dia merasa tidak enak hati untuk membangunkan Jonathan.
Namun, jika dia tidak membangunkan, dia juga merasa kasihan karena Jonathan tidur masih menggunakan baju kerjanya.
__ADS_1
Bahkan pria itu belum mandi karena terlalu sibuk mengurusi Julian dan memenuhi keinginan dari putranya itu.
"Tante, maaf. Tapi, Jo sudah tidur dengan Julian. Bagaimana ini, apakah Tante mau menginap juga?" tanya Carol.
Dalam hati Berlin tersenyum senang, karena itu artinya Jonathan pasti akan merasakan rasa senang yang luar biasa karena bisa seharian penuh bersama dengan putranya.
Namun, jika dia ikut menginap, rasanya tidak enak hati. Takutnya, nanti akan ada ucapan tetangga yang menyinggung perasaan Carol, pada akhirnya Berlin berkata.
"No, Tante mau pulang saja. Biarkan Jo di sini," jawab Berlin.
"Tapi Tante, bagaimana cara Tante pulang? Jo tidur, ngga ada yang nyetir?" tanya Carol.
"Oh ya ampun, aku belum terlalu tua. Aku masih segar, walaupun umurku sudah lebih dari setengah abad. Aku masih bisa menyetir sendiri," kata Berlin seraya terkekeh.
Carol ikut terkekeh, dia bukan bermaksud untuk menyepelekan Berlin. Hanya saja Berlin sudah berumur, ini sudah malam. Dia merasa tidak enak hati kalau Berlin harus membawa mobil sendiri.
"Begini saja, Tante. Bagaimana kalau aku yang mengantarkan? Nanti mobilnya biar aku bawa kembali ke sini, biar besok kalau Jo mau pulang ada mobil," usul Carol.
"Oh iya, benar. Kamu sangat benar, kalau begitu antarkan Tante sekarang. Sekalian kamu bawain baju buat Jo, pasti dia masih memakai baju yang tadi. Tidak mungkin kalau dia memakai baju kamu, kan?" tanya Berlin seraya terkekeh.
"Oh ya ampun, Tante. Tidak dong, kalau begitu ayo aku antar pulang," ajak Carol.
"Yayayaya, kita pulang," kata Berlin.
Dia benar-benar berharap jika Jonathan bisa segera mengesahkan hubungannya dengan Carol, agar Berlin bisa leluasa untuk mengajak Carol tinggal satu atap bersama dengan mereka.
Berlin bahkan sudah membayangkan, jika suasana kediaman Anderson pasti akan sangat ramai ketika adanya Carol dan juga Julian.
Julian pasti akan terus berceloteh ria di dalam rumahnya, membayangkan akan hal itu Berlin menjadi senyum-senyum sendiri.
Carol ikut tersenyum saat memperhatikan ibu dari Jonathan itu nampak tersenyum, ketika mereka melakukan perjalanan ke kediaman Anderson.
Lima belas menit kemudian, mobil yang Carol kendarai sudah sampai di kediaman Anderson. Dengan cepat Berlin keluar dari mobil milik putranya itu.
Lalu, dia meminta pelayan untuk menyiapkan baju milik jonathan. Tentunya dia meminta pelayan untuk menyiapkan baju kerja dan juga baju tidur untuk Jonathan.
Takutnya nanti malam Jonathan akan terbangun dari tidurnya dan ingin mengganti bajunya yang sudah seharian dia pakai itu.
"Maafkan Tante, karena Tante sudah merepotkan. Terima kasih juga, karena kamu sudah mengantarkan," kata Berlin.
"Sama-sama, Tante. Justru, aku yang meminta maaf karena seharian ini aku benar-benar merepotkan kalian," ucap Carol.
__ADS_1
"Jangan sungkan, Tante sangat senang," kata Berlin seraya mengusap lengan Carol dengan lembut.
Setelah baju milik Jonathan siap, akhirnya Carol memutuskan untuk pulang kembali ke kediamannya.
Berlin nampak tersenyum seraya melambaikan tangannya, saat melihat Carol pergi dari kediaman Anderson.
"Oh ya Tuhan, semoga saja Jonathan bisa cepat mengambil hati Carol. Agar dia dan putranya bisa secepatnya tinggal di rumah ini. Aku sangat kesepian, aku ingin sekali bisa bermain dengan cucuku setiap hari," do'a Berlin.
Setelah mengantarkan Berlin, Carol langsung masuk kembali ke dalam kamar milik putranya, Julian.
Kembali dia tersenyum saat memperhatikan kedekatan di antara keduanya, mereka benar-benar terlihat berwajah sama. Namun, berbeda usia.
Carol sungguh bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa bisa hal itu terjadi. Namun, dia segera menggelengkan kepalanya dan menepis pikiran-pikiran buruk yang terlintas di otaknya.
"Ini hanya kebetulan, aku tidak boleh berprasangka buruk," kata Carol.
Carol terlihat meletakkan baju Jonathan di atas sofa, kemudian dia menghampiri putranya. Lalu, dia menunduk dan mengecup pipi Julian.
Julian terlihat bergerak, karena merespon apa yang dilakukan oleh Carol. Namun, matanya tetap terpejam. Justru kini malah Jonathan yang terbangun, karena gerakan dari Julian yang tidak terduga.
"Oh ya ampun, aku ketiduran," kata Jonathan.
Jonathan terlihat berusaha untuk melepaskan dirinya dari pelukan Julian dengan sangat perlahan, hal itu dia lakukan agar dia tidak membangunkan putranya.
"Tidak apa-apa, kalau kamu mau tidur, tidurlah lagi dengan Julian. Aku tidak masalah," kata Carol.
"Ya, terima kasih. Kalau kamu mengizinkan aku untuk menginap di sini, hanya saja aku sangat gerah. Badanku terasa sangat lengket, aku mau mandi dulu. Tapi ngga ada baju," kata Jonathan lesu.
"Ada, kok. Ada baju, tadi aku sudah mengantarkan tante Berlim sekalian ambilin baju buat kamu. Kalau mau mandi, kamu mandi aja. Bajunya ada di atas sofa," kata Carol.
"Yaaya, terima kasih," kata Jonathan.
Jonathan terlihat turun dari tempat tidur, kemudian dia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Carol tersenyum melihat kepergian Jonathan, Carol jadi berpikir. Mungkinkah suatu saat nanti dia bisa menikah dengan pria seperti Jonathan, pikirnya.
"Sebaiknya aku segera tidur, karena besok aku akan bekerja," kata Carol.
Setelah mengucapkan hal itu, dia kembali mengecup pipi putranya. Lalu, dia keluar dari dalam kamar milik putranya tersebut.
***
__ADS_1
Selamat sore, happy weekend. Jangan lupa tinggalkan komentarnya dan juga likenya. Sayang kalian selalu, love sekebon kembang.